Menulis di atas Air Laut

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Juli 2016
Menulis di atas Air Laut

 

Saya tak habis pikir, tiap menjelang senja perempuan itu selalu mendatangi pantai di depan rumah saya. Saya kira, ia akan menikmati senja, ternyata saya salah. Ia mendatangi bibir pantai lalu menulis sesuatu di atas air laut.

Entah apa yang ditulis perempuan itu tiap hari. Tak pernah ia absen menulis di sana. Rasa penasaran saya memuncak. Saya mendekati perempuan itu pada suatu senja. Hari ini ia memakai baju kemeja putih dipadukan dengan jeans berwarna biru dongker. Rambutnya dibiarkan terurai seperti biasa, angin pantai membelai lembut ujung-ujung rambut perempuan itu. Betapa girang rambut-rambutnya hingga ia melompat riang tak karuan. Sedang perempuan itu masih bermain di bibir pantai.

Saya melangkah pelan mendekati perempuan itu, setelah jarak kami cuma satu meter, saya pun duduk santai sembari membelalakkan mata saya seratus persen, fokus pada perempuan itu. Bosan ia bermain dengan air laut, akhirnya mulailah ia menulis. Telunjuknya menari di atas air, menulis suatu kalimat singkat. Saya memperhatikan dengan seksama, sayang, saya tak mampu memastikan tulisannya. Kira-kira ia menulis, Kasih, temui saya di mimpi malam ini. Benarkah?

Rasa penasaran saya semakin menggunung, akhirnya saya menyapanya.

 

“Hai,” ujar saya basa-basi.

 

Perempuan itu bergeming. Ia masih asyik mengulangi kalimat yang di tulisnya tadi. Kali ini ia menulisnya dengan tulisan miring yang indah.

 

Kasih, temui saya di mimpi malam ini.

 

Walau ia menulisnya jutaan kali, tulisan itu tetap akan terhapus dengan sendirinya. Apa perempuan ini gila? Pikir saya.

 

“Tiap senja, kau terus datang ke mari. Bukannya menikmati matahari terbenam, kau hanya menulis di atas air laut dan bukan di atas pasir. Mengapa? Apa yang kau tulis?” Pertanyaan saya memberondong bagai butir-butir hujan yang menyerang tanah.

 

“Karena air laut saling terkoneksi,” ujar perempuan itu setengah bergumam.

 

“Apa yang kau tulis? Sepintas saya perhatikan, kau menulis: Kasih, temui saya di mimpi malam ini. Benarkah?”

 

Perempuan itu tak menggubris pertanyaan saya, detik ini ia hanya menulis kalimat yang sama lagi di atas air laut. Saya membiarkannya terus menulis, sepuasnya. Setelah menunggu lama, terhitung sudah sepuluh kali ia menulis kalimat yang sama. Langit sore ini tiba-tiba saja kelabu. Air hujan tumpah, awan tak mampu menampungnya. Awalnya saya hendak meninggalkan perempuan itu sendiri, namun saya mengurunkan niat. Lalu, punggung tangannya mengusap matanya, entah ia mengusap air hujan atau air mata, saya juga tak tahu. Yang jelas, mata bulatnya berubah merah.

 

Wajah perempuan itu akhirnya mendongak ke arah saya, “Apa kau punya kekasih?” Tanyanya lirih.

Saya hanya menggeleng.

 

“Kau ingin punya kekasih?”

Saya hanya menggangguk. Entah kenapa, tiba-tiba saja kedua bibir saya merapat. Mungkin, saya terperanga menyaksikan wajah manis perempuan itu. Matanya bulat dengan bola mata hitam pekat, bibirnya tipis dan berwarna merah cerah, dan saya tak pernah melihat perpaduan apik seperti itu. Kulitnya memang tidak putih, agak kecokelatan, tapi mata saya berkata, wajah perempuan itu mendekati kesempurnaan.

 

“Kau harus menulisnya di atas air laut itu,” telunjuknya menunjuk air laut di hadapannya.

Bak terhipnotis, saya mengikuti saja perkataan perempuan itu.

 

Saya ingin punya kekasih yang manis.

 

“Sudah,” bibirku akhirnya bergerak juga.

 

“Kau harus menulisnya tiap hari, menjelang matahari terbenam. Konon, matahari akan menyampaikan pesanmu lewat air laut yang di jumpainya di seberang dunia lain, dan lagi, semua air laut terkoneksi.”

 

“Baik. Siapa namamu?”

 

“Kau bisa memanggilku Armala.” Perempuan itu berdiri lalu menatap lagi bekas tulisannya di air laut yang telah lenyap, lanjutnya. “Saya pulang dulu, mau mandi dan merias diri. Saya harus tampil mempesona untuk Lelaki saya malam ini, tentu saja dalam dunia mimpi kami.”

 

Armala berlalu diringi rintik hujan senja itu. Langkahnya lurus ke depan meninggalkan saya yang terus menulis, Saya ingin punya kekasih yang manis. Lagi dan lagi. Matahari pun tenggelam di pembaringgannya, malam mengkudeta siang nan terang. Tulisan saya tak terlihat lagi.

 

Sebaiknya saya pulang.

***

Saya tak habis pikir, tiap menjelang senja lelaki itu selalu mendatangi pantai.  Saya kira, ia akan menikmati senja, ternyata saya salah. Ia mendatangi bibir pantai lalu menulis sesuatu di atas air laut.

Karena penasaran, saya melangkah pelan mendekati lelaki itu, setelah jarak kami cuma satu meter, saya pun duduk santai sembari membelalakkan mata saya seratus persen, fokus pada lelaki itu. Bosan ia bermain dengan air laut, akhirnya mulailah ia menulis. Telunjuknya menari di atas air, menulis suatu kalimat singkat. Saya memperhatikan dengan seksama, sayang, saya tak mampu memastikan tulisannya. Kira-kira ia menulis, Saya ingin punya kekasih yang manis. Benarkah?

 

- Gambar Ilustrasi