Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 18816
            [type_id] => 1
            [user_id] => 6035
            [status_id] => 1
            [category_id] => 13
            [project_id] => 0
            [title] => Elza dan Tongkat Kecil
            [content] => 

_____Sumber Ilustrasi : ide.aliexpress.com

 

Seminggu yang lalu, Elza menemukan mainan di gudang. Sebuah tongkat kecil berwarna hitam. Ia tak tahu tongkat itu milik siapa. Panjang tongkat itu tiga puluh sentimeter dengan diameter lima sentimeter. Tiap hari ia memainkan tongkat itu. Kadang ia memegang ujung tongkat itu kemudian meneriakkan mantra, abracadabra, setelah itu ia memutar perlahan tongkat kecil itu, seolah ingin menyihir benda di sekitarnya, mirip seorang penyihir. Sedetik kemudian, ia terkekeh sendiri.

Hari ini perangai Elza berbeda, tongkat itu dijadikannya pulpen. Ia memegang tongkat itu seperti memegang pulpen lalu menuliskan sesuatu di dinding ruang tamu.

 

Permen Lolypop

 

Tulisnya saat itu, tak berapa lama, di tangan kirinya tiba-tiba saja muncul permen lolypop. Ia membuka bungkusnya perlahan dan menikmati permen itu dengan riangnya. Belum habis permen lolypop di tangan Elza, tulisan di dinding ruang tamu lenyap begitu saja.

Setelah menulis banyak jenis makanan dan minuman, Elza mulai bosan. Ia ingin sesuatu yang lebih seru dan menantang. Ia pun masuk ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia meletakkan hiasan di dindingnya ke lantai. Ada tiga buah foto, sebuah lukisan yang ia lukis ketika masuk TK dan satu kaligrafi bertuliskan namanya.

Muka Elza sangat serius kali ini, ia memikirkan matang-matang, apa yang akan ia tuliskan. Lama ia merenung, akhirnya ia pun mulai menulis.

 

Tongkat, saya mohon…

Bisukan Gubernurku!

 

Elza keluar kamar, sekejap ia langsung meraih remote televisi dan menekan tombol power. Hampir semua stasiun televisi heboh memberitakan Pak Gubernur yang tiba-tiba saja tak mampu mengeluarkan suaranya. Mirip orang bisu. Ia akhirnya memilih salah satu stasiun televisi favoritnya. Seorang wanita dengan kemeja berwarna cerah sedang membacakan berita.

Pak Gubernur akan membuka dengan resmi Pameran Pembangunan di Balai Kota. Namun, saat beliau membacakan sambutannya, tiba-tiba saja ia tak dapat mengeluarkan suaranya. Seperti orang bisu. Kami belum mengetahui pasti penyebabnya. Saat ini, beliau sudah berada di Rumah Sakit terdekat dan langsung di rawat oleh ahlinya. Semoga beliau baik-baik saja. Kami masih butuh beliau. Kota ini masih butuh beliau.

Dengan muka sedih wanita itu membaca berita lainnya, komentar masyarakat luas tentang penyakit yang diderita oleh Pak Gubernur.

Elza tersenyum, ia masuk kamarnya lagi.

 

~~~

 

Sesampainya di kamar, tongkat di genggaman Elza bergerak sendiri. Tongkat itu mengarahkan Elza menuju dinding kamar, ia menurut saja.

 

Mengapa kau menulis itu, Elza?

Kau jahat, Elza.

Elza langsung membalas pertanyaan tongkat itu.

Agar beliau tak banyak bacot.

Cukup KERJA saja!

 

Ujung tongkat itu bergerak perlahan, mirip orang yang sedang mangguk-mangguk. Tanda setuju. Elza hendak menulis lagi. Kali ini, di dinding dekat pintu kamarnya.

 

Rubah semua mobil di kota ini menjadi Pegasus.

 

Elza membuka pintu kamarnya, ia memelototi televisi di ruang tamu. Benar saja, terlihat berita orang-orang di jalanan kaget bukan kepalang. Seluruh mobilnya berubah menjadi Pegasus. Mobil dengan penumpang lebih dari empat harus berdesak-desakkan di atas punggung Pegasus tunggangannya. Tak jarang ada pula yang terjatuh saat Pegasusnya terbang ke angkasa.

Bagi pengendara motor, hal itu sangat aneh sekaligus menggembirakan, mereka adalah penguasa jalan. Tak ada lagi ratusan ribu mobil, tak ada lagi macet. Belum selesai mereka merasa takjub, ide gila menghampiri kepala Elza.

 

Rubah semua motor di kota ini menjadi keledai.

 

Betapa lucunya, ribuan pengendara motor dengan jaket dan helm lengkap sedang mengendarai keledai yang kurus dan bau. Kalian tak bisa lagi ngebut sana-sini, tau rasa kalian. Pikir Elza. Ia terkekeh lagi.

Elza menghampiri sudut kasurnya, ia duduk sejenak. Sembari mengelus lembut tongkat itu, ia berceloteh sendiri.

 

“Saya tak butuh Gubernur yang kerjanya cuma marah-marah. Usiaku memang masih tujuh tahun, dan tak mengerti tentang politik, tapi…”

 

Ia memutar ujung tongkat, lalu mengucap mantra, abracadabra… kripik kentang! Dengan keajaiban tongkat itu, sebungkus kripik kentang mewujud di pangkuannya. Satu, dua, tiga kripik kentang telah dikunyahnya. Ia melanjutkan celotehnya lagi.

 

“Saya belum merasakan kota ini aman untuk anak seusiaku sejak di pimpin oleh Gubernur ini. Hmmm…”

 

Elza  melanjutkan kunyahan demi kunyahan di mulutnya. Kripik kentang ini memang enak, pikirnya. Tiga menit kemudian, setelah semua kripik kentang menjadi santapan cacing di perutnya. Ia memikirkan satu ide pamungkas dan menulisnya di dinding samping kasur empuknya.

 

Bila gubernur kali ini diganti oleh orang lain, belum tentu lebih baik. Bisa jadi, sepuluh tahun yang akan datang keledai di teras rumahku akan kelaparan karena rumput hijau tak ada lagi di kota ini, ditelan oleh apartemen dan bangunan-bangunan pencakar langit lainnya. Sepertinya hanya satu solusinya…

Sangkakala!

 

Tongkat itu bergetar, lapisan luarnya mengembang seketika. Mata Elza berkedip berulang kali, pertanda ia sangat panik. Tongkat itu seakan bermetamorfosis dengan cepat. Tongkat kecil berwarna hitam itu berubah menjadi Sangkakala.

Setelah mengendalikan dirinya, Elza mengucap Basmalah dan meniup Sangkakala itu. Suaranya mengemuruh di seluruh pelosok, di seluruh lapisan tanah dan lapisan langit. Elza sudah tak mampu merasakan apa-apa lagi…

 

[slug] => elza-dan-tongkat-kecil [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1469899748.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 439 [issued] => 0 [author] => Dinan [username] => Dinan [avatar] => file_1486310707.png [status_name] => published [category_name] => Cerpen [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 2 [total_likes] => 4 [created_at] => 2016-07-31T00:29:08+07:00 [updated_at] => 2018-10-02T10:56:32+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 32.379575ms [status] => 200 )