Rasa Sedihku Sudah Mati

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Juli 2016
Rasa Sedihku Sudah Mati

Rasa Sedihku Sudah Mati

Penulis: Dinan

 

"Rasanya, kesedihanku sudah mati suri. Apapun yang terjadi hatiku bergeming bagai sekeping baja," 

Curhatmu pada suatu dini hari. Kita lebih sering menumpahkan galau di sepertiga malam, kala manusia pemalas sedang di dunia mimpinya, tapi kita yakin, malaikat dan Tuhan tak pernah terbuai mimpi. Mereka ada untuk mendengar kegetiran tangisan hati.

Sepertinya kita sama, hati kita sudah terbuat dari baja. Tak ada lagi kecewa, sedih, apalagi tangis. Tiap helai malam kita peluk tuk sekadar menghangatkan kesunyian ini.

"Apakah akan seperti ini terus sampai kita mati?" Tanyaku tak terbendung. Muncrat di sela-sela  kegalauan kita.

Mulutmu merapat sedang tanganmu bergerak lembut membelai wajah kasarku. Dua detik kemudian, matamu menerawang ke langit-langit, bisa saja matamu mencari jawaban di sana. Tak ada salahnya mengais jawaban di sana, selama langit-langit itu berwarna putih, seputih hubungan ini.

Lama kutunggu jawab darimu, tak kunjung  hadir. Kau terus saja menerawang, sepertinya bukan cuma langit-langit yang kau terawang tapi tembus ke Langit. Pundak tempat kita bersandar. Akhirnya, aku bergabung denganmu, menerawangi Langit Kita. Pundak Kita. Semoga Pundak itu tidak bosan dengan kita.

"Pundak itu 'kelelahan'," lirihmu. "Kita memang dianjurkan untuk bersandar di situ, taapiii..." Kau menghela napasmu dengan berat. "Dia juga menganjurkan kita untuk kuat." Kalimat terakhirmu mengalirkan keyakinan, hangat dan mendamaikan.

Tanganmu bergerak pelan, kau menunjuk dadamu, bukan, tepatnya 'hatimu'.

"Kita ada di sini!" 

Ucapan terakhirmu membuat dinding-dinding kamar kita menangis pilu, air matanya membasahi kamar. Kau tak menggubrisnya. Matamu terpejam di balik kekuatan hatimu yang mengeras. Sedang aku, air mataku membasahi sarung bantal berwarna biru itu. Basah dan lembab. Hatiku belum sekeras hatimu.

Dalam tangisku, bolehkah aku berandai. 

Andai hati kita adalah semesta maka tak akan ada sekat ruang real itu. Namun, hati kita masih lemah. Masih.

Andai langit-langit kita sama maka tanganmu akan menjadi sapu tanganku. Menyeka keringat dan peluhku. Namun, langit-langit kita masih tak sama. Masih.

Andai Pundak itu Berkehendak maka perbincangan ini tak akan pernah terjadi. Dinding-dinding itu akan menghemat air matanya. Namun, Pundak itu belum Berkehendak.

Sudahlah, tak ada guna berandai. Semesta harus kita tapak tuk mencapai andai-andai itu.

Sejurus kemudian, mataku pun terlelap. Esok tak ada lagi tangis, tak ada lagi sedih, dan tak ada lagi kecewa. Itu semua hanya Makhluk. Yang ada hanya Pundak itu. Titik!

 

 

Sumber gambar ilustrasi:  iberita.com

____

Cuma Flash Fiction, yah. Jangan baper. Hihi...


  • Harmawati 
    Harmawati 
    1 tahun yang lalu.
    Ini gak salah, Dinan?

    • Lihat 2 Respon

  • . 

    1 tahun yang lalu.
    suka thumbnailnya..ehehehe
    juga FF nya

  • Anick Ht
    Anick Ht
    1 tahun yang lalu.
    I like the details.....

    • Lihat 1 Respon