Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 14 Juli 2016   02:43 WIB
Aku Rindu Menulis di Dindingmu

Aku Rindu Menulis di Dindingmu

Penulis: Dinan

 

Semenjak kejadian-kejadian itu, aku tak pernah lagi menulis di dindingmu, bukan cuma menulis, menatapmu saja aku enggan. Detik mengalir tak kunjung hentinya, semakin kumelawan usia semakin aku tenggelam olehnya. Seandainya saja, dindingmu sebagaimana dindingmu seribu empat ratus tahun lalu aku tak segan-segan untuk terus menulis di sana.

Kau tahu, kemarin aku terpaksa melihatmu, seperti biasanya kau masih bersahaja dan suci. Namun, sudah terlalu banyak tulisan di dindingmu yang tak kusuka. Seiring bertambahnya uban bumi tulisan yang tertuang di sana semakin tak jelas saja.

Apa aku cukup menutup mata saja dan tak harus melihat apalagi membacanya?

Sayang, aku masih punya mata dan kemampuan membacaku masih ada, walau menipis seiring bertambah kelamnya kalbuku.

Petang ini, Ayahku berucap lembut, “Bila kau ingin mencari prestasi maka menulislah di sana, tak usah pedulikan tulisanmu bagus atau tidak, yang jelas menulis saja,” ia menunjukmu dengan yakin sembari menikmati kopinya, lanjutnya. “Bila kau terus menjauh dan tak menulis di sana, yakinlah kau akan terpuruk.”

Aku hanya tertunduk, tak berani menatap wajah ayah, apalagi kau.

Setelah beberapa menit, kucoba melirikmu dengan sudut mataku. Pohon mangga di depanmu masih berdiri kokoh, usianya lebih tua dariku. Dulu, ketika usiaku  tujuh tahun, aku sering memanjat pohon itu. Tentu saja setelah menulis di dindingmu. Tak berapa lama, angin mengusik lembut keheningan daun-daun mangga, dengan ikhlas daun-daun itu menari seiring hembusan angin. Pohon mangga itu sudah mulai berbuah. Berbeda jauh denganku, buah dari tulisanku belum terlihat sampai detik ini.

“Ayah,” lirihku. “Saya tak merasakan apa-apa lagi di sana, untuk apa saya ke sana?” Kutumpahkan keluhku pada ayah.

“Tak merasakan apa-apa? Hmmm…” Ia menggaruk kepalanya yang dipenuhi uban kemudian menghela napas perlahan, “Kau tahu Ihsan, rasa akan lebih terasa seiring konsistensi.” Kalimat Ayah menggantung di sana.

Rasa akan lebih terasa seiring konsistensi? Ayah, kau semakin bijak. Ilmumu mungkin tak seberapa tapi aksimu luar biasa. Dan itu, tak ada padaku.

Segera kuseruput kopi di depanku, entah mengapa kalimat ayah menghujam di kalbuku. Tanpa sadar, memori kejadian yang membuatku menjauh darimu menyelimuti kesadaranku. Lembaran-lembaran kejadian itu tersaji di kepalaku.

*

Dua belas tahun yang lalu, dengan wajah riang aku menulis di dindingmu. Semua kutulis dengan apa adanya dan tak dibuat-buat atau diada-adakan. Setelah kutulis semua tulisan yang kubisa aku istirahat sejenak. Seorang Kyai perlahan menghampiriku, ia menyapa dengan sopan. Dan tentu saja, kubalas dengan sopan.

“Nak, kau tahu, buah dari agama adalah akhlak. Agar kita bisa menjadi rahmat seluruh alam maka akhlak kita harus baik. Jangan melupakan hubungan kita dengan sesama manusia. Betul tidak, Nak?”

Aku mengangguk dengan cepat.

“Sebenarnya, Islam diturunkan sebagai pedoman perubahan dan kita adalah agent perubahan itu sendiri,” Pak Kyai mencari kesungguhan pada kedua bola mataku yang semakin membesar karena tertarik dengan ucapan pengantarnya yang masuk akal. “Salah satu sumbangsih kita untuk merubah masyarakat kita adalah memilih pemimpin yang baik.”

“Betul, Pak Kyai.” Gumamku.

“Saat ini sedang ramai PILKADA di kabupaten kita, Nak. Hanya satu yang bisa menjadi pemimpin yang adil yaitu nomor 2. Kau sudah punya hak pilih kan, Nak?”

“Iya, Pak Kyai. Saya permisi dulu, Ibu minta di antar ke pasar. Terima kasih atas saran-sarannya.”

Aku pun mengucap salam dan berlalu dari Pak Kyai itu.

Lembaran itu masih terngiang jelas di kepalaku. Sebenarnya, tak mengapa bila kemaslahatan umat menjadi salah satu tulisan di dindingmu, namun bukan politik praktis seperti itu.

Aku tak suka!  

Kejadian itu tak kugubris, keesokan harinya aku masih asik menulis di dindingmu. Keriangan itu hanya bertahan seminggu, ada tulisan lain lagi yang membuatku menjadi apatis.

Seorang pecintamu membagikan selebaran, buletin tepatnya. Judulnya cukup provokatif, “Apakah Kau Termasuk ke Dalam Golongan Muhammad?”

Aku membacanya dan mengkhatamkannya dengan cepat. Sekali lagi, dindingmu semakin ternoda dengan tulisan golongan yang merasa paling suci, paling benar. Otakku yang masih belum dewasa tak mampu menerima itu.

Artikel itu membuatku merasa tersudut, akhirnya aku jarang menulis lagi di dindingmu, sesempatnya saja.

Dua keping kejadian itu membuatku semakin menjauh dari dindingmu. Tulisanku tak pernah lagi kutulis di sana. Namun ayah tak bosan mengajakku, dengan berat hati aku mengikuti ajakannya.

Aku mencoba menulis dengan ikhlas kali ini, semoga dindingmu mencatatnya sebagai tulisan yang indah. Selepas itu, pecintamu mengumumkan bahwa beberapa menit lagi ada kajian dari seorang Kyai dari luar, kami diharapkan menunggu dan mendengar dengan seksama. Ayahku duduk manis di barisan depan membuatku harus mengikuti kajian itu agar bisa pulang bersamanya.

Sejurus kemudian, Kyai itu memaparkan materinya. Intinya, agama bagai pohon dan ada banyak cabang di dalamnya, kita bisa memilih cabang yang mana kita rawat. Antara cabang yang satu dengan yang lain tak boleh saling menyalahkan. Kita terbebas dari persepsi yang salah karena persepsi itu berasal dari Sang Sumber Ilmu.

Lagi, aku tak suka. Detik itu kuputuskan, aku akan jarang menulis di dindingmu karena sudah terlalu banyak tulisan-tulisan yang memberangus esensimu sebagai tempat menulis karya yang paling suci di antara tempat lainnya di muka bumi.

Bukankah kau rumah Tuhan?

Aku hanya ingin menulis tentang ‘karya’ Tuhan di dindingmu, bukan yang lain. Bolehkah aku mencari rumah Tuhan yang lain?

*

“Ihsan,” suara ayah membuyarkan lamunanku. “Kapan lagi kau menulis karyamu di dinding masjid?”

“Saya tak tahu, Ayah.”

“Jangan lama-lama galaunya, usia hanya Tuhan yang tahu. Tulisan terbaik adalah tulisan yang ditulis di rumah suci, rumah Tuhan, bukan tempat lainnya.” Kali ini, ayah menyelami kebeningan kedua bola mataku. Aku hanya mampu membalas dengan tatapan yang sama dan mencari kebeningan lain di sudut kalbu terdalamku.

Terima kasih, Ayah. Sudah lama aku rindu menulis tulisanku di dinding masjid. Mungkin esok. Mungkin! Gumamku dalam hati.

 

Gambar Ilustrasi

 

Karya : Dinan