Nenek Saini

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Juni 2016
Nenek Saini

Nenek Saini

Penulis: Dinan

 

Kulangkahkan kaki perlahan ke luar dari rumah Nenek Saini. Perban putih membalut leher bagian kananku. Senyum sinis terlukis di wajahku. Rasa terbebas dari keinginan, bukan keinginan, tapi kebutuhan dasar yang kuimpikan sejak aku berusia sepuluh tahun akhirnya terpenuhi setelah menunggu tujuh tahun lamanya. Penasaran itu menguap ke langit jingga petang itu. Aku menemukan sekeping diriku yang hilang.

Nenek Saini melambai lembut ke arahku, kemudian berkata, “Lain kali datang lagi yah, Naomi,” Lambaian lembutnya kali ini semakin kencang, bukan, semakin hangat. Aku menoleh ke belakang. Menatapnya dengan cahaya kilatan di mataku. Ia masih berdiri di teras rumahnya. “Makasi Nek,” teriakku. “Sama-sama.” Ia pun masuk ke rumahnya.

Setelah dari rumah Nenek Saini, darahku berdesir lebih kencang. Jantungku berdegup tak karuan. Kesenangan ini, rasa ini, aku suka… Hatiku berceloteh riang.

***

Tiap sore pada hari jum’at, ia selalu duduk santai di teras rumahnya. Matanya menerawang. Awal mula aku melihatnya, tujuh tahun yang lalu.

Saat semua tugas sekolah selesai kukerjakan. Aku akan ke lapangan yang berada di seberang rumahku. Di sana, aku bisa berlari riang sambil mengejar capung atau sekadar berbaring menatap awan di langit. Awan di sore hari sangat indah, apalagi bila cuacanya cerah seperti sore ini. Terkadang, aku bisa melihat awan-awan itu membentuk sesuatu yang aneh. Kuda Pegasus, malaikat bersayap, bakso empuk berwarna putih, dan banyak lagi bentuk lainnya sesuai dengan khayalku sore itu.

Sore ini, aku telah mengejar capung selama enam belas menit tapi hasilnya nihil. Capung-capung itu bertambah gesit, semua jurus menangkap capungku tak berguna. Aku lelah. Kubaringkan badanku ke rumput hijau. Kutatap awan-awan putih di langit, kali ini bentuknya spesial, gulali. Aku menelan ludah.

Demi mencari bentuk lain, aku berputar seratus delapan puluh derajat. Pada posisi ini, hanya terlihat gumpalan-gumpalan kecil awan putih. Tak sengaja, mataku bertemu dengan sosok Nenek yang sedang duduk santai di teras rumahnya. Aku bangkit, sambil duduk bersila kutatap dengan seksama Nenek itu.

Tatapannya kosong, wajahnya diputar ke kanan dan kiri. Ia bagai singa yang mencari mangsa di padang rumput, mirip dengan film dokumenter yang sering kusaksikan di channel favoritku. Mulutnya merapal kalimat dengan cepat. Gumpalan asap keluar dari sela-sela jendela yang terbuka. Aroma kemenyan terasa sangat mengganggu hidungku.

Sejurus kemudian, seorang pria yang sedang mengendarai sepeda motor tiba-tiba saja berhenti. Pria itu berjalan dengan tatapan yang hanya tertuju pada wajah nenek itu.

Tak berapa lama, pria itu telah masuk ke rumah nenek. Pintu tertutup begitu pula dengan jendela di depan rumahnya. Selama dua puluh menit, aku terus menunggu dengan penasaran, apa yang mereka lakukan di dalam rumah nenek itu?

Kemudian, pintu terbuka. Pria itu ke luar dari rumah. Perban putih membalut leher bagian kanannya. Senyum sinis terlukis di wajahnya. Nenek itu pun melambaikan tangannya lembut, begitu pula sang pria. Setelah pria itu tak terlihat lagi oleh ke dua sudut mataku, aku menoleh ke sosok nenek itu. Betapa kagetnya, mataku menangkap matanya yang tajam. Persis di dua bola matanya yang berwarna cokelat. Aku kaget. Segera aku berlari kencang, pulang mengadu pada ibu.

Napasku masih saling memburu. Ibu melihatku keheranan, “ada apa, Naomi?” Ia mengelus lembut rambutku, “kamu lihat setan, Nak?” Aku masih mengatur napas. “Bu, nenek di seberang jalan yang rumahnya dekat dengan lapangan itu, siapa namanya, Bu?” Ibu tak langsung menjawab, ia melangkah ke dapur. Sepuluh detik kemudian, ia menawarkan segelas air putih kepadaku. “Minum dulu,” aku langung mengambil air putih dari tangannya, meminumnya tanpa bernapas.

“Namanya, Nenek Saini,” ujar ibu pelan. “Dia sebatang kara, ibu juga tidak tahu siapa dia. Cuma tahu namanya saja. Dia penyendiri.”

Aku hanya membalas dengan anggukan tiga kali.

“Sebaiknya kamu jangan masuk ke rumahnya, berbahaya!” Wajah ibu kali ini sangat serius.

Aku menunduk. Mulutku menutup rapat.

“Mandi Nak, sudah sore.”

“Iya bu.” Suaraku akhirnya keluar juga, itu pun masih setengah bergumam.

***

Keesokan harinya, kampung kami dihebohkan oleh berita ditemukannya mayat seorang pria di samping sepeda motornya. Sekujur tubuhnya ditemukan luka goresan. Diduga, ia meninggal karena kehabisan darah. Ibuku sedang ramai bergosip di depan rumah, aku hanya mencuri dengar saja.

Setelah ibu selesai dengan acara gosip paginya, aku memberanikan bertanya, “Bu, apa warna motor mayat pria itu?” Ibu menatapku heran. “Kok, kamu mau tahu sih?” keningnya berkerut-kerut. “Mau tahu saja, Bu.” Lama kutunggu jawaban dari Ibu, akhirnya ia berkata, “Biru. Motor Matic!” Aku terpaku di tempatku berdiri. Tidak mungkin. Pikirku.

Aku bertanya lagi, “Pria itu, rambutnya gonrong yah, Bu? Kulitnya putih?” Kututup kedua telingaku dengan tangan. Tak sanggup aku mendengar jawaban dari Ibu. Semoga dugaanku salah, Tuhan. Hatiku mengucap doa.

“Bagaimana kamu bisa tahu, Naomi?”

Walau aku telah menutup kedua telingaku, suara ibu masih dapat terdengar. Ahh… Tubuhku menggigil. Padahal aku belum mandi pagi ini, cuacanya juga cerah. Lekas kuminum susu yang tersaji di meja makan. Namun, tubuhku masih saja menggigil.

***

Setelah seminggu tak bermain di lapangan seberang rumah. Jum’at sore ini, akhirnya kuputuskan untuk bermain di sana. Bukan bermain tapi aku ingin menyelidiki Nenek Saini. Aku penasaran, apa dia masih duduk menerawang di teras rumahnya? Apa ada orang lain lagi yang masuk ke rumahnya?

Cuaca sore ini agak mendung, awan putih tak terlihat, hanya sekumpulan awan hitam yang menghias langit. Kali ini, aku tak berbaring menatap awan, cuma duduk santai sembari menatap penuh telisik ke arah rumah Nenek Saini.

Benar saja, Nenek Saini duduk di teras rumahnya dengan perangai yang sama dengan Jum’at lalu. Apa yang dia lakukan pada tiap sore hari Jum’at? Lagi-lagi, gumpalan asap keluar dari sela-sela jendela rumahnya, dan tentu saja, bau kemenyan mengganggu hidungku, lagi.

Tak menunggu lama, seorang ibu akhirnya singgah ke rumah Nenek Saini. Pintu dan jendela tertutup rapat. Lima belas menit kemudian, ibu itu keluar dari rumah. Perban putih membalut leher di sebelah kanannya. Senyum sinis terukir di wajahnya. Nenek Saini melambaikan tangannya lembut dan dibalas oleh ibu itu. Kejadiannya hampir sama dengan kejadian Jum’at lalu.

Nenek Saini mengarahkan pandangannya ke arahku. Aku kaget bukan kepalang. Dia tahu aku sedang menyelidikinya. Segera kuambil kuda-kuda, berlari pulang ke rumah. Secepat yang kubisa.

***

Sabtu pagi memang menjadi waktu khusus untuk bergosip para ibu-ibu di kampungku. Ibuku tak pernah ketinggalan mengikuti gosip terbaru. Waktu dan tempatnya jelas, pukul 07.05 saat penjual sayur lewat di depan rumahku.

Pagi ini, mereka bergosip seperti sedang berbisik. Seakan, mereka takut jika ada yang mendengar gosip mereka. Dan, aku tak bisa mendengar suara-suara bisikan mereka. Aku penasaran.

Ibuku masuk ke rumah dengan muka sedikit tegang, segera kutanyakan hal yang membuatku penasaran dari sepuluh menit yang lalu.

“Ada mayat lagi yang ditemukan, Bu?”

“Kenapa setiap ada mayat ditemukan, kamu selalu tahu, Naomi?” Ibuku mengangkat kedua bahu dan tangannya heran.

“Nebak saja, Bu.” Kilahku.

Ibu terdiam beberapa menit. Aku pun terdiam menunggu jawaban dari ibu.

“Iya, ada mayat lagi. Sama dengan minggu lalu, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka goresan. Diduga, ia mati karena kehabisan darah,” ibu menghela napas panjang, “hanya saja kali ini seorang wanita.”

“Apa dia berkulit hitam dengan rambut sebahu, Bu?”

Mata ibu melotot, ia betul-betul tak tahu kenapa anaknya tahu semua ciri-ciri mayat yang ditemukan di kampungnya.

“Naomi, kenapa kamu tahu ciri fisiknya?”

“Cuma nebak-nebak saja, Bu,” aku terkekeh.

“Ohh… pergi mandi sana, sudah siang. Saya yang antar ke sekolah, Ayah sudah pergi ke kantor pagi-pagi. Ada tugas tambahan katanya.”

Ibu meninggalkanku sendiri dengan rasa penasaran dan takut yang membuncah.

Kenapa setiap orang yang berkunjung ke rumah Nenek Saini, keesokan harinya ditemukan meninggal dengan goresan luka di sekujur tubuhnya?

Apakah Nenek Saini seorang psikopat?

Pikiranku memberondong tanya.

***

Sejak kejadian ditemukannya dua mayat pada sabtu pagi, aku tak pernah lagi bermain di lapangan seberang rumah. Dan lagi, aku melanjutkan sekolah di kota. Kabar tentang Nenek Saini tak pernah lagi terdengar.

***

Selama tujuh tahun sekolah di kota,  akhirnya, ibu dan ayah menyuruhku kembali sekolah di kampung. Mereka kesepian. Tahun ini, SMK baru saja selesai dibangun di kampungku. Ayah menyarankan agar aku melanjutkan sekolah di SMK tersebut, agar punya keahlian katanya. Aku nurut saja.

Jum’at sore ini, aku sedang bosan. Tetiba memori di kepalaku memanggil kejadian tujuh tahun lalu, Nenek Saini. Gumamku.

Kuputuskan untuk melihat lagi sosok Nenek Saini. Segera kukenakan pakaian yang sedikit rapi, menuju ke seberang rumahku. Sesampainya di sana, lapangan tempat bermainku dulu tidak seluas tujuh tahun lalu. Jejeran rumah telah berdiri kokoh. Mataku menggerayangi sekitar, rumah Nenek Saini masih ada di sana.

Aku melangkah lebih dekat ke rumah Nenek Saini, setelah berjarak hanya lima meter dari rumahnya tiba-tiba saja, pintunya terbuka. Nenek Saini, desisku. Ia berdiri di depan rumahnya, kemudian menyapaku sopan, “Mau ke mana, Nak?” Aku terdiam. Kuperhatikan dengan seksama Nenek Saini, ia tak berubah dan bertambah tua sedikitpun. Ia masih segar seperti biasanya.

Setelah kuperhatikan, Nenek Saini berkulit putih mulus, guratan keriput menghias wajahnya yang cantik, tubuhnya langsing, sepintas ia seperti wanita tua biasa yang berbeda nampak dari sorot matanya yang tajam, dan anehnya, ia berbola mata warna cokelat. Bola mata itu yang menghantuiku selama tujuh tahun terakhir.

Sore ini, bau kemenyan lebih membiusku dari biasanya. Aromanya membuatku kehilangan setengah kesadaranku. Tanpa sadar, kakiku melangkah sendiri masuk ke rumah Nenek Saini dengan tatapan kosong dan masih merapatkan kedua bibirku.

Pintu dan jendela di tutup perlahan oleh Nenek Saini. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Tak terlihat banyak perabotan, hanya ada satu lukisan seorang wanita menempel di dinding. Lukisan wanita itu mengenakan baju putri zaman kerajaan, gaunnya berwarna hijau, matanya menangkap mataku. Aku menggigil entah karena apa, ditambah lagi, bau kemenyan semakin menyengat. Tak terlihat kemenyan di ruang tamu Nenek Saini. Dari mana asal bau kemenyan ini? Pikirku. Kesadaranku tinggal sepuluh persen, otakku tak mampu mengontrol tubuhku.

“Siapa namamu, Nak?”

“Naomi,” lirihku.

“Kamu tahu, Nak. Hakikatnya, minuman yang paling nikmat adalah darahmu sendiri.”

Aapaa? Minuman ternikmat adalah darah kita sendiri! Hanya hatiku yang dapat berceloteh. Mulutku tak mampu terbuka.  Begitu pula tubuhku, cuma bisa mematung. Padahal ada banyak tanya yang ingin kutanyakan padanya.

Dimana keluarga nenek?

Nenek tinggal sendiri, yah?

Kenapa selalu ada bau kemenyan di rumah nenek?

Kenapa tiap orang yang berkunjung ke rumah nenek keesokan harinya mereka meninggal?

Dan, banyak lagi pertanyaan di benakku namun semua itu terkubur. Entah karena apa.

Sejurus kemudian, Nenek Saini menyerahkan pisau kecil dan gelas ke arahku. “Iris lehermu sedikit. Tampung darahmu di gelas ini. Nikmati darahmu, Nak. Sedap sekali… cobalah,” Sorot matanya yang tajam semakin menghipnotisku. Aku tak mampu melawan perintahnya.

Kuiris leherku perlahan, cukup satu goresan kecil saja darah muncrat dengan kencang. Tanganku yang satunya lagi sigap menampung darahku. Tak butuh waktu lama, seperempat gelas itu telah penuh dengan darahku. Nenek Saini mengambil perban yang telah dia sediakan di bawah meja. Mendekatiku dan membalut luka goresan di leherku dengan telaten.

“Lukamu saya perban, takut nanti kamu kehabisan darah dan meninggal di sini.” Ia menghela napas, “minumlah!” perintahnya.

Aku tak berontak, tak berkata walau sepotong saja, tunduk dengan perintah Nenek Saini. Aku pun meminum darahku sendiri. Ludes sampai tetes terakhir.

Darahku sangat nikmat. Seumur hidup tak pernah kurasakan minuman seenak ini.

Wajahku tak mampu menyembunyikan kenikmatan itu, bibirku menyunggingkan senyum.

“Bila kau ingin menikmati dunia, maka minumlah darahmu sendiri,” Nenek Saini mengelus-ngelus lembut dagunya. “Semakin kau meminum darahmu semakin kau dekat dengan hakikatmu, Nak.” Petuahnya.

Tiga menit kemudian, aku bangkit dari dudukku dan melangkahkan kaki perlahan ke luar dari rumah Nenek Saini.

***

Aku sangat bahagia. Aku semakin dekat dengan diriku.

Kuminum lagi.

Lagi.

Dan, lagi.

Aku kecanduan!

***

Keesokan harinya, Ibu tak pernah melihatku dari semalam. Biasanya, jam 05.35 aku telah rapi dan membantunya memasak sarapan untuk ayah. Ia pun mencariku di kamar. Betapa kagetnya, ia menemukan tubuhku terbujur lemas di kasur. Sekujur tubuhku penuh dengan luka goresan.

“Ayah, Naomiii…” Ibuku berteriak kencang, pipinya seketika dibanjiri air mata.

 

Ilustrasi diambil di sini


  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    two thumbs up !!

  • Nur Hayati
    Nur Hayati
    1 tahun yang lalu.
    Cukup menegangkan bacanya.. sukses bikin pembaca awam seperti ada di dalam cerita.. keren

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Naomi dah is dead, tapi masih cerita diakhir pak?..
    Isi cerita bikin penasaran, makin penasaran pas si naomi masuk rumah nenek..
    Minum darah sendiri?..kebahagiaan itu mengalir didarah kita sendiri..
    Kalau kita belum merasa bahagia, mungkin kita belum tau 'rasa' darah kita yang sebenarnya...
    ?!? Hmm..
    Misterius...

    • Lihat 2 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    kirain manfaatin momen Nenek Sa*ni, Pak

    aduh. ini ngeri ya (?)
    tapi saya belum bisa 'membaca' pesan dari meminum darah sendiri

    • Lihat 3 Respon