Surat untuk Saudaraku

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juni 2016
Surat untuk Saudaraku

Surat untuk Saudaraku

Penulis: Dinan

 

Terkadang, kita harus menulis untuk mengalirkan keresahan, kesedihan, kegembiraan, atau ide yang menumpuk, namun tak mampu disuarakan secara verbal. Apalagi bagi seorang penyendiri seperti saya, yang mungkin, akan bertemu malaikat maut sebentar lagi.

Detik ini, saya memilih menulis surat. Untuk siapa? Saya memanggilnya saudara, walau tak serahim secara fisik. Kami bersaudara oleh rahim yang lebih agung, ideologi. Saudara se-ideologi.

Sambil memegang kepala yang pusing karena mabuk laut. Badai mulai datang. Sebelum terlambat, saya mulai…Semoga bukan surat wasiat!

 

[*]

 

Teruntuk Suadaraku,

Apa kabar Saudaraku? Bolehkah saya memanggilmu “kawan” saja?

Kawan.

Saya ingin merangkul tanganmu. Bersediakah? Harus kawan. Bila tidak, kau akan terjatuh, tenggelam di laut dalam. Kapal yang kita tumpangi sedang dilanda badai. Gelombang laut menghempas seluruh sisi kapal. Goyangannya cukup kuat, lihatlah Pak Tua di depan sana, ia terus memegang kuat tiang di depannya. Merapal kalam dengan fasih dan tenang. Sedang saya, pusing dan muntah dua kali.

Lucu juga yah, kawan. Saat badai besar seperti ini, para penumpang di kelas kita ini ramai menyelamatkan diri sendiri. Egois. Bukan hanya itu, mereka bahkan menghujat saya tadi, dua menit yang lalu. Katanya dengan suara keras, saya idiot, kenapa saat maut di depan mata seperti ini, saya justru ingin merangkul orang lain? Matanya melotot tajam ke wajah saya yang dibanjiri keringat panik. Saya cuek saja. Kita bersaudara kan, kawan? Itu alasan yang cukup tuk merangkul tanganmu.

 

Kawan.

Saya ingin menatap matamu. Bersediakah? Harus kawan, bila tidak, saya tidak akan tahu kau sedang terhipnotis oleh virus apa.

Hipnotis?

Lagi ramai, kawan. Banyak ahli hipnotis sekarang. Kau pasti tahu, bila hatimu kuat, kau tak akan mungkin terhipnotis oleh mereka. Siapa mereka? Orang-orang pandai. Cerdas. Tak jarang mereka dilatih dan didanai khusus untuk menjadi licik.

Setelah bertambah cerdas, mereka mulai menghipnotis di seluruh pelosok kapal ini, Mereka tak mengambil arloji, dompet, atau HPmu. Bukan. Mereka merampas ideologimu. Sesuatu yang sangat bernilai, lebih dari apapun. Kau mau ideologimu diganti dengan ‘gado-gado’? Jangan!

Bisikan mereka lembut. Tatapannya syahdu. Wajahnya bening. Tapi, jangan lihat kalbunya kawan. Hitam Pekat. Saya memang makhluk, tak punya kemampuan membedah kalbu makhluk lain. Tidak. Saya melihat akhlaknya. ‘Ide’ bagian dari akhlak. Warna akhlak selaras dengan warna kalbu, kawan. Itu kata guru saya.

Virus?

Hati-hati kawan, virus beterbangan hampir di tiap sisi kehidupan. Di sekolah, pasar, media, bahkan di masjid. Masuk lewat mata, telinga, kepala, kulit, banyak lagi tak bisa saya sebut semua.

Bila kau terjangkit virus itu, ia akan memakan kalbumu sedikit demi sedikit. Apakah kalbumu dilahap habis? Ya. Tiga menit kemudian, ia memuntahkan kalbu baru. Warna dan coraknya berbeda dengan kalbu sebelumnya. Saat itu terjadi, kita bukan saudara lagi. Atau mungkin, kita tetap bersaudara hanya saya polos sedang kau bercorak loreng mirip harimau.


 

[**]

 

Penaku terhenti. Teriakan seorang pria di pinggir kapal membuyarkan konsentrasiku.

Saya menoleh ke samping. Tampak seorang ibu yang sedang memegang pelampung berwarna oranye. Mukanya pias. Ia terus merapal kata yang tak jelas. “Ada apa, Bu?” tanyaku.

“Ada orang tenggelam,” ucapnya terbata. “Mungkin, ABK atau penumpang, saya tak tahu. Ia sedang jalan di pinggir kapal, untuk memperbaiki jaringan radio kapal yang rusak, kemudian, gelombang besar datang membawa pria itu.” Ibu itu memakai pelampungnya. Tak lama, ia pun membaringkan badan di samping anaknya. Tak lupa, ia memeluk hangat anaknya.

Saya hanya bisa menggeleng beberapa kali.

Saya tak sadar, sedari tadi gelombang air laut dari pinggir kapal membasahi buku agendaku. Percikan air laut sedikit demi sedikt membasahi lantai. Badai bertambah parah.

Sebagian besar penghuni kapal menangis tersedu. Ada pula yang berteriak lantang menantang badai, bukan, menantang langit. Penumpang kelas eksekutif, tetap santai menghadapi badai ini, mereka masih tertawa sambil menikmati hidangan yang tersaji di meja makannya.

Dari pada panik atau muntah lagi, sebaiknya saya melanjutkan menulis surat ini. Surat wasiat untuk saudaraku.  

 

[***]

 


Kawan.

Sepertinya sudah saatnya kita berpelukan. Bersediakah? Kau menolak? Tak apa, yang penting saya sudah menawarkan, kawan.

Kali ini, saya tak mau memaksamu, kawan. Saat kita berpelukan, getaran ukhuwah akan mengalir dari kalbu kita yang juga berpelukan. Kita tak akan saling mencaci atau saling menyalahkan.

Saat ini, siapa yang akan kau salahkan? Kau mau menyalahkan angin yang berhembus kencang. Atau mungkin, air laut yang tak mau terbaring kalem. Saya lupa, kau akan menyalahkan langit yang mengirim hujan dan gemuruh. Jangan kawan. Salahkan saja dirimu sendiri yang tak siap menghadapi badai ini.

Apakah saya sudah siap  menghadapi badai ini?

Apakah nakhoda sudah siap menghadapi badai ini?

Jangan-jangan, kapal yang kita tumpangi ini memang dirancang untuk tak tahan dengan badai sekuat ini. Mungkin, sebentar lagi kapal ini akan tenggelam. Pulau tujuan kita telah mulai terlihat. Cahayanya terhambur sampai ke langit.

Bila kapal ini tenggelam, saya tak mampu berenang sendiri ke pulau itu. Jaraknya masih jauh. Saya tak punya pelampung. Napasku tak panjang untuk bisa berenang sampai ke sana. Ditambah lagi, badanku terlalu berat. Saya akan tenggelam di dasar laut yang karena kedalamannya airnya sudah tidak berwarna biru lagi tapi hitam.

Kawan, bagaimana denganmu?

 

Salam Ukhuwah,

Saudaramu…

 

[****]

 

Saya terhempas oleh guncangan kuat. Hanya tiga menit, kapal ini terbelah dua. Seluruh penumpang panik. Angin berhembus lebih kencang kali ini. Gelombang laut menelan kami. Bagi mereka yang punya pelampung, mereka akan selamat, dan bisa berenang ke pulau tujuan.

Sedang saya?

Tenggelam.

Saya masih menggenggam surat yang kutuliskan untuk saudaraku, namun, tiba-tiba arus dari dasar laut menghantam. Surat itu terlepas.

Sepertinya, surat itu adalah surat wasiat, bukan untuk saudaraku tapi untuk saya pribadi.

Air laut tak lagi berwarna biru, tapi hitam. Sangat pekat. Cahaya tak nampak walau setitik. Telingaku tak mampu mendengar suara napasku lagi. Gelap… Sunyi…

Kawan, bagaimana denganmu?

 

Ilustrasi gambar diambil di sini


  • Bina Raharja
    Bina Raharja
    1 tahun yang lalu.
    *_* menginspirasi sekaliii

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Karya bagus... ^_

    • Lihat 2 Respon

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan mas Dinan kian hari makin mantap..

    • Lihat 2 Respon