Penggenggam Angin

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Juni 2016
Penggenggam Angin

Penggenggam Angin

Penulis: Dinan

 

Lelaki itu memunggungiku. Ia terusik oleh pernyataanku dua menit yang lalu. Hidupnya hanya menggenggam angin. Bebas tanpa ruang yang membatasi. Terbang seenaknya. Tak peduli dengan kotak hitam dan putih. Kebebasan adalah kemutlakan.

“Saya pulang dulu,” bisiknya lirih. Langkahnya menjauh dari sudut mataku. Menghilang ditelan angin.

 ***

Semburat senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ia pecinta perbedaan. Baginya, ada banyak jalan menuju surga. Tak harus memakai jubah apalagi memanjangkan jenggot. Selama hati menyebut nama-Nya untuk apa gusar dengan mereka yang berteriak lantang tentang Kalam. Tak ada kebenaran mutlak di bumi, yang ada hanya tafsir.

***

Aku mengenalnya tiga bulan lalu, pada sebuah seminar bertema ‘Menatap Tuhan maka Menatap Kebenaran’. Penampilannya tak seperti peserta seminar lainnya. Jaket berbahan jeans warna biru, senada dengan celana yang dikenakannya. Ia duduk di sampingku. Setelah istirahat sejenak, ia melepas jaket birunya. Terlihat baju kaos berwarna hitam bertuliskan ‘Anomali’ yang bercorak putih. Wajahnya menoleh kewajahku, “Ali.” Ia memperkenalkan dirinya sembari menyodorkan tangan kanannya. Ragu, kusambut tangannya. Kami berjabat tangan cukup lama. Dua puluh detik. Sekejap kemudian, kedua sudut bibirku terangkat ke atas. “Ahmad,” gumamku.

Kami mengikuti seminar dengan khidmat. Setelah empat puluh lima menit dua pembicara menyelesaikan materinya, sesi bertanya dibuka oleh moderator. Ali langsung mengacungkan tangan kanannya ke atas. Ia berdiri tegak, tatapannya lurus ke depan. Seorang panitia seminar menghampirinya, kemudian menyerahkan mic.

“Maaf sebelumnya. Ada satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan,” suaranya berat. Ia menghembuskan napas perlahan. “Menatap Tuhan itu tidak mungkin kita lakukan di dunia fana ini, begitu pula dengan menatap kebenaran. Sederhana saja, tak usah berbelit-belit. Apa itu kebenaran?” Pertanyaan itu menghujam di tiap sudut ruangan, mungkin juga, menghujam kepala kedua pemateri. Semua peserta terdiam, termasuk aku.

Moderator mengucapkan apresiasi atas pertanyan Ali. Ia langsung memberi kesempatan kepada pemateri untuk menjawab. Ia lupa, bila sesi pertanyaan pertama sebaiknya ada tiga penanya.

Jawaban pemateri tak lugas dan mengambang. Ali terkekeh. Sedang aku hanya menggaruk kepalaku yang tak gatal. Sejak saat itu, kami bertukar nomor hp. Berharap, suatu saat nanti kita akan berdiskusi menemukan kebenaran.

***

“Apa jadinya dunia ini, bila kebenaran hanya milik si ‘putih’?” tanya Ali sembari membakar rokok kreteknya.

“Sebentar, sebenarnya apa itu kebenaran menurutmu, Ali?”

Ali melemparkan pandangannya ke jalanan. Ia mencari kata yang pas dan sederhana atas pertanyaanku. Asap memenuhi wajahnya. Entah berapa kali ia mencumbu kekasihnya. Setelah puas dengan kendaraan lalu-lalang di depan rumahnya. Ia pun menoleh ke wajahku. Menatap mataku yang berubah merah karena asap rokok kreteknya.

“Kebenaran adalah kebebasan,” suaranya sedikit dikeraskan. Lagi, ia mengisap dalam kekasihnya.

Keningku berkerut-kerut mendengar jawabannya. Suatu jawaban di luar dari pakemku. Zonaku. Tanpa sadar, tangan kananku memijat lembut kepalaku.

“Jadi kebenaran tak punya ruang?” tanyaku lirih.

“Ya…“ Tak terasa rokok di tangannya telah mencapai ‘ambang isap’. Ia pun mematikan rokoknya. “Bila kebenaran mempunyai ruang, sekat, atau batas. Bukankah itu bukan kebenaran?”

Angin terasa tak sepoi lagi sore ini. Tak menyejukkan sama sekali. Angin seperti inilah yang disenangi oleh Ali. Ia menggenggam angin semampunya dan menghempaskan sekaligus ke ideologiku. Pijakanku tak kuat. Aku terbawa angin…

***

Dari dulu, yang kuketahui hanya ada dua komunitas manusia. Penggenggam Angin dan Penggenggam Tali. Bila ada bentuk lain, maka itu pelebaran sayap dari dua komunitas itu. Mereka akan terus ‘berperang’ sampai waktu terhenti.

Begitu pula, aku dan Ali. Setelah perbincangan seminggu lalu, genggamanku melemah. Tali yang selama ini kugenggam erat, diterpa angin kebebasan. Bila kebebasan adalah kebenaran mutlak untuk apa ada Tali yang diwariskan oleh Para Manusia Suci. Namun, tetap saja angin itu memiliki kekuatan besar. Tak jarang, disokong oleh dunia.

Para Penggenggam Tali akan dipanggil dengan banyak julukan: kuno, kampungan, ekstrimis, dan banyak lagi. Ada yang diam saja sambil menggigit jari. Ada pula yang dengan lantang berteriak. Tak sedikit yang terbawa angin kebebasan. Sedang lainnya, memilih diam dan memperbaiki diri.

Aku akan ikut yang mana? Hatiku berbisik.

***

Kebenaran itu membebaskan, tapi, kebebasan bukanlah kebenaran.

Kukirim sms itu ke Ali. Berharap ia membalasnya. Lima menit kemudian…

Kali ini kita berdiskusi di mana, Ahmad?

Mataku berbinar setelah membaca sms dari Ali. Segera kubalas…

Di rumahku. Jam 4 sore.

***

“Ali…” suaraku pelan. “Akan seperti apa bila pondasi ide manusia adalah angin?”

Ali tak menjawab. Kedua tanganya saling menjabat. Matanya mengejar angin sore itu. Ia menikmati pergerakannya yang luwes tanpa ada ruang. Tiga detik kemudian, matanya berkedip dua kali.

“Semua manusia akan terbebas dari kotak suci yang dianggapnya suci. Ide mereka akan bersua dengan pencipta angin,” kalimatnya keluar sendiri. Tanpa konsep. Ia meresapi tiap aliran kata-kata itu. “Kawan, semakin kau mengkultuskan sesuatu maka semakin kau terkurung oleh persepsimu.”

Lagi-lagi, semua untaian kalimatnya mencubit ideologiku. Tak ada sesuatu yang suci. Kesucian akan mengurung pencarian di wilayah persepsi.

Benarkah demikian?

“Mau minum apa, Ali?” Kualihkan tema, berharap aku dapat menambah waktu berpikir.

“Saya puasa, terima kasih.” Ucapnya setengah berbisik.

Pantas saja, sedari tadi ia tidak merokok. Misiku gagal!

“Baiklah, kita mulai,” kuperbaiki peci di kepalaku, tak lupa mengelus lembut jenggot tipisku. Bantu saya. “apa standar kebenaran menurutmu, Ali?” Kali ini wajahku seratus persen serius.

“Standarnya adalah kebebasan itu sendiri,” tangan dalamnya mengelus lembut keringat di pelipisnya. Sore ini, terasa sangat panas. “Selama ide itu membebaskanmu sebagai manusia, berarti ide itu benar adanya.”

“Kebenaran memang membebaskan, tapi, kebebasan bukanlah kebenaran. Tiap titik butuh standar, butuh patokan, butuh landasan agar sesuatu itu benar atau tidak benar.” Mulutku mengunyah kalimat itu dengan cepat.

“Tidak ada yang tidak benar. Semua benar. Hanya anak kecil yang bermain di warna hitam dan putih. Benar dan salah. Itu logika yang keliru, kawan,” Ali menyadarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia memejamkan matanya, “Logika itu yang membunuh jutaan umat manusia, Ahmad…” Lirihnya.

Matahari mulai mencari ruang tuk membenamkan wajahnya di ufuk barat. Ia malu mendengar percakapan kami. Begitu pula denganku. Aku malu, tak mampu memberi pencerahan untuk lelaki di sampingku. Lelaki yang terus saja menggenggam angin di tangannya. Terbuai kebebasan berpikir.

Kuberanikan diri, “Jadi, semakin bebas seorang hamba, maka ia semakin suci. Begitukah, Ali?”

Mata Ali terbuka perlahan, wajahnya mendongak ke arahku. “Iya…”  Ia menghela napas, “kau akan mengerti bila waktunya tiba.”

Tidak. Itu tidak benar. Hatiku berontak.

“Apa fungsi agama?” Suaraku sedikit keras. Aku mulai emosi.

“Tak ada. Hanya manusia bodoh yang terkurung oleh agamanya.”

Kalimat Ali bagai guntur menggelegar di telingaku. Ia menafikkan agama. Astagfirullah

“Ali, nyebut…” Aku menggeleng beberapa kali. “Kamu sudah jadi atheis karena kebebasanmu. Itu dosa, Ali.”

Ia terkekeh. Tak berapa lama, ia tertawa terbahak. Tangannya memegang perutnya yang tak sakit.

“Kenapa agama kita merosot, Ahmad? Itu karena kalian…” Senyum sinis terlukis di wajahnya. “Kalian terlalu KUNO!”

Aku menundukkan wajah, kemudian berkata lembut, “Saya rela dipanggil Kuno, asal, saya masih memegang tali agamaku.”

Ali terdiam. Senyum dan tawanya tiba-tiba saja memudar.

“Secara hakikat, semakin kau berpegang teguh pada tali maka semakin kau merasa bebas sebagai manusia. Kebebasan yang mendamaikan pikiran dan hati.” Aku melirik Ali sejenak, ia masih diam. “Sebaliknya, semakin kau jauh dari tali atau terbang bersama angin kebebasanmu maka kau semakin terkurung oleh akalmu sendiri. Itu bukan bebas, Ali,” pernyataan itu terasa berat keluar dari mulutku.

“Ahmad, kau belum mengerti,” bantahnya.

“Satu orang saja bebas melakukan apa saja, selanjutnya, sejuta orang akan terkurung oleh kebebasan orang tersebut. Termasuk ide, kawan.”

Ali bangkit berdiri dari kursi. Diam seribu bahasa. Wajahnya merona merah. Emosi mendaki sampai ke ubun-ubunnya.

Saya keliru? Nuraninya bertanya lembut.

***

Lelaki itu memunggungiku. Ia terusik oleh pernyataanku dua menit yang lalu. Hidupnya hanya menggenggam angin. Bebas tanpa ruang yang membatasi. Terbang seenaknya. Tak peduli dengan kotak hitam dan putih. Kebebasan adalah kemutlakan.

“Saya pulang dulu,” bisiknya lirih. Langkahnya menjauh dari sudut mataku. Menghilang ditelan angin.

 

Ilustrasi gambar diambil di sini


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Cerpen ini luar biasa. Tak hanya dari sisi pesan yang dikandung melainkan juga dari teknik penulisan yang diterapkan. Dinan mengetengahkan diskusi yang sangat mendalam tentang agama antara dua orang yang teguh memegang prinsip mereka masing-masing. Yang satu, Ali, bersikukuh kebenaran adalah kebebasan; bahwa tidak ada hitam dan putih dalam kehidupan. Si Penggenggam Angin ini meyakini agama hanyalah "mengurung manusia". Di lain pihak, Ahmad, si Penggenggam Tali, berpendapat sebaliknya; bahwa tetep dibutuhkan standar agar sesuatu benar atau tidak sebebas apa pun manusia bergerak atau berpikir. Dengan bahasa yang sederhana, pesan kaya ini teruntai secara lugas. Si kreator berhasil mengajak pembaca merenung tanpa kesan digurui. Penokohan keduanya pun digambarkan secara dewasa walau berseberangan pemikiran. Walau tak banyak, penyebutan metafora dan cara penggambaran yang memancing imajinasi pembaca membayangkan deskripsi tokoh membuat cerpen ini asyik dinikmati meski mengandung tema yang lumayan berat.

    • Lihat 1 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Izin simpan buat si Ahmad entah siapa yang lainnya itu, haha. Makasih banyak sebelumnya, Dinan... ^_

    • Lihat 1 Respon

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Tulisannya keren dan berisi, mas Dinan...

  • Ana  Farah
    Ana  Farah
    1 tahun yang lalu.
    suka sama tulisannya mas Dinan, serius -dan agak berat untuk ukuran saya yang yah beginilah adanya hehe- tapi dibahasakan dengan pas salut (!)
    ditunggu karya selanjutnya

  • Ulum Arifah
    Ulum Arifah
    1 tahun yang lalu.
    Di tunggu cerpen selanjutnya mas dinan :-)