Ajari Aku Mencinta [Cerpen Fiksi Dinan #3]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juni 2016
Cerpen Fiksi Dinan

Cerpen Fiksi Dinan


Seorang Dinan yang belajar membuat cerpen fiksi. Mohon kritik dan sarannya. Masih belajar!

Kategori Fiksi Umum

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Ajari Aku Mencinta [Cerpen Fiksi Dinan #3]

Ajari Aku Mencinta [Cerpen Fiksi Dinan #3]

Penulis: Dinan

 

Menatap cahaya aku terpejam

Mataku terhijab noda

Merapal mantra aku terbata

Mulutku tersembunyi bisu

 

Sarah terduduk dan terisak, bagaimana cara mencinta bila tak pernah bersua? Bisiknya. Hatinya gusar, merindu cinta. Entah dari mana datangnya bisikan-bisikan itu. Ia merindu cinta yang abstrak. Sejatinya, Sarah membenci “abstrak”. Ingin berlari, ia tak mampu. Kakinya terpasung oleh kekuatan di luar sadarnya.

“Kamu sakit, Sarah?” Tanya Bu Fatma membenamkan isakannya. Sarah meraih dengan cepat tisu di meja belajarnya, membasuh air mata di pipinya.

“Saya baik-baik saja, Bu,” ucapnya lirih

“Sudah  malam, kenapa belum tidur?” Bu Fatma mendekati Sarah. Duduk di ujung kasur sambil memijat lembut bahu Sarah.

 

Sarah hanya bisa tertunduk. Jemarinya dibuka selebar-lebarnya. Ia menatap nanar garis-garis halus yang terukir halus di tangan kanannya. Dua detik kemudian, tangan kirinya mengelus lembut garis-garis halus itu. Menyusuri sedikit demi sedikit perjalanan garis tangannya. Bu Fatma menatapnya dengan kening berkerut. 

 

“Ada masalah, Sarah? Kamu bisa cerita ke saya. Jatuh Cinta? Ditolak? Putus dengan pacar?” Bu Fatma memberondong tanya. 

Lama Bu Fatma menunggu respon dari Sarah. Ia masih saja mengelus lembut garis-garis tangannya. Bibirnya masih merapat. 

“Bu…” Suara Sarah pelan, “apakah ibu bisa mencinta sesuatu yang tak pernah ibu lihat?” Kali ini wajahnya mendongak ke wajah Bu Fatma. 

“Tidak bisa!” Jawab Bu Fatma tegas. 

“Tapi…” Sarah menghela napas panjang. “Saya harus mencintai sesuatu itu, Bu.”

 

Bu Fatma memegang dagunya perlahan. Sarah bukan darah dagingnya, tapi ia telah menganggapnya sebagai anak angkat. Selama Sarah tinggal di pondok, Bu Fatmalah yang senantiasa membantunya mengisi kesepiannya. Maklum, Sarah bukan tipe anak yang sering bergaul. Kegemarannya cuma satu, mengurung diri di kamar sembari membaca buku yang dikirimkan ayahnya.

 

“Maksud kamu apa, Sarah? Ibu tak mengerti.”

“Ayah pernah berkata, untuk mencinta kita tak butuh alasan. Apakah itu benar, Bu?” Suaranya sedikit dikeraskan.

“Iya, itu betul.”

“Saya tak pernah bersua, bagaimana caranya, Bu?”

“Oooh..” Bibir Bu Fatma membentuk huruf O beberapa detik, “mencinta akan terasa bila kita bersua, Sarah. Tak mungkin kita mencinta sesuatu bila kita tak pernah bersua, berbicara, atau berkenalan.” Jelas Bu Fatma yakin.

 

Sarah tak melanjutkan tanya, ia hanya mengambil selimut di sampingnya. Membaringkan badannya. Matanya tertutup perlahan. Bu Fatma kemudian keluar dari kamar dan tak lupa menutup pintu perlahan. 

Ajari aku mencinta sesuatu yang abstrak. Ia pun terlelap. 

~~~ 

Naluri mencinta ada di selaput hatiku

Tak butuh alasan walau sebiji

Milikku bukan milikku

Semuanya nisbi

 

Demi mengusir sepi dan tanya yang memuncak, Sarah melukis di pekarangan belakang pondoknya. Hari jum’at, teman-temannya lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya, sedang, Ia memutuskan tetap di pondok. 

Kanvas bermain dengan riangnya di kertas gambar. Setelah beberapa menit, sepotong muka harimau berwarna hitam mengaum dengan garangnya. Sarah meletakkan alat lukisnya di lantai. Mata harimau itu seakan menatapnya dengan tajam. Lukisannya seperti nyata. Ia mulai takut dengan lukisannya sendiri. 

Tetiba, semua anggota tubuh harimau itu terlukis sendiri. Lengkap. Badan, kaki, dan ekornya. 

Siapa yang melukisnya? 

Tak berapa lama, ekor harimau itu bergerak dengan sendirinya. Mukanya ditekuk pelan. Seakan baru terbangun dari tidur panjangnya. Sarah melotot heran, menyaksikan kejadian itu. Tanpa diminta, harimau itu keluar dari kertas, menerkam lehernya. Sarah tak mampu melawan serangan itu. Tubuhnya terbaring di lantai. Harimau itu tak hentinya mencabit daging Sarah. 

“Tolong…” Teriak Sarah sekeras mungkin. Namun, tak ada seorang pun yang mendengar teriakannya. Bu Fatma sedang sibuk mencabut rumput di halaman depan. 

Perlahan tapi pasti, daging Sarah dikunyah harimau itu dengan lahapnya. Darah Sarah membanjiri lantai. Bau amis terasa pekat. Lima menit sepuluh detik, Sarah meringis kesakitan. Matanya terasa berat. Dan, ia pun menutup matanya untuk selamanya. 

Sepertinya, sudah saatnya aku bersua.

 

~~~

 

Logika membunuh rasa

Selimuti napasmu dengan cahaya

Sesal tak berharga

Saat keranda mengantar raga

 

Ruangan ini sempit. Gelap. Sunyi. Sarah mencoba bangkit dari pembaringan, taapiii… raganya tak bersahabat. Tetap terbaring, sedang ia terduduk. Ia melirik sepintas tubuhnya, menggerakkan tangannya, tak bisa. Ia mencoba dengan kakinya, juga tak bisa. Sarah tembus! 

Ini di mana? 

Dua sosok datang bertamu ke tempat Sarah. Setelah jaraknya tak begitu jauh, satu sosok bertanya, “Man Rabbuka?”. Sarah tergagap, bisu. Tak tahu menjawab apa. Tanpa diminta, tubuhnya ‘dihantam’. Kemudian, tubuhnya hancur berserakan. Tersusun lagi. Pertanyaan yang sama, “Man Rabbuka?”. Sarah masih tergagap, masih bisu. Tubuhnya hancur lagi. Tersusun lagi. Begitu seterusnya… 

 

Sarah berteriak memohon ampun, “Maaf… Aku tak sempat mencintaMu. Semestaku belum mampu ajari aku untuk mencinta. Maaf…”

 

Tamunya tak peduli. Tubuh Sarah hancur lagi!

Lagi.

Dan Lagi.

  • view 279