Matahari Tak Bersinar Lagi

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juni 2016
Matahari Tak Bersinar Lagi

Matahari Tak Bersinar Lagi

Penulis: Dinan

 

Raguku tak ada walau setetes

mengapa engkau berhenti bersinar?

dimakan usiakah?

atau benderamu sudah usang?

 

Dulu kegaranganmu membuatku takjub

sekarang tak nampak

hanya tai gigi yang kamu sebar di sana-sini

aku mulai bosan.

 

Bila engkau berhenti bersinar

kepada siapa lagi kami menggantungkan harapan

Bulan?

Awan?

Bintang?

Mereka hanya memikirkan makan saja,

sedang engkau telah kenyang.

 

Turun saja dari singgasana langit

tak ada gunanya matahari yang tak bersinar

hanya merusak pemandangan saja

maaf!

 

Salam,

Pecinta Matahari

 

Surat elektronik itu kubaca dengan seksama. Mataku tak berkedip walau sekali. Betapa beraninya dia. Darimana ia memperoleh email pribadiku? Siapa Pecinta Matahari? Segera kubalas dengan sopan.

 

Matahari tak abadi

suatu saat ia akan tua dan mati

sinarnya pasti akan meredup

tapi ia akan berusaha semampunya.

 

Andai semua orang adalah Pecinta Matahari,

siapa yang akan menatap Bulan?

siapa yang akan memandang Awan?

siapa yang akan menikmati Bintang?

 

Semua harus bersinergi

agar semesta berputar

apakah kau ingin semuanya berhenti

jangan, kita akan mati.

 

Pecinta tak harus membuka topeng

tapi aku butuh nama agar hubungan ini terang dan jelas

bersediakah kau?

aku tunggu!

 

Hormatku,

Matahari

 

Setelah kukirim email balasan, aku menunggu di depan layar laptop. Celoteh dari Muhtadin tak kugubris sedikit pun. Lima menit sudah aku menunggu, tak ada jawaban dari Pecinta Matahari. Saya harus berbuat apa, Pecinta Matahari? Benakku.

 

~

 

“Bagaimana dengan isu si ‘merah’, Pak? tanya staf ahliku, Muhtadin. Ia menampakkan muka penasaran.

 “Biarkan saja dulu, kita lihat Bulan dan Bintang akan melakukan apa. Bila mereka tak mampu meredam masalah ini, saya akan turun tangan,” kuelus lembut sudut bibirku. “’Merah’ akan tetap ada sampai kiamat. Kita hanya mampu mengurungnya di ruang sempit. Bila ingin memusnahkannya, itu tidak mungkin!” Kubaringkan badanku di kursi empuk. Semua masalah ini membuatku lelah.

“Tapi, pak…”

 “Tadin, saya lelah.” Sergahku.

 

~

 

Andaikan energi berasal dari Bulan,

aku tak khawatir.

 

Andaikan Awan memiliki pesona,

aku akan diam saja.

 

Andaikan Bintang memang indah tiap detiknya,

aku akan menikmatinya.

 

Aku hanya seorang pecinta, Pak

tak lebih dari itu.

Soal nama, itu tak penting

aku hanya ingin semesta kita tak dipenuhi birokrat busuk yang mengekor pada si putih atau si merah.

 

Aku pecinta matahari, Pak

bila Bapak tak bersinar lagi itu artinya Bapak bukan matahari lagi.

Sampai kapan akan seperti ini terus, Pak?

yang kulihat hanya ada penjual kue.

 

Salam,

Pecinta Matahari

 

Lagi-Lagi… Kali ini tak akan kubalas. Biarkan ia berkoar-koar dengan asumsinya. Aku hanya bisa bekerja sesuai hati nurani. Hanya itu.

 

~

 

“Pak, sepertinya kekuatan kita semakin digrogoti,” Muhtadin tak hentinya khawatir. Yah, memang sudah tugasnya menganalisis semua kejadian dan memberiku pertimbangan.

Aku hanya mengangkat bahu.

“Bapak, tidak memperhatikan semua kejadian yang terjadi belakangan ini?” 

“Apa maksudmu, Tadin? Perjelas!” 

“Bintang semakin menghimpit kita, Pak. Kekuatannya sekarang sudah melebihi bapak. Setiap Bulan ingin tampil pasti Bintang yang memberi arahan.” Kali ini wajah Muhtadin tak bergeming. Ia sangat mengharapkan solusi dan langkahku selanjutnya. 

“Sejak awal saya bergabung, itu sudah terprediksi. Bintang memang ahli stategi, namun…” 

“Namun… Apa, Pak?” Muhtadin memotong kalimatku. 

“Ia belum tahu bahwa kematangan usia dan pengalaman, juga salah satu faktor kemenangan pada suatu pertempuran.” Senyum tipis terukir di wajahku. 

So…” 

“Kamu, sabar saja Tadin… Lihat saja, Bintang akan datang kepadaku sambil mencium punggung tanganku.” Wajahku mendongak ke atap ruangan. Memandang dengan tatapan kosong. Lampu di ruangan itu bersinar terang, sangat berbeda denganku. Sepertinya saya memang meredup

Muhtadin sudah tahu, bila aku menatap kosong seperti itu, artinya pembicaraan selesai. Dan, ia keluar dari ruangan. Di kepalanya sudah banyak ide yang akan ditawarkan kepadaku. Tapi ia sangat menghargaiku sebagai atasan dan seniornya, mungkin juga ‘Kakandanya’.

 

~

 

Anda bukan hanya tak bersinar lagi

juga bisu.

Sebentar lagi, Anda lumpuh

akan kujenguk di rumah, itupun bila Anda tak keberatan.

 

Salam,

Pecinta Matahari

 

~

 

Kubaca naskah pidato dengan malas. Isinya cuma bualan, aku jenuh. Muhtadin masih sibuk membenarkan jadwalku hari ini. Mobil melaju dengan kencang. Sepuluh menit lagi, aku harus membuka Musyawarah Besar salah satu organisasi islam. Ini kesempatan untuk menyampaikan bahwa saya masih ada. Pikirku. 

“Bagaimana dengan naskah pidatonya, Pak?” Muhtadin membuyarkan lamunanku. 

“Saya ingin berbicara dengan hati, Tadin. Maaf yah…” Kutepuk pundak Muhtadin dengan lembut sembari mencari kehangatan di balik kacamata tebalnya. 

Muhtadin tersenyum.

 

Sesampainya di tujuan, para pembesar organisasi tersebut menyambutku dengan jabat tangan dan senyum tulus. Mereka mempersilahkanku duduk di barisan depan. Sebelum duduk, aku melambaikan tangan kepada peserta musyawarah, tak lupa, senyum merekah kulemparkan, disambut dengan tepuk tangan yang menggema di seluruh ruangan. 

Sepuluh menit kemudian, akhirnya tiba giliranku untuk membuka acara. Pembawa acara telah mempersilahkanku ke podium. Kulangkahkan kaki dengan perlahan. 

Aku tak membaca konsep pidato dari Muhtadin. Kubuka pidatoku dengan basa-basi seperti biasanya. Kemudian…

 

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Ingat…

Kita tak berwarna ‘putih’ apalagi ‘merah’, kita berwana emas. Mengapa? Karena emas menyimbolkan kemuliaan dan keteguhan.

 

Peserta musyawarah bertepuk tangan dengan riuhnya.

 

Bangsa kita, adalah bangsa yang mulia. Untuk apa kita mencari warna di negara lain, kita sudah punya warna sendiri. Pegang teguhlah, maka kita akan makmur.  

Saat ini, sedang ramai orang memakai baju merah. Itu semua hanya sinetron, maukah kalian terbuai oleh sinetron? 

“T I D A K… “ Teriak peserta musyawarah. 

Aku tersenyum, lanjutku. 

Para pendahulu kita telah merancang dengan baik tentang warna bangsa ini, untuk saat ini, cukup mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, Insya Allah konflik akan menipis. 

Kawan-Kawan yang saya banggakan,

Detik ini, saya terlahir kembali. Pada forum yang mulia ini akan kubuat suatu komitmen, mohon dicatat dan bila saya tak melaksanakannya, saya siap turun dari singgasana langit. Komitmenku… 

Aku menghirup napas dalam-dalam kemudian kuhembuskan perlahan. 

Saya akan bersinar lagi seperti matahari yang menyinari seluruh penduduk bumi. Akan kutekan angka kemiskinan dengan ekonomi kerakyatan. 

Itu komitmenku! 

Aku menutup pidatoku, disambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah.

 

Aku lega…Tak akan ada yang mampu menahanku untuk bersinar lagi, tak ada.

 

~

 

^_^

 

Salam,

Pecinta Matahari

 

 

*Gambar diambi di sini

 

  • view 256