Istri Kedua

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Mei 2016
Istri Kedua

[*]

Kuelus lembut kulitmu di tiap helai pertama pagiku

berharap api semangat akan berkobar

tanpamu pagiku sepi

ditelan sunyi.

 

Wajahku tak secerah dulu. Entah apa yang mengikis kecerahannya, aku juga tak tahu. Namun, tiap jam hidupku terasa menambah gelap wajahku. Sekarang inilah aku, seorang berwajah kelabu. Bila tingkatan iman seseorang diukur dari kecerahan wajahnya, aku pasti juara bontot. Wudhu tak mampu mencerahkan wajahku walau seinci saja.  

Sekeping kesadaranku sempat bergumam, kecerahan wajahku dikikis olehmu. Ya, itu mungkin ada benarnya, saat kita mulai berjabat tangan dengan erat delapan belas tahun lalu, kamu telah menyihirku.

 

Menyihirku menjadi seorang yang berwajah kelabu.

Menyihirku menjadi seorang yang anti sosial.

Menyihirku menjadi seorang yang harus terus mengelusmu lembut di helai pertama pagiku.  

Menyihirku lagi.

Dan lagi…

Aku jatuh hati.

 

Tanpamu, hariku sangat sepi. Tak jarang segalanya kukorbankan untukmu. Segalanya! Untuk berkencan denganmu, aku mengorbangkan semuanya. Lidahku, kerongkonganku, bahkan perutku. Aku harus berkencan denganmu. Harus. Tiap jam.

Bila sejam saja aku tak mengelus atau membelaimu lembut, maka seluruh jaringan di otakku berhenti bergerak. Ideku tersendak. Aku bagai manusia tanpa pikiran, tanpa kesadaran, dan akhirnya aku gila.

Sekarang, kamu telah menyihirku menjadi orang gila. Kamu memang penyihir yang hebat. Aku kagum!

Andai waktu mampu diputar kembali akan kutolak dengan halus perkenalan kita delapan belas tahun lalu. Setelah kejadian itu, hatiku terus menggumamkan namamu. Terutama bila kerikil berjatuhan dari langit. Sedetik kemudian, akan kuteriakkan namamu. Kehadiranmu bagai payung yang menghalau kerikil-kerikil kehidupan. Kamu seperti bunglon. Kemarin kamu penyihir, hari ini, kamu motivator ulung. Mengalahkan semua motivator yang kukenal.

 

[**]

Kecupanmu selalu lembut

membasahi bibirku yang kasar

memijat asaku yang fluktuatif

membaringkan kegersangan hati yang semakin pekat.

 

Awalnya kita hanya berkenalan lalu berkencan, tapi sekarang aku sudah berani mengecupmu. Betul-betul mengecupmu. Bukan sembarang kecupan. Kecupan hangat dari dalam jiwaku. Tentu saja kamu membalas kecupanku. Tak ragu dan tak bosannya kamu mengecupku tiap jam. Agar hubungan ini tak berbuah dosa, aku harus menikahimu.

Kupandangi kulitmu, dengan terbata-bata kusampaikan niatku, “Apakah kamu bersedia bersanding denganku?”

Kamu tak membuatku menunggu lama, hanya semenit saja, kamu mengangguk pelan. Mataku berkedip beberapa kali, aku tak mampu menyembunyikan kebahagianku dari wajahmu.

“Terima kasih. Kamu membuatku menjadi pria paling bahagia di seluruh pelosok semesta. Sekali lagi, terima kasih.” Segera aku mengecupmu, kali ini dengan cinta bukan dengan nafsu lagi. Kita akan segera menikah.

 

[***]

Istriku maafkan aku

sepertinya poligami adalah jalan satu-satunya

bersediakah kau berbagi dengannya?

agar aku tak jadi orang gila.

 

Hari yang kita nantikan akhirnya tiba, dia bersedia untuk berbagi denganmu, sebentar lagi kita menikah. Tak ada ceremonial yang mahal, semua berlangsung cepat dan sederhana. Yang penting ikatan kita halal, tidak sembunyi-sembunyi lagi seperti kemarin.

Wajahmu terlihat cerah, secerah mentari pagi ini. Sedang wajahku bertambah kelabu. Tak mengapa, asalkan kita tetap bersama. Itu sudah lebih dari cukup. Aku bahagia.

Aku selalu berusaha adil. Membagi nafkah lahir dan bathinku seimbang antara dia dan kamu. Sampai sekarang tak pernah dia cemberut apalagi marah. Mungkin, dia merasa aku cukup adil ‘berbagi’.

Sampai suatu ketika, tiap aku bercumbu denganmu dada kiriku terasa perih. Tak jarang seharian aku harus terbaring di kamar, agar rasa sakit itu tak menjalar sampai ke punggung. Setelah kejadian itu, dia mulai marah.

 

“Sudah kuingatkan berkali-kali, sudahi hubunganmu dengannya,” sambil memijat kakiku, lanjutnya. “Sejak kamu mengenal dia; bibir, mulut dan bajumu selalu berbau parfumnya. Saya tak suka.” Matanya menatap nanar ke wajahku yang sedang meringis kesakitan. Tangan kananku masih memegang dada kiriku.

“Saya sudah meminta izin padamu. Dan, kamu tak keberatan.” Ucapku setengah bergumam. Suaraku tenggelam oleh rasa sakitku.

“Ini akibatnya, sudahi saja. Saya mohon…” kalimatnya terpotong, air matanya tumpah membasahi pipinya. Dengan cepat dia menghapusnya. Dia tak pernah ingin terlihat sedih di depanku. Apalagi menangis.

“Akan saya coba…”

 

Kami terdiam lama, tak ada pertengkaran lagi. Aku mencoba mengurangi kemesraanku bersamamu. Walau sulit akan kucoba.

Hari berganti, tak sedikit pun ikrar itu kulakukan. Bahkan aku semakin mesra denganmu. Kuantitasnya semakin bertambah, mungkin, kualitasnya juga. Sekarang, bukan hanya wajahku, tapi, gigi dan bibirku mulai berubah warna. Sebenarnya aku kapok menikah denganmu. Namun, hatiku berkata lain, aku masih mencintaimu sebagai istri keduaku. Aku tak ingin melepasmu.

 

[****]

Manusia yang diperbudak keinginan

akan memeluk kehampaan

seperti inginku akan kamu

semakin bersatu, semakin aku pilu.

 

  

Sore ini kita masih tetap berpelukan. Tanpa sepengetahuan dia tentunya. Kesepianku terasa terkubur bila bersamamu. Bukan hanya kesepianku tapi tubuhku juga terkubur bersamamu. Tiap kecupanmu juga mengurangi lembaran hidupku menatap semesta. Semakin kukecup, semakin sakit, semakin menambah noda di hatiku, bahkan semakin mendekatkanku ke lubang kubur.

Sudah saatnya kita bercerai. Maaf. Mungkin esok… Mungkin!


  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    @Dinan, sip (Y) :-)

    *Sudah saatnya kita bercerai. Maaf. Mungkin esok? Mungkin!
    .
    .
    Sekarang saja cerainya(dengan rokok)......mumpung masih ada waktu..... :-)

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Ternyata masih doyan.. hahaha ya sudah taun depan atau nambah lagi masih banyak wanita yang terbuai oleh kecupan bibirmu.. hahahaha *keren mas bro.. gw sampai kepancing mau komentari yg bikin gue gemes.. eh pas dilihat katagori novel.. ya gak jadi deh.. :-)

  • lia sinaga
    lia sinaga
    1 tahun yang lalu.
    Waduh saya komen masalahh poligami rpnya rokok toh hahahaha jadi malu mas,lucu sendiri serasa mau kabur,harus berhenti berbagi ma penjual rokok mas...keren mas

    • Lihat 2 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    ^_

    • Lihat 1 Respon