[Kolaborasi @HelloRen] Perempuan Berhati Burung

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Mei 2016
[Kolaborasi @HelloRen] Perempuan Berhati Burung

https://www.inspirasi.co/post/details/14556/arttrade

 

[Kolaborasi @HelloRen] Perempuan Berhati Burung

Penulis: Dinan 

 

Semalam, aku menangis. Air mata terasa tumpah semua, kering tak bersisa. Padahal, aku masih ingin menyisakannya untuk hari ini. Setelah meratap sendiri di kamar ini, air mataku tak kunjung hadir.

Benarkah air mataku telah kering?

Suatu ketika seorang sahabat berkata, “Air mata itu terbatas, akan kering bila kesedihanmu seluas langit sedang air matamu hanya seluas awan-awan itu.” Ia menunjuk awan-awan kecil di langit sore itu, lanjutnya. “Untuk apa kesedihan yang seluas langit itu, Ren? Untuk apa? Hidup bukan sekadar untuk menangis, Ren. Masih banyak yang lain. Senyum, tawa, atau bahagia. Saya mohon tataplah ke sisi lain, Ren.” Matanya menatapku sangat lekat. Sempat kulihat butir-butir air mata di bola matanya yang berwarna coklat itu. Terima kasih Winda. Hati kecilku setengah bergumam.

Aku masih menangis tanpa air mata.

 

~

 

Aku atau mataku yang salah. Tiap kupandangi wajah burung dara itu tak ada semburat kesedihan yang tampak. Berbeda jauh denganku. Bayangan di cermin kamarku selalu memantulkan kecemasan, kegalauan, dan kesedihan. Wajahku cukup manis hanya saja bedaknya cuma satu, air mata.

Mungkin mataku yang salah.

Aku atau tanganku yang salah. Saat kuelus bulu burung dara berwarna putih itu tak pernah kurasakan benjolan. Halus. Mulus. Sedang kulitku, kasar dipenuhi luka memar, kering atau masih basah.

Sepertinya tanganku yang salah.

Aku atau kakiku yang salah. Burung dara terbang riang di angkasa tapi bila waktunya pulang ia akan mendaratkan kakinya di sarang. Tak pernah ia lupa pulang. Kakiku memang ingin pulang ke rumah, tapi, aku tak mau. Sudah lama aku bertanya, apa arti dari pulang? Sampai sekarang aku tak tahu apa artinya.

Bisa jadi kakiku yang salah.

Aku atau hatiku yang salah. Winda pernah berujar, “Ren, kau berhati burung. Hatimu sangat luas, seluas angkasa. Semoga tak ada sangkar yang mengurung hatimu. Pintaku!” Aku berhati burung? Ah, hatiku selalu ingin bebas tanpa sangkar yang membatasi gerakku, pikiranku dan warnaku. Aku adalah aku bukan kau apalagi mereka. Itu dulu, sekarang, sangkar telah mulai mengurung hatiku, sangat sulit keluar dari sangkar itu. Jerujinya kuat. Bila aku menoleh ke jendela saja maka rotan akan menghantam tubuhku. Sakit. Aku sudah lupa pulang. Rumah telah mengurung hatiku.

Pasti aku yang salah.

 

~

 

“Ren, buatkan ayah kopi,” teriak ayah dari teras rumah.

Aku langsung bangkit dari tidurku. Lelah dan kantukku bukan apa-apa dibanding perintah ayah. Dua menit kemudian, kopi hitam telah kusajikan di meja.

“Ren, sebentar malam ada kerjaan. Kau harus tampil menawan dan pelayananmu harus memuaskan. Dia pelanggan spesial, Ren.” Ucap ayah sambil menatap wajahku. Aku hanya tertunduk tak berani menatap wajah seramnya.

“Baaaik, Ayah.” Ucapku lirih.

Kakiku mundur perlahan, kemudian masuk ke kamar dan menguncinya. Duduk di kasur. Merenung dan menghujat ayah dan diriku. Mengapa ayah mau melacurkan anaknya sendiri? Mengapa aku tak mampu melawan perintah ayah? Mengapa aku terkurung di sangkar ini?

Ayah bejat, kau melacurkan anakmu sendiri. Bangsat!

Sejak usiaku 16 tahun, ayah telah menjual kesucianku ke pelanggannya. Aku sudah berontak tapi hasilnya hanya memar di seluruh tubuh. Hampir tiap hari rotan mendarat di epidermis kulit mulusku. Aku mengalah.

Sampai sekarang, sudah empat tahun aku menjalani profesi ini. Entah sudah berapa laki-laki hidung belang yang kulayani. Dengan tubuh molek, mulus dan ‘kesegaran’ remajaku tak ada seorang pun yang menolak. Dan, ayah sangat senang. Pundi-pundi materi mengalir deras ke dompetnya. Ayahku adalah germoku.

Sedang ibu telah kembali ke langit. Ia sakit-sakitan karena perangai ayah yang kasar. Usiaku baru menginjak 15 tahun ketika itu. Saat ini, hanya aku dan germoku tak ada orang lain. Kemana lagi aku bisa bersandar? Tak ada.

Profesi ini juga telah ‘membakar’ ijazah SMA yang kuidamkan. Aku putus sekolah. Tak punya ijazah SMA. Tak ada keluarga lain. Semua hasil kerjaku dikelola ayah. Tips dari pelanggan pun diambil paksa oleh ayah di sela kutangku. Aku terkurung di sangkarku sendiri.

Saat hatiku sangat lelah tiba-tiba hpku berbunyi. Kutatap sepintas, ada sms dari Winda, satu-satunya sahabatku dari kecil sampai sekarang.

 

Ren, masih jadi burung hantu, yah? Memangsa lelaki di malam hari. Jika masih seperti itu, sebaiknya kau berhenti, Ren. Aku siap menampungmu di rumah nenekku di kampung. Sekarang aku sedang buka usaha warung makan. Aku tunggu!

 

Winda mengergaji jeruji besi sangkarku. Seakan setitik sinar tiba-tiba terlihat di mataku. Sepertinya sudah waktunya aku bebas. Segera kujawab sms dari Winda.

 

Iya, Win masih jadi burung hantu, nih. Tunggu aku!

 

Setelah sms terkirim, aku langsung menghapus semua pesan masuk. Ayah selalu memeriksa HPku setiap hari. Aku akan terbang seperti burung dara, keluar dari sangkar ini dan mencari sangkar yang lebih hangat. Aku lelah menjadi burung hantu.

 

Tuhan, mudahkan hamba-Mu. Hatiku mengucap doa yang sudah lama tak kulakukan.

 

~

 

Penampilanku malam ini sangat seksi, sesuai dengan perintah germoku. Sebelum berangkat ke hotel yang ditentukan, aku menyelipkan gunting ‘khusus’ di tas yang kubawa.

“Malam ini, kau dibooking semalam, Ren. Ayah akan jemput kamu besok pagi jam 07.00. Jangan macam-macam!” Ucap ayah sebelum menyalakan motornya.

Aku mengangguk cepat, secepat kedipan mataku.

Dua puluh menit kemudian, kami sampai di hotel sesuai kesepakatan. Kami duduk di loby. Ayah kemudian menelpon calon pelangganku. Tak berapa lama, seorang ‘kakek’ menampakkan hidung belangnya. Ia pun berbincang dengan ayah. Akhirnya, amplop tebal telah mendarat di tangan ayah.

“Layani dengan baik, Ren.” Bisik ayah di telinga kananku.

Aku menggangguk lagi.

 

Ayah berlalu dari hadapanku menuju ke parkiran hotel, meninggalkanku bersama sang hidung belang.

 

Sesampainya di kamar, aku mulai beraksi, memuaskan pelangganku yang sedari tadi tak sabar. Setelah ia terlena oleh nafsunya yang memuncak. Saat matanya terpejam nikmat, kuambil tas dari meja kecil di samping kasur. Tangan kananku mencari gunting yang kusembunyikan. Sekejap kemudian, tangan kananku telah menggenggam gunting. Matanya masih terpejam, terlena oleh kenikmatan yang sebentar lagi memuncak.

Tanpa pikir panjang kukebiri ‘barangnya’ dengan gunting khusus yang biasa digunakan oleh dokter bedah. Darah muncrat di sana-sini. Seprai kasur dibanjir oleh darah. Bau anyir sangat menyengat. Ia merintih kesakitan. Berteriak semampunya. Tak ada seorang pun yang peduli. Aku turun dari kasur dan membiarkannya sendiri dalam kesakitan.

Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, kubersihkan bercak-bercak darah di kulitku. Sekembalinya aku ke kasur, kakek itu terbujur lemas. Mati dimakan nafsunya. Kukenakan pakaianku. Sebelum keluar kamar, kuhadapkan wajahku ke cermin.

Malam ini, aku menangis lagi tapi tanpa air mata. Air mataku telah kering.

 

Ren, kebebasan itu sesuatu yang sangat mahal harganya, tak jarang, nyawa adalah taruhannya. Jangan pernah menyesal! Itu adalah hukuman yang pantas bagi para pezina. 

Ren, bukalah sangkarmu. Kau bebas terbang di angkasa. Kembalilah ke dirimu yang sebenarnya. Perempuan berhati burung!

 

Hatiku berbisik lembut ‘kepadaku’.

 

Kubuka pintu kamar hotel itu, bukan, pintu sangkarku. Tak lupa senyum merekah di bibirku yang tipis…

Sekarang, aku bebas menjadi perempuan berhati burung. Bukan sembarang burung tapi burung dara…

 

Arttrade karya Reni Fauziah

 

 

___

Note:

Terima kasih atas kesediaanya Mba Reni Fauziah, menafsirkan grafis orang lain itu sulit untuk saya yang tak mengerti grafis. Apalagi dibuatkan cerpen sesuai ‘isi’ grafis lebih sulit lagi. Tapi, bukankah karya yang baik adalah ‘ide’ yang tertuang dan selesai?

Cerpen ini tak sesuai ‘genreku’, saya coba genre baru.

Salam Hormat,

Dinan

___


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Setelah membaca lagi, lagi dan lagi... Kuputuskan untuk menyunting sebagian kalimat yg tak pantas . Tulisan ini tak sesuai edisi aslinya.

    Takut dilaporkan dan maksudnya menyampaikan kebaikan malah yg ditangkap oleh pembaca adalah keburukan atau pornografi.

    *maaf*

  • Fahd Pahdepie
    Fahd Pahdepie
    1 tahun yang lalu.
    Inisiatif kolaborasi yang keren! Bravo!

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Oh yah, jika redaksi I menganggap cerpen ini terlalu vulgar, silahkan tegur saya di kolom komentar. Karena, sampai sekarang saya belum tahu 'batasan' sebenarnya bagaimana.

    Dan, bila dianggap terlalu vulgar akan segera saya sunting!

    Terima kasih...

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Ciee Reni sekarang jadi terkenal

  • Reni Fauziah
    Reni Fauziah
    1 tahun yang lalu.
    wahh sudah jadi, dan ternyata keren.. jalan ceritanya ga terprediksi menurutku hehe.. makasih mas dinan udah meng interprestasikan karya ku btw.. saluuteee~

    • Lihat 1 Respon