Bukan di Kotaku dan Bukan di Kotamu

Dinan
Karya Dinan  Kategori Lainnya
dipublikasikan 18 Mei 2016
Bukan di Kotaku dan Bukan di Kotamu

Tiga puluh menit yang lalu, aku di kota ibumu, Arsyila. Banyak hal baru yang tak pernah kulihat sebelumnya.

 

Di jalanan, kendaraan-kendaraan itu bermesraan, berciuman di sana-sini. Tak tahu malukah mereka itu? Ah, mereka bukan manusia. Mereka itu kendaraan. Entah motor atau mobil. Tapi, tapi... Pada kursi depan, di kemudinya, bukankah menempel tangan manusia yang digerakkan oleh otaknya? Ternyata, otak kita juga kadang tak punya urat malu. 

 

Arsyila, lihat kendaraan-kendaraan itu, aku mohon jangan kau tiru jika dewasa nanti.

 

Ada juga ibu-ibu yang memakai masker. Terasa berada di ruang operasi, apa kota ini sudah sedemikian akutnya hingga harus dioperasi? Ah... Ini hanya khayalku saja. Mereka memakai itu untuk mengikuti tren di kotanya Ahok. Itukah alasannya? Bukan. Bukan itu. Kota ibumu mulai terjangkit penyakit kota metropolitan lainnya. Macet! Karena kendaraan-kendaraan itu saling bermesraan maka lahirlah anak haram. Polusi!

 

Arsyila, sebenarnya tak ada anak haram. Semua suci. Perbuatannya yang haram. Jangan pernah menyerah dengan nafsu binatangmu hingga menelurkan kebiasaan haram. Lawanlah dengan 'nafsu' malaikatmu agar kau bersanding dengan malaikat yang dicintai-Nya.

 

Sempat kulirik jalanan yang kulewati untuk menjemput ibumu dulu. Aku tersenyum kecut. Mukaku memerah, malu, mengenang peristiwa itu. 

 

Arsyila, kota ibumu memang ramai. Apalagi bila bersamanya. Ibumu seorang petualang. Semoga ada setitik gen itu yang turun kepadamu.

 

Sekarang, aku di kotaku. Kota kelahiranku. Bukan kota, sih. Pinggiran kota. Lebih tertata dan bersih dari sebelumnya. Cukup berhasil. Aku terkesima.

 

Sungai di depan rumah Kakek sudah bersih. Tak seperti biasanya, dipenuhi sampah-sampah rumah tangga. Pengairan ke sawah mengalir lancar. Kuharap lima tahun ke depan, kotaku akan jadi lumbung beras untuk negeri ini agar para oknum itu tak harus lagi mengimpor beras dari luar. Kadang, itu mematikan kompor H. Dalling. Tetangga kakekmu. Seorang petani biasa, cuma memiliki sepetak sawah. Biaya produksi setiap tahun meningkat; harga bibit, pupuk dan komisi untuk pekerjanya. Usianya semakin tua, dia tak mampu lagi mengerjakannya sendiri. Namun sayang beribu sayang, hasilnya tak seberapa, cukupsih untuk menutup lubang. Dan, keesokan harinya dia harus memasang muka tembok ketika menghadap ke warung tetangga sekadar tuk meminjam sepuluh butir telur. Buka lubang baru lagi. Miris!

 

Arsyila, negeri kita negeri agraris. Dulu, pertanian bak primadona. Laris dijual oleh pedagang politik. Sekarang? Tidak lagi. Bisa saja, kau tidak akan melihat gadis-gadis membawa makanan untuk para pekerja di sawah. Atau, kau tidak akan tahu cara menanam padi secara manual. Konon, sekarang negeri ini sudah sedikit bergeser ke arah bahari atau kemaritiman. Benarkah? Sampai sekarang aku juga tak tahu pasti. Berita tak lagi dipenuhi dengan presiden yang sedang memanen padi. Tidak. Tidak lagi. Media lebih suka menyorot kapal-kapal asing yang ditenggelamkan. Para ilegal fishing. Itu Bahasa Bugisnya, Arsyila. 

 

Subuh ini, aku berjalan ke luar rumah mencari kue tuk pengganjal perut. Sedari tadi cacing-cacing perutku sudah merintih dengan tangisan pilunya. Kulangkahkan kaki menuju warung, tetap ramai seperti biasanya. Aku kangen kue-kue kampung, Arsyila. Bosan dengan roti-roti kota itu. Mahal dan terasa eneg di tenggorokan. Putu cangkir terlihat sangat menggoda. Kulitnya coklat mulus, di dalamnya di penuhi parutan kelapa warna putih. Sedap. Pakai banget! Semenit kemudian, songgkolo' melirikku, matanya berkedip. Aku terpana. Setiap melihat kue ini, aku teringat nenekmu. Kelak ketika kau dewasa, teladani kesabaran dan kepandaiannya memasak, yah, Arsyila.

 

Pagi ini akan berakhir seperti cerita-cerita basi lainnya. Aku duduk dengan kakekmu sembari menikmati kopi yang tak lagi sehangat biasanya. Kenapa? Karena aku yang buat kopi, bukan nenekmu. Racikanku tak sehangat kasih nenekmu. Hambar. Terkadang tak berasa. Kau belum tahu, Arsyila,  pada secangkir kopi, ada banyak rasa yang menyatu di dalamnya. Cinta, kasih, sayang, perhatian, khawatir, takut kehilangan, dan banyak lagi. Semua rasa itu ada di setiap racikan kopi nenekmu. Sekarang, aku tak bisa lagi merasakannya. Aku rindu nenekmu, Arsyila. Nanti kita berdoa bersama, yah. Semoga beliau diampuni dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya. Aamiin!

 

Kekosongan rasa pada racikan kopiku tertutupi oleh kue putu kacang dan songkolo' dibumbui cerita kakekmu yang selalu lucu dengan hikmah yang mengalir di hilir ceritanya. Setelah semua rutinitas pagi ini selesai, secuil ide tiba-tiba memeluk otakku, Arsyila. Satu puisi untuk dunia,,,

 

*

Hai dunia,

apa kabarmu?

masihkah menjadi ladang permainan dan senda gurau belaka?

ataukah telah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin?

membunuh semua manusia perusak yang membuatmu terlihat tambah tua.

**

Hai dunia,

apa kabarmu?

masihkah memperebutkan minyak-minyak itu?

ataukah telah berubah menjadi gerombolan yang hanya ingin satu warna saja?

Sosialis, Kapitalis atau Islam.

***

Hai dunia, 

apa kabarmu?

masihkah menunggu sang penyelamat?

ataukah telah berubah menjadi apatis dan membiarkan semua terjawab oleh waktu?

waktu dunia berakhir.

****

Hai dunia,

apa kabarmu?

terlalu jauhkah tanyaku? 

ataukah cukup aku bertanya, bagaimana kabarku?

jika kabarku baik maka dunia akan baik-baik  saja, negeriku akan baik-baik saja, kota ibumu akan baik-baik saja, apalagi kotaku pasti akan baik-baik saja.

___

 

Arsyila, kuceritakan padamu tentang kota ibumu dan kotaku agar kau sedikit paham tentang kami. Tapi, kami telah berkomitmen akan membangun pondok bukan di kota ibumu, bukan pula di kotaku. Tujuannya, agar tiap detik hidup kita lebih terasa hidup. 

Bukankah hidup untuk mencari hidup, Arsyila?

 

___

Gambar

___

Catatan: bukan cerpen, saya masukkan pada kategori lainnya. Maaf jika ada typo dan EYD yang tak sempurna, ditulis di HP.


  • Lukman Masnur
    Lukman Masnur
    1 tahun yang lalu.
    Hmmmmmm,,,luar biasa penggamb?rannya pak dinan....dua kota M dan M.....berlabuh di kota T...klau sudah berhasil kembali lah pak ke kotanya...

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    "Ayah, terima kasih untuk cerita pagi dan nasihatmu ini. Kaira berjanji akan menjadi anak yang membanggakan kalian."

    • Lihat 5 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Siap Pak Polisi, nanti disunting.

    Mksi
    *_*

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    tend => tren

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    dikemudinya => di kemudinya