Ihsan, Jailani, dan Sang Bayangan

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 April 2016
Ihsan, Jailani, dan Sang Bayangan

Ihsan, Jailani, dan Sang Bayangan

Penulis: Dinan

Mulai hari ini, pakaian Ihsan tak boleh lagi semaunya. Ia harus memperhatikan warna, corak dan tentu saja kualitas bahannya. Dunia terasa menatapnya dengan tajam. Setajam sembilu. Apalagi setelah sepotong bayangan senantiasa mengikuti di belakangnya. Bukan hanya mengikuti tapi juga menyelimutinya dengan hangat. Menyusuri kulitnya yang kasar dan penuh debu.

Setelah Seminggu Bercakap dengan Jailani. Ihsan harus menerima kenyataan bahwa ilmunya belum cukup untuk menyenangkan sang bayangan. Entah kemana lagi ia akan berjalan di setapak ilmu ini. Sang bayangan selalu saja menemukan kekosongan dan pergerakan yang tak tentu arah. Kata sang bayangan, "fluktuatif!" sembari menjauh dengan 'Langkah Bayangan Menuju Sinarnya'.

Seminggu yang lalu, pada siang yang terik, di mana sang surya enggan menipiskan sedikit saja energinya. Ihsan terkaget tak kepalang. Sepotong bayangan tiba-tiba saja mendekatinya. Ihsan hendak menghindar dan menjauh dari sang bayangan. Hanya saja, bayangan ini sedikit berbeda. Secara alamiah, bayangan menyimbolkan ketiadaan cahaya. Ketiadaan energi. Ketiadaan panas. Hal ini mengimpilkasikan zona yang penuh dengan bayangan akan terasa dingin bagai bermandikan salju. Setelah berjarak setengah meter dari tubuhnya, bayangan itu tak membawa kedinginan, apalagi hujan salju. Bayangan ini terasa hangat, bersahabat, tapi cerewet, mirip tanteku yang mengajariku membaca ketika berusia tiga tahun. Mungkin, lebih cerewet, dengan warna yang sedikit berbeda.

Sepotong bayangan itu berdiri tegak. Menatapku hangat dengan dua mata sipitnya yang menyiratkan kebijaksanaan. Tatapan itu mirip dengan tatapan Jailani. Tatapan seorang suhu. Kali ini hanya sedikit berbeda, Jailani dari 'Dunia Cahaya' sedang sang bayangan dari 'Dunia Kegelapan' yang dipenuhi dengan 'sempak' dan 'lendir'.

Bukankah ilmu tak dilihat dari siapa yang mengatakannya? Tapi, apakah ilmu itu bermanfaat atau tidak? Aku akan memeluk ilmu, walau dari 'sumur bayangan' yang terkadang maya. Hati Ihsan setengah bergumam.

"Wahai sang perenung, boleh kupanggil kau dengan sapaan Pendekar dari Hutan Larangan?" Sapa sang bayangan.

"Pendekar dari Hutan Larangan yah, boleh juga kau wahai sang bayangan. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Ihsan menyelidiki. Berharap teka-teki dalam kepalanya sedikit terjawab.

"Saya hanya sepotong bayangan yang memperhatikan harimu. Pencarianmu. Perenunganmu, Ihsan. Bolehkan?"

"Selama itu niatnya baik, mengapa tidak wahai sang bayangan. Bahkan tak jarang gerak-gerik bayanganmu memberiku pembelajaran yang bermakna. Terasa pedas hari ini, mungkin, esok hari akan berubah menjadi manis." Akhirnya dua sudut bibirnya terangkat perlahan. Senyum manis terukir dari mulut Ihsan. Senyum persahabatan.

Dengan sedikit malu, sang bayangan juga membalas senyum Ihsan. Senyum yang sama, senyum persahabatan.

"Apakah kau telah mendengar sajakku, Ihsan?"

"Sepengetahuanku, kamu telah menyuarakan banyak sajak. Sajak yang mana?"

"Sajak tentang seorang taysu bergamis putih. Sempat aku tuliskan pada Kitab Legenda Sempak Terlarang."

 "Bukankah itu sajak tentangku?"

 "Iya, itu tentang percakapanmu dengan Jailani. Maukah kamu mendengarnya lagi, Ihsan?"

"Dengan senang hati." Ihsan kemudian duduk bersila di tanah, mirip dengan sikap Jailani ketika 'menyatu' dengan semesta. Matanya fokus pada satu titik, sang bayangan. Telinganya tak lupa 'dibuka' selebar-lebarnya. Bersiap mendengar pekikan sajak sang bayangan.

Sang bayangan masih berdiri tegak. Menghela napas perlahan, menghimpun energi dalam dirinya. Semua 'selnya' bersiap memberondong Ihsan dengan sajaknya.

Wahai taysu bergamis putih,

sejak kapan kamu keluar dari hutan terlarang itu?

Berteriak dengan lantang bahwa 'Tak Ada yang Tak Ada, karena Ada adalah Ada' membuat seluruh penghuni Tebing Jomblo Berjoget gelagapan dan semakin mencari Yang Ada.

 

Aku hanya sepotong bayangan,

yang senantiasa kosong dalam kegelapan.

Bila bertemu denganmu maka akan Kukosongkan Isiku dan Kau Isikan Kosongku karena Aku Kosong kemudian Kau Isi Aku tapi Kau Tetap Isi

 

Wahai taysu bergamis putih,

kamu menyelam dalam pencarianmu, dimulai dengan mengenal-Nya.

Sayang, itu adalah kisah lama. Basi dimakan zaman, tapi tetap harus dilewati

karena Tak Kenal Aku maka Aku Tak Paham Dunia, Kenal Aku maka Kenal Jagat Raya

 

Aku hanya sepotong bayangan,

yang menatapmu tak berkedip di hari Rabu dan Kamis.

Sudahkah Engkau Membersihkan Hatimu? Semoga dapat Menolak Neraka dan Mengetuk Pintu Surga

Gerimis ilmu akan Menghapus Sedih Nan Meringis, tak jarang pula membasahi kobaran api perbedaan Tujuh Puluh Tiga Cabang Islam yang mengaku Paling Benar.

 

Wahai taysu bergamis putih,

bersediakah engkau melakukan Tarian Bianglala Memulas Angkasa agar Jum'at dan Sabtumu membaik. Menarilah, memangkaslah, dan tak lupa membredelinya.

Mari kita Bersama Meniti Jalan Menuju Tuhan Tanpa Cacian sembari memangkas metafisika sayap dan memunculkan tanda tanya besar di ending Minggumu.

Sang bayangan terdiam sejenak. Menghirup napas dan menghembuskannya dengan lembut. Ia pun mengistirahatkan kakinya yang mulai pegal. Duduk di hadapan Ihsan.

Ihsan seolah-olah memegang cangkir. "Silahkan dinikmati Kopi Peram plus persahabatan ini sang bayangan" kata Ihsan sembari melakukan gerakan mirip dengan seorang pelayan menyuguhkan minuman pada tamunya. Simbol 'maya' bahwa genderang persahabatan akan segera ditabuh.

Setelah mempersilahkan sang bayangan segelas kopi 'maya', Ihsan bangkit berdiri. Ia pun berteriak dengan lantang,

Tak ada sosok seelok sahabat,

apalagi sahabat yang bernaung dalam bayangan.

Melihat tiap sisi pakaianmu hingga ia tahu

di mana letak noda, debu, dan cacat jahitannya.

 

Aku hanya seorang perenung,

Mencari dan menulis itulah napasku.

Katamu,

itu tidak cukup, aku harus lebih sering 'mencuri' dan memodifikasi.

 

Tak ada sosok seelok sahabat,

Memujimu jika layak dipuji dan mengkritikmu jika memang ada kesalahan.

Terima kasih atas sajakmu

aku akan berusaha mengikuti saran-saranmu, tentu saja bila waktu dan ide sedang bersahabat.

 

Aku hanya seorang perenung,

dari Hutan Terlarang Lagi.

Berharap menemukan sahabat sekaligus suhu dalam perenungan dan karyaku

bersediakah engkau menjadi suhuku, sang bayangan?  Atau aku harus memanggilmu Bay?

Sesaat kemudian, mereka telah bercanda dalam hangatnya secangkir kopi 'maya' itu. Duduk di pinggiran Pantai Inspirasi. Tak lupa saling mengapresiasi sajak dan karya masing-masing.

Itu adalah kejadian minggu lalu, hari ini Ihsan telah sadar, bahwa penampilan juga ternyata cukup penting. Bukan hanya 'kandungan' dan 'isi' yang ada dalam dirinya. Penampilannya harus sedikit rapi dengan pakaian yang berbalut ilmu semesta. Ilmu karya. Ilmu inspirasi. Ia yakin suatu saat nanti sepotong bayangan akan singgah di rumahnya. Tersenyum dan bercakap dengannya...' ^_ ' , itu pun sudah lebih dari cukup. Ihsan, Jailani, dan Sang Bayangan menetap di tempat yang sama, di dekat Pantai Inspirasi dan berseberangan dengan Tebing Jomblo Berjoget.

Terima kasih sang bayangan. Suhu. Sahabat Inspirasiku. Mari kita menyerup kopi persahabatan ini walau rasanya sedikit 'maya'.

 

*Thumbnail