Menikah di Langit

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 April 2016
Menikah di Langit

Menikah di Langit

Penulis: Dinan

 

Mata Ana masih setia memandangi kupu-kupu di halaman depan rumahnya. Makhluk menawan itu terbang dengan anggun, hinggap pada satu bunga ke bunga lainnya. Menghisap sari pati termanis yang ada. Madu. Cairan ajaib nan penyembuh sekaligus pembakar semangat raga. Tubuh dan sayap kupu-kupu itu berwarna gelap dengan sayap bagian bawah berwarna kuning keemasan 'dibumbui' bintik hitam. Sejenis dengan kupu-kupu yang pernah ia lihat di Taman Nasional Bantimurung. Ia masih ingat, tak salah, namanya Troides Helena Linne. Ia salah satu pengagum berat makhluk menawan itu. Ketika kecil ia selalu berlari mengejarnya, tak jarang ada korban dari perburuan itu. Entah kakinya yang terluka atau seekor kupu-kupu kehilangan napasnya. Ia ingin memilikinya. Walau tak lagi dapat terbang dengan bebas. Menyimpannya di plastik transparan seukuran tubuh kupu-kupu yang ditangkapnya. Setiap hari ia bisa melihat betapa cantik corak tubuhnya. Tak harus menunggu sampai mereka menghinggapi bunga di halaman rumahnya.

Tak hanya tentang keindahan. Kupu-kupu adalah makhluk yang mengajari kita untuk bermetamorfosis. Berubah bentuk, dari benda kecil tak 'bernilai' menjadi 'imago' yang indah.

"Dapatkah saya menirunya?" hatinya setengah bergumam.

Suatu saat nanti ia ingin menjadi imago atau kupu-kupu dewasa yang meliuk dengan indah dan menjadi pajangan seorang 'kolektor'. Bukan, jangan 'kolektor', tapi 'lelaki idaman' yang hanya mengoleksinya semata. Hanya dia. Tak ada kupu-kupu lainnya.

Fase hidup Ana tak semulus metamorfosis kupu-kupu. Ia mengalami banyak hambatan. Goncangan. Ujian hidup yang tak sedikit. Khususnya pada fase 'pupa', di mana orang biasa menyebutnya kepompong. Menurutnya, tahapan metamorfosis kupu-kupu dan 'metamorfosis' seorang perempuan tak jauh berbeda. Perubahan drastis terjadi pada fase pupa.

Pada kupu-kupu, fase ini sangatlah penting, karena mempersiapkan perubahan yang besar. Sel-sel larva akan berubah membentuk sayap, kaki, tangan, mata dan bagian-bagian tubuh lainnya. Fase ini memerlukan energi yang sangat besar.  

Ana menganalogikan fase pupa pada perempuan mirip dengan fase remaja. Suatu fase abu-abu, yang akan menentukan seorang perempuan akan menarik-tak menarik, bersahabat-tak bersahabat atau populer-tak populer. Persiapan perubahan bentuk fisik juga terjadi pada fase remaja. Sangat drastis. Dan, dibutuhkan energi yang besar juga pada fase ini. Itulah mengapa, seorang remaja, terlihat sangat rakus.

Tuhan Berkehendak 'sedikit nyentrik'. Ana harus mengalami sedikit goncangan yang ia sendiri tak ingin lagi mengingat apalagi menceritakannya. Cukup kenangan itu menjadi cambuk penyemangat untuk merubahnya dengan cepat menjadi seorang 'imago'. Gadis Dewasa. Tak suka mengeluh. Senantiasa bersyukur dan berjuang untuk meraih cita.

Setelah puas bermain dan menghisap sari pati bunga, Troides Helena Linne itu menjauh dari pandangan Ana. Entah masih ingin mencari makan atau ingin mencari pasangan. Ana lebih suka memilih pilihan kedua. Mencari pasangan. Kekasih. Suami. Belahan Jiwa, di bumi dan di surga kelak.

"Pasangan hidup," tiba-tiba ucapan itu terucap dengan sendirinya dari mulut Ana. Keningnya berusaha saling merapat. Padahal itu tak mungkin terjadi. Ia tahu itu.

Ana berusaha menenangkan diri. Tangannya mengelus lembut rambut hitam yang tergurai. Anginpun dengan ikhlas membantu mengelus rambutnya. Berharap tema itu sedikit saja memburam di kepalanya. Hanya saja, tangan dan angin tak mampu memburamkan tema itu. Sesaat kemudian, 'berkas' di otaknya tiba-tiba mencuat, tentang perbicangan dengan Omnya yang nyeleneh beberapa tahun silam.

*

"Om, kenapa kita harus menikah?" tanya Ana sembari menyilangkan kedua kakinya.

"Untuk merasakan setitik kedamaian," jawab Omnya sambil menegakkan punggung dan dadanya. Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang sedikit serius.

"Kedamaian?" mata Ana sedikit disipitkan, lalu, berkedip dengan cepat sebanyak dua kali. Perangai itu, ciri khas Ana jika ia sedikit bingung.

"Setiap manusia, laki-laki ataupun perempuan, memiliki nafsu dan harus disalurkan dengan jalan halal. Menikah, hanya itu jalannya, agar pelampiasannya bernilai ibadah. Bukankah ibadah mendamaikan, Ana?" Omnya meletakkan tangan kanannya di dagu. Mengelusnya perlahan. Berusaha menyakinkan Ana bahwa pembicaraan ini bukan pembicaraan 'seekor pupa'.

Ana terdiam sejenak. Mengangkat kaki kanannya yang tadi disilangkan di kaki kirinya. Sekejap kemudian, dirapatkan kedua kakinya. Berusaha sedikti feminim. Tema pembicaraan ini bernilai 'ke-feminim-an'.

"Kan ada beberapa Sufi Wanita yang tak menikah Om, bukankah mereka juga merasakan kedamaian?" tanya Ana langsung ke 'jantung akal' Omnya.

Omnya terlihat bingung. Tampak matanya berkedip beberapa kali. Tangan kanannya tak lagi mengelus dengan perlahan dagunya tapi berubah menjadi tumpuan dagunya.

"Ini sedikit ruwet," celoteh hati Omnya.

Demi mencairkan keruwetan itu, Omnya mengambil sebatang rokok kretek andalannya. Membakar dan menghisapnya dengan dalam, kemudian mengeluarkan asap melalui mulutnya sedikit demi sedikit. Agar waktu berpikirnya sedikit lebih lama.

"Siapa panutan kamu Ana?"

"Kok, Om balik nanya sih?"

"Jawab dulu, terkadang jawaban ditemukan dengan bertanya kembali dari yang paling mendasar." Ujar Omnya yang sedari tadi berusaha menemukan mata hati Ana melalui bola matanya.

"Tentu saja, Nabi Muhammad Saw. Beliaulah teladan dan panutan kita. Saya kayak anak kecil saja, ditanya tentang ini." Ana menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Terlihat ia sangat kecewa.

"Okey,,, Nabi Muhammad Saw, nikah gak?"

"Iya Om. Beliau menikah, lebih dari satu kali." Jawab Ana sekenanya.

"Jika panutan kita menikah dan kita tidak menikah, apakah kita meneladani Beliau?"

"hmmm... tentu saja tidak."

"Menikah adalah anjuran agama kita. Bahkan dengan menikah agama kita menjadi lengkap. Sempurna. Maukah Ana beragama tapi tidak sempurna?"

"Tidaklah Om. Saya tahu tentang itu. Tapi saya tak paham, mengapa kita harus menikah?"

"Sebenarnya, ini banyak tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadist. Saya jelaskan secara singkat saja yah, Ana. Pertama untuk meneruskan generasi manusia, generasi kita. Kedua, memperoleh ketenangan bathin. Dengan saling kasih mengasihi antar pasangan suami istri maka diperoleh ketenangan bathin. Ketiga, melaksanakan perintah agama. Keempat, menjauhi zina. Kelima, mencetak generasi islam yang kuat untuk masa yang akan datang agar tercipta masyarakat madani." Jelas Omnya panjang lebar.

"Terus kenapa jawaban Om tadi, untuk merasakan setitik kedamaian?" tanya Ana Bak Bumerang yang beberapa menit kemudian kembali menyerang lawannya.

"Karena semua alasan mendasar yang saya jelaskan di atas menuju satu titik. Merasakan setitik kedamaian. Bukankah itu yang dicari oleh setiap manusia, Ana?"

Ana terdiam, diikuti Omnya yang hanya mengisap rokoknya. Sekali, dua kali sampai tiga kali tak ada perbincangan lagi. Senyap. Sunyi.

"Apakah Ana telah mengerti maksudku?" Pikir Omnya, sembari mematikan rokoknya. Tak terasa sebatang rokok itu telah 'dilahap' oleh pertanyaan-pertanyaan Ana.

"Okey, saya sudah sedikit mengerti. Lalu mengapa beberapa Sufi Wanita memilih tidak menikah Om? Apakah agama mereka tidak sempurna?" Bumerang itu semakin mendekat ke tubuh Omnya.

"Mereka 'menikah' dengan Allah. Tingkatan mereka terlalu jauh untuk kita tela'ah Ana. Sepengetahuan Om, mereka telah sangat zuhud, meninggalkan dunia dan hanya mau 'berpelukan' dengan Allah," Omnya menghela napas beberapa kali. Lanjutnya, "hubungan antar manusia menjauhkan mereka dengan Kekasih Sejatinya, Allah. Itulah sebabnya mereka tidak mau menikah. Tentang agama mereka sempurna atau tidak, serahkan semuanya kepada Sang Hakim Yang Maha Adil. Yang jelas, mereka 'istimewa'." Mata Omnya telah berhasil menemukan mata hati Ana, tidak melalui bola matanya, tapi melalui senyuman tipisnya yang tiba-tiba saja terukir di mulutnya. Diikuti dengan anggukan sekali.

*

'Berkas' di otak Ana belum mampu memburamkan kegundahannya secara sempurna. Ia pun mencari ke 'sang guru maya', Google. Kata kunci 'pernikahan sahabat nabi'. Membuka satu persatu artikel yang berkaitan dengan itu. Tak ada yang menarik hatinya. Setelah membuka artikel yang kelima. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup sedikit kencang, matanya melebar beberapa millimeter, rambutnya kemudian ia ikat dengan rapi agar tak menghalangi fokusnya dalam membaca artikel tentang 'Menikah di Langit'.

Alkisah, saat Putri Rasulullah Saw yang bernama Fatimah berusia 18 tahun. Ada banyak Sahabat Nabi yang sangat ingin menikahinya. Sebut saja, Sayyidina Abu Bakar  dan Sayyidina Umar. Mereka dengan terang-terangan melamar Fatimah di hadapan Baginda Rasul. Akan tetapi, Rasulullah hanya terdiam dan menjawab, "Aku menunggu perintah dari Allah." Jawaban yang sopan dan anggun saat menolak permintaan dua sahabatnya itu.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Sayyidina Ali menghadap Rasulullah. Dengan maksud yang sama, melamar Fatimah.

Kali ini jawaban Rasulullah sedikit berbeda, "marhaban wa ahlan."

Jawaban ini menyiratkan persetujuan Rasulullah. Ali pun terdiam dan tersipu malu begitupula Baginda Rasul.

Kemudian Rasulullah berkata, "Sesungguhnya Allah telah menikahkan Fatimah dan Ali di langit. Apakah kamu memiliki sesuatu yang bisa dijadikan mahar?"

"Wahai Rasulullah aku tak memiliki sesuatu apapun kecuali pedang dan baju perangku."

"Duhai Ali mengenai pedangmu engkau harus tetap menggunakannya untuk berperang di Jalan Allah sedang baju zirahmu juallah." Nasehat Rasulullah kepada Sayyidina Ali.

Akhirnya, Sayyidina Utsman membeli baju perang tersebut dengan harga 480 Dirham lalu Sayyidina Ali memberikan hasil penjualannya itu kepada Rasulullah.

Rasulullah mengambil sepertiga untuk membeli minyak wangi dan sebagian digunakan untuk menghias rumah Fatimah. Dan, terlaksanalah pernikahan yang sederhana dan khidmat itu.

Adakah kisah yang lebih romantis selain suatu pernikahan yang berlangsung di langit?

*

Setelah membaca kisah romantis Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah. Ana bertanya dalam hati.

Apakah saya telah menikah dengan Ansar di Langit sebelum saya dilahirkan di dunia ini?

Sejurus kemudian, lamunannya buyar oleh suara hilir mudik keluarganya yang sedang menyiapkan pernikahannya dengan Ansar esok hari. Tanpa dipandu, mereka telah membentuk timnya masing-masing. Ada tim yang bertugas untuk menyiapkan makanan. Ada tim yang bertugas menyiapkan instalasi listrik di tenda pernikahannya. Dan, banyak lagi tim-tim pendukung lainnya agar acara ini berlangsung lancar. Hanya ada satu yang aneh, Omnya. Beliau hanya duduk sambil menikmati rokok kretek dan kopi hitamnya. Memang Om yang nyeleneh. Ana kemudian menghampirinya.

"Bagaimana kabar keluarganya Om?" tanya Ana sembari duduk di sampingnya.

"Alhamdulillah Baik. Bagaimana kabar calon pengantin, sudah siapkah berlabuh di dermaga pernikahan?"

"Ha-ha-ha- ," Ana tertawa keras. Tawanya mengambil sedikit perhatian dari tim sukses acaranya.

"Om ini, ada-ada saja," Ana menghela napas sejenak, lanjutnya. "Om percaya tidak, bahwa Om telah menikah dengan istri Om yang sekarang di langit sebelum Om dilahirkan?" Ana menatap mata Omnya dengan lekat, sangat lekat. Sampai ia menyelam dalam telaga mata Omnya yang bening.

"Ternyata Ana telah bermetamorfosis menjadi 'imago' yah, mantap. Ana, yang saya percaya tiap manusia sebelum dilahirkan telah digariskan tiga hal: rezeki, jodoh dan kematian," Omnya menghirup kopi hitamnya, tak lupa ia menghisap rokok kreteknya dua kali. "Tentang pernikahan di langit, itu membutuhkan keimanan, dan saya percaya saya telah menikah dengan istri saya di langit sebelum saya dilahirkan. Sebelum semesta tercipta. Begitupula Ana dan Ansar. Dwi A..." Omnya terkekeh sambil memegang pundak Ana. Berharap perhatian lebih dari Ana.

"Begitu yah Om?"

"Keyakinanku seperti itu."

Mereka terdiam beberapa menit. Ana menatap jalan yang sedikit ramai dari hari biasanya. Anak-anak berlari tak tentu arah. Terbahak dan menangis, terasa sangat tipis sekali bedanya. Sedangkan Omnya masih setia dengan rokok kreteknya.

"Ana, pernikahan adalah sesuatu yang mendamaikan jika dijalani sesuai dengan jalur-Nya. Seorang perempuan terlepas dari 'beban' orang tuanya setelah ijab kabul. Semua akan ditanggung oleh suamimu. Termasuk dosamu, Ana. Makanya, taatlah kepada suamimu bila perintahnya tak melanggar perintah-Nya." Ujar Omnya tiba-tiba dengan suara perlahan. Terkesan bijak dan sedikit berbeda dari Omnya yang selama ini terlihat cuek dan apa adanya. Semaunya saja.

"Iye' Om." Balas Ana dengan sopan.

"Tahun pertama adalah masa orientasi antara kamu dengan suamimu. Sifat buruk suamimu yang selama ini tak kamu ketahui harus kamu terima dengan lapang dada. Begitu pula sebaliknya. Tak ada manusia yang sempurna Ana. Termasuk kamu."

Ana hanya mendongak ke wajah Omnya. Ia memperlihatkan muka serius.

"Terakhir, setiap lelaki adalah pencemburu. Jaga akhlakmu agar suamimu juga menjaga akhlaknya. Reaksi selalu sama dan sebanding dengan aksimu Ana."

Ana tak berani menimpali perkataan Omnya. Ia hanya manggut-manggut perlahan.

"Selamat menempuh hidup baru Ana. Semoga bahagia dan dikarunia keturunan yang Saleh dan Salehah. Insya Allah, kamu telah siap, karena saat ini, kamu telah menjadi 'imago' yang cantik. Bukan hanya parasmu tapi akhlakmu." Omnya menutup nasehatnya dengan menjabat tangan Ana.  

"Terima kasih banyak Om. Semoga saya memang telah menjadi 'imago'. Semoga..."

 

*Thumbnail


  • Ajo Gaara
    Ajo Gaara
    1 tahun yang lalu.
    Hai-hai-hai Bro Dinan, ane dataaang hahaha... eits, ntar dulu, ane beda lhoo ma si sedeng itu, tau kan yang ane maksud? bingo.

    Ane langsung dimari aje yes,
    1. "Dapatkah saya menirunya?" hatinya setengah bergumam. >> kalau hanya suara hati, biasanya gak perlu diberi tanda petik cukup dengan cetak miring saja dan tanpa tag dialog setelahnya. atau, tanpa cetak miring dan tanpa tanda petik, diakhiri dengan 'tag dialog' (tag dialog = narasi pendek sebelum, sesudah, atau di pertengahan kalimat dialog)

    ex 1: Dapatkah saya menirunya? (anggap ini cetak miring ya, pan di kumen gak bisa bikin italic haha)
    ex 2: Dapatkah saya menirunya? gumam Ana di hati.

    2. kata; imago, udah masuk ke KBBI, jadi gak perlu lagi dikasi cetak miring yes hehe. Begitu juga dengan; pupa, cukuplah dengan tanda petik tunggalnya saja.

    3. ...akan menarik-tak menarik, bersahabat-tak bersahabat atau populer-tak populer.
    jujur, ane rada keganggu ngebacanya hehe. Mungkin bisa dibuat lebih ringkas dan nyaman dibaca, atau tanpa penggunaan tanda minus (-)

    4. merubahnya yang benar>> mengubahnya. kecuali untuk awalan "ber"

    5. Troides Helena Linne >> jika ini nama latin dari jenis kupu-kupu, maka penulisannya jelas salah, selain hanya kata awalnya saja diawali huruf kapital juga jarang-jarang ada nama latin sampai tiga kata.

    6. kata; Bumi, bila menunjukkan nama planet pake awalan kapital yak, namun bila merujuk ke tanah ya tetap kecil.
    ex; Aku jatuh ke bumi, dan diam dalam hening.
    ex; Perbedaan kita ibarat Bumi dan langit.

    7. Lagi jika suara yang keluar adalah suara tokoh dalam cerita, jangan dicetak miring yak, meskipun itu dialog ada dalam flashback, alias kenangan/terbayang/terngiang.

    8. ...jawab Omnya sambil menegakkan punggung dan dadanya. yang namanya menegakkan punggung, otomatis dada juga ikut, pun begitu sebaliknya. jadi, pakai satu aja, jangan boros kata yak.

    9. "Kedamaian?" mata Ana sedikit disipitkan, lalu, berkedip dengan cepat sebanyak dua kali. Perangai itu, ciri khas Ana jika ia sedikit bingung.
    gimana kalau diubah begini > "Kedamaian?" ulang Ana dengan mata menyipit dan berkedip lebih dari satu kali, seperti yang sering tanpa sadar ia lakukan bila dilanda kebingungan.

    10. yang benar itu> feminin pake "n" diujungnya hehe. Bukan; feminim.
    jadi> kefemininan gak dipisah tanda minus, kecuali dalam dialog/percakapan dengan tujuan penekanan pada setiap suku-katanya.

    11. Sufi Wanita > ane rasa gak perlu menggunakan huruf kapital. Kecuali di awal kalimat.

    12. Kenapa gak memberi nama pada si Om? membaca "Omnya" berkali-kali keknya sedikit mengganggu keasyikan.

    13. Omnya terlihat bingung. Tampak matanya berkedip beberapa kali. Tangan kanannya tak lagi mengelus dengan perlahan dagunya tapi berubah menjadi tumpuan dagunya.
    gimana kalau begini >> Omnya sedikit bingung menanggapi, sepasang mata berkedip-kedip. Perlahan, tangan kanan menjadi tumpuan dagunya.
    (soalnya, di narasi sebelumnya kite udah dikasi tahu jika si Om ngegaruk dagu pake tangan kanan, jadi jangan diulang lagi narasinya)

    14. Lagi kalau kata hati, lihat poin 1.
    15. Keknya kata "ruwet", sangat jarang digunakan orang, lebih-lebih untuk hal yang sensitif seperti pernikahan. Yang umum aja yak, misal; rumit, sulit, dsb.

    16. "...mendasar." Ujar Omnya... >> jika ada "tag dialog" seperti itu (ujar Omnya, dsb) jangan dulu menggunakan huruf kapital, soalnya itu masih satu "penyampaian".
    kecuali kek gini>> "...mendasar." Asap rokok kembali mengepul... nah ini sudah menjadi adegan/gerak selanjutnya dari tokoh tersebut.

    17. yang benar>> Muhammad SAW tapi... berhubung kalimat itu ada di dalam dialog, jadi kurang sopan bila ditulis hanya berupa singkatan begitu, lain hal bila di dalam narasi.

    18. "hmmm... tentu saja tidak." meskipun kata "Hmmm" adalah perwakilan gumaman, tapi tetap saja bila mengawali kalimat harus diawali huruf kapital.

    19. "..." Jelas Omnya panjang lebar. sama seperti poin no 16. dan lagi, melihat dna membaca dialognya sudah jelas itu panjang, jadi tag dialog-nya gak perlulah mengatakan dengan; panjang lebar.

    20. "..." tanya Ana Bak Bumerang... kata "bak" dan "bumerang" tidak diawali dengan kapital yak.

    21. tanya Ana Bak Bumerang yang beberapa menit kemudian kembali menyerang lawannya.
    kalau konteksnya lagi bertengkar/ribut, yaa mungkin agak wajar menyebut si Om sebagai lawan

    22. "Apakah Ana telah mengerti maksudku?" Pikir Omnya, sembari mematikan rokoknya. Tak terasa sebatang rokok itu telah 'dilahap' oleh pertanyaan-pertanyaan Ana.

    "Okey, saya sudah sedikit mengerti. Lalu mengapa beberapa Sufi Wanita memilih tidak menikah Om? Apakah agama mereka tidak sempurna?" Bumerang itu semakin mendekat ke tubuh Omnya.

    coba baca lagi deh! nemu yang anehnya?
    dialog di awal itu jelas "kata hati/pikiran" si Om.
    Lhaa anehnya, si Ana kok ngejawab seolah-olah seorang cenayang, bisa membaca pikiran Omnya?
    Agak gak nyambung.

    23. Dialog dan tag dialog jangan dibiasakan menggunakan cetak miring ya Masbro kecuali dialog yang ada unsur dan atau digabung dengan bahasa berbeda (Luar negeri atau juga daerah)

    24. Kata kunci 'pernikahan sahabat nabi'.
    Nah... yang ini jelas harus menggunakan huruf kapital, sebab sudah dijelaskan sebagai; kata kunci.
    jadi >> Kata kunci 'Pernikahan Sahabat Nabi'.

    25. ....matanya melebar beberapa millimeter...
    gak perlulah dirincikan sampai ke milimeter segala heheh, cukup: ...dan mata Ana membesar.

    26. ...saat Putri Rasulullah Saw >> ...saat putri Rasulullah SAW

    27. apapun kata "pun" dipisah yak, kecuali untuk: meskipun, andaipun, walaupun, bagaimanapun, sekalipun, dan kata sejenisnya.

    28. "Ha-ha-ha- ," penulisan seperti ini berkesan tawa sindiran/merendahkan/menghina dsb jadi tidak melambangkan tawa spontan, atau malu, dll. Sebab menggambarkan tawa terputus-putus yang setiap suku katanya dijeda sepersekian detik.
    cukup; "Hahaha..."

    29. "Ha-ha-ha- ," Ana tertawa keras. Tawanya mengambil sedikit perhatian dari tim sukses acaranya.

    "Om ini, ada-ada saja," Ana menghela napas sejenak, lanjutnya. "Om percaya tidak, bahwa Om telah menikah dengan istri Om yang sekarang di langit sebelum Om dilahirkan?" Ana menatap mata Omnya dengan lekat, sangat lekat. Sampai ia menyelam dalam telaga mata Omnya yang bening.

    Ini dialog masih oleh satu tokoh, jadi digabung aja ya, itulah fungsinya tag dialog. memisahkan dialog satu tokoh dengan kejadian di sekitarnya, dan ataupun mimik tubuh tokoh tersebut.

    30. Diiih Masbro... malah dialog dihajar pake cetak tebal ckckckck... jangan lagi yes.


    buseeeenggg... puanjang amatlah pulak ane ngebantainye hahahhaha

    BTW, ceritanye kuerennnn nginspiratip, sayang gak ada buat vote nilainya hiks...

    • Lihat 7 Respon

  • Reza Syaputra
    Reza Syaputra
    1 tahun yang lalu.
    hihih,. keren bgt ya kisah ali,. yg paling keinget dari kata2 baginda Nabi muhammad kepada Ali itu, yang " Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dulu menikahkan engkau dilangit sebelum aku menikahkan engkau di bumi" HR. Ummu Salamah r.a
    asli, bikin merinding itu kalimat :''D

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Ada dugaan kisah ini berdasarkan kisah nyata. Ah, tapi... bukankan sebagian dari duga adalah dosa?

    Materi tulisannya keren, juga bila diberi sedikit bumbu 'konflik'. Suka... ^_

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    panjang~~~~~~~

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Pakmasdinan, kisahnya sungguh Terlalu, bikin moody kepembaca, BTW walaupun aku takbisa menuliskan sepanjang dirimu, kita satu rumah
    Salamispirasi