Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 28 April 2016   11:29 WIB
Menikah di Langit

Menikah di Langit

Penulis: Dinan

 

Mata Ana masih setia memandangi kupu-kupu di halaman depan rumahnya. Makhluk menawan itu terbang dengan anggun, hinggap pada satu bunga ke bunga lainnya. Menghisap sari pati termanis yang ada. Madu. Cairan ajaib nan penyembuh sekaligus pembakar semangat raga. Tubuh dan sayap kupu-kupu itu berwarna gelap dengan sayap bagian bawah berwarna kuning keemasan 'dibumbui' bintik hitam. Sejenis dengan kupu-kupu yang pernah ia lihat di Taman Nasional Bantimurung. Ia masih ingat, tak salah, namanya Troides Helena Linne. Ia salah satu pengagum berat makhluk menawan itu. Ketika kecil ia selalu berlari mengejarnya, tak jarang ada korban dari perburuan itu. Entah kakinya yang terluka atau seekor kupu-kupu kehilangan napasnya. Ia ingin memilikinya. Walau tak lagi dapat terbang dengan bebas. Menyimpannya di plastik transparan seukuran tubuh kupu-kupu yang ditangkapnya. Setiap hari ia bisa melihat betapa cantik corak tubuhnya. Tak harus menunggu sampai mereka menghinggapi bunga di halaman rumahnya.

Tak hanya tentang keindahan. Kupu-kupu adalah makhluk yang mengajari kita untuk bermetamorfosis. Berubah bentuk, dari benda kecil tak 'bernilai' menjadi 'imago' yang indah.

"Dapatkah saya menirunya?" hatinya setengah bergumam.

Suatu saat nanti ia ingin menjadi imago atau kupu-kupu dewasa yang meliuk dengan indah dan menjadi pajangan seorang 'kolektor'. Bukan, jangan 'kolektor', tapi 'lelaki idaman' yang hanya mengoleksinya semata. Hanya dia. Tak ada kupu-kupu lainnya.

Fase hidup Ana tak semulus metamorfosis kupu-kupu. Ia mengalami banyak hambatan. Goncangan. Ujian hidup yang tak sedikit. Khususnya pada fase 'pupa', di mana orang biasa menyebutnya kepompong. Menurutnya, tahapan metamorfosis kupu-kupu dan 'metamorfosis' seorang perempuan tak jauh berbeda. Perubahan drastis terjadi pada fase pupa.

Pada kupu-kupu, fase ini sangatlah penting, karena mempersiapkan perubahan yang besar. Sel-sel larva akan berubah membentuk sayap, kaki, tangan, mata dan bagian-bagian tubuh lainnya. Fase ini memerlukan energi yang sangat besar.  

Ana menganalogikan fase pupa pada perempuan mirip dengan fase remaja. Suatu fase abu-abu, yang akan menentukan seorang perempuan akan menarik-tak menarik, bersahabat-tak bersahabat atau populer-tak populer. Persiapan perubahan bentuk fisik juga terjadi pada fase remaja. Sangat drastis. Dan, dibutuhkan energi yang besar juga pada fase ini. Itulah mengapa, seorang remaja, terlihat sangat rakus.

Tuhan Berkehendak 'sedikit nyentrik'. Ana harus mengalami sedikit goncangan yang ia sendiri tak ingin lagi mengingat apalagi menceritakannya. Cukup kenangan itu menjadi cambuk penyemangat untuk merubahnya dengan cepat menjadi seorang 'imago'. Gadis Dewasa. Tak suka mengeluh. Senantiasa bersyukur dan berjuang untuk meraih cita.

Setelah puas bermain dan menghisap sari pati bunga, Troides Helena Linne itu menjauh dari pandangan Ana. Entah masih ingin mencari makan atau ingin mencari pasangan. Ana lebih suka memilih pilihan kedua. Mencari pasangan. Kekasih. Suami. Belahan Jiwa, di bumi dan di surga kelak.

"Pasangan hidup," tiba-tiba ucapan itu terucap dengan sendirinya dari mulut Ana. Keningnya berusaha saling merapat. Padahal itu tak mungkin terjadi. Ia tahu itu.

Ana berusaha menenangkan diri. Tangannya mengelus lembut rambut hitam yang tergurai. Anginpun dengan ikhlas membantu mengelus rambutnya. Berharap tema itu sedikit saja memburam di kepalanya. Hanya saja, tangan dan angin tak mampu memburamkan tema itu. Sesaat kemudian, 'berkas' di otaknya tiba-tiba mencuat, tentang perbicangan dengan Omnya yang nyeleneh beberapa tahun silam.

*

"Om, kenapa kita harus menikah?" tanya Ana sembari menyilangkan kedua kakinya.

"Untuk merasakan setitik kedamaian," jawab Omnya sambil menegakkan punggung dan dadanya. Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang sedikit serius.

"Kedamaian?" mata Ana sedikit disipitkan, lalu, berkedip dengan cepat sebanyak dua kali. Perangai itu, ciri khas Ana jika ia sedikit bingung.

"Setiap manusia, laki-laki ataupun perempuan, memiliki nafsu dan harus disalurkan dengan jalan halal. Menikah, hanya itu jalannya, agar pelampiasannya bernilai ibadah. Bukankah ibadah mendamaikan, Ana?" Omnya meletakkan tangan kanannya di dagu. Mengelusnya perlahan. Berusaha menyakinkan Ana bahwa pembicaraan ini bukan pembicaraan 'seekor pupa'.

Ana terdiam sejenak. Mengangkat kaki kanannya yang tadi disilangkan di kaki kirinya. Sekejap kemudian, dirapatkan kedua kakinya. Berusaha sedikti feminim. Tema pembicaraan ini bernilai 'ke-feminim-an'.

"Kan ada beberapa Sufi Wanita yang tak menikah Om, bukankah mereka juga merasakan kedamaian?" tanya Ana langsung ke 'jantung akal' Omnya.

Omnya terlihat bingung. Tampak matanya berkedip beberapa kali. Tangan kanannya tak lagi mengelus dengan perlahan dagunya tapi berubah menjadi tumpuan dagunya.

"Ini sedikit ruwet," celoteh hati Omnya.

Demi mencairkan keruwetan itu, Omnya mengambil sebatang rokok kretek andalannya. Membakar dan menghisapnya dengan dalam, kemudian mengeluarkan asap melalui mulutnya sedikit demi sedikit. Agar waktu berpikirnya sedikit lebih lama.

"Siapa panutan kamu Ana?"

"Kok, Om balik nanya sih?"

"Jawab dulu, terkadang jawaban ditemukan dengan bertanya kembali dari yang paling mendasar." Ujar Omnya yang sedari tadi berusaha menemukan mata hati Ana melalui bola matanya.

"Tentu saja, Nabi Muhammad Saw. Beliaulah teladan dan panutan kita. Saya kayak anak kecil saja, ditanya tentang ini." Ana menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Terlihat ia sangat kecewa.

"Okey,,, Nabi Muhammad Saw, nikah gak?"

"Iya Om. Beliau menikah, lebih dari satu kali." Jawab Ana sekenanya.

"Jika panutan kita menikah dan kita tidak menikah, apakah kita meneladani Beliau?"

"hmmm... tentu saja tidak."

"Menikah adalah anjuran agama kita. Bahkan dengan menikah agama kita menjadi lengkap. Sempurna. Maukah Ana beragama tapi tidak sempurna?"

"Tidaklah Om. Saya tahu tentang itu. Tapi saya tak paham, mengapa kita harus menikah?"

"Sebenarnya, ini banyak tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadist. Saya jelaskan secara singkat saja yah, Ana. Pertama untuk meneruskan generasi manusia, generasi kita. Kedua, memperoleh ketenangan bathin. Dengan saling kasih mengasihi antar pasangan suami istri maka diperoleh ketenangan bathin. Ketiga, melaksanakan perintah agama. Keempat, menjauhi zina. Kelima, mencetak generasi islam yang kuat untuk masa yang akan datang agar tercipta masyarakat madani." Jelas Omnya panjang lebar.

"Terus kenapa jawaban Om tadi, untuk merasakan setitik kedamaian?" tanya Ana Bak Bumerang yang beberapa menit kemudian kembali menyerang lawannya.

"Karena semua alasan mendasar yang saya jelaskan di atas menuju satu titik. Merasakan setitik kedamaian. Bukankah itu yang dicari oleh setiap manusia, Ana?"

Ana terdiam, diikuti Omnya yang hanya mengisap rokoknya. Sekali, dua kali sampai tiga kali tak ada perbincangan lagi. Senyap. Sunyi.

"Apakah Ana telah mengerti maksudku?" Pikir Omnya, sembari mematikan rokoknya. Tak terasa sebatang rokok itu telah 'dilahap' oleh pertanyaan-pertanyaan Ana.

"Okey, saya sudah sedikit mengerti. Lalu mengapa beberapa Sufi Wanita memilih tidak menikah Om? Apakah agama mereka tidak sempurna?" Bumerang itu semakin mendekat ke tubuh Omnya.

"Mereka 'menikah' dengan Allah. Tingkatan mereka terlalu jauh untuk kita tela'ah Ana. Sepengetahuan Om, mereka telah sangat zuhud, meninggalkan dunia dan hanya mau 'berpelukan' dengan Allah," Omnya menghela napas beberapa kali. Lanjutnya, "hubungan antar manusia menjauhkan mereka dengan Kekasih Sejatinya, Allah. Itulah sebabnya mereka tidak mau menikah. Tentang agama mereka sempurna atau tidak, serahkan semuanya kepada Sang Hakim Yang Maha Adil. Yang jelas, mereka 'istimewa'." Mata Omnya telah berhasil menemukan mata hati Ana, tidak melalui bola matanya, tapi melalui senyuman tipisnya yang tiba-tiba saja terukir di mulutnya. Diikuti dengan anggukan sekali.

*

'Berkas' di otak Ana belum mampu memburamkan kegundahannya secara sempurna. Ia pun mencari ke 'sang guru maya', Google. Kata kunci 'pernikahan sahabat nabi'. Membuka satu persatu artikel yang berkaitan dengan itu. Tak ada yang menarik hatinya. Setelah membuka artikel yang kelima. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup sedikit kencang, matanya melebar beberapa millimeter, rambutnya kemudian ia ikat dengan rapi agar tak menghalangi fokusnya dalam membaca artikel tentang 'Menikah di Langit'.

Alkisah, saat Putri Rasulullah Saw yang bernama Fatimah berusia 18 tahun. Ada banyak Sahabat Nabi yang sangat ingin menikahinya. Sebut saja, Sayyidina Abu Bakar  dan Sayyidina Umar. Mereka dengan terang-terangan melamar Fatimah di hadapan Baginda Rasul. Akan tetapi, Rasulullah hanya terdiam dan menjawab, "Aku menunggu perintah dari Allah." Jawaban yang sopan dan anggun saat menolak permintaan dua sahabatnya itu.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Sayyidina Ali menghadap Rasulullah. Dengan maksud yang sama, melamar Fatimah.

Kali ini jawaban Rasulullah sedikit berbeda, "marhaban wa ahlan."

Jawaban ini menyiratkan persetujuan Rasulullah. Ali pun terdiam dan tersipu malu begitupula Baginda Rasul.

Kemudian Rasulullah berkata, "Sesungguhnya Allah telah menikahkan Fatimah dan Ali di langit. Apakah kamu memiliki sesuatu yang bisa dijadikan mahar?"

"Wahai Rasulullah aku tak memiliki sesuatu apapun kecuali pedang dan baju perangku."

"Duhai Ali mengenai pedangmu engkau harus tetap menggunakannya untuk berperang di Jalan Allah sedang baju zirahmu juallah." Nasehat Rasulullah kepada Sayyidina Ali.

Akhirnya, Sayyidina Utsman membeli baju perang tersebut dengan harga 480 Dirham lalu Sayyidina Ali memberikan hasil penjualannya itu kepada Rasulullah.

Rasulullah mengambil sepertiga untuk membeli minyak wangi dan sebagian digunakan untuk menghias rumah Fatimah. Dan, terlaksanalah pernikahan yang sederhana dan khidmat itu.

Adakah kisah yang lebih romantis selain suatu pernikahan yang berlangsung di langit?

*

Setelah membaca kisah romantis Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah. Ana bertanya dalam hati.

Apakah saya telah menikah dengan Ansar di Langit sebelum saya dilahirkan di dunia ini?

Sejurus kemudian, lamunannya buyar oleh suara hilir mudik keluarganya yang sedang menyiapkan pernikahannya dengan Ansar esok hari. Tanpa dipandu, mereka telah membentuk timnya masing-masing. Ada tim yang bertugas untuk menyiapkan makanan. Ada tim yang bertugas menyiapkan instalasi listrik di tenda pernikahannya. Dan, banyak lagi tim-tim pendukung lainnya agar acara ini berlangsung lancar. Hanya ada satu yang aneh, Omnya. Beliau hanya duduk sambil menikmati rokok kretek dan kopi hitamnya. Memang Om yang nyeleneh. Ana kemudian menghampirinya.

"Bagaimana kabar keluarganya Om?" tanya Ana sembari duduk di sampingnya.

"Alhamdulillah Baik. Bagaimana kabar calon pengantin, sudah siapkah berlabuh di dermaga pernikahan?"

"Ha-ha-ha- ," Ana tertawa keras. Tawanya mengambil sedikit perhatian dari tim sukses acaranya.

"Om ini, ada-ada saja," Ana menghela napas sejenak, lanjutnya. "Om percaya tidak, bahwa Om telah menikah dengan istri Om yang sekarang di langit sebelum Om dilahirkan?" Ana menatap mata Omnya dengan lekat, sangat lekat. Sampai ia menyelam dalam telaga mata Omnya yang bening.

"Ternyata Ana telah bermetamorfosis menjadi 'imago' yah, mantap. Ana, yang saya percaya tiap manusia sebelum dilahirkan telah digariskan tiga hal: rezeki, jodoh dan kematian," Omnya menghirup kopi hitamnya, tak lupa ia menghisap rokok kreteknya dua kali. "Tentang pernikahan di langit, itu membutuhkan keimanan, dan saya percaya saya telah menikah dengan istri saya di langit sebelum saya dilahirkan. Sebelum semesta tercipta. Begitupula Ana dan Ansar. Dwi A..." Omnya terkekeh sambil memegang pundak Ana. Berharap perhatian lebih dari Ana.

"Begitu yah Om?"

"Keyakinanku seperti itu."

Mereka terdiam beberapa menit. Ana menatap jalan yang sedikit ramai dari hari biasanya. Anak-anak berlari tak tentu arah. Terbahak dan menangis, terasa sangat tipis sekali bedanya. Sedangkan Omnya masih setia dengan rokok kreteknya.

"Ana, pernikahan adalah sesuatu yang mendamaikan jika dijalani sesuai dengan jalur-Nya. Seorang perempuan terlepas dari 'beban' orang tuanya setelah ijab kabul. Semua akan ditanggung oleh suamimu. Termasuk dosamu, Ana. Makanya, taatlah kepada suamimu bila perintahnya tak melanggar perintah-Nya." Ujar Omnya tiba-tiba dengan suara perlahan. Terkesan bijak dan sedikit berbeda dari Omnya yang selama ini terlihat cuek dan apa adanya. Semaunya saja.

"Iye' Om." Balas Ana dengan sopan.

"Tahun pertama adalah masa orientasi antara kamu dengan suamimu. Sifat buruk suamimu yang selama ini tak kamu ketahui harus kamu terima dengan lapang dada. Begitu pula sebaliknya. Tak ada manusia yang sempurna Ana. Termasuk kamu."

Ana hanya mendongak ke wajah Omnya. Ia memperlihatkan muka serius.

"Terakhir, setiap lelaki adalah pencemburu. Jaga akhlakmu agar suamimu juga menjaga akhlaknya. Reaksi selalu sama dan sebanding dengan aksimu Ana."

Ana tak berani menimpali perkataan Omnya. Ia hanya manggut-manggut perlahan.

"Selamat menempuh hidup baru Ana. Semoga bahagia dan dikarunia keturunan yang Saleh dan Salehah. Insya Allah, kamu telah siap, karena saat ini, kamu telah menjadi 'imago' yang cantik. Bukan hanya parasmu tapi akhlakmu." Omnya menutup nasehatnya dengan menjabat tangan Ana.  

"Terima kasih banyak Om. Semoga saya memang telah menjadi 'imago'. Semoga..."

 

*Thumbnail

Karya : Dinan