Demi Air Mata

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 April 2016
Demi Air Mata

Demi Air Mata

Penulis: Dinan

 

Demi air mata, aku tak akan meninggalkanmu dalam kegelapan takdir ini. Air mataku menetes dikarenakan sesuatu yang bernilai. Berharga. Tak mungkin aku menyia-nyiakan air mataku demi kerikil kehidupan. Bagiku, kamu adalah intan kehidupan. Tak usah takut akan nasib. Tak usah takut akan takdir. Keyakinanku, kitalah yang mencipta takdir dengan kehendak bebas yang telah dianugerahi oleh Pencipta. Kitalah yang memilih takdir kita sendiri dengan 'keputusan' dari beribu pilihan. Akan tetapi, keputusan yang kita buat se-Pengetahuan-Nya, se-Kehendak-Nya, yakinlah Dia Maha Rahman. Maha Rahim. Hanya saja, kita tak tahu di mana letak kebaikan itu. Terkadang tersembunyi di balik ruang kasat mata atau di balik waktu yang berputar tak henti-hentinya. Bila waktunya tiba air mata ini akan berubah menjadi senyum manis dan ucapan, "Alhamdulillah!".

 

Kuketik dengan cepat status di atas, tanpa bernapas, tanpa berpikir sedikitpun. Pikiran dan hatiku terasa berhenti bergerak beberapa detik. Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut namamu, kupencet tombol 'kirim'. Statusku sedetik kemudian menjadi milik dunia, bukan lagi milikku semata. Tak berapa lama, beberapa teman telah meninggalkan jejak 'like' dan komentar.

(Adit): Suit-suit... galau nih yeh. Ada apa Mas Bro?

(Nisa): Takdir itu Allah yang menentukan, kita hanya menjalani saja. Semua telah tertulis dalam 'Kitab Kehidupan'.

(Wati): Romantis banget. Kamu memang suami idaman semua wanita. *eh...

 

Banyak lagi komentar lainnya. Tak satupun yang kugubris. Aku menelurkan status itu tanpa meminta advice atau pertanyaan balik. Tidak. Aku hanya ingin menuliskannya. Menumpahkan rasa ini. Rasa terdesak oleh takdir. Sangat terdesak. Tak ada lagi ruang gerak dalam kehidupanku. Aku butuh ruang. Aku ingin bergerak, berjalan, berlari, bila memungkinkan aku ingin terbang.

Sedari tadi, kamu hanya memainkan smartphonemu. Tak pernah melirikku walau sedetik. Apa kamu takut melihat air mataku? Ataukah kamu tak ingin melihat wajah mendungku? Tepatnya bukan mendung lagi, wajah ini telah banjir kesedihan. Sesuatu yang selalu membuat makhluk lemah bernama manusia mempertanyakan Keadilan Tuhan.

Mungkin, kamu juga membaca status galauku. Apa hendak dikata, rasa ini sudah sampai di ubun-ubun. Ingin kutumpahkan semuanya. Di zaman media sosial seperti ini, yah, di situlah tempatnya para manusia berkeluh-kesah, bergalau ria dan pamer kebahagiaan dan kesedihan. Tak jarang aku adalah salah satunya. Salahkah aku?

Setelah puas dengan dunia mayamu, kamu berbalik ke arahku.

"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Dinan?" tanyamu dengan wajah yang tak kalah mendung.

"Serahkan semuanya pada Allah. Dia adalah pengatur yang paling bijak. Kita telah memilih jalan ini, Insya Allah semua akan indah pada waktunya," kuhirup napas, kemudian kuhembuskan perlahan. Berharap hati ini sedikit tenang. Sembari kuceburkan mataku ke dalam matamu. "Jika kamu telah tak sanggup lagi, kembalilah dalam pelukanku. Hatiku akan senantiasa merangkulmu, dalam suka maupun duka."

"Tak sanggup lagi? Artinya, menyerah donk," matamu mulai berkaca-kaca. Bayanganku tampak kabur oleh titik-titik air yang masih menggantung di sisi kedua matamu.

Aku terdiam sejenak. Tak tahu harus berkata apa. Semilir angin menembus melalui jendela yang terbuka. Mengelusku dengan lembut. Menghibur hati yang sedang durja. Kurasakan beberapa detik elusannya. Damai dan mendamaikan.

"Tiap manusia memiliki 'limitnya' masing-masing. Manusia yang kuat dan konsisten akan senantiasa 'mendorong' garis 'limitnya'. Kita berusaha menjadi manusia seperti itu. Tapi jika kekuatan mendorongmu telah habis maka pulanglah ke hatiku." Saraf-saraf mataku tak mampu lagi menahan derasnya air yang ingin mewujud. Kubiarkan saja. Kuikhlaskan. Semoga air mata ini menjadi pelipur laraku. Semoga.

 

Tak berapa lama, kamu menghampiriku. Mendekapku dengan pelukan terhangat yang pernah kamu berikan. Bukan hanya jasad kita yang berpelukan tapi hati dan ruh kita menyatu dalam rasa. Sesuatu yang tak dapat dibahasakan dengan bahasa sederhana. Rasa itu kompleks. Sangat rumit. Hatiku tiba-tiba bersabda...

 

Rasa,

aku tak dapat membahasakanmu

aku tak mampu mengucapmu

yang kutahu rasa ini kurasakan detik ini

 

Rasa,

bersediakah engkau menjadi tali pengikat kami?

bersediakah engkau berkobar dalam tiap detik kehidupan kami?

bersediakah engkau 'abadi'?

Rasa ini hanya untukmu

Intan Kehidupanku

 

Konon, bagi mereka yang saling mencinta. Sabda hati akan tersampaikan dengan sendirinya. Mulut tak harus berucap. Cukup hati saja, itu telah lebih dari cukup. Hatimu kemudian bersabda...

 

Dinan,

terima kasih untuk semua rasamu

aku akan menjaga Intan Kehidupanmu

sampai kita dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sama

 

Dinan,

aku menunggumu menjemputku

jemput aku jika kelelahan ini telah melampaui batas

aku hanya ingin kamu di sampingku

 

Dinan engkaulah semestaku

 

Hati kita telah bercakap dengan sabdanya masing-masing. Aku telah siap menghadapi semuanya. Semuanya. Gerakan manusia tidak didasari oleh otak. Secara hakikat, gerakan manusia didasari oleh hatinya. Hati kita telah saling terikat. Saling menyatu. Semoga Takdir Tuhan tak memecah hati kita. Karena detik ini, kita telah 'memilih' untuk menyatu. Allah menyukai manusia yang memilih jalannya sendiri, sembari berikhtiar dengan usaha dan doa'.

 

Dekapanmu telah kamu lepaskan. Tak ada kata lagi yang terucap. Langkahmu menuju 'sel kita'. Salah satu perekat rasa ini. Aku masih berdiri di sudut yang sama. Mengambil smartphone dan mengetik 'status jawaban'...

 

Adakah Takdir yang didasari oleh keterpaksaan Kehendak-Nya?

Pilihanku adalah diriku.

Pilihanku adalah hidupku.

Dan, aku memilih berjuang sembari berdoa, agar semua akan indah pada waktunya.

 

'Kirim'

 

 

*Thumbnail


  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    amazing....keren inih menyentuh kalbu

  • Ira Wahyu  Widya
    Ira Wahyu  Widya
    1 tahun yang lalu.
    ijin repost buat puisinya ya gilak banget puitisnya

    • Lihat 9 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Semua akan puitis pada waktunya... ^_

    *Layak promo.

    • Lihat 5 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    tadinya mau matiin laptop, ada tulisan bapak, jadi sempetin baca dulu

    itu ada Nisa, Wati, Eko-nya gak sekalian, Pak? *ehh

    jadi ini tentang semacam 'konflik' batin, ya.
    percakapan pada diri sendiri.
    Pak Dinan keren kalo soal nyelipin pesan dalam cerpen.

    • Lihat 6 Respon

  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    Menyentuh banget, Pak Dinan.
    Saya suka status yang pertama dikirim dan syair-syairnya.