Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 15 April 2016   05:00 WIB
Adakah Kawasan Bebas Nilai? [1]

Adakah Kawasan Bebas Nilai? [1]

Penulis: Dinan

 

Peci hitamnya menutup kepalanya yang botak. Memakai baju safari warna abu-abu, berjalan mondar-mandir mencari 'sasaran' empuk. Pria paruh baya itu menghampiriku, memberiku satu lembar stiker tuk dipasang di motor, mobil atau di depan rumah. Dua sudut bibirnya terangkat ke atas. Melukiskan senyum di wajahnya. Senyum kebohongan yang akan terhapus ketika 'tahta' menggantikan pecinya.

Usiaku masih lima belas tahun. Belum layak rasanya menerima stiker-stiker itu. Kebetulan ayah dan ibu tak ada di rumah, dengan terpaksa aku meladeninya.

"Siapa namanya, dek?" tanyanya dengan senyum kebohongan yang masih saja menghiasi wajahnya.

"Khairi," kujawab sekenanya sembari melihat stiker di tanganku. Stiker itu adalah stiker pengenalan dan alat kampanye pria paruh baya itu. Terlihat tulisan pada pojok atas, Pilih Nomor 5... H. Ahmad Ahdan, S.Pd, MM. Tak lupa, foto terbaiknya terpampang di tengah stiker. Mengenakan jas warna hitam, dengan peci tentunya dan tangannya diangkat ke atas dengan posisi tangan terbuka lebar, mirip orang yang 'da-da' di pelabuhan atau bandara. Lagi-lagi dengan senyum kebohongan yang lebih 'dahsyat'. Setelah puas memandangi stiker tersebut, akupun menaruhnya di dalam saku celana.

"Dek Khairi, stiker itu bukan untuk dikantongi tapi dipajang di pintu rumah. Bersediakan rumahnya saya tempeli stiker?" wajahnya tampak sendu, entah asli atau palsu, aku tak tahu.  

"Untuk apa dipajang di pintu rumah? Buat kotor saja," sergahku kemudian.

Pak Ahmad Ahdan terkaget mendengar tanyaku. Ia menarik napas perlahan kemudian menengok bagian dalam rumahku.

"Ayah dan ibu adakan?"

Aku hanya menggeleng cepat.

"Ooh... stiker itu adalah sarana sosialisasiku sebagai CALEG DPRD Tingkat I. Tolong yah dek, pasang saja."

"Umur saya masih 15 tahun, belum punya hak pilih. Lagi pula, belum tentu orang tua saya memilih bapak atau simpatik sama bapak. Lebih mending tak usah saja yah Pak?" Aku memberanikan diri menatap matanya yang ditutupi oleh kacamata warna hitam. Mataku tak mampu menilai 'kejujuran matanya', terhalang oleh kacamata yang buram.

"Okelah, makasi yah dek."

Ia putus asa, menjauh dariku mencari sasaran empuk lainnya yang lebih polos dan mudah dibujuk.

 

Pesta yang dihiasi spanduk, baliho, stiker bahkan sampai iklan di televisi, membuatku jenuh. Sangat jenuh. Modalnya besar untungnya tak ada, hanya kerugian bagiku dan bagi mayoritas rakyat di negeri ini.

 

Mereka mendekat hanya saat kampanye

Mereka tersenyum hanya saat kampanye

Mereka kenal kita hanya saat kampanye

Mereka membagikan sembako hanya saat kampanye

Jika aku telah dewasa nanti, tak ingin aku menyentuh dunia busuk itu, Politik.

 

Semua tindakannya didasarkan pada kepentingan

Kepentingannya, golongannya atau pendonornya

Semua tindakannya didasarkan pada kepentingan

Kepentingan untuk menguras uang rakyat

Jika aku tak dapat membantunya mencapai kepentingannya maka secara otomatis aku hanya noktah debu.

 

Adakah kawasan bebas nilai?

 

Demi membunuh kejenuhan, kuputuskan untuk melihat album kenangan waktu aku kecil. Kubuka satu persatu. Sesaat kemudian, aku terkekeh dengan sendirinya, melihat fotoku sedang makan kue cokelat saat berulang tahun yang ke tiga tahun. Cokelat memenuhi bibirku, bahkan di bagian pipipun cokelat-cokelat itu seakan menggambar pulau, mirip pulau sumatera. Aku tak hentinya menyunggingkan senyum.

Kenangan demi kenangan memasuki alam sadarku. Sebuah kejadian yang amat berkesan, dua hari setelah ulang tahun itu...

 

Setelah memakaikanku peci warna putih, ayah mengajariku berwudhu. Saat itu aku hanya lembaran putih yang siap ditulisi apa saja. Positif atau negatif aku terima saja. Tanya itu tiba-tiba saja 'muncrat' dari mulutku setelah proses belajar tata cara berwudhu selesai.

"Kenapa kita harus salat?" tanyaku kepada ayah, tubuhku terasa segar dan jiwaku terasa 'melayang' usai dibasuh 'air suci'.

"Agar kita masuk surga," jawab ayahku mantap.

"oo..gitu. Masuk surga yah, apa enaknya masuk surga?"

"Di sana banyak permen, buah, susu dan madu. Terserah kamu pilih minuman dan makanan apapun, pasti ada. Pemandangannya sangat indah membuatmu 'kenyang' walau tak sempat 'memakannya'." Celoteh ayah.

Penjelasan itu membuatku berpikir sederhana kala itu, salat maka kita bisa masuk surga dan bisa minum dan makan apapun di tempat yang indah. Cukup. Titik.

 

Penjelasan itu masih mengalir dalam darahku sampai berusia sepuluh tahun. Tiba-tiba saja alirannya sedikit terhambat setelah guru agamaku di kelas berkata, "Salat itu tujuannya bukan surga tapi mencapai Ridha Allah." Aku hanya mangguk-mangguk, walaupun aku belum terlalu mengerti maknanya. Akan tetapi, jawaban itu terasa lebih suci dari kepentingan. Jawaban itu terasa lebih suci dari nilai dunia. Keinginan materi berganti kepada keinginan non-materi. Dahsyat, gumamku waktu itu.

 

Putaran waktu membuat akalku sedikit berkembang. Bukan tumbuh tapi berkembang. Aku mulai mempertanyakan jawaban dari guruku, tentang mencapai Ridha Allah.

Jika salat memiliki tujuan untuk mencapai Ridha Allah,

bukankah itu 'kepentingan'?

bukankah itu 'motif'?

bukankah itu 'nilai'?

 

Aku mencari sebuah kawasan yang bebas nilai. Dalam bahasa para ulama kawasan ikhlas,

bukankah ikhlas tak berkepentingan?

bukankah ikhlas tak bermotif?

bukankah ikhlas tak bernilai?

dan,

bukankah ikhlas tak butuh apa-apa?

 

Kututup album kenangan itu. Sudut tercerdas dalam tubuhku, kalbuku, sedang mencari jawaban.

 

Adakah kawasan bebas nilai?

Tunjukkan padaku Tuhan!

 

 

Sampai bertemu di pertanyaan liar selanjutnya

 

*Thumbnail

Karya : Dinan