Seminggu Bercakap dengan Jailani [Minggu_Tamat]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 April 2016
Seminggu Bercakap dengan Jailani

Seminggu Bercakap dengan Jailani


Cerita Bersambung; seminggu bercakap dengan Jailani, menguliti kulit ideku dan menghanyutkan dogma yang telah kugenggam selama ini. Tanpa ragu, ia membuangnya ke tempat sampah.

Kategori Fiksi Umum

2.3 K Hak Cipta Terlindungi
Seminggu Bercakap dengan Jailani [Minggu_Tamat]

Minggu
Penulis: Dinan

Menyebut nama-Nya setelah 'sujud' sambil merefleksi diri kita adalah salah satu jalan untuk dekat dengan-Nya. Selama lima menit aku duduk di atas sajadah, mencoba berpikir dengan hati. Kubiarkan hatiku berceloteh semauanya, karena celoteh hati adalah 'Bisikan Pencipta'.



Meniadakan diri adalah puncak dari pencarian seorang hamba, yang senantiasa paham bahwa tak setetespun miliknya, semua hanya milik Allah. Surah An-Nur ayat 35 yang dibacakan oleh Jailani kemarin, membuatku tersadar bahwa Allah yang memberi cahaya kepada langit dan bumi. Simbol semesta adalah langit dan bumi, yang ada hanya Cahaya-Nya. Tak ada makhluk yang memiliki cahaya kecuali bersumber dari-Nya. Semua adalah Cahaya-Nya, artinya, pada titik tertentu semua dapat saling 'melihat', 'merasakan' bahkan 'menyatu'.

Andai semua hamba 'mengemis' cahaya kepada Allah, pasti Dia akan memberi sesuai dengan Kehendak-Nya. Tetapi ingat, cahaya berlapis, bertingkat, dimanapun tingkatan cahayamu di situlah 'kelasmu'. Cahaya itu akan mengikis naluri hewanimu, menebalkan aura malaikatmu dan memancar pada tiap napas hidupmu.

Aku tak hidup
Aku tak mati
Aku hanya mengikuti 'panggilan' Cahaya-Mu
Bahkan disamakan dengan debu saja aku tak pantas
Karena sejatinya aku tak ada

Allah tak butuh aku
Apalagi setitik ibadahku
Allah tak butuh emas
Apalagi sekeping sedekahku
Karena hakikatnya aku yang butuh Allah

 

Buah rasa yang mengalir dari hatiku tiba-tiba mewujud dalam bentuk air jernih yang menetes perlahan di kedua sudut indera penglihatanku. Kubiarkan air itu membanjiri sajadahku, semoga dapat menjernihkan mataku yang penuh dengan maksiat dan berharap mata ini tak disentuh oleh panasnya api neraka di akhirat kelak. Atau paling tidak, mataku akan bersaksi bahwa aku pernah menangis karena mengingat dan takut pada-Mu. Itu sudah lebih dari cukup.

 

***

 

Sabit melayang mengikuti rambatan semak belukar. Tetes-tetes keringat mengalir di wajah dan tubuh ayah. Setengah jam ia telah bergulat dengan semak belukar di pekarangan belakang rumah. Terkadang, semak belukar menjadi surga bagi binatang liar. Berbagai jenis ular bermain dan bersarang di sana. Biawak pun tak mau ketinggalan, semak belukar yang tinggi menjadi 'bentengnya' saat mengintai ayam peliharaan Pak Andi.

 

Pernah suatu ketika, Pak Andi mengejar seekor biawak yang sedang mengigit anak ayam kesayangannya. Ia menggenggam parang panjang. Saat ia berjarak seperempat meter dari musuhnya, ia langsung menebas tanpa belas kasihan. Tak lama kemudian biawak telah kehilangan kepalanya. Disusul sumpah serapah Pak Andi karena kehilangan seekor anak ayam bangkok kesayangannya, jantan lagi. Muka Pak Andi memerah, semerah warna lipstik istrinya ketika menghadiri acara pernikahan. Ia sangat benci biawak, ular dan semak belukar. Ketiga unsur itu adalah pereduksi jumlah ayam peliharaannya.

 

Sambil membawa segelas kopi hitam buatan ibu. Kuhampiri ayah yang masih saja 'bermain' dengan sabitnya.

"Ayah, istirahat dulu, minum kopi."
"Dikit lagi Ihsan."

Ayah adalah pribadi yang cinta akan kebersihan. Berbeda jauh denganku. Kamarku saja sangat berantakan dan jorok, paling sebulan sekali kubersihkan. Apalagi mengurusi semak belukar di pekarangan rumah, bisa dikatakan tak pernah. Kadang aku malu pada ayah.

 

Laskar burung gereja bermain di ranting pohon jambu. Dua ekor hanya hinggap di ranting, sembari memainkan bulu halusnya yang berwarna cokelat, sedang dua ekor lainnya, melompat dari satu ranting ke ranting lainnya. Ketika aku berusia lima tahun, sempat aku mengkhayal, di punggungku tumbuh sayap. Aku sangat ingin terbang bebas di langit biru, bermain dengan gumpalan awan, merasakan hangatnya 'kasih' matahari lebih dekat. Setelah khayalku melukis sayap di kedua punggungku, aku berlari sambil merentangkan kedua tanganku. Semakin cepat lariku, semakin cepat pula kepakan tanganku. Bosan terbang lurus, aku menukik. Badanku kumiringkan sedikit, mirip burung elang yang mengejar mangsanya. Cuma sejam saja khayalku bertahan, karena napasku tak kuat berlari terlalu lama.

 

"Bagaimana Nak, udah bersihkan?" ujar ayah sambil duduk di sampingku.
"Iya ayah, sudah bersih. Maaf yah, aku tidak bantu," kujatuhkan wajahku ke bawah, menatap ibu jari kakiku. Mataku malu bersinggungan dengan wajah ayah.
"Tak apa. Lain kali, kita bersihkan sama-sama." Ujar ayah lembut, kemudian ia menyentuh pundakku.
"Baik Ayah!" Kuangkat wajahku, mendongak ke wajah ayah kemudian tersenyum tipis.

Ayah menyerup kopi hitamnya. Tak hanya sekali tapi tiga kali. Ia lelah. Di tubuhnya masih mengalir keringat, membasahi baju kaos yang dikenakan sore ini.

 

"Ayah tahu di mana rumah Jailani?" tanyaku membuyarkan kenikmatan ayah yang sedang menikmati kopi hitamnya.
"Setahu ayah sih, di belakang pegunungan dekat sawah Pak Andi. Tapi, ayah juga belum pernah melihat rumahnya. Jailani bukan warga di RT kita, makanya ayah tak tahu identitas lengkapnya."
"Ooohhh... begitu yah. Menurut informasi yang kudengar dari warga, Jailani punya nenek. Ayah pernah melihatnya?"

Ayah menghembuskan napasnya perlahan. Wajahnya tampak berpikir. Ia mencari 'berkas-berkas' informasi di otaknya.



"Seingat ayah, tak pernah kulihat Nenek Jailani. Memangnya ada apa?"
"Jailani mengajakku ke rumahnya. Kami janjian jam 5 sore, sekitar dua puluh menit lagi aku akan ke rumahnya. Masih ada yang ingin kutanyakan padanya."
"Hati-hati saja, entah mengapa naluri ayah berkata, Jailani bukan manusia sembarangan. Aku mengetahui Jailani baru sebulan terakhir ini, itupun ketika ia duduk bersila di pinggir sawah atau di sungai. Selain itu, aku tak tahu."
"Bukan 'manusia sembarangan', maksud ayah?" Aku mendongak ke arah ayah. Kutatap dengan seksama wajahnya. Mencari jawaban di sana. Tapi, ayah terdiam beberapa menit sambil menghirup kopi hitamnya. Pandangannya sempat mengejar awan di langit. Kemudian ia bergumam, "Tubuh Jailani bercahaya warna hijau, warna kehidupan."

 

Bercahaya warna hijau? Selama beberapa hari bercakap dengan Jailani, terjadi banyak keanehan. Untuk tubuhnya berwarna hijau, seingatku belum pernah terjadi.

 

"Cahaya warna hijau? Maksud Ayah?" Kedua pundakku kuangkat sedikit sembari membuka kedua telapak tanganku mengahadap ke atas.
"Ketika kamu bertemu dengannya, Insya Allah kamu akan mengerti maksud ayah."

Akhirnya, aku pamit pada ayah, hendak ke rumah Jailani.


Rasa penasaranku telah mengalir sampai ke ubun-ubun, siapa sebenarnya Jailani?

 

***

 

Setelah melewati jalan setapak di pinggir sungai dan sawah, akhirnya sampai juga di rumah Jailani. Bukan rumah, tepatnya pondok kecil. Atapnya terbuat dari daun kelapa kering, betul-betul daun kelapa, dindingnya hanya batang-batang pohon kelapa yang dijejer rapi, sedang alasnya cuma tanah. Kuucap salam beberapa kali tak ada jawaban dari pemilik rumah. Kupanggil nama Jailani, masih belum ada jawaban. Kutelisik pintunya, tak terkunci. Akhirnya kubuka perlahan, Sekali lagi kuucap salam dan memanggil Jailani beberapa kali, tetap tak ada jawaban. Di dalam rumah hanya ada dua tikar, sepertinya satu untuk tidur dan satu lagi mirip sajadah yang ukurannya agak lebar, mungkin, digunakan untuk shalat. Tak ada dapur, hanya ruang tidur sekaligus sebagai ruang untuk shalat. Rumah ini sepi dan seakan tak berpenghuni.
Ke mana Jailani?

 

Aku keluar dari rumah, menatap sekitar, mencari Jailani. Tak mungkin ia lupa janjinya bertemu denganku sore ini. Di sekitar rumah Jailani agak berbeda dengan rumahku. Tempat ini dekat dengan pegunungan kecil, ada lima pohon pinus yang menjulang tinggi ke langit. Tanahnya cukup datar dan rumput hijau tumbuh dengan subur, mirip savana. Sejak kecil sampai usiaku sekarang, baru kali ini aku ke tempat ini. Ternyata ada tempat seindah ini. Seandainya dulu saat berusia lima tahun aku tahu ada tempat seperti ini, pasti aku akan bermain 'terbang-terbangan' di savana ini.

 

Matahari telah menuju tempat pembaringannya, sekejap kemudian, bayangan aneh terlihat di tanah. Bayangan sosok manusia yang memegang tongkat. Kucari sumber bayangan. Mataku menyisir sekitar. Tak berapa lama, kutemukan sumbernya. Seorang pria sedang berdiri di atas pohon pinus, merentangkan tangannya, di tangan kanannya ia memegang tongkat. Ia menghadap matahari yang bergerak menuju singgasana peristirahatannya. Siapa pria itu?

 

Pria itu memutar tubuhnya, menghadap ke arahku. Sejurus kemudian, ia terbang dengan anggun. Awan mungil mengikutinya, menaungi kepalanya. Awan itu mirip sayap. "Mungkinkah itu serpihan sayap malaikat?" pikirku. Mataku melotot tak percaya. Pria itu bisa terbang. Melayang. Betul-betul terbang. Aku tak percaya. Kuusap kedua mataku, tetap saja sosok itu melayang di atas sana, terbang menghampiriku. Jantungku terus memompa darah dengan cepat. Adrenalinku memuncak, membuat jantungku berdegup kencang. Tubuhku tiba-tiba gemetar. Kedua lututku tak mau kalah, bergetar sangat keras. Seperti melihat hantu. Apakah ini hanya khayalku? . Kutampar pipiku perlahan, sakit. Ini nyata.

 

Dua menit kemudian, pria itu mendaratkan kakinya di tanah. Serpihan sayap malaikat masih menaungi kepalanya. Ia melangkahkan kakinya mendekatiku. Setiap bekas jejak kakinya ditumbuhi tanaman, Aku tak tahu itu tanaman apa. Sepintas mirip bunga-bunga yang tumbuh di hutan, tidak terlalu tinggi, dan bunganya berwarna ungu. Sangat indah.

 

Pria itu memakai jubah mirip jubah orang arab pada zaman nabi. Kepalanya tertutup oleh jubahnya. Aku ragu, apa harus tetap di sini atau lari menjauh. Jantungku sedikit lagi mau copot. Kakiku bergetar semakin kencang. Semilir angin menambah horornya suasana ini, membelai kulitku dengan lembut membuat sekujur tubuhku bertambah dingin. Tak pernah kurasakan perasaan seperti ini. Penasaran, dingin, takut dan takjub bercampur jadi satu. Entah apa nama rasa ini. Intinya kepala dan hatiku seakan berhenti 'bergerak', atau 'bergerak' lebih cepat dibanding sekitarku. Aku tak tahu.

 

Aku masih di titik yang sama, tak bergerak sedikitpun. Pria itu berjarak satu meter di depanku. Ia membuka penutup kepalanya. Kucoba mengembalikan 'sadarku. Kuperhatikan dengan seksama.

 

Wajah itu, bibir itu, mata itu, pria itu, Jailani. Hanya saja lebih tinggi dari sebelumnya. Wajahnya ditumbuhi janggut yang agak panjang, rambutnya sedikit beruban, sangat berbeda dengan Jailani yang sebelumya kukenal. Dan, cahaya hijau yang dikatakan oleh ayah terlihat sore ini. Cahaya hijau itu berpendar dari tubuhnya. Melambangkan kesegaran jiwa, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Aku tak tahu apakah dia memang Jailani. Tetapi, dengan memandang matanya yang jernih itu aku yakin, mata itu mata Jailani.

 

"Ihsan," Pria itu membuka mulutnya, menyampaikan sepotong kata, Suara itu membuyarkan lamunanku.
"Kamu Jailani?" tanyaku setengah bergumam. Rasa takut masih menjalar di sekujur tubuhku.
"Iya Ihsan, aku Jailani. Kamu boleh memanggilku seperti itu," kedua sudut bibirnya terangkat ke atas melukiskan senyum kebijaksanaan.
Kuhirup udara melalui hidungku dengan dalam, kemudian kuhembuskan perlahan melalui mulutku. Tiga kali aku melakukannya. Berharap rasa takut dan takjub ini sedikit saja menipis. Untung saja cara itu sedikit berhasil.

 

"Kamu sebenarnya siapa Jailani?

Jailani tak menjawab, ia mengajakku ke belakang rumahnya. Tiba-tiba saja dua batu gunung cukup besar mewujud di sana. Permukaannya datar. Sesampainya di batu itu, ia duduk bersila, dan mempersilahkanku duduk di sebelahnya. Awan mungil mirip serpihan sayap malaikat itu masih saja menaungi kepala Jailani.

 

"Ihsan, aku telah mengajarkanmu beberapa ilmu yang mungkin kamu tak mengerti saat ini, tapi suatu saat nanti, dengan pencarian yang konsisten Insya Allah kamu akan paham." ujar Jailani sembari meletakkan tongkatnya di samping batu.
Aku mengangguk cepat, secepat kedipan mataku.


"Seluruh sel, jasad, pikir, napas, hati dan hidupmu hanya mengarah kepada Allah. Tujuan penciptaan kita hanya satu, hanya satu, beribadah kepada Allah. Dengan beribadah kepada-Nya, kamu akan merasakan kedamaian."
"Akan kucoba Jailani," ujarku sembari menatap wajah Jailani lagi. Kutatap dengan lekat sangat lekat, mencoba mencari jawaban dari misteri ini. Tapi, belum kutemukan jawabannya.

 

"Suatu saat nanti. napas kita akan terputus sesuai dengan yang 'tertulis' pada 'Buku Kehidupan'. Kita akan mempertanggung jawabkan semuanya. Semuanya. Mulut kita akan membisu, hanya anggota badan kita yang berbicara kepada Sang Hakim. Apakah kamu tak malu jika dahimu berkata kepada Allah, "Wahai Rabbku, Ihsan tak pernah menggunakanku untuk betul-betul bersujud kepada-Mu. Ia tak lama bersujud, hanya beberapa detik. Aku belum 'merasakan'mu, ia telah bangkit untuk duduk." Kamu ingin berbicara membantah dahimu tapi mulutmu terkunci," Jailani menghela napas beberapa kali sembari menikmati savana ini, lanjutnya. "Otakmu lalu berkata, "Wahai Rabbku, Ihsan menggunakanku hanya untuk memikirkan dunia, sangat jarang ia memakaiku untuk memikirkan ciptaan-Mu, Kalam-Mu dan mempelajari agama-Mu." Disusul dengan anggota tubuhmu yang lain. Sudikah dirimu dipermalukan oleh anggota tubuhmu sendiri di hadapan Pencipta?"
Aku hanya tertunduk lesu sambil menutup mulutku rapat-rapat, tak berani membantah dan berkomentar.

 

"Beribadah bukan untuk mencari surga-Nya atau takut akan neraka-Nya. Tapi, beribadah untuk 'mengingat', 'merasakan', dan 'bersatu' dengan Sumber segala Sumber. Berharap Ridho-Nya. Ibadahmu hanya untuk kebaikanmu sendiri bukan untuk kemaslahatan-Nya. Dia telah Maha Segalanya. Dia tak butuh apa-apa."
Kali ini aku memberanikan diri berkomentar, "Jailani secara subtansi aku telah mengerti, mohon diperkuat dengan dalil. Agar aku tak terlalu melayang di langit. Di alam para sufi. Aku manusia biasa yang masih ingin menapak bumi. Aku butuh akar yang kokoh." Kuseka wajahku, keringat tiba-tiba mengalir di dahiku. Seberani inikah aku mendebat 'guruku'?

 

Jailani tiba-tiba menundukkan wajahnya, kemudian membaca Al-Qur'an. Suaranya sangat merdu, tubuh dan hatiku yang tadinya gelisah 'disedot' oleh lantunan merdu suaranya. Rumput hijaupun menari ditiup angin seakan ikut menikmati suara Jailani.

 

"Kamu tahu itu surah apa?" tanya Jailani sambil memandang wajahku.
"Maaf, aku tidak tahu, hehehe..." Aku terkekeh tapi mukaku memerah karena malu. Tak tahu isi dari Al-Qur'an. Isinya saja tak tahu apalagi makna yang tersirat di dalamnya. Aku malu menyebut diriku muslim.
"Tentang hari kiamat dan hari pembalasan ada banyak tertuang dalam Al-Qur'an, kali ini, sesuai dengan suasan hatiku, aku melantunkan Surah Az-Zariyat Ayat 1-11. Kamu bawa smartphonemu? Tolong bacakan artinya, agar kamu sedikit memahami maknanya,"

 

Guruku memang moderat, tak mau ketinggalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Dan, cara mengajarnya tidak monoton, dengan komunikasi dua arah, hingga aku sedikit terlibat dalam pembelajaran ini.

"Aku pasti tak akan lupa smartphoneku, terkadang ia menjadi 'Tuhan' baruku. 'Tuhan' orang-orang modern saat ini," kucari Surah Az-Zariyat Ayat 1-11, kubaca dengan keras artinya...

 

Demi (angin) yang menerbangkan debu,
dan awan yang mengandung (hujan),
dan (kapal-kapal) yang berlayar dengan mudah,
dan malaikat-malaikat yang membagi-bagi urusan,
sungguh apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar,
dan sungguh, (hari) pembalasan pasti terjadi,
Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,
sungguh, kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat,
dipalingkan darinya (Al-Qur'an dan Rasul) orang yang dipalingkan,
Terkutuklah orang-orang yang berdusta,
(yaitu) orang-orang yang tebenam dalam kebodohan dan kelalaian.

 

"Ihsan, janganlah kamu mendekati sesuatu yang tak berguna dan jangan pula kamu 'meninggikan' makhluk dibandingkan dengan Sang Khalik, " mata Jailani betul-betul menatapku kali ini, sangat tajam, Menyesal aku mengeluarkan pernyataan tentang Smarphone yang menjadi 'Tuhan' baruku. Lanjutnya, "Surah ini jarang di perhatikan orang, makanya aku membacanya. Agar kita semakin paham bahwa kesuluruhan Al-Qur'an adalah Hukum dan jangan mengambil hanya beberapa ayat favorit saja."

 

Benar juga kata Jailani, terkadang kita hanya mengambil sepenggal saja yang menarik atau yang menyenangkan hati kita. Bukankah Al-Qur'an adalah satu kesatuan yang pasti dengan Sunnah sebagai penjelasnya?

 

Langit telah mulai gelap, singgasana matahari berubah warna menjadi jingga. Langit telah menelan rajanya, berharap permaisuri mau menggantikan perannya. Tiba-tiba Jailani membaca Kalam Ilahi, tak terlalu panjang hanya dua ayat.

 

"Itu tadi Surah Al-A'la ayat 14 dan 15, tak usah aku menanyakannya padamu. Kamu jarang membaca Al-Qur'an, pasti kamu tak mengetahuinya. Bagaimana mungkin kamu dapat menjadikannya aturan dalam mengarungi hidup yang fana ini, jika kamu jarang membaca dan menelaah isinya," Aku hanya terdiam beberapa detik, aku malu, sangat malu. Kemudian Jailani membacakan artinya...

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman).
Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.

 

"Mari kita shalat berjama'ah Ihsan. Adzan maghrib telah menggema di seluruh jagat raya. Entah di bumi dan di Langit para Makhluk telah bersujud kepada-Nya"
"Tunggu sebentar, kamu belum menjawab pertanyaanku. Siapa Kamu sebenarnya? Kamu sudah janji padaku Jailani. Janji adalah utang." Tanyaku bagai anak panah yang menuju sasarannya.
Jailani kemudian menjulurkan tangan kanannya, ia ingin menjabat tanganku. Tangannya begitu hangat, terasa ada aura kebijakasanaan mengalir di tiap darahnya.

 

Ada yang aneh, jempol tangan kanannya tak bertulang.

 

"Banyak orang yang memanggilku Khidir. Ada yang menganggapku sebagai Nabi ada pula yang menganggapku sebagai Wali Allah. Itu tidak penting. Yang utama, aku hanya Hamba Allah yang Saleh, yang kebetulan diberi setitik ilmu hikmah oleh Allah. Ingat hanya setitik saja. Ilmu Allah tak berbatas. Kita manusia diberi Cahaya hanya sedikit, sedikit sekali. Maka jangan pernah kamu merasa sombong."

 

Nabi Khidir? Jadi, Jailani yang selama ini kutemani bercakap adalah seorang Nabi yang memberi pelajaran hakikat kepada Nabi Musa a.s. Dan, pada para Nabi dan Rasul lainnya serta hamba saleh lainnya. Betapa beruntungnya kamu Ihsan.

 

"Wasiat terakhirku Ihsan, buah dari agama adalah akhlak yang mulia. Manusia adalah Rahmat Sekalian Alam. Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sekitarnya." Jailani menutup wasiatnya dengan senyum yang sangat hangat. Matanya kembali berbinar.
"Apakah kita dapat bertemu lagi Jailani? eh, maaf. Nabi Khidir,"
"Jika aku diperintahkan oleh pemilikku, pasti kita akan bertemu lagi."
"Jika aku butuh pembelajaran darimu, bagaimana? Bagaimana cara 'memanggilmu'? Bagaimana jika aku di sudutkan oleh mazhab-mazhab yang bersilangan? Bagaimana..." Jailani memotong pertanyaanku yang bertubi bak tembakan peluru otomatis.
"Tanya hatimu, hati terdalammu. Tapi, sebelumnya sucikanlah dengan mengingat Allah. Mengingat Tuhan Semesta Alam."

 

Aku mengalah. Akhirnya, kami shalat berjama'ah. Imamnya adalah Jailani, bukan Nabi Khidir. Shalat kali ini luar biasa, seakan aku shalat di atas langit. Tak ada kegundahan hati, tak ada pikiran lain selain mengarah kepada Pemilik Hati. Seluruh tubuhku bergetar merasakan Kekuasan Allah.

 

Kamu bukan siapa-siapa Ihsan. Kamu hanya Makhluk, tak punya apa-apa. Tujuanmu hanya beribadah kepada-Nya. Dengan 'meniadakan' dirimu, maka kamu akan 'menemukan' hakikatmu.

 

Tamat

 

*Cerita Sebelumnya:


Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jum'at
Sabtu


___

Gambar diambil di sini
___


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Opening.
    Andi.
    Ayah.

    Dari kopi hitam, but ending-sayap meta-garis lurus.

    *Edisi komen kata kunci... ^_

    • Lihat 7 Respon

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Endingnya kurang dramatis. #gituajasih

    • Lihat 1 Respon

  • kornia siti meisyaroh
    kornia siti meisyaroh
    1 tahun yang lalu.
    di tunggu projek barunya ya Mas Dinan

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Mas, maaf saya gak baca dari awal. Mau nanya aja. Judulny seminggu. Berarti tulisan ini yg terakhir?

    • Lihat 1 Respon

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Ninggalin sejadah dulu...*bacanye nanti malem