Namaku Dinan

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 April 2016
Namaku Dinan

Namaku Dinan

Penulis: Dinan

 

Mulutku terasa kaku bagai diselimuti salju tebal yang berasal dari langit tatapannya. Dia di sana, duduk di sampingku, berjarak sekitar setengah meter dariku. Menatapku dengan tajam. Meminta kalimat yang dinanti, tapi tak hadir dalam dunia real. Kalimat itu tersembunyi di hati terdalam, seakan merajuk dan tak mau mengalir ke mulutku. Sejam berlalu, yang ada hanya perbincangan tak bermutu. Sekadar untuk mengisi waktu dan menghormati kawan-kawan kita.

Itu kejadian tadi siang, di sinilah aku, di kamar kosanku yang sempit. Hanya berisi kesepian dan penyesalan. Ingin kutulis kejadian tadi siang, kubuka laptop pembelian orang tuaku beberapa bulan lalu. Jariku 'mematung' tak bergerak, hingga satu katapun tak mewujud di layar. Entah karena apa. Tak tahu mulai dengan pengantar apa, dalam menuliskan penyesalan ini. "Aku ingin menulisnya" pikirku. Kurangsang 'ideku' dengan mendengar lagu. Angin, Dewa 19. Lantunan suara Once mengalir menyampaikan rasaku malam ini. Tetap saja, tak ada kata yang mewujud. Kuminum kopi hitam di mejaku, rasanya sangat pahit. Sepahit hatiku. Gula di kamar tinggal satu sendok. Yah, nikmati saja. Harapku kafein akan 'memaksa' otakku untuk menuliskan sesuatu. Setelah lima menit, akhirnya tanganku bergerak sendiri, mengetik satu kata, Pecundang. Hanya kata itu.

***

"Apa bacaannya sekarang, Dinan?" tanya temanku sembari memegang satu buku tebal.

"Tak ada bacaan nih," jawabku cepat sambil melirik buku di tangan temanku.

"Ada buku baru, mantap sekali Kawan." Temanku menujukkan buku barunya kepadaku. Dengan rasa penasaran kuraih buku itu dari tangannya. Kubaca judulnya sepintas, Semesta Sabda. Sebuah Novel.

"Kamu sudah selesai bacakan? Pinjam yah?" dengan memperlihatkan wajah memelas, berharap temanku mau meminjamkannya.

"Saya memang membawakannya untukmu. Saya sudah tiga kali khatam membaca buku ini."

"Kamu memang sahabat sejatiku Lukman, terima kasih!" Mataku tiba-tiba terang, sebelumnya berwarna merah kecoklat-coklatan akibat kantuk menyerang sedari tadi belum segelas kopipun yang 'membakar' kantukku, ditambah lagi, tak sebatangpun rokok 'berciuman' dengan mulutku. Efek dari tanggal tua dan kiriman orang tua sudah sangat-sangat tipis, setipis kain sutra.

Demi mengusir kantuk dan menuntaskan rasa penasaran akan novel pinjaman temanku, kubuka dan kubaca dengan cepat. Kulahap halaman demi halaman, lembar demi lembar, 'sisi' demi 'sisi', tak terasa waktu berlalu dan aku telah membacanya seperempat bagian.

Novel ini luar biasa. Menceritakan pencarian seorang anak muda dalam mencari Tuhan-Nya. Dengan setting di Pesantren membuatnya tak bisa lepas dari bayang-bayang ulama-ulama dan guru-gurunya. Tapi, ia ingin mengenal-Nya dengan cara berbeda. Caranya sendiri. Bukankah dengan berjalan sendiri kita akan lebih mengenal lika-liku jalannya?

Di mana ada kerikiil.

Di mana ada duri.

Di mana ada air.

Di mana ada pohon rindang.

Di mana ada Cahaya.

 

Rasa kantuk yang berbisik, candu yang memanggil tak henti-hentinya dan lapar yang 'mengaum' mencari mangsanya hilang disadap oleh novel ini, Semesta Sabda. Impian untuk menjadi penulis novel tiba-tiba hadir begitu saja dalam kepala dan hatiku.

Aku akan menulis novel seperti ini, tapi dengan 'gesekan' yang dahsyat. Lebih mengorek relung kalbu manusia yang mati rasa. Aku pasti akan menulis novel suatu saat nanti. Dan, aku yakin novelku akan jadi novel dengan label 'best seller'. Hatiku berceloteh dengan sendirinya tanpa bisa aku tahan. Tanpa bisa aku bendung.

***

Waktu bergulir sangat cepat, usia bertambah atau berkurang bergantung dari sisi mana kita memandangnya. Tak terasa aku telah sampai semester akhir. Impian yang pernah terukir di hatiku tak sedikitpun kuusahakan dalam mencapainya. Rasa sesal mengalir dalam setiap aliran darahku. Jika 'mereka' dapat berbicara mungkin akan berkata seperti ini, "Tak ada gunanya kami mengalir di tubuhmu. Kamu hanya onggokan daging tanpa karya, tanpa jejak yang kau tinggalkan." Aku tersadar.

Tak ada lagi Mata kuliah yang harus diambil, hanya tinggal Tugas Akhir membuatku banyak waktu luang. Dengan ilmu EYD dan sastra seadanya, aku mulai menulis karya pertamaku. Selama kurang lebih dua bulan aku menulis sebuah 'novel' tentang pergerakan mahasiswa, kuberi judul, Berorganisasi Tapi Tak Orgasme.

Setelah kucetak di printer temanku, numpang. aku menjilidnya seadanya. 'Novel' itu kupinjamkan kepada juniorku, tak ingin aku langsung memberinya pada Lukman. Takut, responnya, "oooo..." atau "Ya, cuma gini yah?"

 

Di dimensi manapun pasti berlaku teorema ini:

Pasal (1) Senior tak pernah salah;

Pasal (2) Apabila senior salah kembali ke Pasal (1)

 

Cuma semalam saja dia membacanya, maklum 'novel' pertamaku sangat jauh dari kata tebal. Ia pun berkomentar, "Kak Dinan, berbakat jadi penulis novel." sembari menyerahkan kembali 'novel'ku, tak lupa menyunggingkan senyum termanis yang ia miliki. Sekejap kemudian, ia berlalu meninggalkanku.

 

Aku tak tahu ia jujur atau tidak. Entah ia takut pada seniornya atau ia tak membacanya. Sampai detik ini aku tak tahu.

 

Bermodal kalimat singkat,  Kak Dinan, berbakat jadi penulis novel. Akupun memberanikan diri untuk menitipkan 'karya' pertamaku di Himpunan. Minimal menjadi jejak pembelajaranku dalam menulis. Syukur, jika ada yang memahami pelajaran yang tersimpan dalam 'novelku'. Bagaimana menjadi seorang aktivis yang akan meraih 'orgasme' atau puncak dalam berorganisasi.

***

Sepuluh Tahun Kemudian

 

'Kamu'pun terlahir ketika rasa hausku untuk menulis memuncak. Hampir tiap hari, disela-sela kesibukanku, aku menulis cerpen di Facebook. Aku tak peduli respon sahabat dunia mayaku. Aku tak peduli. Pikiranku hanya ingin menulis. Aku bosan dengan semua 'dinding-dinding' ini. Aku bosan. Setelah beberapa hari, ada teman yang tiap hari menunggu cerpen-cerpenku. Ada sedikit rasa bangga di sana, di sudut hatiku. Cepat aku redam. Kita tak pantas untuk bangga apalagi sombong. Kita tak punya apa-apa.

Akhirnya, seorang teman kantor menyarankan agar aku 'mengetuk' pada 'rumahmu'. Dia berkata, Kamu punya bakat menjadi penulis Dinan. Aku hanya terkekeh. Walau darahku terasa mendesir tak tentu arah. 'Mereka' lupa alur peredarannya, hampir saja aku pingsan detik itu. Untung saja kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku kembali 'menapak' bumi.

Aku ragu. Aku malu. Tak ada karyaku yang pernah di cetak. Sempat mengirim cerpen di beberapa surat kabar, tak ada balasan. Tak ada respon walau jawaban, "Maaf cerpen kamu jelek." Itu saja sudah cukup tapi tak pernah. Tak pernah.

Aku bukan anak sastra. Cerpenku bukan main jeleknya. Metafora yang kugunakan ala kadarnya. Apalagi personifikasi, jangan tanya, aku tak paham. Semalam suntuk aku memikirkan saran temanku, apakah aku berani untuk 'mengetuk' pada 'rumah'mu atau tetap menulis 'celotehku' di Facebook. Malam semakin larut, kuputuskan untuk shalat dua rakaat, berharap petunjuk menghampiri dari Sang Pemberi Petunjuk.

Dengan mengucap, Bismillahirrahmanirrahim, aku 'mengetuk' 'rumah'mu. "Namaku Dinan," sembari menjulurkan tangan, hendak berjabat tangan dengan pemilik rumah. "Salam Kenal, semoga saya tidak mempermalukan penghuni rumah." Ucapku kemudian.

Keesokan harinya akupun mulai memposting tulisan pertamaku, Dua Dunia. Beberapa hari kemudian fanpagemu membagikan tulisanku. Bulir-bulir percaya diri mengalir sedikit demi sedikit dalam tubuhku, ternyata aku punya sedikit bakat untuk menginspirasi sekitar. Tapi yang terpenting bukan itu, ada yang membaca tulisanku dan itu bukan orang yang aku 'kenal'. Itu sudah lebih dari cukup.

Kulanjutkan postingan demi postingan, walau sepi view, like dan komentar aku tak peduli. Aku terus menulis. Dan, menempelkan pada 'dinding-dinding' 'rumah'mu. Semoga saja tidak merusak pemandangan.

Di dalam 'rumah'mu ada penghuni yang sangat nyentrik dengan 'penampilan' dan karya apa adanya, ia mengkritisi ketimpangan sosial di sekitarnya. Menghangatkan kembali jiwa idealismeku. Dialah yang sedikit membuatku betah di 'rumah'mu. Dengan ikhlas ia menyusuri 'kamar-kamar'ku, karya-karyaku yang memalukan. Terkadang ia meninggalkan jejak 'like' di sana. Membuat aku bergumam dalam hati, "Ternyata ada yang membaca karyaku" Nama salah satu penghunimu yang membuatku sedikit betah di awal memasuki 'rumah'mu adalah Pemimpin Bayangan III. Entah kemana ia saat ini.

Minggu demi minggu berlalu, karya terbaik telah kamu 'pajang' di teras 'rumah'mu. Semua sangat luar biasa. Karya yang menginspirasi dan bukan karya sembarangan. Kembali, rasa minder menyelimuti karyaku. Terdiam di 'kamar' beberapa hari tanpa sedikitpun 'nongol' di 'ruang tamu'mu.

Di suatu sore, aku termenung. Menatap langit yang dilahap oleh awan hitam. Tetes impian dua belas tahun lalu tiba-tiba mengalir di relung hatiku. 'Memompa' hatiku untuk bergumam, "Bukankah kamu mempunyai impian untuk menjadi penulis novel. Novel best seller. Seperti, Semesta Sabda yang pernah kamu baca". Lamunanku buyar.

Tak mungkin ada asap, jika tak ada api.

Tak mungkin ada cerpen, jika tak menulis.

Tak mungkin ada novel yang baik, jika tak dimulai dengan cerita bersambung yang baik.

Tak mungkin ada Semesta Sabda yang lain jika aku tak memikirkan dan menulis 'janinnya'.

Dengan landasan berpikir itu, Project, Seminggu Bercakap dengan Jailani mulai kugagas dan kupublish.

 

Hari berlalu, tak mungkin kita dapat membangun dinding yang kokoh tuk bisa sedikit saja menghalangi 'pergerakannya'. Tak terasa telah sampai pada hari Jum'at. Ihsan telah bercakap dengan Jailani. Entah dari mana pelangi itu, tiba-tiba saja menghiasi 'kamarku'. Jum'at kamu 'pajang' di teras 'rumah'mu. Ada rasa bangga, bahagia dan sedikit malu. Malu? Masih banyak yang lebih baik dari tulisanku, aku hanya penulis yang masih belajar.

Komentar berdatangan satu-persatu, isinya tentang tulisanku memberi sedikit inspirasi untuk hati mereka. Itu sangat cukup untukku. Untuk Dinan. Hatiku tiba-tiba berceloteh tanpa sadar...

Terima kasih atas kelahiranmu. Kamu telah menjadi wadah tangis, senyum, tawa dan perenunganku. Semoga tak berhenti hanya sebatas ini. Masih banyak impian yang harus kamu salurkan.

Rumah ini kamu labeli dengan nama inspirasi.co dan kami para penghuni rumahmu kamu beri label inspirator. Salah satu inspiratormu hanya berniat belajar menulis dan menyampaikan isi hati dan kepalanya, berharap dapat sedikit saja menasehati dirinya, jika ada yang terinspirasi dari tulisan atau karyanya, dengan segala hormat bahwa itu datangnya dari Sang Ada bukan dariku. Aku tak punya ilmu, hidayah dan Cahaya. Semua Milik-Nya.

 

Salam kenal inspirator lainnya

Namaku Dinan

Mari Berkarya Mari Menginspirasi

 

___

#inspirasi.co #inspirasico #reviewinspirasi.co

___


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Keren juga tulisan ini jadi pemenang di antara sederet karya: Dengan judul yang 'lain sendiri'.

    Great, Dinan, tetaplah keren dan teruslah membumi, jangan sengak kaya saya nanti banyak yang sebal... ^_

    *Tabik.

    • Lihat 6 Respon

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Tentang "kosanku"

    Sangat benar bahwa Dinan menuliskan frasa ini dengan huruf miring, karena memang kata ini belum dibakukan. Kata bakunya adalah "indekos", tidak ada "kos", apalagi "kost".

    Pilihan "kosanku" memang lebih gampang dna membumi. Mungkin kalau dibikin bahasa bakunya ya: "tempatku indekos", atau "tempat indekosku", jadi malah tampak agak kaku.

    • Lihat 3 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Opening yang bagus, keren dan penuh daya. Sepertinya benar kamu memang berbakat jadi penulis, Dinan. Hanya saja ada dugaan dunia kepenulisan kamu bukanlah yang melow or pop, melainkan lebih mengarah ke realisme sosial yang penuh komtemplasi hati nan menyayat. Selamat menapak jalan sedih penuh luka di kedalaman jiwa. Salam hangat dari Bay... ^_

    • Lihat 6 Respon

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Saya penasaran apakah benar-benar ada penerbit yang bakal ngasih respon "Maaf cerpen kamu jelek." Untuk setiap karya kita yang gak dimuat, xixixi Tetap semangat berkarya, tiap tulisan punya takdirnya masing-masing (kata teman saya )

    • Lihat 14 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Eh ada Mba Eny Wulandari.... Minta bimbingannya donk....