Seminggu Bercakap dengan Jailani [Sabtu]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 April 2016
Seminggu Bercakap dengan Jailani

Seminggu Bercakap dengan Jailani


Cerita Bersambung; seminggu bercakap dengan Jailani, menguliti kulit ideku dan menghanyutkan dogma yang telah kugenggam selama ini. Tanpa ragu, ia membuangnya ke tempat sampah.

Kategori Fiksi Umum

2.2 K Hak Cipta Terlindungi
Seminggu Bercakap dengan Jailani [Sabtu]

Sabtu
Penulis: Dinan

?

Andai saja bumi berhenti bergerak, berhenti berotasi, maka kita semua sang penghuni bumi pasti akan mati. Keseimbangan justru tercipta karena 'gerakan' yang seakan acak bila dilihat dari satu sisi, tapi bila dilihat secara universal maka 'gerakan' mereka teratur sesuai dengan 'garis' yang ditentukan oleh Pencipta.

Benda yang kita katakan 'mati' saja, bergerak sesuai dengan 'garis'-Nya, mengapa kita 'benda hidup' tak bergerak mengikuti 'garis'-Nya, 'rel'-Nya, aturan-Nya? Jika kita 'memberontak' dan melawan arus maka kita akan terhempas dalam kegelapan, tak ada arah atau menjadi mayat hidup.

::Hikmah Pagi::
Muhammad Imam, 18-03-1992

Hikmah Pagi milik ayah kutemukan secara tak segaja di sela-sela halaman buku 'Analisis Real' miliknya. Tertulis pada selembar kertas yang berwarna kecoklatan, buram dimakan waktu. Buku yang tadinya berselimut debu, kubutuhkan sebagai referensi menyusun Tugas Akhir. Jurusan aku dan ayah sama, Matematika. Entah karena mengidolakan beliau atau karena aku suka bermain simbol di wilayah yang imajiner tapi real atau karena matematika adalah study yang mengajarkan kita dalam berpikir sistematis dan logis dalam menjawab sebuah persoalan. Problem Solving. Bukankah itu adalah yang utama?

Setelah menemukan selembar kertas itu aku tersadar, ternyata ayah pribadi yang juga suka menulis pikirannya dalam bentuk catatan, hikmah yang ia rasakan detik itu. Menurutku, ayah beranggapan bahwa kita harus senantiasa bergerak, bergerak dan bergerak agar sesuai dengan 'keseimbangan' semesta yang juga bergerak. Tetapi 'gerakan' kita harus sesuai dengan 'arus' yang telah diberikan oleh Pencipta. Adapun bagi mereka yang ingin melawan arus, silahkan, asal bersedia menjadi orang 'buta'. Tak punya arah hidup. Tersesat dalam kegelapan.

Sambil memegang buku 'Analis Real' dan 'catatan' ayah, kulangkahkan kaki menuju halaman depan rumah. Kuperhatikan sekitar, Mengapa bumi yang kita tinggali seakan tak bergerak jika dipandang secara 'mikro', sesuai pandangan mata kita. Berbeda ketika kita melihat secara 'makro' atau dunia 'cosmos' maka semua akan terlihat bergerak dengan gerakan acak yang teratur dan bermakna filiosofis. Bukankah semesta adalah bukti keberadaan Pencipta? Itupun bagi mereka yang berakal dan mau memikirkan 'dirinya' dan 'negasinya'.

Matahari cemberut pagi ini, wajahnya samar-samar di balik awan mendung. Sekejap kemudian, awan menangis tersedu membawa rahmat Ilahi. Hujan gerimis menyentuh lapangan bola di seberang rumah. Kambing milik Pak Abu berlarian tak tentu arah, mencari tempat berlindung. Sampai sekarang aku tak tahu, mengapa kambing tak suka hujan? Aku tak tahu. Itu sebabnya aku tak suka kambing, terkadang badannya bau dan kita harus sedikit menahan napas ketika berdekatan dengan mereka. Tapi bila telah menjadi daging kurban dan dimasak menjadi gulai kambing oleh ibu, maka bukan napasku yang kutahan tapi nafsu makanku. Takut kepalaku pusing karena terlalu makan kebanyakan.

Di ujung jalan, seorang pria melangkah perlahan seakan tak peduli dengan gerimis pagi ini. Ia melangkah dengan mata lurus ke depan. Memakai baju kaos lengan panjang berwarna abu-abu dengan celana jeans warna hitam. Rambut dan pakaiannya basah karena gerimis hujan, ia tak peduli. Semenit kemudian pria itu melewati depan rumahku, tatapannya tetap mengarah ke depan. Tak peduli dunia selain dirinya. Kupandangani dengan seksama, wajah itu, rambut itu, tinggi badannya, pria itu ternyata Jailani. "Sedang apa lagi Jailani di sana?" hatiku bertanya.

"J A I L A N I...," kupanggil dengan suara yang paling keras yang aku miliki. Takut ia tak mendengarnya.

Jailani memutar wajahnya sembilan puluh derajat ke kiri, ke arahku.

"Saya sedang hujan-hujan," katanya polos, terdiam sejenak. "Bolehkah saya singgah di rumahmu?" tanyanya sambil menyeka wajah yang dibasahi air hujan.
"Mari Jailani, singgahlah kemari. Akan kubuatkan teh hangat untukmu. Kebetulan ayah pergi mengajar dan ibu ke pasar."
Keinginanku terpenuhi, akhirnya aku dapat bercakap lagi dengan Jailani. Setelah kemarin ia telah memberi siraman rohani saat khutbah jum'at.

"Masih banyak yang harus aku tanyakan 'guru'." Pikirku.


***


"Khutbahmu kemarin luar biasa Jailani, menyentuh akal dan hatiku agar senantiasa mencapai kedamaian dengan berihsan. Kamu Hebat," ujarku sambil membawa teh hangat manis dan handuk kecil untuk Jailani.

Jailani duduk di kursi teras rumahku. Dengan tangan kanannya ia mengambil handuk kecil pemberianku, ia menyeka tangan, rambut dan wajahnya. Untuk menghangatkan badan ia menyerup teh hangat yang telah kusajikan. Terdiam beberapa menit sembari merasakan hangatnya teh buatanku.

"Oh, khutbah kemarin. Saat sedang termenung di pinggiran sawah, Imam Masjid memintaku untuk mengisi khutbah jum'at. Kebetulan penceramahnya sedang berhalangan. Imam Masjid pun katanya harus ke kota, ada acara mendadak katanya. Ia memohon dengan ikhlas makanya kupenuhi."

"Jadi ayah yang meminta Jailani untuk menjadi penceramah. Ternyata ayah mengetahui potensi tersembunyi yang dimiliki oleh Jailani." Pikirku.

Setelah Jailani menenangkan diri, kuputuskan untuk memulai mengambil hikmah darinya.

"Saat ini, aku telah berusaha untuk menyakini, mengenal dan 'merasakan'-Nya. Tapi, aku belum layak untuk 'bersatu' dengan Yang Ada," ujarku sebagai pengantar percakapan yang penuh hikmah ini.
"Ihsan, apakah kamu telah percaya bahwa jalan untuk mengenalnya ada banyak cara, tapi harus sesuai dengan ajaran yang telah diturunkan kepada Kekasih-Nya dan Kalam-Nya?"
Aku mengangguk pelan.


"Baiklah, Musa yang merupakan salah satu dari Kekasih-Nya, pernah meminta berlebihan, ia meminta ingin melihat Tuhan dengan mata telanjang, sebagai bukti nyata keberadaan-Nya," matanya menerawang mencari objek yang pas, langit mendung sudah cukup baginya, menghembuskan napas beberapa kali, kemudian dilanjutkan, "Tuhan adalah Maha Rahman dan Rahim. Dia pun mengabulkan permintaan Kekasih-Nya. Dia meminta Musa untuk melihat gunung. Tapi yang terjadi Gunung itu hancur, tak mampu 'menampung' dan 'dekat' dengan Dzat Yang Maha Kuat. Gunung besar itu saja hancur, sedang Musa jatuh pingsang. Padahal Musa dikenal dengan badan dan fisiknya yang kuat."

Sekali lagi Jailani memanggil Rasul Allah dengan nama saja, Musa, bukan Nabi Musa a.s. Apakah ia mengenal para Kekasih Allah? Tiap ia menyebut nama Nabi dan Rasul tanpa disematkan dengan panggilan Nabi ini, Nabi itu. Tidak. Aku pernah mendengar kisah ini, ayah yang menceritakannya ketika usiaku dua belas tahun.
"Terus, apa hubungannya dengan 'bersatu' bersama Yang Ada?" tanyaku tajam, sembari menatap wajah Jailani, masih bercahaya dan menyimbolkan kesucian hatinya. Matanya tetap saja berbinar, sangat terang, seterang hatinya yang telah mengenal Yang Ada.


"Musa yang memiliki keimanan full saja tak mampu melihatnya dengan mata telanjang. Apalagi kita yang ingin 'bersatu' dengan Dzat Yang Maha Kuasa. Kita makhluk rendah, bukan siapa-siapa, tak punya apa-apa kecuali qalbu atau cahaya titipan Allah," Jailani menunjuk dadanya, kemudian membelainya dengan lembut. Setengah menit kemudian, mukanya mendongak ke arahku, tepat di mataku. Mata kami saling menemukan, saling mencari telaga hikmah, berharap Cahaya Ilahi sedikit saja menerangi jasad busuk ini. "Ihsan, 'melihat', 'merasakan' atau 'bersatu' dengan-Nya harus menggunakan 'serpihan'-Nya. Menyamakan 'frekuensi'. Tidak mungkin air bersatu dengan minyak."

Aku termenung, memikirkan kalimat hikmah dari Jailani. Qalbu yang merupakan membran terdalam hati kita berisi rahasia-Nya. Di situlah, kita akan sedikit saja 'mengenal' dan 'merasakan' bahkan 'bersatu' dengan Yang Ada. Bukan dalam makna harfiah, tapi makna qalbu. Dan hanya qalbu yang dapat mengatakannya dengan bahasanya. Tidak dengan bahasa jasad seperti ini.

?

"Okey, secara akal aku telah paham sedikit. Apa landasan dalilnya? Bukankah kita harus mengenalnya dengan berlandaskan Kalam-Nya?"
"Iyah... Tapi, apakah kamu telah percaya bahwa Muhammad itu Rasul? Pernahkah kamu berpikir mengapa Dia tidak menyampaikan Kalam kepada semua manusia? Hanya kepada orang terpilih saja. Jangan-jangan Al Qur'an hanya karangan Muhammad. Itu dulu yang kamu harus betul-betul yakini, dan menerima dengan seksama." Jailani mengajukan pertanyaan-pertanyaan dahsyat. Sudah lama aku mempertanyakan hal-hal itu. Darahku mendesir, memompa sedikit saja energi pada otakku, berharap otakku sedikit encer tapi tak ada jawaban logis di sana. Aku membisu cukup lama.

Jailani mengerti kebodohanku, ia pun berujar. "Ihsan, tak mungkin Tuhan memberi Kalam-Nya pada semua manusia. Mengapa? Karena kita semua berbeda. Tak semua memiliki akal yang cerdas dan hati yang jernih. Itulah mengapa Dia memilih 'wakil-Nya' yang 'sebangsa' dengan kita, manusia. Pernahkah kamu berpikir, bagaimana jika Dia memilih kambing sebagai 'Rasul'?" Jailani mengarahkan pandangannya ke sisi lapangan, tampak dua ekor kambing di bawah pohon mangga, berlindung dari hujan yang semakin deras.

Aku hanya terkekeh, sembari membayangkan kambing jadi 'Rasul' atau 'Wakil' dari Allah di muka bumi. Jailani pun melanjutkan, "Kita dapat mengenal Tuhan dengan melihat dan memikirkan diri kita serta semesta ciptaan-Nya. Tapi kita tak akan tahu siapa Dia, bagaimana cara mengenal dan menyembah-Nya tanpa ajaran yang disampaikan oleh Nabi dan Rasul terpilih. Kamu paham sekarang?" tanya Jailani sambil mendongak ke arahku.
Aku mengangguk cepat. Secepat kedipan mataku.

"Tentang Al-Qur'an yang sebagian orang mengatakan itu adalah karangan Muhammad, itu sungguh salah besar. Mengapa? Menurut sejarah sampai detik ini, belum ada yang mampu membuat satu ayatpun yang 'setara' dengan hikmah Al-Quran, tidak ada satupun. Dan, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan hampir semua kandungannya ilmiah dan dapat dibuktikan, kecuali yang berhubungan dengan sesuatu yang non-materi, itu membutuhkan keimanan nanti terbukti jika saatnya tiba. Pasti ada 'sesuatu' yang lain kecuali Muhammad yang membuatnya. Dan, itu adalah Allah. Tuhan Semesta Alam." Celoteh Jailani panjang lebar.
"Oke, itu artinya aku dapat menjadikan Al-Qur'an sebagai dasar gerakanku karena itu merupakan Kalam Allah." Ujarku mantap, diikuti senyum tipis Jailani. Mungkin ia berpikir telah berhasil menyampaiakan ilmu tanpa harus menerima saja ucapan para Ulama dan Agama yang aku anut, Islam.

?

Raja Siang mulai tersenyum, diikuti cahayanya yang semakin berpendar ke bumi. Dengan terpaksa awan mendung 'lengser' di atas sana membuat hujan semakin menipis, tak berapa lama hujan pun berhenti digantikan kecerahan cahaya. Bukan hanya bumi yang bercahaya, hatiku juga terasa semakin bercahaya di sirami ilmu hikmah oleh Jailani.

"Setelah kamu percaya bahwa Muhammad adalah Rasulullah dan Al-Qur'an adalah sumber aturan dalam 'bergerak' maka bacalah kapan dan dimanapun, senggang atau lapang, muda atau tua, siang atau malam," Jailani menarik napas dalam, sangat dalam kemudian dihembuskan perlahan. "Sekarang, kamu boleh bertanya kepadaku apa dalilinya?"
"Jadi, apa donk dalilnya tentang penjelasanmu selama ini?" tanyaku penasaran.
"Kamu punya Al-Qur'an dan terjemahannya?"
"mmm... ada." Kuambil smartphone dari saku celanaku dan membuka aplikasi 'Al-Qur'an dan Terjemahan'. "Oke, Surah apa ayat berapa?" tanyaku antusias.
"Salah satunya ada di Surah An-Nur ayat 35," ujar Jailani lembut. Kubuka surah yang disebutkan dan membacanya...

?

An-Nur ayat 35
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia Kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah mengetahui segala sesuatu.

?

"Ihsan. Surah ini 'berbahaya'. Jangan ditafsirkan oleh orang sembarang. Bagi yang tak memiliki ilmu yang dalam jangan coba-coba. Untukmu, aku hanya ingin menyampaikan, bahwa di surah ini menjelaskan Allah pemberi Cahaya di Langit dan di Bumi, Cahaya 'berlapis' atau 'bertingkat' dan Dia memilih memberikan Cahaya atau Hidayah kepada orang yang Dia Kehendaki."
Jailani terdiam sejenak sambil menghabiskan teh manis yang tak lagi hangat.
"Ihsan, silahkan kamu pikirkan apa makna di balik Kalam ini. Aku harus pulang ada yang harus aku kerjakan." Jailani bersiap berdiri dan melangkah pergi.

?

"Apa? Jailani ingin menyudahi percakapan ini? Sedang seru-serunya, eh mau pergi lagi. mmm..." Hatiku bergumam, aku sedikit jengkel. Tapi bagaimanapun Jailani adalah 'guru'ku, ia yang berhak untuk menyudahi percakapan ini.

"Jailani, ini kan belum selesai, kapan semua ini akan terang-benderang? Oh, iya, hampir lupa, pertanyaan pamungkasku, Siapa kamu sebernanya?" Mataku menantang matanya, mencari jawaban dari pertanyaan besarku selama ini. Jailani hanya berlalu melewatiku, tetapi semenit kemudian ia membalikkan badan, kemudian berucap lirih, "Itu semua akan terang-benderang ketika kita mati Ihsan, tanyamu, tanyaku dan tanya semua manusia akan jelas ketika mati. Besok aku akan menjawab pertanyaanmu, 'siapa aku sebenarnya?' Insya Allah, jika kamu tak keberatan berkunjunglah besok jam lima sore ke rumah, Ihsan tahu rumah saya?" Aku mengganguk. Setelah melihat anggukanku Jailani melangkahkan kaki lurus ke depan, menghilang dari pandanganku.

"Insya Allah Jailani, besok kita akan bertemu. Terima kasih untuk semua hikmah yang kamu berikan 'guru'." Hatiku setengah bergumam.

?

Sampai ketemu lagi hari Minggu_Edisi Terakhir


___

Gambar diambil di sini

___

?

*Cerita Sebelumnya:

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum'at


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Ikhlas tanpa kata ikhlas, islam tanpa kata islam... ^_

  • kornia siti meisyaroh
    kornia siti meisyaroh
    1 tahun yang lalu.
    mas... nanti Jailani ikut Kopdar gak? heheheh...

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Mas, mas... Jailani alamatnya di mana ya....

    • Lihat 1 Respon

  • Annisa Ambarwati
    Annisa Ambarwati
    1 tahun yang lalu.
    suka banget sama materinya , sudah khatam bacanya dari senin s/d sabtu..
    mengingatkan saya dg seseorang yang sosok nya mirip spt Jainali , tapi blm sempet 'nyolong' banyak ilmunya.. untungnya sdh pernah dapat materi yg sama spt ini (sedikit) dan skrng sdh di tambah/dilengkapi sama Jailani

    di tunggu tetesan kebaikan selanjutnya

    • Lihat 3 Respon

  • Tee 
    Tee 
    1 tahun yang lalu.
    Saya baru baca pak. saya benar-benar tidak bisa komentar 'pedas' di tulisan ini.
    tulisannya benar-benar mengetuk hati untuk menyakini, mengenal dan 'merasakan'-Nya.
    Ketuk lebih keras lagi pak biar benar-benar terbuka hati ini.

    • Lihat 5 Respon