Pohon Harapan

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 April 2016
Pohon Harapan

Pohon Harapan

Penulis: Dinan

?

Sedari tadi, Kaira hanya mondar-mandir di kamar. Tak tahu mau buat apa. Nonton televisi bosan, isinya hanya 'sampah'. Buka media sosial, paling-paling hanya postingan makanan cuma bikin ngiler atau foto liburan teman-temannya atau keluh-kesah mereka yang tak mengerti bersyukur. Belajar, lagi malas. Berbincang dengan ibu juga tak bisa. Ibu sedang ke rumah tetangga. Kakinya terasa pegal. Ia daratkan pantatnya di kasur, perhatiannya tertuju pada foto yang berada di atas meja belajarnya. Ia tersenyum tipis. Foto bersama ayahnya ketika masih bayi. Di foto itu, ayah menggendongnya, terlihat kaku tapi senyum menghiasi wajahnya. Sebulan lamanya ia tak pernah berbincang dengan ayah. Ia rindu; rindu akan cerita-cerita inspiratif yang selalu membakar semangatnya, rindu akan logika ayah yang senantiasa menjawab pertanyaannya dengan sistematis dan mudah dimengerti, rindu akan matanya yang berbinar bak mentari pagi.

Kaira ingin sedikit saja rindu ini dibawa pergi oleh hembusan angin malam. Ia pun membuka jendela. Angin membelai tubuhnya, masuk ke relung hati terdalam, menembus tubuhnya dan berlalu pergi. Tapi angin malam tak membawa serta rasa rindu ini. Di langit, dewi malam telah memperlihatkan pesonanya. Titik-titik bintang kecil membentuk busur dan anak panah, mengarah ke ufuk barat. Semenit kemudian, awan hitam datang menggangu, entah ingin menyelimuti dewi malam atau ingin menelannya. Tak berapa lama, dewi malam tak nampak lagi, ditelan oleh 'ego' awan hitam. Bintang pun bergerak menjauh dari kawanannya, yang terlihat saat ini hanya kegelapan dengan titik-titik acak bintang kecil.

Gemuruh terdengar bak letusan bom, menggelegar sampai ke tanah. Kilat menyambar pohon beringin di depan rumah Kaira. Untung saja tak mengenai dahan pohon. Sekejap kemudian, langit tak lagi dihiasi bintang kecil, hanya awan hitam yang egois di atas sana. Butir-butir hujan pun turun membasahi bumi. Tak cuma bumi, hujan juga seakan membasahi hati Kaira. Hati yang dibanjiri oleh rasa rindu kepada ayahnya. Ia pun menutup jendela. Dewi malam, bintang kecil, awan hitam, angin dan hujan tak mampu menipiskan sedikit saja ketebalan rindu ini.

Hujan malam ini sangat deras. Kaira melangkahkan kaki menuju dapur untuk membuat secangkir coklat panas. Tak berapa lama, tenggorokannya telah dihangatkan oleh manisnya coklat panas buatannya. Tubuhnya sedikit lebih hangat dari sebelumnya. Saat ingin kembali ke kamar, fokusnya 'disedot' oleh sebuah benda di dekat musholla kecil rumahnya, benda yang tak asing baginya. Pohon Harapan buatan ayahnya. Pikirannya terbang ke sepuluh tahun yang lalu, ketika usianya menginjak sepuluh tahun, bercakap dengan ayah di ruang keluarga.

?

"Kaira, harapan bagai 'nyawa' untukmu. Jika kamu tak memiliki harapan maka kamu jangan mendekat kepadaku. Aku takut," ayah memeluk dirinya sendiri, memperlihatkan muka ketakutan, matanya melotot dan tubuhnya dibuat seolah-olah menggigil, lanjutnya. "Karena kamu adalah Zombie. Manusia yang tak punya harapan bagai Zombie yang berjalan tak tentu arah. Kaira mau jadi Zombie?" mata ayah diadunya dengan mata Kaira sembari memegang kedua pundak Kaira.

"Tidak. Aku tak mau jadi Zombie." Kaira menggeleng beberapa kali.

"Kalo begitu, Kaira harus punya harapan. Oke?"

"Okey..." Kaira menjawab mantap, sembari memperlihatkan jempol tangannya. Mirip iklan salah satu stasiun tv.

Ayahnya kemudian berdiri, menuju pekarangan belakang. Sekembalinya, ia membawa sebuah pohon kecil yang ditanam pada pot kecil, mirip bongsai tapi lebih tinggi. Sepintas terlihat, itu hanya ranting-ranting tua yang ditempel dan diikat oleh ayah agar seperti pohon kering. Atau mungkin saja, itu hanya pohon cabe yang telah mati hingga daunnya tak nampak satupun.

"Itu apa ayah?"

"Ini adalah Pohon Harapan." ujar ayahnya dengan mata berbinar.

"Pohon Harapan?" kening Kaira berkerut.

"Mulai hari ini, bila Kaira memiliki harapan tulislah di selembar kertas, kemudian gantung atau ikatkan di dahan Pohon Harapan ini. Kamu tidak akan lupa harapanmu," menghela napas sejenak, "Kapan saja Kaira dapat membacanya. Setelah dibaca pasti semangatmu akan 'menebal' untuk mencapainya."

Kaira terdiam. "Setiap manusia wajib memiliki harapan. Memiliki mimpi. Memiliki impian. Memiliki cita-cita." hatinya berucap.

"Baik ayah... akan saya coba."

Merekapun saling menyentuhkan kepalan tangan kanan masing-masing. Itu adalah 'simbol' mereka telah membuat suatu kesepakatan, ikrar atau sekedar saling menguatkan.

?

Sejak kejadian sepuluh tahun lalu, Kaira menepati janjinya. Setiap harapan yang terucap di hatinya. Ia selalu menulisnya di selembar kertas, kemudian di gantungkan di dahan Pohon Harapan.

Kaira mendekati Pohon Harapan itu. Dahannya telah penuh berisi harapan-harapannya. Dihitungnya dengan seksama kertas yang tergantung, ada 69 kertas, 69 harapan. Ia mulai membuka satu-persatu harapannya. Agar memudahkan rentetannya, ketika menulis harapan ia selalu mengurutkannya. Harapan 1, Harapan 2, dan seterusnya.

?

Harapan 1

Bermain bersama Ayah

?

Setelah membaca Harapan 1, mata Kaira mulai berkaca-kaca. Ia meneruskan membaca...

?

Harapan 2

Juara Kelas, agar Ayah mengajakku ke Bantimurung. Bermain bersama kupu-kupu, mandi di bawah air terjun dan foto di bawah patung monyet.

?

Tangan dalamnya mulai menghapus setitik air mata.

?

Harapan 3

Sholat subuh berjamaah, tapi Imamnya Ayah.

?

Air mata tak dapat lagi dibendungnya.

?

Harapan 4

Belajar Matematika bersama Ayah

?

Tetesan air matanya semakin mengalir deras

?

Harapan 5

Menjadi seorang Hafizah agar ayah dan ibu memakai 'jubah kehormatan' di akhirat kelak.

Kaira hanya mampu membaca sampai 'Harapan 5'. Rasa haru tak dapat ia tahan. Ia hidup berjauhan dengan ayah. Kaira sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Tapi, hidup berkata sebaliknya. Ayahnya harus merantau di negeri antah-berantah untuk mencari nafkah; agar ia bisa sekolah di sekolah terbaik, memakai pakaian yang layak dan semua kebutuhannya terpenuhi.

Sampai detik ini, Kaira belum menjadi seorang hafizah. Ia baru menghapal lima juz. Entah karena hatinya yang kotor atau dunia ini memang tak berpihak pada 'pencari cahaya'. Harapan 5 belum terwujud, ia malu ketika matanya beradu dengan mata tajam ayah.

"Ayah saya janji, nanti di akhirat kelak. Ayah dan Ibu akan memakai 'jubah kehormatan'. Saya akan memberi syafa'at kepada Ayah dan Ibu. Kita akan bersama di surga kelak, Aamiin." Kaira menorehkan doa di qalbunya.

Tubuhnya tak lagi terasa dingin. Pohon Harapan telah membakar semangatnya. Kaira melangkah menuju kamar mandi, mengambil air wudhu, berniat memulai kembali hafalannya yang tertinggal. Sebelum masuk ke musholla ia mengambil Note dan pulpen yang tersedia di sana. Menyobek selembar kertas pada Note, kemudian menulis...

?

Harapan 70

"Kaira akan menjadi Hafizah Ayah, tunggu saja."

?

Kaira lalu menggantung harapannya di Pohon Harapan, pohon pemberian ayahnya. Sosok yang sangat dirindukan.

?

?

?

___

Gambar

___