Buku Peninggalan Ibu

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 April 2016
Buku Peninggalan Ibu

Buku Peninggalan Ibu
Penulis: Dinan

Ibu. Kata yang tak mungkin dilupakan oleh semua orang. Hanya kata ini yang dapat menyaingi dua kata lainnya, Tuhan dan Cinta. Mengapa kata ini bermakna sangat dalam bahkan sampai ke sumsum tulang belakang kita? Karena kata ini menyimbolkan sosok yang memberi tanpa diminta, mengasihi tanpa minta balasan, mengorbangkan dirinya tanpa minta tanda jasa. Kata ini terkadang menjadi kata pertama kita di dunia ini. Wajah pertama yang kita tatap. Epidermis hangat yang senantiasa menyelimuti.


Bagi Abrar, ibu adalah segalanya; orang tua, guru, sahabat, 'matahari' bahkan 'semesta'nya secara bersamaan. Tapi tahun lalu, ibunya telah kembali kepada 'pemiliknya'. Abrar tak sempat membalas jasa-jasanya, hanya doa yang mampu di sedekahkan untuknya.


Malam semakin pekat, sepekat kopi hitam di meja belajar Abrar yang tinggal seperempat gelas. Kekuatan tubuhnya tinggal setengah, berbanding terbalik dengan matanya yang tak juga berkurang kekuatan pancarannya, masih terbuka lebar seakan tak ingin ditutup malam ini. Ada yang berkata, membaca dapat menjadi pengantar tidur yang paling baik, terutama bagi makhluk bodoh sepertinya. Tak ada sel 'literer' sama sekali dalam tubuhnya. Ia tak suka membaca, menulis pun sangat jarang apalagi berdiskusi. Menurutnya, diskusi hanya mengeraskan hati dan bagi mereka yang terlalu sering berdiskusi maka 'siraman air kesombongan' akan memenuhi tubuhnya. Ia tak mau jadi sombong. Sombong hanya selendang-Nya. Kita para makhluk tak mampu untuk memakai 'selendang' Tuhan, tak pantas. Makhluk tak memiliki apa-apa, semua milik-Nya.


Abrar pun melangkah keluar kamar menuju perpustakaan kecil di ruang tamu. Sembilan puluh persen buku adalah milik ayahnya. Selebihnya milik ibu, sedang bukunya tak satupun dijejer di sana, hanya merusak 'pemandangan'. Ia tak menyukai buku-buku ayahnya, terlalu 'berat' untuk otaknya yang kecil. Ia tak mengerti. Buku ayahnya juga berat dalam arti harfiah, terlalu tebal, hanya bagus dijadikan bantal tidur atau dijual kiloan, lumayan untuk membeli rokok. Akhirnya, ia hanya mencari di sisi yang berjejer buku ibunya. Tampak buku resep, majalah bertemakan agama langganannya dan beberapa novel. Tak berapa lama, ia melihat buku berwarna putih, tak ada judul di 'punggung' buku. Ia mengambilnya. Buku ini tampak seperti buku agenda atau tepatnya buku harian ibunya. Halaman demi Halaman adalah Serpihan Kisahku. Kalimat itu tertulis di halaman depan buku itu dan di sudut bawah tertulis nama ibunya, Aminah Kasim, dengan tulisan indah yang miring tiga puluh derajat, khas tulisan orang-orang tua dulu. Sangat apik dipandang mata.


Dibukanya lembar demi lembar satu persatu. Pada halaman pertama, ibunya bercerita tentang dirinya; arti namanya, sekolahnya dan orang tuanya. Halaman ini masih standar seperti buku harian biasa. Setelah ditelisik lebih jauh, tepatnya pada halaman ke sepuluh ibu menulis cerpen. Abrar terangsang tuk membaca walau jiwanya memberontak, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.

?

***


Amoeba
By: Aminah Kasim

?

Tahun ini perubahan terus saja berdatangan bak tamu kondangan di pernikahan anak Pak Lurah malam kemarin. Tubuhku tak mampu menerima semua perubahan ini. Aku bagai arca, mematung dan diam saja menatap perubahan berseliweran. Akankah aku digerus oleh perubahan-perubahan ini?


"Tidak," gumamku dalam hati, lanjutnya. "Aku tak mau digerus apalagi terkubur dalam diamku. Aku harus bergerak." sembari memegang dada. Aku memantapkan diri tuk menyambut ribuan perubahan ini.


Dua hari yang lalu aku mendongeng pada anakku, Abrar. Aku menceritakan tentang kisah dinosaurus dan amoeba. Mungkin, Abrar belum mengerti di usianya yang masih enam tahun. Sebenarnya, aku tak bercerita untuknya tapi aku bercerita untuk diriku sendiri.


Dongeng itu berkisah tentang kepunahan dinosaurus pada zaman purbakala. Mereka tak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Padahal, ukuran tubuh mereka seperti monster. Melewati tinggi pohon kelapa di kebun Pak Salim. Sangat tinggi. Konon, tingginya mencapai tiga belas meter, panjang dua puluh lima meter dan berat mencapai lima ton. Bayangkan jika dinosaurus masih hidup hingga hari ini, tak akan ada gedung tinggi, dilahap oleh monster, dikiranya daging mentah. Saat aku menggambarkan dinosaurus pada Abrar malam itu, ia menutup wajahnya dengan selimut bergambar Superman. Lalu bertanya, "Serius ma, ada binatang sebesar itu?" Kubiarkan ia berimajinasi. Imajinasi mengalahkan pengetahuan. Kemudian kujawab, "Ya. Jejak sejarah membenarkan kisah itu nak," kuturunkan selimut dari wajahnya, "tapi tak usah takut, mereka telah punah dilahap perubahan." Abrar mengerutkan dahinya, "Memang perubahan juga bisa makan ya ma?" tanyanya polos. Aku hanya terkekeh lalu menggeleng lembut. Dahi Abrar semakin berkerut, wajahnya menyiratkan beribu tanya, hanya saja tak mau dibahas. Tak mau cerita tentang dinosaurus ini terhenti karena tanya yang tak berujung, yang mungkin saja tak mampu kujawab.


Selepas berkisah tentang dinosaurus aku berkisah tentang amoeba. Yah amoeba, lebih tenar disebut amuba. Amoeba berasal dari bahasa Yunani amoibe, yang berati perubahan atau berubah. Makhluk kecil ini senantiasa merubah bentuknya. Tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Dahi Abrar semakin berkerut. Tak mengerti apa yang kuceritakan, sampai aku berkata bentuknya seperti jelly. Akhirnya matanya mulai bersinar. Membayangkan jelly dalam dunianya, makanan kecil yang sering ia makan di sore hari.


"Abrar, yang mana lebih hebat, dinosaurus atau amoeba?" tanyaku malam itu.
"Yah.. tentu saja dinosaurus. Merekakan mirip monster, sebesar lawan Ultraman. Bila amo..amo..." Abrar tak mampu meneruskan kata, "amoeba, amoeba," kubantu pelafalannya. "Iyah..amoeba itu sehebat Ultraman pasti dia yang lebih jago. Tapi...tapi..tapi... dia makhluk kecil, lebih kecil daripada semut merah yang sering menggigitku ketika main bola di lapangan depan rumah Pak Lurah. Mana bisa dia mengalahkan dinosaurus." celoteh Abrar dengan logika hitam-putihnya, besar-kecilnya. Aku hanya nyengir.
"Abrar, tahu tidak, amoeba masih ada saat ini. Masih hidup di air, tanah, dan makhluk lainnya. Sedang, dinosaurus telah terkubur jauh di dasar tanah, atau yang beruntung jadi 'model' dan dipajang di museum." sembari membelai pipi Abrar.
Abrar hanya terdiam, matanya mendongak ke atas. Mencari jawaban di alur logika sederhananya. Bertanya di sana, "Sebenarnya?siapa yang lebih hebat dinosaurus atau amoeba?" Ia alihkan pandangannya ke arahku, matanya meminta penjelasan.
"Dari sisi ukuran tubuh dan kekuatan fisik, dinosaurus lebih hebat. Tapi dari sisi kehebatan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan maka amoeba juaranya. Karena sampai saat ini ia masih ada di kolam ikan milikmu di belakang rumah."
Abrar memegang dagu dengan punggung tangannya, mengelusnya perlahan. Entah ia mengerti, entah bingung, entah hanya berpikir apakah ia sudah memberi makan ikan mas kesayangannya tadi sore. Entahlah.
"Abrar harus bisa meniru amoeba yang senantiasa berubah, beradaptasi dan bertahan dalam menghadapi setiap perubahan."


Malam itu, Abrar cepat terlelap. Mungkin ia suka dongengku atau energinya terkuras karena memikirkan, mengapa yang kecil lebih hebat dari yang besar?


Tadi pagi, hampir semua stasiun televisi memberitakan tentang lengsernya suatu orde. Orde yang telah lama berkuasa. Orde yang telah membentuk gurita kekuasaan di hampir tiap serpihan negeri ini. Orde yang telah membawa kita pada sebuah arah yang paten, swasembada pangan. Orde itu berganti ke Orde Reformasi. Orde perubahan secara drastis demi mencapai perbaikan di setiap bidang. Semoga aku dapat mereformasi diriku agar senantiasa bertahan hidup, seperti amoeba.

Makassar, 13 Mei 1998

?

***


Abrar mengenang ibunya ketika bercerita tentang Amoeba, saat itu ia tak begitu mengerti. Tapi, hari ini ia telah mengerti hikmah di balik dongeng ibunya.
"Ibu... Saya akan meniru amoeba, senantiasa berubah, beradaptasi dan bertahan dalam mengahadapi semua perubahan. Saya akan bertahan Bu dan akan semakin membaik, walau tanpamu terasa berat, tapi saya akan berusaha." Hatinya mengucap janji.

Tak lama berselang, matanya terpenjam, tubuhnya direbahkan di kasur sembari memeluk buku putih itu, buku catatan ibunya. Abrar 'tidur bersama ibunya' malam ini, bukan bersama fisik ibunya tapi bersama kenangannya.

___

Gambar
___


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Sepertinya inspirasi.co sangat butuh Polisi Bahasa, mengkritik EYD tulisan inspirator, terutama penulis baru seperti saya. Ilmu EYDku masih kurang, hehe...

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Sangat inspiratif.. terutama buat kaum ibu, menulis diary sebagai warisan anak nantinya.. asal isinya bukan curahan hati masa lalu.. tapi proses mendidik anak.. agar si anak tau proses kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.. sebagai perenungan anak jika nanti ibu sdh tiada..

    • Lihat 3 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    saya gak berkomentar tentang EyD, dll, ya Pak. hehe

    jadi kangen sama pelajaran Biologi :/

    coba kalo guru Bio juga ngejelasin dengan nambahin sisi 'begini',
    pasti sang guru makin keren, gak cuma ngajar Bio, tapi juga moral

    • Lihat 7 Respon