Kapan Terakhir Kali Aku Jatuh Cinta Padamu?

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
Kapan Terakhir Kali Aku Jatuh Cinta Padamu?

Kapan Terakhir Kali Aku Jatuh Cinta Padamu?
Penulis: Dinan

Matamu menerawang tak terkejar, menatap lampu jalan. Malam itu kamu berkata, "Aku suka lampu jalan," sembari menatap lampu-lampu jalan dalam senyap, lanjutnya. "Tolong, jika aku sedang galau, bawa aku ke jalanan di malam hari, agar aku dapat menatap lampu jalan, itu sudah cukup bagiku." Permintaanmu sangat sederhana. Kamu tak meminta banyak; rumah yang berisi perabot yang lengkap dan bagus, baju dan aksesoris kekinian, rekreasi ke luar negeri, bukan. Kamu sangat sederhana, hatiku terpaut oleh kesederhanaanmu.
Di malam yang membuat kita haru, kamu hanya menatap lampu jalan. Kita hanya membisu, bertanya dalam hati,

Kapan kita akan bertemu lagi?
Kapan kita akan membangun pondasi rumah tangga?
Kapan kita akan saling menyelimuti?
Kapan kita akan tertawa dalam kesederhanaan?

Kita membiarkan tanya itu memberondong bak peluru yang ditembakkan dari senapan otomatis, tak ada usaha tuk membendung dan menjawabnya. Biarkan takdir yang menjawab. Surat sakti di tanganku ini membuat kita terharu. Surat yang kunanti. Surat yang sedikit saja dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kita.


Sayang, surat ini juga menikam kita dari belakang.


Kendaraan lalu lalang di jalanan malam ini, kita duduk di pinggir jalan dengan tangis yang tak dapat kita tahan. Langit malam tak mampu lagi menghijab takdir Ilahi. Angin dingin menambah dinginnya rasa ini, rasa ketidakpastiaan. Kita tak saling memandang, mata kita mencari objeknya masing-masing agar tangis sedikit saja menipis.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanyamu.
"Aku tak tahu...,"
"Apakah ini adalah pertanda bahwa kita tak berjodoh?"
"Tidak. Jodoh itu di tangan kita. Usaha dan doa' akan membantu kita untuk mencipta jodoh. Tuhan menyukai orang yang mengejar takdir terbaiknya." Ujarku memantapkan hati.


Kamu tak bertanya lagi, hanya membisu. Malam ini kita melewatinya dengan tanda tanya yang menggerogoti cinta kita. Surat sakti itu meruntuhkan bangunan pondasi masa depan kita. Mungkin, Tuhan menyusun rencana yang lebih baik untuk kita. Bukankah Dia Maha Pengasih?


***


Suatu ketika kamu mendekatiku di depan ruang kuliah. Kamu bertanya tugas Kalkulus Dasar II yang membuatmu menggaruk kepala tanpa henti semalaman.


"Soal ini bagaimana yah? aku tak tahu," sembari menyodorkan selembar kertas berisi satu soal integral.
Kutatap sepintas, "Itu adalah makananku," pikirku.
"Oohh... soal ini, begini caranya," aku menjawab soal itu di kertas yang kamu berikan sambil menjelaskan dengan terbata-bata, entah karena grogi atau sangat senang karena tubuhmu hanya berjarak beberapa senti dariku. Aku tak tahu.


Pagi itu, dengan sembunyi-sembunyi sudut mataku melirikmu. Penampilanmu seperti biasanya sangat sederhana. Kemeja warna putih, jeans berwarna biru dan rambut panjangmu dibiarkan terurai lembut, tak ada make up di mukamu, menampilkan lukisan Tuhan yang indah, sangat indah, matamu jernih, bibir merah yang tebal dan bentuk muka bulat, aku suka. Detik ini aku jatuh cinta lagi, tidak kepada setiap wanita tapi hanya kepadamu. Hati ini telah memilihmu. Hanya kamu.


Setelah kujawab soal itu dengan waktu hanya tiga menit, kamu terpana.
"Kamu pintar," pujimu sembari menatap wajahku.
"Makasi." Cuma kata itu yang terucap, tak tahu berkata apalagi. Kamu memuji sambil menatap wajahku, membuat bibirku bergetar hingga tak mampu mengucap banyak kata.


"Sebenarnya, aku mampu menjawab soal itu selama semenit, dua menit aku habiskan untuk melirikmu." Gumamku dalam hati.


Kakimu melangkah cepat bak melayang memasuki ruang kuliah, senang karena tugas dari dosen dapat kamu selesaikan sebelum jam kuliah dimulai. Aku masih duduk di tempat yang sama. Entah kamu masih memikirkan aku atau tidak, yang jelas, aku masih menyimpan kenangan desahan napasmu beberapa menit lalu. Apakah ini sudah cukup?


***


Tak ada perayaan hari jadi kita karena kita tak tahu kapan kita jadian. Semuanya mengalir dan menggoreskan jejak sejarah kebersamaan kita begitu saja, tanpa disengaja dan dipaksakan. Di sinilah kita, kata orang-orang kita pacaran. Aku cuma menganggapnya, kita telah semakin dekat. Itu membuatku jadi pria yang paling beruntung di dunia ini. Sangat beruntung. Tepukanku berbalas.


Tak pernah sedikitpun kamu berlari dariku ketika aku sedang bermasalah. Waktu itu, aku sedang demam di kosan, ditambah lagi aku kelaparan. Semalaman aku belum makan. Kamu datang membawa makanan hangat, coto makassar. Kamu terburu-buru dari rumah, khawatir kepadaku. Kamu tak sempat mandi dan merias diri, memakai celana pendek jeans dan kaos oblong warna biru senada dengan warna celanamu.


Coto makassar itu memang menghilangkan lapar dan demamku. Sebenarnya, jauh di dalam hatiku, kehadiranmu yang telah mengusir demamku. Dengan sedikit malu, kamu menyuapiku perlahan. Coto makassar itu adalah makanan paling enak yang pernah kurasakan sampai detik ini. Bukan karena makanannya, tapi karena kamu menyuapiku dengan ikhlas dan tak mengharap apa-apa. Kamu hanya berharap aku membaik.


Mata kita saling menemukan, ada telaga harap di sana. Harapan agar moment ini dapat terulang tiap hari. Kamu membaringkanku di kasur tipis, kemudian bercerita tentang impianmu untuk menjadi manajer di perusahaan swasta. Kupenjamkan mata, "Aku jatuh cinta lagi padamu." Hatiku berdesis.
Kamu adalah wanita yang kupilih untuk mengarungi hidup sampai mati. Tiap perjumpaan denganmu adalah lembaran baru yang penuh warna. Apakah Tuhan mendengar doa'ku?


***


Matahari beranjak di pembaringannya. Angin pantai mendesak air laut tuk menepi di pinggir pantai. Tanganku mengenggam tanganmu. Hangat mengalir di tubuh dan hatiku. Hati yang selama ini gersang dan kosong akan rasa. Untung saja Tuhan menciptamu. Kamu mengisi relung hatiku dengan warna-warni kenangan. Tak hanya kenangan manis, tak jarang kenangan pahitpun kamu goreskan di hidupku. Bukankah manis akan lebih terasa jika kita telah merasakan pahit?


Kumandang adzan maghrib menggema di seluruh pantai. Kita beranjak menuju masjid. Sesampainya di depan masjid, kamu memotong langkahku.


"Jika nanti kamu ingin melamarku. Kamu harus melamarku di sana," sambil menunjuk restoran romantis di samping masjid.
Kuarahkan pandanganku ke restoran itu, terlihat dua pasang muda-mudi memadu kasih, seakan tak ada dunia lain, hanya dunia mereka berdua. Tempat wisata ini memang ramai di penghujung minggu.
"Insya Allah," janjiku terucap.
"Kamu harus bawa sekuntum mawar," pintamu
"Warna putih?"
"Bukan, warna merah."
"Siap!"

Senja ini, aku jatuh cinta lagi padamu. Mengapa? Karena kamu berharap hubungan ini menuju kepastian. Suatu hubungan yang dihalalkan oleh Tuhan bukan hubungan haram seperti ini, tanpa ikatan suci. Kapan itu akan terwujud Tuhan?


***


Busana itu membungkus auratmu. Tanganmu menggendong buah hati kita, putri kita. Semua kekhawatiran terbang bersama tangisnya. Semua doa' telah terkabul oleh Sang Maha Pengasih. Kaki kita terasa tak menyentuh lantai, melayang meninggalkan rumah sakit bersalin ini. Sesampainya di halaman, taksi mendekat, sopir membuka pintu perlahan. Kamu masuk terlebih dahulu sedang aku membantu supir taksi memasukkan barang-barang ke bagasi.


Di dalam taksi, kita duduk berdekatan, membiarkan supir taksi sendiri di depan. Senyum bahagia tak hentinya menghias wajahmu. Entah dari mana datangnya perasaan ini, tiap inderaku bergetar dan seakan mengucap sesuatu. Tiap inderaku menghujaniku dengan tanya, "Kapan terakhir kali aku jatuh cinta padamu?". Akalku tak mampu menyumbang jawab, kosong tak berisi. Hanya hati yang menyumbang ide, "Tiap detik!" desisnya tegas.


Yah, tiap detik aku jatuh cinta padamu wahai istriku. Tak usah takut akan perasaanku yang memudar karena usia, waktu atau jarak. Aku selalu jatuh cinta padamu; ketika kamu membuka mata di pagi hari, ketika kamu menyeduhkan kopi, ketika kamu menampung semua keluh dan impianku yang belum terwujud dan ketika kamu mau menerima egoku.


"Nugi, ada satu pintaku," tiba-tiba aku mengucap harap.
"Yah, apa itu?"
"Ikhlaskah kamu, ketika rasa cintaku terbagi dua, setengah untukmu dan setengah lagi untuk putri kita?" tanyaku.
"Iye, aku ikhlas. Tapi jangan kamu bagi lagi ke wanita lain, ha-ha-ha." kamu terkekeh diikuti tawaku yang tak kalah keras. Supir taksi hanya tersenyum tipis, tak berani merusak moment bahagia kami.


Sekali lagi aku tak tahu, kapan terakhir kali aku jatuh cinta padamu? Detik terakhir hidupku, mungkin itu jawaban yang lebih tepat. Tuhan adalah pembolak-balik hati, jagalah hatiku untuknya, hanya untuknya. Bolehkan Tuhan?

___

Gambar diperoleh di sini
___

  • view 225

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Iye = Iya, sopan dalam bahasa Bugis Makassar...

    • Lihat 6 Respon