Seminggu Bercakap dengan Jailani [Jum'at]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Maret 2016
Seminggu Bercakap dengan Jailani

Seminggu Bercakap dengan Jailani


Cerita Bersambung; seminggu bercakap dengan Jailani, menguliti kulit ideku dan menghanyutkan dogma yang telah kugenggam selama ini. Tanpa ragu, ia membuangnya ke tempat sampah.

Kategori Fiksi Umum

2.6 K Hak Cipta Terlindungi
Seminggu Bercakap dengan Jailani [Jum'at]

Jum'at
Penulis: Dinan

Lama aku termenung di teras rumah. Menatap jejeran bunga matahari yang mulai merekah indah. Di sudut pekarangan, tampak bayangan pohon jambu yang ikut bergerak karena pohonnya pun bergerak ditiup angin. Ada yang menganggap bayangan menyimbolkan kegelapan. Bagiku sedikit berbeda, bayangan menyiratkan bahwa di zona itu ada cahaya. Ada kasih. Ada harapan.

Selama empat hari aku berbincang dengan Jailani, tiap hari keanehan muncul satu demi satu. Ia datang tiba-tiba ketika kubutuhkan. Ia muncul dalam mimpiku dan meninggalkan jejak di dunia nyata. Ia bercakap lewat 'portal word' tanpa memperlihatkan wujudnya. Keanehan itu menambah rasa penasaranku, siapa sebenarnya Jailani? Manusia Suci, Wali, Nabi, Jin, Iblis atau Malaikat.

Tak dapat disanksikan, Jailani memberiku pembelajaran yang bermakna, tentang Tuhan dan jalan mendekati-Nya. Lamunanku menembus ruang dan waktu, ketika usiaku sepuluh tahun, duduk manis di ruang tamu Guru Private Agamaku, Pak Ahmad. Ayahku beranggapan, bukan hanya matematika, musik atau bahasa inggris yang membutuhkan kelas private, agamalah yang paling utama. Jadi, aku butuh les agama tiap dua kali seminggu ketika usiaku menginjak akil baliqh. Aku ikut saja perintah ayah.
***
Whiteboard masih kosong, tak ada tulisan apapun. Pak Ahmad dengan muka seram berdiri di hadapan kami. Ada empat murid Pak Ahmad. Aku adalah murid yang paling jahil. Hampir tiap materi tak pernah kucatat. Menurutku itu pemborosan, lebih baik aku pakai halaman kosong untuk melukis muka ibu atau ayah. Yah, aku seorang penghayal dan pelukis. Banyak teman yang memuji lukisanku. Kata mereka, terlihat seperti aslinya. Aku tak tahu itu jujur atau tidak, yang jelas setelah mereka memuji lukisanku lima menit kemudian kutraktir mereka bakso empat biji.

Pak Ahmad mulai membakar rokok kreteknya, asap memenuhi ruangan diikuti suara batuk kami. Batukku yang paling keras. Pak Ahmad cuek saja. Ia hanya memperbaiki letak peci hitamnya yang mulai rontok dimakan usia. Tak terasa, setengah rokoknya telah dilahap, itu artinya pelajaran akan dimulai.

"Seluruh semesta dicipta oleh Allah. Cukup dengan kalimat, "Jadilah!" maka jadilah sesuatu itu. Tak ada yang mustahil bagi-Nya."

Ia lalu menuliskan, Allah ----> Semesta. Tak lupa ia menghisap lagi rokok kreteknya. Kami batuk lagi.

"Tak ada tempat bergantung kecuali Dia."

Sebelum ia melanjutkan, kuangkat tangan kananku. "Aku ingin bertanya Pak," ujarku.
"Ini bukan forum diskusi. Tak ada waktu untuk bertanya. DENGARKAN DAN KERJAKAN!" mukanya bertambah seram.

Aku hanya duduk manis, tak berani mengacungkan tangan apalagi bertanya. Hanya ?saja batukku tak dapat dibendung. Ia mentoleransinya.

"Dia mendengar semua doa'."

Ia melangkah mencari asbak di meja, hendak mematikan rokoknya. Tapi ia tak menemukan asbak, dengan terpaksa pot bunga di teras rumahnya menjadi sasaran. Sekejap kemudian, ia telah berdiri di hadapan kami. Dan, mengucap salam perpisahan.

Aapaaa... hanya ini pelajarannya? Hati dan mukaku merah padam, tak setuju dengan metode mengajar Pak Ahmad. Waktunya sangat singkat, timernya satu batang rokok kretek. Dibayar mahal lagi. Kalo hanya ini, aku juga bisa baca pada kitab ayah di rumah. Selepas itu aku tak pernah datang lagi. Ayah marah padaku selama sebulan. Aku tak peduli.
***

Kenangan di rumah Pak Ahmad tak dapat kulupakan. Entah karena asap rokoknya atau peci kumelnya atau pelajarannya yang sangat minim. Sejak saat itu aku tak suka belajar agama. Di sekolah aku hanya belajar sekedarnya saja, agar lulus ujian dan naik kelas. Aku benci pelajaran agama. Untung saja ayah sering mengajariku perlahan tentang makna agama saat kami berjalan pulang dari masjid. Bila ayah tak melakukan itu, mungkin saat ini aku akan menjadi seorang atheis, walau KTPku tertulis agama islam tapi di hati aku tak beragama.

"Ihsan, tidak ke masjid jum'atan?" suara ibu membuyarkan lamunanku.
"Mau mandi dulu bu." Jawabku sembari menuju kamar mandi.

Hari Jum'at adalah hari spesial; hari di mana semua bermula, hari di mana yang miskin dapat naik haji, hari di mana doa akan diijabah oleh-Nya. Selepas mandi, kupakai pakaian terbaik. Tak lupa memakai parfum yang masih menggandung alkohol. Aku tak tahu itu halal atau haram. Pokoknya, kupakai saja.

Awan tebal siang ini, membentuk payung-payung pelindung dari ganasnya energi matahari. Kulangkahkan kaki sambil mengucap dzikir. Sesampainya di masjid, aku langsung menuju shaf terdepan, berharap dapat unta jum'at ini.

Khatib melangkah dengan perlahan menuju mimbar. Jubah dan surbannya berwarna putih. Setelah berdiri tegak dan mengucap salam. Kufokuskan pandangan padanya, khatib jum'at ini Jailani. Jaiiilaani? Ia masih berusia 20 tahun, kok bisa menjadi khatib? Apakah warga telah membalikkan semua persepsinya tentang Jailani? Ia tampak bersahaja di atas mimbar. Aku kagum.
***

"Apa yang kalian cari di dunia ini? Harta yang menggunung? Istri-istri yang cantik? Anak-anak yang cerdas? atau jabatan yang paling tinggi? Bukan... bukan itu. Kalian mencari kedamaian," ceramahnya dibuka dengan pertanyaan retoris, dengan suara yang lantang semua mata jama'ah yang tadinya masih tunduk langsung menoleh ke arah mimbar.

"Pribadi yang damai akan membuahkan kebahagiaan. Belum tentu orang yang bahagia itu damai. Tapi sebaliknya, orang yang damai pasti bahagia." Jailani menghela napas sejenak, ia telah berhasil mencuri perhatian jama'ah. Termasuk aku. "Kamu hebat Jailani. Sangat hebat." Gumamku dalam hati.

"Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita mengecup kedamaian?" matanya di arahkan ke tiap sisi masjid "Yah... tentu saja dengan mengikuti aturan Pencipta kita. Dia adalah Dzat yang paling mengetahui kita. Dari sisi materi sampai non-materi. Karena Dia mengetahui diri kita maka Dia mengetahui jalan terbaik untuk kita; agar kita selamat di dunia, selamat di akhirat dan merasakan kedamaian."

Logika berpikir Jailani sangat sistematis dan menjawab persoalan mendasar dengan menanamkan ide yang real dan logis. Mataku yang selama ini mengantuk ketika mendengar ceramah jum'at karena dielus-elus syaitan atau ceramahnya membosankan, kali ini tak terjadi. Mataku fokus dan telingaku seakan 'berkembang' beberapa millimeter agar dapat mendengar dengan seksama ceramah Jailani.

"Jama'ah Jum'at yang Insya Allah di cintai Allah.
Rasa damai itu akan terasa di hati jika kalian merasa khusyuk. Bagaimana caranya? Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 45 yang artinya, Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Hanya dengan sabar dan shalat kita akan menendang dan menghapus semua masalah, kegalauan dan rasa sedih. Shalat yang bagaimana? shalat yang khusyuk," terdiam sejenak sambil menyeka keringat di wajahnya karena terlalu bersemangat, ia melanjutkan, "Definisi khusyuk dijelaskan pada ayat selanjutnya, (yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan akan kembali kepada-Nya. Intinya, bersifat IHSAN."

Ketika Jailani mengucap kata terakhir 'IHSAN', namaku. Ia mengarahkan pandangannya kepadaku. Terasa ia hanya bercakap kepadaku. Hatiku bergetar; ia menanam ilmu di sana, ia mengisi cahaya di relung qalbuku.

"Ketika anda shalat, niatnya telah ikhlas hanya ingin memperoleh ridho-Nya, kemudian ber-ihsan. Apa itu ihsan? Yaitu, engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, maka yakinlah Dia melihatmu."

Jailani tertunduk sejenak, membisu. Ia membiarkan jama'ah memikirkan kalimat terakhirnya.

"Tingkatan seorang hamba itu banyak, bergantung dari kejernihan hatinya. Ada yang bisa seakan-akan melihat-Nya, ada yang bisa merasakan-Nya dan ada pula yang tak bisa sama sekali. Jika kalian tidak bisa, maka yakinlah Dia melihatmu sampai dasar hatimu. Tak ada yang dapat kamu sembunyikan dari-Nya. Ingat itu, tak ada yang dapat kamu sembunyikan."

Benar juga, selama ini aku sangat ingin 'melihat-Nya' tapi tingkatanku belum sampai di situ. Cukuplah aku yakin bahwa Dia melihatku. Melihatku.

"Saudaraku sekalian, untuk mencapai kedamaian maka ber-ihsan-lah dalam setiap perilakumu, kapan dan dimana saja kalian merasa dilihat oleh-Nya. Jika ini telah kalian lakukan maka hatimu akan tunduk dan merasa damai. Kenapa? Karena kamu yakin ada Dia yang melihatmu, ada Dia yang melindungimu. Dan terakhir kita semua akan kembali pada-Nya, akan kembali ke Sumber kita. Allah."


Jailani menutup dengan kalimat dahsyat, kita semua akan kembali pada-Nya, akan kembali ke Sumber kita. Allah. Kalimat itu menggema di seantero masjid. Bukan hanya di masjid, tapi di dalam hati semua jama'ah. Menggema dan mencolek dinding-dinding hati kami yang keras, kotor dan gelap.

"Mengapa bukan kamu yang menjadi guru private agamaku Jailani? Mengapa kamu baru muncul sekarang? Mengapa?" pikirku.
***

Selepas menjadi khatib, Jailani mengimami kami. Tajwidnya sangat bagus. Suara merdunya mengantar kami ke alam khusyuk. Shalat Jum'at kali ini sangat berkesan. Kunikamati tiap detik perjumpaanku dengan-Nya. Aku yakin Dia melihatku. Aku yakin itu.

Shalat Jum'at telah berakhir, sengaja aku berlama-lama di masjid. Berharap dapat bertatap muka dengan Jailani. Tapi, sosoknya tak terlihat lagi. Jailani kemana? Kuarahkan pandanganku ke dekat mimbar, mungkin saja ia masih berada di sana. Sayang, hanya ada Pak Andi sedang mematikan sound system. Kucari di sekitar masjid, ia juga tak nampak. Sekali lagi kamu menghilang dengan tiba-tiba Jailani. Semoga esok kita masih dapat bercakap lagi. Semoga.


Sampai ketemu lagi hari Sabtu

___

Gambar diambil di sini
___

?

*Cerita Sebelumnya:

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

?


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Makna tulisan ini sangat dalam. Pesan filosofis dan agama begitu terasa sembari membaca karya ini. Sang penulis mengutarakan perbandingan cara menyerap ilmu tentang agama, Islam dan Alloh swt sewaktu dia di bangku sekolah dan saat ia mendengarkan khutbah oleh tokoh misterius bernama Jailani. Terlihat betapa penulis menjabarkan perbedaan efek luar biasa yang ia rasakan antara menerima pelajaran dari guru yang enggan menerima ajakan diskusi dengan mendengarkan ceramah yang banyak diisi dengan renungan tentang hidup sebelum akhirnya masuk ke esensi perihal ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Terbukti metode yang disampaikan oleh Jailani sangat membekas sebab mengajak si penulis berpikir dan melihat agama dan keberadaan Alloh swt secara nyata dan personal bukan teori semata. Kandungan tulisan yang teramat kaya tersebut didukung oleh untaian kalimat yang mengalir dengan baik. Kami juga melihat tulisan ini tidak bernada menggurui walau memuat dakwah sekali pun. Tulisan ini juga kami pilih sebab pemahaman agama selalu tak lekang dimakan zaman. Setiap titik tertentu kami pikir orang akan mempertanyakan tujuan dia hidup, tujuan dia beragama dan akhirnya bagaimana dia bisa mengenal Tuhan. Good job, Sang Dinan!

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    2 tahun yang lalu.
    Secara pribadi, saya menganggap titik 'peak' dari jailani the series adalah kamis, dan bukannya jum'at. Karena kelemahan dalam jum'at adalah gaya khutbahnya... ^_

    • Lihat 2 Respon

  • Obyhop 
    Obyhop 
    2 tahun yang lalu.
    Mungkin Jailani adalah wasilah bagi Ihsan untuk taqorrub ilallah. Keren, gan. Lanjutkan!

    • Lihat 1 Respon

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    2 tahun yang lalu.
    Hebat ya Pak Ahmad...

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    2 tahun yang lalu.
    Asli.. gue suka banget isinya..menggambarkan anak muda zaman skrg yg gak di buat2 or sok alim.. ayat yg digunakan pun pas dan nyambung... , gue tipe yg gak suka baca bacaam yg berat dan panjang bak gerbong kereta api.. eh tumbeh hari ini katam baca tulisan ente.. hehehe sukses ya mas broo..