Perempuan Bermata Biru

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Maret 2016
Perempuan Bermata Biru

Perempuan Bermata Biru

Penulis: Dinan

?

Perempuan itu masih duduk di sana, dekat jendela perpustakaan. Di depannya tergeletak dua buku, dijejernya dengan rapi. Satu buku berwarna hitam sedang ia baca dengan serius, sepintas terlihat judulnya, Melawan atau Mati. Buku yang menarik. Aku sempat membaca buku itu dua bulan lalu. Bercerita tentang perjuangan seorang mahasiswa dalam melawan pemerintah yang tak pernah melirik rakyatnya. Terkadang dengan unjuk rasa, tak jarang pula dengan membuat opini di koran lokal. Tragisnya, mahasiswa itu mati sebelum ia memperoleh gelar sarjana. Di buku itu dikisahkan, ia ditangkap oleh kelompok bersenjata, dimasukkan di sel yang tak diketahui berada di mana, dipukuli dalam keadaan mata tertutup sampai napas terbang dari jasad.

Hari ini perempuan itu memakai baju biru, celana jeans dan jilbab dengan warna yang sama. Seorang lelaki menghampirinya, mengajaknya berbicara. Ia tak menggubrisnya. Matanya tetap tertuju pada buku, asyik dengan dunia sendiri tanpa peduli dunia sekitarnya. Lelaki itu menyerah, pergi meninggalkan perempuan itu.

Tak berapa lama, perempuan itu mengistirahatkan matanya. Meminum air mineral dari tas bawaannya. Cara ia meneguk minuman sangat anggun, perlahan dan lembut. Aku kagum pada perempuan itu, entah karena apa. Pandanganku hanya fokus pada perempuan itu. Aku tak membaca buku apapun, apalagi mengerjakan tugas. Pikiranku telah disedot olehnya.

*

Perempuan itu masih duduk di sana, dekat jendela perpustakaan. Kali ini, tak ada buku yang dijejer rapi di atas meja, hanya sebotol minuman mineral dengan air yang tinggal setengah. Buku di tangannya masih sama, Melawan atau Mati. Perpusatakaan kami tak menggunakan pendingin ruangan. Cuma ada beberapa kipas angin berukuran cukup besar. Sayang, kipas angin itu telah berusia lanjut. Suara 'kresek-kresek' terkadang dilantunkan di ruangan ini. Agar panas tak menyiksa kami, pengelola perpustakaan membiarkan beberapa jendela terbuka. Semilir angin membelai lembut wajah perempuan itu. Adakalanya aku ingin menjadi angin, agar berkesempatan menyentuh kulitnya walau sedetik, itu sudah cukup.

Sempat aku bertanya pada teman yang punya banyak kenalan cewek, alias playboy, tentang siapa gerangan perempuan itu? Temanku menduga ia mahasiswi Fakultas Pertanian. Keesokan harinya aku menyelidiki identitas perempuan itu lewat 'jaringan'ku di Fakultas Pertanian, tapi hasilnya nihil.

Adapula yang berkata perempuan itu mahasiswi Fakultas Hukum, sekali lagi aku mencari informasi tentangnya. Tetap saja, tak ada yang mengetahui identitas perempuan itu. Aku menyerah.

*

Perempuan itu masih duduk di sana, dekat jendela perpustakaan. Tangannya ia letakkan di meja. Ia tak membaca, hanya memandang sampul buku, Melawan atau Mati. Buku itu telah selesai dibacanya. Mengapa ia tak membaca buku lain? Setelah tiga hari aku mengamatinya, dunianya hanya berisi tentang buku hitam itu.

Hari ini aku memberanikan diri mencari informasi di buku pengunjung perpustakaan. Berpura-pura ingin meminjam buku. Berharap namanya tercantum di sana.Kutelisik lembar demi lembar, tak ada nama perempuan untuk hari ini. Akupun berlalu dari meja petugas menuju ke meja dekat perempuan itu. Tak meninggalkan jejak. Ibu petugas perpustakaan hanya geleng-geleng kepala.

Tak ingin melepas kesempatan, aku duduk di depan perempuan itu. Kami hanya dibatasi meja. Sambil memegang buku Matematika Terapan, kulirik perempuan itu tanpa sepengetahuannya. Kulitnya putih, bola matanya berwarna biru, bibirnya tipis dan mukanya sedikit lonjong. Perhatianku tertuju pada matanya, teduh dan mendamaikan. Tapi, ada yang aneh dengan sorotan matanya, tersimpan kesedihan yang mendalam. Sangat dalam. Kesedihan itu seakan terkubur di dasar hatinya. Ia berusaha menyembunyikan rasa itu, hanya saja masih terpancar dari matanya. Kesedihannya mengalahkan rasa ingin tahuku tentangnya. Aku tetap membisu, sambil meliriknya sampai ia beranjak pergi meninggalkanku dengan tanya yang tak sempat terucap.

*

Perempuan itu masih duduk di sana, dekat jendela perpustakaan. Ia sedang menulis di secarik kertas dengan alas buku hitam itu. Tak ingin aku mendekat. Kubiarkan ia menghabiskan ceritanya lewat tulisan. Pujangga berkata, menulis dapat membunuh kesedihan, menepis kerinduan dan mengusir kesepian. Aku duduk sembari meletakkan tangan di dagu, memandang perempuan itu.

Perempuan itu telah menyelesaikan tulisannya. Melipat kertas, menaruhnya di sela-sela halaman buku hitam itu. Ia bersiap meninggalkan perpustakaan, mengambil air mineral di meja dan memasukkannya ke dalam tas, berdiri kemudian menghilang dari pandanganku.

Kulangkahkan kaki menuju kursi tempat duduk perempuan itu. Di meja masih terlihat buku hitam, kubuka sambil mencari kertas terlipat miliknya, tulisannya. Kubaca tulisannya...

?

Kak Elang...

sepeninggal Ayah dan Ibu,

engkaulah yang mengganti peran mereka

sebagai sosok yang mengajariku tentang Tuhan

sebagai sosok yang mengajariku bagaimana menjadi perempuan yang sholeha

?

Kak Elang...

lima tahun engkau telah meninggalkanku sebatang kara

aku sangat kesepian

hanya engkau sahabat karibku

hanya engkau pelindungku

?

Kak Elang...

12 Mei 1998, ruhmu berpulang ke Sumbernya

hari itu adalah hari keramat

hari di mana aparat dibebaskan menembak rakyat jelata

hari di mana rasa kemanusian ditelan oleh ego penguasa

?

Kak Elang...

terimakasih atas perlawananmu

engkau adalah pondasi perubahan

engkau adalah napas reformasi

engkau adalah pahlawan

?

Kak Elang...

aku rindu kamu

?

Adikmu,

Arsyila Lesmana

12 Mei 2003

*

Dengan mengenakan pakaian terbaik, di sinilah aku, menunggu perempuan itu. Senandung 'kresek-kresek' kipas angin masih bersenandung di ruangan ini. Secarik kertas kupegang erat. Tak ingin kulepas walau sedetik. Waktu bergulir, perempuan itu tak menampakkan sosoknya. Petugas perpustakaan bersiap menutup pintu. Aku masih duduk menunggunya, berharap ia muncul tapi hari ini ia tak datang.

Penyesalan mengalir di darahku. Mengapa aku tak pernah bercakap dengannya? Mengapa aku tak pernah menghiburnya? Mengapa aku tak mengurangi sedikit saja rasa kesepiannya?

Aku menyesal.

Perempuan bermata biru itu bernama Arsyila Lesmana, adik dari Elang Mulia Lesmana yang gugur saat Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. Semoga ia menemukan jalan damainya. Maaf, karena rasa takutku mengalahkan rasa simpatiku. Jiwa pahlawan tak pernah mati, ia akan berenkarnasi ke jiwa lain yang terpilih. Jiwa yang senantiasa melawan atau mati.

?

___

Gambar diperoleh di sini

___

?

Note: Cerpen ini hanya fiksi, sedikit terinspirasi oleh Elang Mulia Lesmana (1978-1998), salah seorang mahasiswa yang gugur saat Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. Saya mohon jangan melupakan jasa mereka, tragedi berdarah dan tindakan berlebihan oleh aparat. Dan, jangan lupa bahwa kita 'mengecup' orde reformasi karena jasanya.