Nasehat Untuk Ia yang Menyukai Warna Putih

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Maret 2016
Nasehat Untuk Ia yang Menyukai Warna Putih

Nasehat Untuk Ia yang Menyukai Warna Putih

Penulis: Dinan

?

Ibu pernah berkata, "Apapun yang terjadi adalah yang terbaik. Jangan pernah menghujat takdir karena itu terjadi atas Kehendak-Nya." Pernyataan itu tertanam di setiap sel otakku. Hingga hari ini, aku tak pernah menghujat apapun, entah itu pahit apalagi yang manis. Tiap langkah kubarengi dengan rasa syukur. Setahun telah berlalu dan tak pernah sedikitpun aku mengkritisi kebijakanmu, tapi pahit tetaplah pahit dan kita harus mengubahnya.

___

Konon di negeri nan jauh, hiduplah seorang yang bersahaja. Aku tak mengetahui secara jelas kepribadiaannya. Belakangan ini ia sering tampil di semua media, elektronik dan surat kabar. Ia penyuka warna putih. Warna ini bukan sembarang warna, menyimbolkan kesucian. Semoga pribadinya suci seperti warna putih.

Sore ini ia tampil di media, sepintas kutatap wajahnya di layar televisi. Guratan wajah yang serius, mengisyaratkan ia pribadi pemikir, semoga. Tak ada jas mahal yang membungkus badannya, hanya memakai baju kemeja. Terkadang kemeja batik, kotak-kotak atau kemeja polos berwarna putih. Kesan pertamaku, ia pribadi yang sederhana. Sangat sederhana.

Pernah suatu ketika, ia berjalan di tengah-tengah pasar. Berbincang dengan para pedagang, mendengar keluhan mereka. Ia berjabat tangan dengan siapa saja, tak memandang status sosial. Tersenyum ramah dan tak ada protokoler sebagaimana biasanya. Ia menembus batas sekat antara pejabat dan rakyat. Seakan tak ada jarak. Sangat dekat. Ia pribadi yang sangat 'merakyat'.

Tak jarang ia langsung turun ke lapangan. Mengecek birokrasi di kantor-kantor pemerintahan. Jika ada yang tidak sesuai dengan prosedur dan memberatkan rakyat maka ia dengan lantang memberi sanksi. Keinginannya adalah sebuah revolusi. Revolusi Mental.

Aku cukup tergelitik oleh pesonanya. Aku memanggilnya Putra Rakyat.

___

Bila aku 'besar' nanti

Tak ingin kusentuh dunia itu

Dunia yang penuh dengan kebisingan

Dunia yang hanya berisi kepentingan

Dunia yang melegalkan segala cara

Dunia yang mirip dengan fatamorgana

Dunia yang hanya didasarkan pada pembagian kue

Dunia itu bernama politik

(Catatan Pinggir, ketika usiaku menginjak 30 tahun)

___

Kulangkahkan kaki menuju kamar, hari ini terasa sangat melelahkan. Pekerjaan seakan tak ada habisnya. Kurebahkan jasadku di kasur malas sembari menyalakan televisi.

"KERJA... KERJA... KERJA..." Putra Rakyat beteriak dengan lantang di atas fodium. Massanya membludak. Kostumnya berubah dari kemeja kotak-kotak menjadi kemeja berwarna putih polos.

Jargon itu menghipnotisku, seakan merangsang tubuh dan pikirku untuk senantiasa bekerja, berkarya, menginspirasi sekitar. Menurut berita yang kutonton, ia mau berpindah tempat kerja lagi. Dari area yang sempit menuju ke area yang lebih luas. Katanya, ia lebih mudah merubah jika berkuasa di tempat yang akan di tujunya. Aku hanya terdiam lama, cukup lama. Menyayangkan keputusannya. Putra Rakyat pemenang semua survey, ia adalah warga yang paling populer di negeri ini. Dengan berat hati ia menerima pinangan partainya untuk maju di medan pertempuran.

Ada pepatah yang berkata, "Seorang pelaut handal tak akan lahir dari laut yang tenang."

Pelaut akan jadi pelaut handal jika ia telah mengahadapi banyak jenis ombak dan bukan hanya berlaut di pinggiran. Ia harus menjelajah berbagai samudera. Bukankah itu butuh waktu? Bila hanya mampu mendayung di sungai dan pinggiran laut jangan mencoba untuk melaut di tengah samudera. Kamu akan tenggelam.

Alam ditempa dengan gempa dan guncangan yang tak berujung, sampai suatu titik seimbang seperti saat ini. Ia butuh waktu pembelajaran yang lama dan rasa sakit yang tak sedikit. Bagaimana denganmu Putra Rakyat, apakah kamu telah benar-benar siap? Para pendukungmu menjawab, "Ya, Putra Rakyat telah siap. Ia adalah sosok yang dibutuhkan rakyat saat ini. Sederhana, merakyat dan suci." Tapi, menurutku kamu belum siap, maaf.

___

Kampanye telah dimulai. Genderang perang ditabuh sangat keras. Para calon bersinergi dengan timnya, membahas trik paling top demi mendulang simpati. Putra Rakyat adalah salah satu dari mereka. Hampir semua teman, kerabat dan sekitarku bersimpati kepadanya. Sayang, aku tak bersimpati kepada siapapun, termasuk Putra Rakyat. Aku memilih diam dan tak berpihak. Menurutku, tak ada yang pantas.

Putra Rakyat sempat berkomitmen, "Tak ada bagi-bagi kue dalam penyusunan kabinetnya nanti bila ia terpilih". Semoga ia tak melepas komitmennya.

Putra Rakyat sempat berkomitmen, "Akan mengurangi rakyat miskin dan pengangguran." Semoga ia tak melepas komitmennya.

Putra Rakyat sempat berkomitmen, "Akan memperkuat Lembaga Penegak Hukum khususnya yang menangani para pencuri uang rakyat." Semoga ia tak melepas komitmennya.

Putra Rakyat sempat berkomitmen, "Akan membuat Bank untuk Petani dan Bank untuk Nelayan". Semoga ia tak melepas komitmennya.

Putra Rakyat sempat berkomitmen, "Akan meningkatkan pembangunan infrastruktur dasar terutama di wilayah timur." Semoga ia tak melepas komitmennya.

Waktu bergulir dan Putra Rakyat memenangkan pertarungan sesuai dugaanku. Aku lebih senang mempercayai janji dari sang pacar dari pada janji seorang calon pejabat. Janji dan komitmen mereka buyar oleh kepentingan. Kepentingan siapa? Kepentingan para pendukungnya.

___

Putra Rakyat...

Aku ingin memberitahu,

Kue yang kamu berikan sepertinya salah sasaran

Kemiskinan di kampungku belum berkurang bahkan bertambah

Pengangguran semakin merajalela hingga mencipta konflik antar kampung

Infrastruktur dasar di wilayah timur sangat minim

Tikus kantor masih menikmati makanannya

Petani dan Nelayan masih sama, tetap berutang di tetangga

Aku hanya memberitahu

(Catatan Pinggir, ketika usiaku menginjak 31 tahun)

___

Mata seorang hamba busuk sepertiku hanya mengenal dua warna, hitam dan putih. Jika tak putih maka hitam begitu pula sebaliknya. Aku bosan dengan bisingnya negeri ini, seakan semuanya berwarna hitam dan tak ada putih yang mampir walau hanya sekejap. Kulangkahkan kaki menuju warung kopi di seberang rumah, berharap menemukan warna lain. Mata ini harus istirahat.

Kupesan kopi susu ukuran gelas kecil. Aku mencoba menghilangkan keluh dan kesah terlebih dahulu sebelum menghirup kopi. Dengan menyebut nama-Nya, kurasakan tiap tetes kopi yang masuk ke tenggorokan. Ada setitik kedamaian yang kurasa. Kopi susu buatan Dg. Tuttung adalah yang terbaik.

Rasa damai ini buyar oleh pembicaraan dua orang lelaki di samping mejaku.

"Presiden boneka itu berulah lagi. Ia memilih calon KAPOLRI yang kontroversi. Apalagi menteri-menterinya kurang kompeten di bidangnya." Ujar pria berbaju biru sembari menghisap rokok kreteknya.

"Susah memang. Jika pendukung banyak maka kepentingan juga banyak. Ia harus memenuhi semua itu." Timpal temannya.

Tak ingin aku menggubrisnya, tapi tetap saja pembicaraan itu lewat di telinga kiriku sayang tidak langsung keluar di telinga kanan. Singgah di otakku. "Aku ingin hidup di hutan, tak ada pembicaraan tentang Putra Rakyat. Tak ada makhluk bernama politik." gumamku dalam hati sambil membakar rokok putih kesayanganku.

___

Ibu menyiapkan makanan di meja makan. Hari ini menunya spesial, ayam goreng kecap dan mie goreng. Aku menghampiri dan bertanya, "Ibu, aku bosan dengan berita di media." sembari merasa empuknya paha ayam. Ibu hanya berlalu cuek, ia ke dapur mengambil air minum dan gelas kemudian kembali lagi dan merapikan susunan gelas. "Kok ibu tak menggubris sih," aku menatapnya dengan lembut berharap ia mau sekedar berkomentar. Sekedar kalian tahu, ibuku adalah guru sekaligus konsultan kehidupanku. Ia pun duduk di sampingku, "Kita dapat memilih apa yang kita lihat, dengar dan rasakan," kedua tangannya menyetuh pipiku, "Hindari yang tak berguna." Petuahnya. Ia pun berdiri beranjak ke kandang ayam di belakang rumah memanggil ayah untuk makan.

___

Siang telah ditelan malam. Aku mendaratkan pantatku di meja belajar. Mengambil secarik kertas dan pulpen. Menulis dapat membunuh galau.

Nasehat Untuk Ia yang Menyukai Warna Putih

Putra Rakyat, Tuhan telah memilihmu. Itu adalah tanda bahwa kamu mungkin akan membawa sedikit perubahan. Di awal kemunculanmu aku sedikit simpatik tapi seiring berjalannya waktu aku pesimis. Entah aku benar atau media yang salah atau cenderung membesar-besarkan sesuatu yang kecil dan mengecilkan sesuatu yang besar. Ada beberapa nasehat untukmu wahai Putra Rakyat yang menyukai warna putih. Jika menurutmu ini baik maka tolong dilaksanakan. Kalaupun tidak ada kebaikan di dalamnya anggap saja ini celoteh tak berdasar dari seorang rakyat jelata. Aku persingkat saja yah...

  • Tetaplah sederhana, merakyat dan merevolusi mental;
  • Jangan mendengar dalangmu jika tak sesuai dengan hatimu;
  • Belajar untuk ikhlas. Tuhan akan mendengar dan melihat semua karyamu. Tak harus memanggil media. Pemimpin yang adil dijanjikan kenikmatan yang abadi di dunia yang lain;
  • Tingkatkan kompetensimu, maaf... jangan tersinggung yah;
  • Aku hidup di daerah terpencil di wilayah timur. Jujur saja aku tak pernah melihat karyamu di sini, bukan blusukanmu tapi karyamu. Listrik, air, pendidikan dan kesehatan sangat sulit. Ketika istriku hamil sangat sulit mencari dokter kandungan yang baik. Sekarang, ketika anakku sakit tak muncul dokter anak yang dapat mengurangi sedikit rasa sakit di tubuh anakku; dan
  • Masalah tidak hanya selesai dengan senyum dan kerja. Masalah membutuhkan visi dan misi yang jelas dan terarah agar ia terkubur di tanah negeri kita yang subur.

?

Apabila kondisi rakyatmu seperti ini terus, beranikah kamu menghadap Sang Pengadil? Ingat, kamu akan diminta pertanggungjawaban pada setiap detik kepemimpinanmu dan pada setiap napas rakyatmu. Adilkah kamu? Beranikah menenggakkan yang Haq? Bermanfaatkah kamu?

Ini hanya nasehat dari rakyat jelata di pinggiran wilayah kekuasaanmu, semoga kamu menjadi lebih baik dan berbanding lurus dengan kondisi rakyatmu.

(Catatan Pinggir, ketika lagi galau diusia 32 tahun)

?

Kuletakkan pena di sudut meja. Kulipat catatan pinggirku dengan rapi. Aku melanggkah ke belakang rumah. Aliran air sungai cukup deras malam ini. Kubuang kertas terlipat yang berisi nasehat untuk Putra Rakyat di tengah sungai. Kubiarkan ia menjauh bersama aliran sungai. Semoga kertas itu akan sampai kepada Putra Rakyat, membacanya dan berharap ia mau sedikit saja berubah. Aamiin...

?

___

Gambar diperoleh di sini

___

  • view 182