Kamar

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Maret 2016
Kamar

Kamar

Penulis: Dinan

?

Kipas menengok ke kiri dan ke kanan, menyajikan angin ke sisi kamar. Setelah berputar tuk kesekian kali, ia terhenti. Tak mau lagi memutar wajah. Hembusan anginnya hanya mengarah ke dadaku. Aku duduk manis di kursi belajar sambil membaca buku, Biografi Imam Empat Mazhab. Saat ini sedang menjelajah di dunia Imam Malik, setelah kulahap kisah Imam Hanafi.

?

Aku menoleh ke kipas. Mengapa ia tidak berputar? Kulangkahkan kaki menuju kipas, menekan-nekan tombol. Berharap ia mau kembali ke sedia kala. Kutekan berkali-kali, tetap saja. Ia merajuk. Mungkin, karena aku tak pernah membersihkannya. Biarlah, asalkan ia tak berhenti berputar. Baru saja harapan itu terucap dalam hati, kipas ini perlahan berhenti. Senyap. Tak ada lagi putaran. Tak ada angin. Gerah.

?

Senandung cicak berwarna abu-abu sempat menghibur beberapa detik, berdecak-decak dengan nada sendiri. Sekehendak hatinya. Ia menempel di dinding dekat pintu. Kufokuskan pandanganku padanya. Mengapa cicak malam ini terlihat besar? Seukuran bayi buaya. Ada apa ini? Menempel dan merayap ke belakang lemari. Ia mencoba bersembunyi dari tatapanku di balik lemari. Sayang tubuhnya tak muat pada sela-sela dinding dan lemari. Ia terperangkap. Senandungnya kali ini, memilukan. Mungkin, ia meratap kesakitan.

?

Selimut itu mendongak ke arahku, menatapku cukup lama. Ia hendak meminta izin terbang ke angkasa. Terbebas dari tugasnya yang menjemukan, menyelimuti dan menghangatkan tubuhku yang kotor dan dipenuhi dosa serta kemunafikan. Sejurus kemudian, aku mengangguk pelan. Benar saja, ia langsung terbang menerobos jendela kamar. Terbang ke langit malam mirip permadani Aladin. Sesampainya di langit, ia berdansa riang ditemani bintang. Tak pernah kulihat ia segembira itu. Ternyata, setiap makhluk butuh udara kebebasan.

?

Lemari coklat itu membuka dengan sendirinya. Berusaha berjalan dengan empat sudut kakinya. Sepertinya ia kasihan dengan cicak yang meringis kesakitan. Ia melangkah perlahan menuju kasur sedang cicak besar tadi terjatuh ke lantai kemudian berlari menuju jendela dan sekejap kemudian keluar di pekarangan rumah. Lemari tak berhenti begitu saja, ia menghampiriku dengan wajah menyeramkan. Motif bunga berwarna abu-abu berubah menjadi bola mata yang memancarkan kebencian. Lemari ini adalah peninggalan ayah, sepertinya ia ingin pensiun. Tapi sebelumnya ia menagih uang pesangon.

?

Aku mencoba bercakap dengannya, "kamu kenapa?" kutatap lurus di bola matanya. Pintu-pintunya bergerak seakan menggeleng, melompat dengan sekuat tenaga. Badannya sempat terbang beberapa senti. "Aaaku telah tua nak. Bosan aku menampung pakaian. Terasa berat. Melelahkan. Bolehkah aku pensiun?" Aku mendekatinya, mengelus pintunya agar ia sedikit tenang. Tapi sekali lagi ia meloncat. Ia memberontak, aku tak mampu lagi membujuknya. "Tapi... aku belum punya uang untuk membeli lemari baru. Bagaimana dengan pakaianku?" Wajahku memelas, mengharap belas kasihnya. Ia terdiam sejenak. Bola matanya mengeluarkan air, warnanya sangat keruh mirip air sungai yang baru saja di terpa hujan. "Maaf Nak, aku tak sanggup lagi bekerja. Diusiaku sekarang sudah selayaknya cuma berdiam di gudang menikmati terpaan debu. Aku mooohooonn. Uhuk..Uhukk." Ia terbatuk berharap dikasihani. "Baiklah, tapi aku tak akan memberimu pesangon. Aku tak punya uang." Sekejap kemudian, ia menumpahkan seluruh pakaian yang bernaung di dalamnya. Pakaianku berserakan di lantai. Ia beranjak perlahan keluar melalui pintu, menuju ke gudang di dekat dapur. Sesampainya di sana, ia membaringkan badan. Istirahat sampai dunia dijemput oleh Tuhan.

?

Aku terdiam di sudut kasur, memikirkan apa sebenarnya yang terjadi. Berharap keanehan ini segera berakhir. Tanpa diminta, semua dinding kamarku bergerak dengan sangat cepat. Semua sisinya menghampiriku. Ku ingin meloloskan diri, berlari ke pintu. Tapi kecepatan dinding kamar lebih cepat dari lariku. Tak ada ruang tuk sekedar bernapas. Dinding-dinding itu telah sampai di badanku. Sekuat tenaga aku berusaha meloloskan diri. Apa daya mereka telah meremukkan tulang-tulangku.

?

Tamu tak diundang mewujud, sesosok bayangan hitam. Malaikat Maut nongol di wajahku. Parasnya berwarna hitam, matanya merah dan badannya berduri. Tanggannya memegang sebilah pedang panjang, sangat panjang, silaunya menyilaukan mataku. Ia menghunuskan pedangnya ke leherku dengan perlahan tapi serasa dikuliti, sangat menyakitkan. Tak pernah kubayangkan rasa sakit seperti ini. Ruhku bergerak naik ke tenggorakan, pandanganku buram, gelap. Aku berteriak sekeras mungkin. Entah mengapa ayah dan ibu tak mendengar suaraku. Leherku terputus, kepalaku jatuh ke lantai, darah membanjiri kamar, membasahi pakaian di lantai membuat seluruh pakaianku berubah menjadi warna merah. Tubuhku tak dapat lagi kugerakkan. Inikah detik kematianku?

?

Ruhku keluar dari jasad. Terbang menuju langit, ia enggan menoleh ke jasadku. Tatapannya hanya di arahkan ke langit. Ia telah kembali ke Sang Sumber. Dinding kamarku kembali seperti sedia kala. Tubuhku terbaring di lantai tanpa kepala. Kamarku bukan lagi surgaku, ia telah menelan napasku.

?

___

Gambar diambil di sini

___


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Mksi bersedia membca tulisan sya. Dah di like lgi. Salam Karya

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    paragraf ke-4 (Selimut itu...) seperti tiba2 muncul, mungkin perlu 'kalimat penghubung' dengan paragraf sebelumnya. #menurutsayasih | Tubuhku terbaring di lantai tanpa kepala--> ngeri, ya

    • Lihat 5 Respon