Seminggu Bercakap dengan Jailani [Kamis]

Seminggu Bercakap dengan Jailani [Kamis]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Maret 2016
Seminggu Bercakap dengan Jailani

Seminggu Bercakap dengan Jailani


Cerita Bersambung; seminggu bercakap dengan Jailani, menguliti kulit ideku dan menghanyutkan dogma yang telah kugenggam selama ini. Tanpa ragu, ia membuangnya ke tempat sampah.

Kategori Fiksi Umum

2.8 K Hak Cipta Terlindungi
Seminggu Bercakap dengan Jailani [Kamis]

Kamis

Penulis: Dinan

?

Alunan merdu Kalam Ilahi menggema, masjid di kompleks perumahanku memutar Surah Ar-Rahman. Kubuka mataku dan bangkit dari pembaringan. Kulafalkan dzikirku, terlepaslah 'tali pertama'. Menuju kamar mandi mengambil air wudhu, terlepaslah 'tali kedua'. Beranjak menuju kamar untuk shalat dua rakaat, terlepaslah 'tali ketiga'. Hari ini aku siap mengahadapi takdir-Mu.

Pintu diketuk, "Ayo ke masjid berjamaah." Ayah mengajak shalat di masjid kompleks. Aku beranjak dari sajadah membuka pintu dan berangkat bersama ayah.?

Masjid dan rumahku hanya berjarak sepuluh meter, tak ada alasan untuk tak berjamaah. Subuh ini, hanya enam orang jamaah. Pantas saja islam tak lagi ditakuti oleh musuh-musuhnya. Umat islam diinjak-injak bahkan dibunuh di tanahnya sendiri. Ayah menjadi imam. Oh yah, ayahku bernama Muhammad Imam. Seorang Guru Matematika di SMA, sekaligus Ketua RT. Ia salah satu tokoh masyarakat di kampung kami. Sedang ibuku bernama Raodah, ibu rumah tangga tulen. Sebelum menikah dengan ayah, ia seorang Teller pada salah satu Bank ternama. Tapi, demi aku dan ayah ia mengundurkan diri. Terima kasih Ibu.

Shalat kali ini terasa berbeda, hatiku sedikit bergetar. Mencoba mengikuti 'frekuensi' Yang Ada, tubuhku merinding dan otakku kosong. Dengan kehampaan dan peniaadaan diri, maka kita akan mendekat satu senti pada Yang Ada. Sujud akhir adalah puncaknya, dimana akalku terasa rendah, jasadku terasa tak berarti dan aku melebur dalam ketiadaanku. Hanya Dia Yang Ada. Qalbuku mulai memiliki cahaya walau hanya setitik. Ini sudah lebih dari cukup. Aku 'merasakan-Nya'!?

Peristiwa yang paling kutunggu tiap pagi adalah selepas shalat subuh, berjalan menuju rumah bersama ayah. Walau hanya beberapa menit, tapi terasa sangat berkesan. Ayam Jantan Pak Andi berkokok dengan kerasnya, membangunkan makhluk pemalas yang terlena oleh belaian syaitan.

"Ihsan apa tujuan hidupmu?"

"Membahagiakan ayah dan ibu."

"Itu saja?"

Aku mendongak ke wajah ayah, mencoba mencari apa sebenarnya maksud pertanyaannya. Ia hanya terdiam, menanti jawabanku.

"Beribadah kepada Yang Ada." Entah dari mana datangnya jawaban itu. Tumpah begitu saja di mulutku. Tanpa konsep, apalagi memohon izin pada alam sadarku.

"Wooow, kamu sudah pintar sekarang. Siapa itu Yang Ada?" Tangannya menyentuh bahuku, meminta fokusku.

"Sang Khalik ayah, Allah." Kali ini jawabanku terlahir dari kesadaran dan keyakinanku.

"Nak, peganglah jawabanmu hari ini. Insya Allah satu kunci kenikmatan abadi untukmu." Tangannya berpindah ke kepalaku, mengelusnya dengan perlahan. Mirip yang ia lakukan ketika usiaku tujuh tahun, saat mengajariku kalimat syahadat untuk pertama kalinya.

___

Kuperbaiki posisi dudukku, jemariku dengan lincah mengetik satu persatu kata melalui laptop berwarna merah yang telah nongkrong manis di hadapanku. Di samping laptop, buku berserakan dan kertas kusut hasil coretan pembimbing skripsiku juga ingin nongol pada area pandangku. Di sinilah aku, berkutat dengan hipotesa dan teori. Mencoba memberi karya ilmiah yang sedikit berbobot, agar nanti ketika anakku bertanya, "Ayah menulis tentang apa saat skripsi dulu?" Maka dengan bangga akan kujawab, "Decomposisi Cholesky pada Data Runtun Waktu" Bagaimana, keren kan?

Sedang asyik mengetik pada aplikasi word, tiba-tiba kursor bergerak sendiri kemudian kata terketik sendiri. Mataku melotot, terasa ingin copot karena kaget. Kujauhkan jemariku dari keyboard. Tetap saja. Kulirik jam dinding, jam sembilan lewat sepuluh menit. Masih pagi, kok ada syaitan yah? Kedua tanganku kuletakkan di paha. Menunggu kalimat selesai diketik oleh 'sang halus'.

Sudahkah engkau membersihkan hatimu Ihsan?

Jenis font berubah jadi Courier New, size 11. Padahal sebelumnya aku memakai font Times New Rowman size 12. Tanda tanya besar terlukis di otakku. Aku menjawab seadanya.

Sedikit.

Tangan kujauhkan dari laptop.

Syukurlah. Kamu telah mencoba membersihkan hati, selanjutnya pelajari 'jalan'.

Ia menjawab. Sepertinya aku harus menuntaskan ini. Jika tidak, maka konsentrasiku untuk mengetik skripsi akan buyar.

Kamu siapa?

Jailani!

Jailani? Tidak mungkin, sebenarnya kamu makhluk apa Jailani? Kemarin kamu mengganggu tidurku, pagi ini kamu mengetik di laptopku. Ditambah lagi, kamu tak terlihat sedikitpun. Okey, mari kita bercakap lewat portal ini Jailani.

Jalan yang mana?

?

Syariat. Yang Ada telah memberikan 'rule' menjalani hidup. Dia menyampaikan-Nya kepada para Kekasih-Nya. Baca dan pelajarilah dengan seksama, maka subtansimu akan menyentuh hakikatnya.

?

Tapi, terlalu banyak cabang dan persepsi para ulama. Aku tak tahu syariat yang sebenarnya. Masing-masing mengklaim kelompoknya yang paling benar, paling suci. Syariat yang mana??

Jailani menjawab cukup lama. Tiba-tiba ibu masuk ke kamar membawa teh manis dan cemilan.

"Aku taruh di mana nih, Ihsan?"

"Di sini saja Bu," kurapikan kertas dan buku di meja belajarku, menyediakan tempat bagi pengganjal lambung dan pelicin kerongkonganku. "Makasi bu." Tak lupa senyum termanis kupasang di wajahku.

"Iya, anak pintar. Ngetik yang rajin yah, paya cepat Sarjana." Ibu pun beranjak pergi.

Ibu dan ayah masih memperlakukanku seperti anak kecil, mungkin karena aku anak tunggal. Seekor nyamuk hinggap di pipi kananku, kutepuk dengan keras. Bukan nyamuknya yang kena tapi pipiku terkena tamparan tanganku sendiri. Sesaat kemudian huruf demi huruf terangkai menjadi kata, kata terangkai menjadi kalimat dengan sendirinya di layar laptopku.

Syariat itu termaktub dalam Al Qur'an dan Sunnah. Baca dan hayatilah. Bila suatu saat kamu terbentur oleh persepsi orang lain maka tanyalah qalbumu. Qalbu tak akan pernah membohongi pemiliknya.

?

Baiklah Jailani, akan kucoba. Tapi, sebenarnya kamu siapa?

?

Rasa penasaran membuncah, siapa sebenarnya Jailani? Ia mampu mempengaruhiku sampai pada alam lain, entah nyata atau imajiner. Tapi, bukti jubahnya tertinggal pada alam nyata. Saat ini, kami bercakap lewat portal yang sangat tidak masuk akal. Kutungggu jawabnya. Kursor tak bergerak, terpaku di tengah layar. Jarum jam berdetak, berdetak, dan berdetak. Tetap saja belum ada jawaban.

Jailani, kamu masih di sini?

Tetap membisu. Kucek percakapan dari awal sampai akhir di 'file percakapan' kami. Kugeser kursor ke atas, kalimat terakhir yang terlihat cuma, Definisi Data Runtun Waktu. Percakapan kami terhapus.

"Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?"

?

Sampai ketemu lagi hari Jum'at

?

___

Gambar diambil di sini

___

?

*Cerita Sebelumnya:

Senin

Selasa

Rabu