ANTARA BUMI PERTIWI DAN BUMI PALESTINA. SUDAH MERDEKA? LALU SIAPA YANG TERJAJAH?

 din.|
Karya  din.| Kategori Renungan
dipublikasikan 18 Agustus 2017
ANTARA BUMI PERTIWI DAN BUMI PALESTINA. SUDAH MERDEKA? LALU SIAPA YANG TERJAJAH?

August 16, 2017/10:12 a.m

Renungan: ANTARA BUMI PERTIWI DAN BUMI PALESTINA. SUDAH MERDEKA? LALU SIAPA YANG TERJAJAH?

"17 Agustus 1945.
Itulah hari kemerdekaan kita"

Bukan hal yang asing untuk kita dengar. Sangat familiar. Anak-anak pun akan paham dengan sebait lirik tersebut. Sorak sorai suara rakyat Indonesia akan bergema dimanapun jika 17 Agustus telah datang. Pun atribut merah putih akan menghiasi seluruh tanah air. Berbagai perlombaan sampai pemberian macam diskon digelar demi memeriahkan semarak kemerdekaan. Euforia akan terasa di berbagai penjuru Nusantara. Menandakan suka cita menyambut hari lahir Indonesia. HUT RI begitulah rakyat Indonesia kadang menyebutnya. Kini 72 tahun sudah Indonesia terbebas dari belenggu penjajah. Setelah berjuang memerdekakan tanah air sampai titik darah penghabisan. Pahlawan.
Merekalah yang rela menumpahkan darahnya demi membela tanah air. Mengorbankan nyawa untuk menghancurkan para musuh. Merdeka!

Lalu setelah 72 tahun terbebas, sudahkah kita berhasil mempertahankan perjuangan para pahlawan terdahulu....
Apakah benar kita sudah merdeka? atau apakah benar kita sudah benar-benar merdeka? Jika ya, lalu apa yang sudah kita merdekakan? prestasi? penghargaan? Tidak bisa dipungkiri kalau sebagian dari generasi penerus bangsa memang saling berkompetisi untuk mengharumkan nama bangsa. Mengerahkan seluruh kemampuan maupun tenaga demi mencetak prestasi yang diinginkan. Apresiasi yang patut diacungi jempol. Tapi bagaimana jika kita berbicara tentang korupsi, narkoba, pelecehan, pemerkosaan, aborsi, kemiskinan, kelaparan, pembunuhan....
Sayang sekali ketidakseimbangan ini bisa terjadi. Ternyata kita masih "terjajah" dan belum sepenuhnya merdeka.

Miris.

Coba tengok sejenak saudara kita....
Masih ingat?
Beberapa pekan lalu bumi Palestina "kembali dijajah" zionis Israel. Untuk pertama kalinya dalam 59 tahun para zionis Israel melarang penduduk Palestina untuk beribadah di masjid Al-Aqsha. Masjid suci ke tiga di dunia.
Ya! Disaat kita masih terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, lihatlah saudara kita di bumi Palestina. Saling berjuang, saling mendukung satu sama lain untuk bersatu membela dan mempertahankan agama dan bumi yang diberkahi Allah, Palestina. Tak ada waktu untuk saling menyalahkan. Tak ada waktu untuk saling menjatuhkan. Tak ada korupsi, tak ada narkoba, tak ada waktu untuk merebutkan harta warisan, tak ada pemerkosaan, tak ada pelecehan, tak ada aborsi, tak ada pembunuhan….
Lantas kita?
Malu rasanya.

Puluhan tahun mereka terjajah tapi tidak dengan iman mereka. Sangat kuat, sangat erat, merekat di kalbu masing-masing. Dunia memang tau mereka terjajah tapi sebenarnya mereka sangat merdeka di jalan Allah.

Pernah mendengar pernyataan semacam ini? "Udahlah ngapain ngurusin negara orang lain. Mereka yang diserang kok kita yang repot. Urus aja negara sendiri."
Geram rasanya mendengar masih ada pernyataan semacam ini.
Hei, pahamilah....
Bagaimana jika kita adalah mereka, bagaimana jika Indonesia adalah Palestina. Tiap detik adalah ancaman kematian, bom layaknya hujan deras dan bukan masalah, suara tembakan tak ubahnya seperti kembang api biasa, tidak hidup dengan aman, tidak hidup dengan tenang, tidak hidup dengan nyaman. Jenazah seolah bangkai yang ditembaki oleh pemburu, tak ada harganya. Lantas Masihkah kita berani mengatakannya? Masihkah kita berani bicara urus diri sendiri? Tanyakan pada nurani....
Perlu diingat pula sejarah Palestina terhadap Indonesia. Mereka.
Mereka yang selama ini tertindas adalah yang pertama kali dan satu-satunya mendukung dan mengakui kemerdekaan Indonesia pada saat itu.
Indonesia, mayoritas muslimmu adalah yang terbesar di dunia, tapi merekalah yang mati-matian mengorbankan nyawa menjaga tempat suci umat islam itu.

Maka, menangislah Indonesia, menangislah untuk sebagian kesakitan ini....
Nyatanya jiwa kita masih terbelenggu oleh hasrat, nafsu maupun ego. Masih saling menyalahkan, saling berkomentar, saling tuduh, saling menghakimi, saling menjatuhkan, saling menghasut, saling mengadu domba, saling merasa benar, saling merasa hebat.
Sembuhkan diri dan bangkit untuk sebenarnya merdeka dari segala belenggu energi negatif.

MERDEKALAH SANG MERAH PUTIH, INDONESIA

din.
 

  • view 73