Pemahat Batu

Dimas Aditya
Karya Dimas Aditya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Pemahat Batu

Rindu ini makin memuncak, rasa haru ini bukan untuk citra. Siapa yang melihat memang? Berjalan dengan kepala plontos, mengenakan baju hitam bertuliskan rest in peace, dilapisi kardigan, aku mulai memahat relief pada seonggok batu besar berwarna biru, yang di atasnya duduk petapa tua yang tak peduli karena ia sudah melepaskan hasrat duniawi.

Sebelumnya aku harus menempuh perjalanan panjang penuh liku. Sempat kuhitung berapa cobaan dan rintangan selama perjalanan, kira-kira 8 cobaan, 18 hambatan, dan 325 rintangan. Sempat ingin berhenti di tengah jalan, karena nafas mulai terengah dan dada sesak. Mata mulai membias kehijauan, kemuning, lalu buncah dalam gelap namun gemerlap. Tiba-tiba tiga pasang tangan dengan sigap menahan tubuhku supaya tidak roboh, satu tangan mulai menggandeng dari samping kiri, sementara sisi kananku hanya dipegang tak bertenaga, namun pegangan itu sudah cukup membuatku tahu bahwa sisi kananku tidak kosong. Dan aku berjalan dengan topangan itu, seolah aku sudah mengenal lembutnya dan tegasnya tangan-tangan itu amat lama. Perlahan menghangat.

Sayup-sayup tak hanya tangan yang menemaniku, aku mulai mendengar sayup-sayup panggilan halus yang memintaku untuk membuka mata. Mata ini masih saja tertutup dan berat rasanya, serasa ada sejuta ton pemberat di bawah kelopak mata. Aku mulai berbisik dan mengeluarkan kata demi kata, bertanya siapa mereka. Aku buta, aku tak bisa melihat, tapi aku hangat, aku yakin ini kehangatan. Mereka terus menggandeng, mendorong, memegang halus, dan berbisik memintaku membuka mata,?aku tak bisa.? Aku menyaut dengan lemah.

Langkah ini tetap meniti jalan. Sesekali duduk dan tetap bersama tangan dan suara yang hangat. Berdiri dan kembali meniti. Suara itu mulai mengeras,?AKU BELUM BISA MEMBUKANYA!!!,? aku menjawabnya dengan keras pula. Tapi teriakan itu tak membuat tangan itu menjauh, masih tetap erat mendorong, menggandeng, dan memegang halus. Langkah terhenti, semilir angin menerpa muka, wangi basah mulai tercium, akhirnya tetesan air mulai menerjang halus,? ini gerimis,? gumamku. ?ya ini gerimis, dan kita tetap berjalan, semoga gerimis ini membantumu membuka mata,? jawaban yang entah dari tangan yang mana, tapi aku sepakat. Perlahan pemberat kelopak mata semakin ringan, aku terus berusaha membukanya. ?kita sampai bukalah matamu,? suara-suara it uterus mengkhawatirkanku.

Angin semakin kencang, sementara gerimis mulai berhenti. Segar rasanya, aku mulai duduk begitu pula tangan-tangan itu. Aku mulai bisa menggerakan mata ini,?aku siap membuka mataku, aku hanya tinggal berusaha sedikit lagi,? aku terus bergumam. Tak tahan rasanya ingin melihat siapa pemilik tangan-tangan hangat itu.

?Duaaaaarrrrrrrr???..? suara petir itu terdengar getir, dan merangsang mataku untuk membelalak dan terbuka lebar. Hei aku sendiri ternyata. Kemana tangan-tangan itu? Aku mulai mencari, terduduk dan menangis. ?mereka pergi?? aku berjalan dan mulai memahat batu berwarna biru dengan petapa tua di atasnya. Haru, namun aku tak melihat jejak apapun. Biarlah aku yang memahat batu ini dan meninggalkan jejak, membawa kehangatan tangan-tangan dan suara-suara yang mendorong, menggandeng, dan memegang halus.

Sampai tiba saat aku akan kembali terpejam, mungkin mereka akan kembali, dan mendorong, menggandengan, memegang halus, dan berbisik dengan hangat,?kita sudah sampai dan kita berhasil BERSAMA.?

Aku rindu kalian

  • view 163