Bekunya PSSI dan Keterlanjuran menjadi Mojokisme

Dimas Aditya
Karya Dimas Aditya Kategori Lainnya
dipublikasikan 31 Januari 2016
Bekunya PSSI dan Keterlanjuran menjadi Mojokisme

Sepak Bola telah diamini oleh semua mahluk seantero dunia, sebagai olahraga kecintaan. Seorang anak yang lahir di kota Milan, akan di adzani dengan chant ala tifosi. Sampai mereka akil baligh, saat itulah pilihan harus ditentukan. Mazhab mana yang akan ia ambil, untuk menyebut nama Stadion kecintaan itu sebagai San Siro atau Giuzeppe Meazza. Semenanjung kota Liverpool, punya drama lebih ideologis. Pertentangan antara kaum buruh pabrik dan para nelayan memecah kota menjadi dwiwarna. Merah-Biru.

Indonesia juga punya kecintaan yang dalam terhadap olah raga ini. Terbukti sejak kang emil mencukur habis rambutnya untuk merayakan kemenangan maung Bandung, ia telah berhasil membuat semua orang di Jawa Barat Hakkul Yaqin untuk menjadikannya Gubernur bahkan Presiden. Ini bukti lur, Kang Emil menempatkan kecintaannya pada hal yang tepat. Cinta mati Jawa Barat. Persib. Tapi lur kalau kita mau berkaca pada sejarah. Bangsa ini seharusnya lebih mencintai Tinju atau Bulu Tangkis. Karena kedua cabang olahraga inilah yang cukup rajin menyumbangkan prestasi kelas dunia. Katakanlah bulu tangkis bukan olah raga yang populer di Dunia, paling tidak liriklah Tinju. Di Negara-negara maju, olah raga ini tergolong sebagai cabang bergengsi. Namun entah mengapa jarang diminati disini (Indonesia), kendati demikian Tinju dengan senyap acap kali mengirimkan putra bangsa untuk melingkarkan sabuk juara Dunia di pinggangnya-kadang di pundak.

Maka dari itu jangan terlalu sedih jika Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dibekukan, dan Liga Indonesia tak jua bergulir. Ada Tinju. Bersandarlah di bahunya, siapa tahu bisa meredakan segala amarah dan kesedihanmu. Mari move on dari sepak bola. Memang benar olah raga si kulit bundar ini telah memberikan kebanggaan terhadap bangsa Indonesia. Bahkan sejak era kolonial, dengan masuk piala dunia tahun 1938 dengan nama Nederlandsche Indische Voetbal Unie (NIVU). Tapi lur, masuk saja tak tjukup keleus. Hari-hari selanjutnya, setelah Negara ini berdaulat adil dan makmur tim nasional yang berada di bawah naungan sang Garuda tak lagi mampu mencicipi megahnya Piala Dunia.

Medali perunggu di ajang Asian Games 1958 di Tokyo Jepang ialah prestasi Sepak Bola Indonesia dalam skala Regional Asia. Setelah itu. Tinggal kelukaan. Saat Ribut Waidi menyarangkan gol ke gawang Malaysia pada tahun 1987 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, disanalah kali pertama Indonesia menjadi juara. Meskipun hanya untuk kawasan asia tenggara. Ini tak boleh dinegasikan. Tapi di tahun yang sama Sebenarnya Elyas Pikal telah memasuki tahun ketiganya memegang sabuk juara dunia. Sepak Bola kembali meraih medali emas di ajang Sea Games 1991 yang dihelat di Manila, Filipina. Setahun sebelumnya Pino Bahari petinju amatir kelahiran 1970 ini telah menyumbangkan medali emas di ajang yang lebih besar, Asian Games Beijing 1990.

Mau mengelak bagaimana lagi, prestasi Tinju apalagi yang engkau dustakan, lur? Sejak era itu, Sepak bola tak lagi berbuat banyak, sementara Olah Raganya Mohamad Ali ini terus menyumbangkan prestasi. Sungguh lur, kita harus benar-benar move on. Dan Tolong jangan jadikan pahlawan kami sebagai model minuman energy, karena itu akan merusak citranya. Datanglah ke pertandingan tinju selaiknya kita datang ke stadion sepak bola. Beli tiketnya, jangan minta gratis.

Sesungguhnya kita telah lama berlaku dzalim terhadap cabang olah raga tinju ini. Tetiba saja, kita mengenal chris Jhon sebagai juara dunia tanpa mengikuti proses perebutannya. Tak ada satu pun stasiun televisi nasional yang menyangkan pertarungannya dengan Oscar Leon dari Kolombia pada 26 September 2003 di Bali. Perlakuan ini sungguh tidak adil. Bahkan turnamen (pengganti) seperti Piala Presiden, Piala Jendral Sudirman, disiarkan secara eksklusif oleh RCTI dan NET TV. Ini tentang rating lur, maka dari itu ayo kita buat tinju memiliki rating yang tinggi. Tapi sedemikian turnamen yang hanya sebagai pelipur lara itu mendapat respon yang gegap gempita dari khalayak. Tolong pikirkan juga perasaan Tinju yang tak kunjung mendapat dukungan publik, bahkan saat banyak sasana tinju yang tutup karena kekurangan modal, tak ada aksi solidaritas yang massive. Ini kedzaliman lur.

  • view 94