TERBANG LAH KETEMPAT YANG KAU INGINKAN

Dika Riyanti
Karya Dika Riyanti Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 26 Oktober 2016
TERBANG LAH KETEMPAT YANG KAU INGINKAN

Aku tidak pernah menyesali semua yang telah terjadi dalam hubungan kita. Aku juga tidak ingin menangisi kisah hidup ku, bukan karena tak ingin. Semua karena ku fikir tak ada gunanya. Bagiku bertemu dan mengenal mu bukan lah sebuah kesalahan. Hanya saja cara kita mengawalinya yang penuh dengan kesalahan. Aku mengerti kenapa hingga detik terakhir aku tak pernah tahu akan perasaan mu. Akankah kau benar – benar mencintai ku ?

4 tahun yang lalu , kita dipertemukan disebuah tempat yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Waktu lah yang akhirnya membuat kita bersama – sama. Apakah kamu tau, saat kau masih bersamanya , aku sudah mulai memiliki rasa ini. Setiap hari aku merasakan kebahagiaan , aku seperti menemukan kenyamanan bersama mu. Sayangnya , aku sadar bahwa itu hanya sebatas perasaan milikku saja. Apakah kau tau, bagaimana perasaan ku untuk memberanikan diri bertanya tentang mu , tentang perasaanmu dan tentang arti semua ini. Kau mungkin tidak pernah mengertin perasaan ku , kau mungkin tidak akan pernah merasa kesedihan yang kurasa dan kau tak pernah benar – benar mengerti betapa lelahnya aku menghadapi dan untuk tetap bersama mu.

Engkau masih memperlakukan sama, tetap baik dan tetap manis seperti biasanya. Namun hari itu , saat kau mengatakan memiliki perasaan kepadaku namun disatu sisi kau masih menyayangi kekasih mu. Apakah kau pikir aku akan bahagia, apakah semudah itu bagimu dan se enteng itu bagimu sebuah perasaan wanita. Jujur aku tak sedikit pun merasakan kebahagiaan, yang aku fikirkan adalah aku seperti melakukan sebuah kejahatan dan kebodohan. Aku tahu melepaskan seseorang memang tidak gampang, namun ketika kau tak tahu hati itu akan dilabuhkan untuk siapa begitu menyakitkan.

1 Tahun berlalu, hingga akhirnya kita benar – benar dalam kapal yang sama. Setelah semua masa lalu yang kau lepaskan , dan kita masih tetap sama. Hubungan ini selalu saja indah bagiku. Perasaan ini pun semakin berkembang, aku semakin tak bisa melepaskanmu. Dan akhirnya hari itu pun tiba, setelah 2 tahun kita bersama. Di tepi pantai itu , kau pun memintaku untuk mengarungi lautan kehidupan bersama mu, untuk menjadi anak menantu bagi orang tua mu dan menjadi ibu  bagi anak – anak mu. Kebahagiaan yang begitu luar biasa bagi ku, bukan karena kau meminang ku dengan seikat bunga mawar , ice cream dan cincin indah itu. Tapi karena kau memintaku untuk seutuhnya menjadi bagian hidup mu.

Hingga hari itu pun tiba, dimana kita mengikat janji untuk sehidup semati, melihat mu yang tengah berdiri dihadapanku. Melihat mu tersenyum manis dan menggenggam tanganku. Rasa syukur , haru dan bahagia ku pada tuhan. Perjalanan kisah kita yang begitu berliku. Tuhan terima kasih karena telah menyatukan kami untuk bersatu dan mengikat janji dihadapanmu. Masih kah kau ingat lagu itu, lagu yang pernah kau hadiahkan untukku,, dan sebuah lagu yang kuhadiahkan untuk mu,, sebagai rasa bahagia ku. Hingga saat ini aku masih bertanya apakah lagu itu dari hati terdalam mu seperti hal nya aku.

Sejak hari itu, kita habiskan waktu bersama – sama. Suka dan duka pun hadir dalam kehidupan kita. Cobaan kebahagiaan dan kesabaran pun telah kita lewati. Engkau memperlakukanku dengan sangat baik. Meskipun terkadang kusadari, itu menjadi cibiran dari sahabat ku karena latar belakang kita yang berbeda. Sayang, terima kasih untuk tetap sabar disampingku. Rasanya aku sudah bahagia dengan apa adanya dan aku sudah sangat bahagia hanya dengan tidur di dada dan lengan mu stiap malam. Semua hal berat yang telah kita lewati terbayarkan sudah. Hingga akhirnya, aku merasa benar – benar bahagia, setelah 6 bulan pernikahan kita , aku menjadi wanita dan istri seutuhnya bagimu. Anak yang sama – sama kita idamkan sebentar lagi akan hadir ke dalam keluarga kecil kita.

Hari – hari ku semakin bahagia, hingga diusia 6 bulan  kehamilan ku. Siang itu rasanya seperti teersambar petir disiang bolong. Mendengarkabar tentang mu. Aku hanya bisa menangis dan tak tau harus mempercayai siapa. Mempercayai orang lain atau suami yang telah hidup bersama ku dan akan menjadi ayah bagi anak ku. Sekuat hati untuk ku mempercayaimu, yang kau lakukan hanya meminta ku percaya. Namun ketika ku meminta kepastian akan kebenaranya , yang kau lakukan hanya marah tidak menyakinkanku , mengiakan atau bahkan menyangkalnya. Apakah ini karma, atau memang kesalahan ku telah memilihmu. Kesalahanku yang sebenarnya karena mengikuti perasaanku saja hingga akhirnya begini. Apakah memang itu dirimu sebenarnya, baik terhadap semua orang terlebih lagi teman wanita. Termasuk dulu kebaikan mu pada ku, sebagai rekan kerja mu. Apakah ini akhirnya. Namun sepertinya aku benar – benar tak sanggup lagi. Jika kuingat semuanya sejak 4 tahun yang lalu dimulai saat pertemuan kita. Ini keputusan berat bagiku apalagi aku tengah mengandung anakmu. Tapi bagiku ini lebih baik dari pada anak kita hidup ditengah kebohongan. Maafkan aku sayang, biarlah anakmu ini sebagai kenangan indah kita dan menjadi caraku melihatmu. Kuiklaskan engkau pergi , meskipun engkau memintaku tetap bertahan . Aku tak tahu harus bagaimana lagi mengontrol hati ini, cara terbaik adalah menyerah untuk bersama mu

 

Dear suamiku,

Sesungguhnya aku masih mencintaimu, tapi sepertinya ini saatnya aku melepaskanmu dan merelakanmu pergi. Ini saatnya aku menyerah, Kita sudah berakhir. Aku tidak ingin lagi terluka karenamu . Aku ingin berhenti sekarang. Meski kau berjanji untuk tak menyakitiku lagi tapi aku tidak percaya padamu. Akankah kita bisa bersama – sama lagi. Hari ini aku telah memantap kan hati untuk menyerah bersama mu. Jika kita memang di takdirkan bersama , biarlah dengan cara tuhan menyatukan kita kembali.

 

  • view 285