Kampung Perampok 2 - Menaklukan rindu

Didin Anandi
Karya Didin Anandi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Maret 2017
Kampung Perampok 2 - Menaklukan rindu

Aku masih terdiam, untuk beberapa saat percakapan diantara kami menjadi hening.

“Maaf aku bukan bermaksud kurang sopan, sudah menyela, aku terkejut saja dengan nama negeri itu, beberapa tahun yang lalu aku sempat berkunjung kesana.” Jo memulai lagi percakapan dan membuyarkan keheningan.

“Tak apa” aku melemparkan senyum.

“Tapi bila tak keberatan untuk urusan apa kau datang ke Pancala?” aku penasaran.

“Mari kita bicarakan didalam, kawan. Secangkir teh hangat akan menjadi sahabat terbaik menemani percakapan kita.”

Kami berdua memasuki kedai, beberapa orang yang duduk didekat pintu kedai spontan melihatku, tentu saja, mukaku terlihat asing bagi mereka. Tapi mereka tetap ramah terhadap orang asing, mereka melemparkan senyum dan beberapa menyapaku. Benar yang dikatakan wanita itu, negeri ini tak seperti namanya, perampok, justru negeri ini memiliki penduduk yang sangat ramah dan bersahabat.

“Silakan duduk”

Jo mempersilakanku duduk, persis ditempat paling ujung, pojok ruang. Barangkali ini akan sedikit mengurangi rasa canggungku, setidaknya aku tak harus menjadi pusat perhatian dengan wajah asingku.

Tak lama kemudian pelayan kedai menghampiri kami. Jo langsung memesan dua cangkir teh hangat untuk menemani perbincangan kami, sesuai yang ia katakan didepan pintu kedai.

“Oh iya kawan, aku hampir lupa, siapa namamu tadi? Bahkan kau belum sempat menyebutkan namamu tadi.”

Jo tertawa membuat orang didekat meja kami saling menengok. Mereka tetap terlihat ramah, tersenyum dan sedikit membungkukan badan, akupun demikian membalas senyuman dan membungkukan badan.

“namaku Ahmad Jalal, kau bisa memanggilku Ahmad atupun Jalal”

“Baik, senang bisa berkenalan denganmu, Jalal.”

Jo kembali melemparkan senyumnya, bertepatan dengan pelayan datang ke meja kami menghantarkan pesanan.

“oh iya, bagaimana dengan tadi, untuk sebuah urusan apa kau pernah mengunjungi Pancala? Urusan bisnis? Bertemu teman lama?”

Aku memasang wajah penuh penasaran.

“tebakanmu salah semua kawan.” Dia tertawa

“Dulu sebelum negeri ini damai seperti sekarang, tepatnya lima tahun silam, negeri kami dilanda krisis, makanan, air bersih, pakaian layak, sulit ditemukan di negeri kami. Dengan kebutuhan yang tak bisa ditunda, penduduk kehilangan akal sehat, berbuat apa saja yang penting kebutuhan mereka terpenuhhi, bahkan tak jarang mereka membunuh dan merampok keluarga dekat mereka sendiri. Dulu memang nama negeri ini sangat cocok dengan penduduknya. Tapi itu dulu, sekarang bisa kau lihat sendiri, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat.

Untungnya tak semua penduduk kehilangan akal sehatnya, termasuk aku. Kami melakukan perjalanan ke timur, sempat singgah dibeberapa negeri. Kami hidup nomaden seperti manusia purbakala.”

Jo mentertawakan dirinya sendiri kala itu, aku hanya melempar senyum.

“sampai akhirnya kami tiba di negeri asalmu, Pancala.”

“Lantas dari situ kau mengenal Maneka?”

Aku menyela cerita Jo, tak sabaran dan penasaran. Dia tersenyum, negeri ini memang dihuni orang – orang yang amat ramah, walaupun beberapa detik lalu, setidaknya aku tau nama di gapura itu bukan hanya untuk sekadar mengelabui, tapi juga memiliki historis tersendiri.

“Aku mengenalnya saat aku kehabisan perbekalan dan mencoba untuk mencari pekerjaan serabutan, berjam – jam aku menawarkan diri untuk sekadar mencuci piring dan gelas dikedai, sampai menawarkan diri untuk menjadi kuli panggul, tapi kondisinya tidak tepat, ternyata Pancala dikala itu sedang sama – sama dalam kondisi krisis.”

“Ya kau memang benar, itu menjadi salah satu alasanku mengembara sampai saat ini, Jo.”

“Tapi sekarang kondisi Pancala sudah berubah, seiring berjalannya waktu, orang – orang mulai membangun sistem yang baru, yang lebih tertib, teratur dan mampu menghidupi setiap sendi dan sektor kebutuhan penduduknya, walaupun tak sesignifikan negeri ini.”

“Oh ya?” Nadaku menunjukan kaget dan cukup terperanjat.

“Sepertinya kau memang belum pernah kembali ke negerimu sedari saat pertama kali kau mengembara, Jalal.” Jo menepuk pundakku dan melemparkan senyum. Beberapa detik percakapan kami hening. Sampai pertanyaanku memecahkan keheningan.

“Lantas bagaimana selanjutnya pertemuanmu dengan Maneka?”

“setelah berjam – jam aku mencari pekerjaan sampingan, aku memutuskan untuk menyerah dan berteduh dibawah sebuah Menara. Tiba – tiba ada seorang wanita datang menghampiriku.”

“Ada yang bisa aku bantu, tuan? Sepertinya anda memerlukan bantuan.”

Sapaan pertama kali Maneka, Jo menjelaskan.

“Aku langsung bersujud ke kakinya dan memohon meminta pekerjaan. Sontak wanita itu langsung kebingungan, setelah sedikit perbincangan, dia memintaku untuk membantu membawakan kendi – kendi berisi air dari sumur ke rumahnya, meskipun jarak sumur dan rumah memang cukup jauh, tapi mau bagaimana lagi, aku dalam kondisi terjepit. Sambil berjalan kami sempat bercakap – cakap dan disitulah aku berkenalan dengan Maneka.”

Mendengar cerita Jo, aku menjadi ingat sahabat dekatku dari kecil, Maneka. Wanita yang selalu punya cara untuk menghiburku ketika aku memasang muka muram, pikiranku mengenang masa lalu dan sedikit bernostalgia. Sampai perkataan Jo selanjutnya mendadak memberhentikan lamunanku.

“Sepertinya Maneka merindukanmu, Jalal.”

Aku menengok ke arah Jo dan menatapnya dengan muka penasaran.

“Ya, Jalal. Dia merindukanmu, ketika kami bercakap – cakap dalam perjalanan membawa kendi – kendi itu, dia menceritakan kerinduannya pada seorang sahabat kecilnya, ketika aku bertanya siapakah sahabat kecilnya, dia mendadak berhenti mendadak, menatap langit yang mulai menelan senja dan meninggalkan semburat merah di langit. Ingatanku masih mengingat ekspresi di wajahnya, penuh harap, rindu, sambal ia berkata bahwa sahabatnya sedang melakukan pengembaraan sejak enam bulan yang lalu. Kau sahabat kecilnya bukan?

Aku tak menjawab pertanyaan Jo, aku hanya terdiam dan teringat sahabat kecilku itu. Masih dalam lamunanku, tiba – tiba seseorang datang menghampiri meja kami.

“Ayo Jo sebentar lagi pertandingan dimulai, kita harus bersiap – siap.”

“Berilah aku waktu beberapa menit lagi dengan kawan baruku ini.”

Jo melirik kepadaku, diikuti lirikan kawannya yang kemudian melemparkan senyum padaku.

“Baiklah, tapi ingat kau jangan telat lagi seperti pertandingan sebelumnya.”

“Iya kawan, aku janji tidak akan telat lagi kali ini.” Jo tertawa kemudian meminum secangkir teh yang dipesan diawal.

“sepertinya aku harus meninggalkanmu lebih awal Jalal, hari ini ada pertandingan sepak bola antar komplek, dan aku menjadi salah satu pemain intinya, ya walaupun aku tak begitu jago dalam hal skill, tapi badanku cukup kekar untuk menghalau lawan – lawan yang coba menyerang gawang kami.”

Jo tertawa kemudian pergi setelah satu dua kalimat percakapan kami. Aku sekarang memutuskan mencari tempat peristirahatan sementara, aku berpikir barangkali aku tak akan cepat – cepat meninggalkan negeri ini. Masih banyak yang ingin aku ketahui, termasuk bagaimana negeri ini bisa menjadi maju sepesat ini, jika memang benar dulunya nama yang terpampang di gapura itu bukan hanya sekadar lelucon, tapi begitulah adanya. Kampung Perampok.

Aku membayar secangkir teh yang aku pesan sekaligus menanyakan tempat peristirahatan terdekat dari sini, lagi – lagi aku dibuat kaget sekaligus kagum oleh negeri ini, khusus orang – orang sepertiku ang sedang mengembara, kedai memberikan diskon 50% harga normal. Aku amat bersyukur, setidaknya bisa menghemat pengeluaranku dan bisa sedikit berlama – lama di negeri ini sampai tanda tanya tentang negeri ini di kepalaku, bisa terjawab dengan sendirinya.

Setelah membayar dan keluar kedai, aku langsung menuju tempat peristirahatan terdekat sesuai petunjuk pelayan kedai. Aku memesan kamar normal, dan lagi – lagi, hotel ini pun memberiku diskon 40% harga normal. Aku segera diantar ke kamarku oleh petugas hotel. Aku buru – buru merebahkan tubuhku diatas Kasur yang empuk, setelah lima hari yang lalu aku merebahkan tubuhku diatas dedaunan dan beratapkan langit dengan taburan bintang – bintang, membentuk sebuah rasi yang menunjukan arah, kemana aku harus pergi keesokan harinya.

Aku selalu senang merebahkan tubuhku seperti ini, melupakan sejenak kepenatanku, mengosongkan pikiran, dan berusaha agar tidak memikirkanmu. Siapa yang aku pikirkan? Siapa lagi kalau bukan dirimu, Alina.

Rindu memang kadang muncul seenaknya, tak mengenal tempat, tak mengenal waktu, begitulah rindu. Bahkan rindu tak hilang meski aku berjalan berpuluh – puluh kilo kedepan, tak hilang meski aku meninggalkannya menjadi sebuah kenangan, meninggalkannya jauh dibelakangku, rindu selalu punya cara untuk menemukan tuannya. Aku sangat berpengalaman melakukan pengembaraan, berpengalaman menaklukan badai, menaklukan medan yang terjal, menaklukan derasnya air sungai, bahkan aku pernah menaklukan hewan buas yang menghalangi perjalananku, tapi aku tak pernah bisa dan tak pernah sanggup untuk menaklukan rinduku padamu, Alina.

 

[Bersambung …..

  • view 96