Kampung Perampok 1

Didin Anandi
Karya Didin Anandi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Maret 2017
Kampung Perampok 1

Kau tau perasaanku sekarang? Aku amat senang, dan kata bahagia saja tak cukup untuk mendeskripsikan rasa syukurku. Tenang. Kosong.

Akir – akhir ini. Malam. Bintang – bintang dilangit semakin indah saja melukis wajahmu, kau tau, Alina? Kau semakin hari semakin menawan saja, kau tambah elok. Sungguh aku tidak sedang membual, dan tidak pula sedang berselera untuk sekadar becanda. Kalimat mana yang menunjukan aku sedang becanda?

Aku senang Tuhan memberikanku tugas demikian, menyampaikan rindu bahkan cinta mungkin kepada seorang wanita sepertimu. Barangkali aku terlihat seperti sedang membual, tapi aku takan menarik kata – kataku, Alina. Laki – laki sejatinya takan menarik kata – katanya bukan? Karena ini sudah menjadi peranku.

Bagaimana dengan sanggar tarimu yang sekarang, Alina? Aku selalu terpesona ketika melihatmu menari gemulai diatas arena sana. Aku bahkan ingat betul busana khas tarianmu, masih warna yang sama, dengan warna dasar kuning keemasan dengan sedikit corak kehitaman, pernak – pernik yang persis menghias sepanjang lingkar lehermu, rumbai – rumbai berwarna merah juga menghias sepanjang lingkar pinggulmu, dan yang paling khas adalah corak kain batik mega mendung yang menempul dibagian lengan. Aku amat menghafalnya, Alina.

Ngomong – ngomong kau amat menyukai peranmu yang sekarang bukan? Tentu saja pesan yang disampaikan merpati ketika pagi hari tak pernah keliru, aku selalu mengerti bahasanya. Bahasa yang kami gunakan sebagai sesama bagian dari alam, yaitu dengan bahasa alam, instinc.

Oh iya Alina, aku amat lelah, perjalananku seminggu yang lalu cukup menguras tenaga dan pikiran, sebelum akhirnya aku tiba dan bermukim sejenak di ketinggian diatas 2134 mdpl ini. Amat menyenangkan berada disini, sepi, senyap, tenang, tidak ada bising, tidak ada gaduh, dan tidak ada nyanyian – nyanyian yang membuat telingaku berdengung disusul dengan kepalaku terasa pening. Yang ada hanya nyanyian burung – burung ketika pagi hari, dan nyanyian jangkrik di malam hari. Begitu syahdu, Alina.

Tepat ketika mentari berada segaris lurus 10 cm diatas keningku, aku memulai kembali pengembaranku. Gunung, lembah, sungai, air terjun, tundra, savanna, bahkan sampai tebing curam hingga jalanan yang dipenuhi semak belukar setinggi dagu, itu sudah menjadi hal yang biasa dalam perjalananku mengembara. Namun kali ini aku dibuat kaget ketika semak – semak terlintasi, ada sebuah gapura yang bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Perampok”, aku menelan ludah dan masih dalam kebingunganku, jelas – jelas aku yakin posisinya masih berada di tengah hutan,  tapi ada suatu permukiman, ini sangat ganjil bagiku, ditambah kalimat sambutan yang tak seperti biasanya gapura – gapura di perkampungan lain. Aku memutar arah kudaku, namun dibalik arah, ada seorang wanita yang memiliki perawakan sedang tersenyun menatap ke arahku. Badannya tak kurus juga tak gemuk, tingginya sekitar 159 cm.

“Jangan takut tuan, tulisan di gapura itu hanya cara kami mengelabui agar tak sembarang orang masuk ke perkampungan kami, kami khawatir ada orang yang berniat buruk masuk ke perkampungan kami, terlihat dari muka tuan, tak ada sedikitpun menunjukan tampang – tampang seorang berandalan apalagi perampok”  dia tertawa.

Aku masih terdiam mematung, sampai akhirnya wanita tadi berjalan ke arah gapura.

“Mari tuan, kuantar ke tempat peristarahatan yang tak jauh dari sini” senyumnya kembali terlempar, kali ini tampak jelas lesung pipitnya, gigi gingsulnya sedikit terlihat dari kumpulan gigi – gigi kelincinya.

Aku masih ragu dan kembali menelan ludah. Aku berpikir bisa saja wanita ini ingin menipuku dan membawa aku ke kumpulan orang – orang jahat. Lamunanku buyar ketika wanita itu berseru.

“Jangan takut tuan, aku takan membawamu ke segerombolan tukang copet apalagi perampok, hanya namanya saja yang perampok, kampung ini dihuni oleh orang – orang yang baik dan santun, lagian apakah mukaku ini terlihat seperti seorang pencuri.” Dia kembali tersenyum, kali ini lebih lebar lagi, andai itu senyumanmu, Alina. Aku yakin saat itu kau sudah berganti profesi menjadi pencuri, pencuri hati sang pengembara.

Simpul tawaku kini sedikit terbuka, meskipun masih disertai rasa ragu dan khawatir, aku memberanikan diri memasuki gapura, walaupun jantungku masih berdegup aga kencang dari biasanya.

Aku kembali tertegun, ketika setengah dari badan kudaku memasuki gapura. Bagaimana aku tak kaget ketika melihat gedung tinggi pencakar langit, apartemen mewah, dan beberapa bangunan elit lainnya muncul dihadapanku, di tengah hutan. Aku berpikir ini pasti mimpi, aku mencubit hidungku yang tak begitu mancung.

“Aw” aku berteriak kesakitann Karena telah mencubit hidungku sendiri.

Wanita itu kembali tertawa. “Ini bukan mimpi tuan, ini memang nyata, itulah sebabnya gapura itu tertulis demikian, Karena kami tak ingin sembarangan orang memasuki negeri kami, apalagi orang – orang yang memiliki niat jahat, setidaknya ide kami cukup berhasil, tadi tuan sempat takut dan memutar arah bukan.” Wanita itu terlihat puas dengan gelak tawanya .

Setelah beberapa meter, tibalah aku disebuah kedai yang terlihat cukup sederhana namun tak menghilangkan kesan mewahnya. Wanita itu tepat berhenti didepan kedai.

“Nah tuan, anda bisa beristirahat sejenak di kedai ini sebelum tuan hendak melanjutkan perjalanan kembali.”

Aku masih mengamati sekitar dan orang – orang didalam kedai, tampak sekumpulan lelaki berbadan kekar mengelilingi sebuah meja yang cukup besar, kelihatannya mereka sedang berjudi. Kembali suara wanita itu membuyarkan lamunanku.

“Tenang saja tuan, mereka hanya berjudi biji kemiri, tak seperti yang kau bayangkan perjudian di negeri – negeri lain.” Aku masih terdiam memperhatikan.

“Baiklah tuan, aku rasa cukup sampai disini aku mengantar tuan, aku harus segera memberikan ramuan obat – obatan ini kepada nenekku.” Sambal dia menunjukan beberapa daun dan rempah – rempah di keranjangnya. Ini juga amat ganjil bagiku, sungguh aneh, negeri semegah dan semewah ini masih ada penduduk membuat obat – obatan dari bahan – bahan tradisional, aku semakin tanda tanya besar dengan negeri ini.

“Oh iya, jika kau memerlukan bantuanku lagi, aku tinggal di rumah dekat monumen tua itu.” Dia menunjuk sebuah menara yang cukup tinggi. Ketika aku melihat ke arah wanita tadi, dia sudah berlari kecil meninggalkanku, roknya sedikit menyapu debu di jalanan dan menyimbak angin didepannya.

“Aduh” aku menepuk dahiku, kenapa aku tak sempat menanyakan namanya.

“Hei sobat” seseorang dari arah pintu kedai memanggilku. Aku pun menoleh, memberi senyum dan membungkukan sedikit badanku, sebagai penghormatan dan sapaan dari orang asing sepertiku.

“Kemarilah, masuklah dan bergabung dengan kami”. Tangannya melamnbai mengajakku masuk kedalam kedai.

“Kami sedang berpesta, dan sedikit mengadakan acara minum – minuman.”

Minum? Tanyaku dalam hati, oh Tuhan apa ini.

Lelaki itu tertawa melihat ekspresi wajahku “tenang saja tuan, pesta minum – minuman ini sedikit berbeda, kami hanya berpesta minuman susu sapi, madu dan juga gula aren.”

Sungguh aku semakin bingung dan semakin penasaran dengan negeri ini, seperti dongeng penghantar tidur ketika usiaku masih lima tahun. Setelah mengalami langsung, aku baru percaya, ibuku tidak sedang mengada – ada apalagi berbohong, negeri seperti dalam dongeng itu memang ada.

Aku memutuskan untuk masuk dan bergabung, aku melangkah masuk, lelaki itu mengulurkan tangannya “Namaku Jo, Johan Matulessy, orang sini biasa memanggilku dengan sebutan Jo atau Mat.”

Kini giliranku memperkenalkan diri “Aku pengembara dari timur, negeri Pancala, namaku ….”

Lelaki itu segera menyela “Negeri Pancala? Kau kenal dengan Maneka?”

Aku tertegun, bagaimana dia tau salah satu wanita yang cukup dekat denganku sewaktu kecil. Negeri ini semakin menyimpan banyak tanda tanya dan misteri, mulai dari namanya, tempatnya, kebiasaannya, bahkan orang – orangnya.

 

[Bersambung…….]

  • view 134