Etika yang Anda Anggap Tidak Penting dalam Kehidupan

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 13 September 2018
Etika yang Anda Anggap Tidak Penting dalam Kehidupan

Saya ingin menjabarkan beberapa cara bergaul (bersosialisasi) dengan orang lain. Semua pengetahuan ini saya dapatkan dari hasil pengalaman, dan bisa jadi ada kemiripan dengan sejumlah referensi yang pernah Anda baca.

Cara bergaul dengan nilai dan norma adalah yang utama, meski tidak terlalu berpengaruh banyak jika benar-benar sudah mengenal siapa teman/rekan/sahabat Anda tersebut.

Masalah sebagian orang Indonesia dalam bergaul adalah selalu menyamakan diri dan lingkungannya dengan orang lain. Sepele? Memang terdengar seperti itu, tapi bagi orang lain belum tentu sepele. Ini yang disebut banyak sekali orang pintar secara akademis, tapi super goblok secara emosional.

Kita terlalu sering menyentuh sisi sensitif seseorang dan menjadikannya sebuah permainan. Pertanyaannya: "Apakah seseorang yang dijadikan 'mainan' itu layak mendapatkan perlakuan seperti itu?"

Renungkan, dan tanya kepada diri sendiri, seberapa sering Anda bertingkah brengsek kepada orang lain? 

*** 

Ilustrasi:
Fredi adalah teman Doni. HANYA TEMAN. Fredi tak mengenal kehidupan Doni, hanya tahu nama masing-masing, begitu pula sebaliknya.

Suatu kali, Fredi bercanda tentang banyak hal yang tak perlu, sehingga--entah sengaja atau tidak--mempermalukan Doni di depan orang lain. Fredi menganggap hal itu wajar karena mereka adalah teman. 

Doni menganggap hal itu tidak wajar, karena mereka hanya teman, tak banyak mengenal selain hanya bertemu di tempat kerja. Parahnya Fredi terus-terusan mengulang candaan itu berulang-ulang di depan orang lain dengan maksud dan tujuan yang belum jelas.

Renung dan pikirkan: "Apakah Doni pantas mendapatkan itu semua? Ataukah dia harus membalas?"

Jika semua orang berpikir Doni harus membalas, maka yang terjadi adalah anti klimaks. Ia tetap pada sikap sederhana, tidak bereaksi berlebihan, dan terus menerus berbuat baik, karena itu akan menjadi sebuah pembeda antara bajingan dengan pahlawan.

*** 

Ilustrasi di atas, saya yakin Anda semua pernah mengalaminya. Perbedaannya hanya pada peran, siapa yang menjadi Fredi atau Doni, ah, lebih tepatnya bagaimana Anda memilih untuk menjadi satu di antaranya.

Baik, saya akan berbagi cara praktis bergaul dengan orang lain tanpa meninggalkan kesan buruk.

1. Berpegang teguh pada ajaran agama.
Saya yakin, apa pun agama Anda, pasti tidak diajarkan untuk merendahkan orang lain, bukan? Pelajari baik-baik, dan Tuhan akan membimbing kita ke jalan yang benar.

2. Meyakini bahwa setiap orang berbeda.
Dengan kesadaran seperti ini, kita mampu fokus untuk mengantisipasi reaksi orang lain yang tidak diinginkan akibat "api" yang kita nyalakan dengan kebodohan.

3. Mengatur kata-kata.
Banyak orang mengaku mampu mengatur waktu dalam hidupnya, mampu mengatur keuangan, dan sejenisnya. Tapi belum tentu sanggup mengatur kata-kata agar tidak menyakiti orang lain. Jika Anda punya kesadaran dan kemauan untuk mengatur huruf demi huruf sebelum keluar dari mulut, saya yakin--berdasarkan pengalaman--tidak akan ada orang terluka hatinya dikarenakan lidah Anda.

4. Lebih baik diam daripada omong kosong.
Ada pendapat menyebutkan bahwa berbicara panjang lebar itu susah, hanya bisa dilakukan oleh motivator, trainer, dan sejenisnya.  Tapi, tahukah Anda? Diam di saat Anda ingin sekali marah, mengejek, atau melukai seseorang adalah hal yang lebih sulit. Maka saya menyarankan ketika Anda bertemu orang lain yang hanya sekadar "teman" (tak tahu bagaimana Anda menjalani hidup), sebaiknya tak perlulah melontarkan suatu perkataan atau sikap yang beresiko merusak suasana. Lebih baik diam daripada harus menjerumuskan diri Anda ke dalam dosa, dan membawa orang lain berdarah-darah di dalamnya.

*** 

Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya tuliskan, mungkin lain waktu, dengan tema yang lebih segar serta kasus aktual dalam kehidupan sehari-hari. 

Tulisan ini tak ubahnya nasihat bagi diri saya sendiri yang merupakan tempatnya lupa dan salah. Mohon maaf jika ada kekurangan.

----
Pontianak, 13 September 2018
Dicky Armando, S.E.
*
Sumber thumbnail/gambar utama: desain pribadi.

  • view 57