Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 22 Maret 2018   13:05 WIB
Puisi Ngesot

Syahwat politik menguasai selangkangan Doni, ereksinya bukan main, menonjol ke mana-mana. Bekas-bekas spermanya menetes di seluruh provinsi di Red Bull Nation. Sempat terkenal dengan lembaga survei yang berdiri dengan dana asing untuk menggiring opini publik ke calon presiden tertentu beberapa tahun lalu, ia jadi kaya raya, tapi belum puas juga. Doni ingin merasakan kursi di mana bisa tidur tapi dapat uang, dan kalau memerintahkan sesuatu tak ada satu pun melarang. Dia sangat menginginkan hal itu sampai susah tidur.

Setan membisikinya sesuatu: terkenal dengan kontroversi, bukan dengan cara baik-baik. Cukup masuk akal bagi Doni menjadi pembicaraan publik seperti itu, karena ia bukan seseorang yang mementingkan etika. Di zaman ini, etika laksana arca langka, hanya ada di museum atau masih terkubur dalam tanah.

Doni kesal dengan setan karena hanya memberi kata “kontroversi” sebagai petunjuk. Begitulah kiranya kalau mendengarkan nasihat setan, padahal banyak sekali firman Tuhan di kitab suci yang hanya jadi pajangan di ruang tamunya.

Banyak bidang bisa digarap, tapi di Red Bull Nation, semua sudah ada mafianya kecuali satu: sastra. Mengapa? Karena sastra terlalu suci untuk disandingkan dengan keperluan-keperluan selain pencerahan dan perlawanan terhadap penindasan, namun itu pula—menurut Doni—yang membuat sastra sekaligus lemah untuk diinvasi: praktisi sastra tak banyak yang komersil. Pria empat puluh tujuh tahun itu tak pernah benar-benar sadar bahwa sastra telah memberinya kemerdekaan, bertahun-tahun para penyair berjuang, keluar-masuk penjara karena sikap kritis terhadap tirani.

Komersialisasi sastra adalah ide baru Doni, supaya sastra tak kehabisan energi, begitu katanya. Maka, ia termasuk orang-orang yang buntu pikiran, punya harta tak punya nurani. Mungkin terlalu lama di Amerika, Doni tak mengerti bahwa sastra hidup dalam masyarakat, naik-turun di tiap gejolak jalanan dan meja-meja wakil rakyat. Sampai kiamat nanti begitulah adanya.

Persiapan matang dilakukan oleh Doni, ia berhasil menyisipkan namanya dalam sebagai tokoh sastra berpengaruh di Red Bull Nation: membuat genre baru puisi yang disebut “puisi ngesot”. Tak perlu waktu lama, muncul gelombang protes dari segenap penyair. Tapi, yang namanya kapitalis tak pernah peduli dengan perasaan dan pemikiran khalayak. Berlindung di bawah payung demokrasi, ia berusaha merusak kesucian sastra dengan uang.

***

Tahun berikutnya, demi meneguhkan posisinya sebagai penyair, ia berencana membuat antologi “puisi ngesot” bersama para “penyair” dari seluruh pulau yang ada di Red Bull Nation.

Genre yang diklaim Doni adalah tulisan panjang menyerupai prosa, dan diberi “catatan kepala”: keterangan tertentu mengenai kata atau kejadian dalam tulisan, dan diletakkan di atas judul.

Para ahli sastra telah melihat banyak kekurangan dalam jenis tulisan tersebut, termasuk hilangnya estetika yang menjadi ciri khas puisi. Doni tetap tak peduli karena sejak awal posisinya adalah sebagai entrepreneur atau wirausahawan. Ia menerapkan teknik-teknik pemasaran untuk mengukuhkan “puisi ngesot”. Puisi dalam pikirannya adalah barang dagangan belaka.

Berbekal sejumlah besar uang, Doni mengajak orang-orang yang mengaku penyair, dan para penyair yang bisa dibeli agar mau menulis dan mengakui “puisi ngesot”.

Kurangnya penghargaan dari pemerintah membuat penyair senior idealis berubah menjadi kerbau bajak sawah, sesederhana itu cara mereka mengikuti kemauan Doni: uang sebagai penghargaan dalam kering-keruh sastra Red Bull Nation.

***

Dono—seorang penyair senior dari Ponville City—tersenyum lebar, naskahnya sudah selesai. Segera diraihnya telepon genggam, ia mengubungi seseorang di ibu kota.

“Selamat malam, Pak Doni?”

“Halo, Dono! Sudah selesaikah?”

“Beres, Bos!”

“Bagaimana dengan ‘penyair’ lain? Bisa diatur?”

“Aman, mereka juga telah selesai naskahnya. Uangnya?” Suara Dono terdengar agak tegas namun memelas.

“Besok kalian akan menerimanya. Tanpa potongan!”

Telepon ditutup. Dono lagi-lagi tersenyum lebar, jauh di sana Doni senyumnya jauh lebih lebar, karena tujuannya jauh lebih besar, dan ia senang karena terbukti bahwa analisisnya tentang penyair idealis di daerah sangat kurang penghargaan dari pihak berwenang, lalu ia datang seperti pahlawan. Luar biasa.

Tiga bulan kemudian, sudah tercetak ribuan buku antologi “puisi ngesot”, dengan koneksi yang luas, Doni berhasil memasarkannya ke banyak tempat.

Para pemrotes tak kuasa, karena daya upaya mereka terhambat permodalan, karena memang pantang menjual intelektualitas kepada kapitalis.

Minggu ketiga di bulan yang sama, buku antologi “puisi ngesot” telah terjual habis. Doni berbangga hati, ia lalu menulis di internet tentang kemenangan perjuangannya mengalahkan pihak-pihak yang tidak setuju.

“Kau lihat, Dono? Kita berhasil!” teriak Doni. Ia sedang bercengkerama dengan rekannya tersebut di kedai kopi Ponville City. Doni ingin merasakan suasana kemenangan di daerah yang jauh dari ibu kota.

Dono menyeruput sedikit kopi dari cangkir kecil itu, wajahnya terlihat kusut.

“Kenapa kau tidak senang?” tanya Doni.

Dono menggelengkan kepala.“Bos, apa kautahu siapa yang membeli semua buku kita?”

“Siapa lagi kalau bukan masyarakat? Ini kemenangan besar, Kawan!”

Semakin kencang kepala Dono menggeleng. “Bukan, Bos. Bukan.” Dono menunjuk ke sebuah lapangan. Terlihat tumpukan buku antologi “puisi ngesot” menggunung dan siap dibakar.

Doni terdiam, rambut putihnya bergoyang pelan di atas matanya yang masih tiada percaya.

====
Pontianak, 22 Maret 2018
Dicky Armando

Sumber foto: www.peta.org 

Karya : Dicky Armando