Mahmud Sang Pembebas

Mahmud Sang Pembebas

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Maret 2018
Mahmud Sang Pembebas

“Sumber daya alam melimpah! Masih miskin saja petani di negara ini!” tegas seorang pria yang memegang secangkir kopi. Kata-katanya khas makhluk oposisi pemerintah yang kalau diberi posisi akan diam dengan sendirinya.
 
Tak lama lagi pemilihan umum, banyak yang mengincar posisi dalam dunia politik, termasuk juga pria peminum kopi di depan Mahmud itu, ia berbicara di depan para petani seakan pernah memegang lumpur dan padi.
 
Sebagai seorang pemegang gelar master pertanian, terganggu hati Mahmud mendengar “masih miskin saja petani di negara ini”, tapi mau dikata apa, ia sendiri pengangguran, pun miskin. Ilmunya sia-sia sejak tak ada pihak mana pun mempekerjakannya. Mahmud cuma orang cerdas dari kampung yang dikalahkan “koneksi” dalam persaingan mencari kerja, di kota tempat tinggalnya sudah hal yang lazim orang-orang tolol bercokol di posisi penting. Membuka usaha? Jauh panggang dari api, lembaga keuangan di negerinya tidak ramah, hari ini pinjam uang, besok mati.
 
Semakin kacau tanah air Mahmud, pemuda tiga puluh tahun itu adalah korban korupsi para pesohor pemerintahan dan utang luar negeri yang disetujui presidennya. Ia menyaksikan, dengan mudah orang-orang asing mengatur kebijakan-kebijakan negara.
 
Nyeri kepala Mahmud memikirkan nasib, ia segera beranjak dari warung kopi menuju satu-satunya sawah yang tersisa Ponville City. Dicarinya kata kunci pemegang sengsara masyarakat, sepanjang jalan. Sampai di tepi sawah, Mahmud melihat sepasang suami-istri petani yang sedang bahagia menyantap makan siang di bawah lindungan sebatang pohon tua. Nasi, sayur asam, dan ikan asin, hanya tiga hal itulah hal-hal yang memicu kesenangan di antara keduanya, tak perlu uang, tak perlu menggandakan uang.
 
Sejauh pengetahuan akademisi pertanian tersebut tentang ekonomi, dulunya mata uang kertas dibuat dengan suatu jaminan tertentu, biasanya emas, dan berjalan waktu, konspirasi berskala internasional terjadi, semua negara bisa mencetak mata uang tanpa jaminan apa pun yang artinya tiada harga dan nilai dalam selembar kertas itu kecuali semu dan tipu-tipu.
 
Otak Mahmud terisi hikmah dengan sendirinya, ia menemukan dua kata kunci yang menyengsarakan anak bangsa: mata uang dan riba.
***
Berangkat dari niat ingin menyejahterakan para petani, akhirnya Mahmud menempuh jalur politik, satu-satunya cara “merusak” sistem yang memang sudah rusak karena dihuni lintah darat dan vampir berdasi.
 
Hanya bermodal ide-ide cemerlang, benar … hanya rencana cemerlang yang melekat di badannya selain kemeja lusuh dan celana panjang kain warna hitam warisan mendiang sang ayah yang Mahmud miliki, tak disangka ada sebuah partai politik baru meliriknya.
 
Kampanye yang dilakukan Mahmud mudah diterima masyarakat, masuk akal, dan sangat realistis. Segera, popularitasnya tersebar sampai penjuru negeri, tak terkecuali pihak-pihak asing dan anteknya. Lawan politik Mahmud mengandalkan jumlah uang besar untuk menguasai massa, karena hanya itu yang bisa dilakukan, karena mereka kebanyakan kumpulan orang goblok yang rela negaranya diinvasi pihak asing, dan sayangnya setelah Mahmud melakukan pendidikan politik di banyak tempat, rata-rata masyarakat sudah kembali cerdas seperti zaman perebutan kemerdekaan dulu.
 
Segala daya upaya telah dilakukan, di hari penetuan Mahmud duduk membisu di gubuknya, gelisah. Laksana gempa bumi kakinya bergetar sendiri. Tak lama ia mendengar suara ketukan dari pintu reyot yang terbuat dari kayu lempung itu. Mahmud enggan membukanya.
 
“Pak Presiden, keluarlah! Anda harus mengurus rakyat sekarang!” teriak seseorang dari luar.
 
***
Jika dilihat dari ketinggian, Red Bull Nation sudah berubah wajah sejak sepuluh tahun lalu, tak ada lagi gedung-gedung pencakar langit kecuali pepohonan tropis indah yang tertanam rapi. Kalau turun lebih rendah, akan terlihat dari celah-celah daun, di bawah pohon-pohon besar itu tertata pertanian modern yang sukses menjadikan Red Bull Nation negara tanpa manusia kelaparan di tiap jengkal tanahnya.
 
Mahmud sukses menemukan teknik rahasia bertani tanpa harus mengorbankan tanaman lainnya, ini adalah teknik yang dulu sering ditolak para pengusaha saat ia melamar kerja di perusahaan-perusahaan bidang pertanian dan perkebunan.
 
“Tak masuk akal!” begitu kira-kira perkataan mereka kepada Mahmud.
 
Pemukiman diatur sedemikian rupa tanpa harus banyak menebang pohon, bahkan banyak rumah-rumah dibangun di antara pepohonan. Jalan raya terbuat dari beton, panjang dan luas, lengkap dengan tumbuhan warna-warni di pinggirannya. Masyarakat bertansaksi dengan hasil bumi dari daerahnya masing-masing.
 
Mahmud membagi beberapa provinsi sebagai penghasil tanaman berbeda yang bernilai ekonomi tinggi, seperti kopi, tembakau, dan lain-lain. Tidak ada lagi sistem perbankan di Red Bull Nation, semua diganti dengan sistem barter, begitu pula dengan hubungan ekonomi luar negeri, misalnya ketika pemerintah ingin menambah tenaga akademis di universitas, maka ia menyekolahkan seratus pemuda potensial ke Amerika, Inggris, dan Prancis dengan memberikan hasil pertanian berkualitas tinggi kepada negara-negara tersebut dalam kurun waktu tertentu.
 
Ketika harus membeli biji besi dari Jepang untuk keperluan konstruksi, Mahmud menukarnya dengan sejumlah besar kapas untuk industri tekstil negara matahari terbit tersebut.
 
Mendengar Mahmud akan maju lagi dalam pemilihan presiden, kaum kapitalis dan asing kembali pusing kepalanya, mereka berusaha keras menghalangi, tapi rakyat sudah terlanjur sayang kepada mantan pemuda kampung tersebut.
***
Di suatu pagi yang mendung, tanpa kicau burung, tanpa goyangan embun di permukaan daun, tepat satu hari sebelum penyelesaian syarat administrasi pencalonannya kembali sebagai presiden, Mahmud terlihat enggan bangun dari tidur, pelan-pelan hilang embus nafasnya, tiada lagi detak kehidupan terasa pada nadi sang pemimpin. Di samping jasad Mahmud tergeletak secangkir teh dan kotaknya yang bermerek “Mata Satu”. Kata ajudannya, benda laknat itu pemberian seorang anak kecil ketika kunjungan kenegaraan ke Skotlandia.
 
Tim dokter presiden juga telah memberikan pernyataan resmi bahwa Mahmud tewas diracun menggunakan zat yang sangat langka dan hanya bisa terdeteksi ketika diseduh air panas, itu yang kemudian menyebabkan teh hijau Skotlandia tersebut bisa lolos dari uji klinis.
 
Momen ini tidak disia-siakan lawan politik Mahmud yang sebagian besar dulunya seorang pengembang properti, pialang saham, dan bankir yang merasa tidak pantas mengayunkan pacul bersama masyarakat lainnya. Kematian Mahmud bukan kebetulan, musuh politiknya punya banyak jaringan di luar sana. Rakyat sudah tak bisa lagi diatur dengan uang, maka kematian sang presiden adalah satu-satunya jalan menuju kemenangan, sebagian lagi dari mereka menyebutnya “menuju pencerahan”.
 
Cukup dua tahun sejak kematian Mahmud, telah tumbuh beton-beton perkasa menggantikan kesejukan surga tropis Red Bull Nation, di bawahnya berserakan segala ketimpangan sosial, kriminalitas, dan kasta. Pemerintah mengontrol masyarakat dengan cara paling primitif: pistol, senapan, dan granat.

====
Pontianak, 6 Maret 2018
Dicky Armando

Sumber foto: Pexels

  • view 121