Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 20 Februari 2018   14:59 WIB
Social Entrepreneurship dalam Puisi?

Membaca tanggapan dari Denny Januar Ali (DJA) terhadap pernyataan Saut Situmorang di inspirasi(dot)co, membuat saya kembali penasaran tentang kata entrepreneur yang dikumandangkan pencetus genre puisi esai yang masih diperdebatkankan tersebut. Kali ini ia menyebutkan tentang Charity Entrepreneurship, sebuah konsep pelayanan publik yang maksimal, di mana DJA menjelaskan bahwa menjadikan kata entrepreneur sebagai dasar untuk mendebat puisi esai adalah tindakan yang kurang tepat, ya … karena itu, Charity Entrepreneurship tidak cari untung.
 
Saya tidak memiliki cukup sumber—buku maupun jurnal ilmiah—mengenai istilah tersebut, oleh karenanya internet, untuk sementara ini menjadi rujukan yang mungkin bisa menutupinya. Saya berusaha mencari dari penyedia informasi terpercaya.
 
Hasil yang mendekati dengan Charity Entrepreneurship dalam pencarian saya itu adalah Social Entrepreneurship.
 
Wikipedia(dot)org menjelaskan bahwa Social Entrepreneurship dalam masyarakat modern menawarkan bentuk altruistis, fokus pada keuntungan yang mungkin dituai masyarakat. Kata “altruistis” berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bersifat mendahulukan kepentingan orang lain.
 
Ashoka—jaringan kewirausahaan sosial terbesar yang didirikan Bill Drayton dari Amerika—tidak memberikan definisi yang jelas mengenasi Social Entrepreneurship. Namun tersurat pengertian mengenai Social Entrepreneur: orang-orang dengan solusi inovatif untuk menekan masalah-masalah sosial. Mereka ambisius dan gigih menangani isu sosial utama dan menawarkan ide baru untuk skala besar.
 
Merujuk pada definisi dari Ashoka, ada pula yang mirip dengan konsep yang diagungkan para penulis puisi esai: inovatif, ambisius, dan gigih. Sayangnya mereka belum masuk pada kategori “menangani isu sosial utama”. Kalaulah para praktisi puisi esai ini berdalih bahwa mereka mengangkat isu apa pun bahkan yang utama, maka jelaslah sudah ke-tidak-baru-an genre tersebut (pada aspek tema), karena semua puisi sebelumnya bisa mengangkat tema mulai dari hujan air sampai hujan darah.
 
Mengutip kalimat dari DJA bahwa sisi baru puisi esai termasuk karena “dipimpin”, direkayasa, honor besar, tim pemasaran, dan organisasi di baliknya.
 
Samer Abu-Saifan menyatakan pengertian Social Entrepreneurship seharusnya tidak meluas kepada dermawan, aktivis, perusahaan, atau organisasi yang bertanggungjawab secara sosial. Definisi ini otomatis membantah bahwa puisi esai tidak termasuk dalam apa yang dimaksud dengan Charity Entrepreneurship atau Social Entrepreneurship.
 
Kalau begitu, jangan-jangan benar apa yang disampaikan Saut Situmorang?
----
Pontianak, 20 Februari 2018
Dicky Armando, S.E.*

*Penulis adalah orang awam pencinta sastra.

Sumber bacaan:
  • Ali, Denny Januar. “Ada Pelangi di Setiap Dunia, Termasuk Pada Puisi”. Inspirasi(dot)co. 18 Februari 2018. Web. Diakses tanggal 20 Februari 2018.
  • Ali, Denny Januar. “Puisi Esai: Apa, Mengapa, Keunggulannya?”. Inspirasi(dot)co. 10 Februari 2018. Web. Diakses tanggal 20 Februari 2018.
  • “What is Social Entrepreneurship? Ask Jeff Skoll & Co”. Riseafricarise(dot)com. Web. 20 Diakses 20 Februari 2018.
  • Wikipedia(dot)org.

Karya : Dicky Armando