Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 16 Februari 2018   12:43 WIB
Logika Penjajah dalam Dunia Puisi

Pengaruh itu ada yang bagus pun jelek. Pengaruh yang bagus, misalnya mempertahankan kemerdekaan dari jajahan pihak asing. Penjajahnya tentu saja masuk kategori pengaruh negatif. Benar?
 
Sudut pandang negeri yang menjajah tentu saja tiada cela, bagi yang terjajah harus melawan. Terjadinya perang antara dua pihak ini tidak bisa secara gamblang dikatakan si penjajah adalah lawan tangguh yang harus ditembak pakai meriam, tapi memang harus dilawan supaya tidak menjadi-jadi.
 
Jadi jika penjajah mengatakan: “Para penentang kita ini sudah menyumbang kehebohan dalam kita!” Percayalah, penjajah tersebut kuat modal tapi buta. Jelas-jelas itu namanya “perlawanan”. Sadar atau tidak sadar, perlawanan harus dilakukan. Namun si penjajah tentu saja—untuk membesarkan hatinya sendiri—tetap melakukan penetrasi dan pembelaan apa pun demi membenarkan tindakannya.
 
Dunia puisi Indonesia mungkin sedang mengalami gejala-gejala logika terbalik, para penentang puisi esai, dianggap pion promosi gratisan terhadap produk tersebut. Coba pikir, kalau tidak dilawan, maka kajian ilmiah terhadapnya mungkin tak akan muncul, dan tulisan yang dianggap genre baru itu lahir bebas dari saringan ilmu pengetahuan, berlindung di balik payung demokrasi.
 
Ada pula orang yang mengklaim bahwa puisi esai memang heboh karena adanya gerakan lain yang menentangnya. Kembali lagi, kita perjelas, itu bukan kehebohan melainkan perlawanan. Jangan terlalu suka mengganti kata dengan kata lain yang tak sesuai. Perlawanan, mau tak mau, suka tak suka, selalu berakibat kehebohan, namanya juga menembakkan meriam, pistol, dan lain-lain. Sadar? Tentu saja dari para penentang sadar betul akan terjadi bunyi-bunyi yang tidak enak termasuk dari mulut si penjajah.
 
Akankah peperangan yang terjadi menjadikan tokoh penjajah dikenang dan dianggap berpengaruh?
 
Pasti! Pasti dikenang! Berpengaruh? Sangat berpengaruh! Ia telah berhasil menghancurkan tatanan sosial di negeri jajahannya, dan selalu ada pahlawan setelahnya: dari pihak yang terjajah, akan selalu dikenang dan berpengaruh di hati rakyat, tanpa harus membayar centeng, orang-orang tetap berpihak padanya.
 
Meriam yang ditembakkan memang bukan untuk membunuh nyamuk, tapi untuk membunuh keangkuhan. Heboh? Harus heboh.

----
Pontianak, 16 Desember 2018
Dicky Armando 

Sumber foto: Pixabay.com 

Karya : Dicky Armando