Puisi Tak Perlu Trik

Puisi Tak Perlu Trik

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 13 Februari 2018
Puisi Tak Perlu Trik

Dua kalimat dari Denny Januar Ali (DJA) yang membuat saya cukup tergelitik adalah “Marketing harus hadir dalam industri seni”, dan “Seorang entrepreneur sejati tentu tak sekadar bergenit-genit membuat sesuatu sekadar baru, asal beda”. Kata-kata itu bisa dibaca di inspirasi(dot)co dengan judul Puisi Esai: Apa, Mengapa, Keunggulannya?
 
Pernyataan tersebut merupakan pembuka dari penjelasannya mengenai keunggulan puisi esai yang ditolak sebagian sastrawan, meski ada pula yang mendukungnya.
 
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahan, dan sebagainya). Definsi kedua menyatakan seni merupakan karya yang diciptakan dengan keahlian luar biasa, seperti tari, lukisan, ukiran. Sementara seni sastra adalah seni mengenai karang mengarang (prosa dan puisi).
 
Kata “seni” yang dituliskan DJA, kalau dia mengarah kepada seni yang tidak spesifik, maka boleh saja tersemat kata marketing di dekatnya, namun jika ternyata mengarah kepada seni sastra, saya rasa pernyataan tersebut harus dikaji ulang. Mengapa? Seperti dijelaskan Wellek dan Warren (dalam Umami, 2009) bahwa sastra merupakan institusi sosial yang menggunakan medium bahasa.
 
Sastra bagian dari kehidupan sosial masyarakat, ia naik, turun, dan lestari di dalamnya, oleh karena itu, saya bingung apa perlunya marketing (pemasaran) dalam dunia sastra Indonesia. Seandainya sasaran tembak DJA adalah seni sastra sehubungan dengan “produk barunya”: puisi esai, maka sesungguhnya ia seolah-olah menjadikan … saya ulangi … SEOLAH-OLAH menjadikan penyair yang berpartisipasi dalam proyek puisi esai menjadi salesman yang menjalankan satu bagian dari proses keseluruhan pemasaran.
 
Jika maksudnya proses pemasaran buku kumpulan puisi para penyair dengan genre yang bisa diterima semua pihak (sudah diteliti secara ilmiah), itu saya setuju, kegiatan tersebut bisa membantu banyak karya sastra lokal lebih banyak dikenal. Namun, sekali lagi, kalau ternyata bertujuan membuat puisi esai kukuh dengan rekayasa promosi: melakukan pernyataan berulang-ulang dengan frekuensi yang sering, maka para sastrawan, kritikus sastra, dan ahli bahasa wajib melakukan penelitian tentang puisi esai ini. Setelahnya? Tentukan sikap, harus jelas di mana ujung, di mana pangkal.
 
Pemerintah tidak boleh diam saja, semua bagian kehidupan di dunia ini akan cepat hancur kalau semua pihak senang pakai jurus “kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu”. Polemik seperti ini harus segera dimediasi agar tidak larut, supaya tidak sesat pikir.
 
Pihak-pihak yang berkapasitas—termasuk pemerintah—harus bertindak cepat: membuat kajian ilmiah perihal puisi esai, sebelum tercetak dalam jumlah besar. Seandainya terlambat, maka buku-buku yang sudah jadi itu seakan-akan sah menjadi … saya ulangi … SEAKAN-AKAN sah menjadi suatu genre sastra. Beruntung bagi yang paham, tapi celaka bagi yang tidak tahu, kecuali puisi esai telah “lolos” dari kajian ilmiah para sastrawan dan kritikus sastra Indonesia. Jika benar-benar sudah tercetak, lalu pihak-pihak terkait kemudian terlambat mengambil tindakan, maka akan terjadi rekayasa promosi: buku-buku itu tersebar ke banyak tempat, dipromosikan berulang-ulang sesering mungkin, hasilnya kemungkinan puisi esai akan berhasil dianggap sebagai genre sastra (sekali lagi, dalam kondisi puisi esai belum mendapat penelitian yang pantas). Jujur, kalau saya sendiri tidak bisa menikmati puisi esai baik sebagai pencerahan atau pun hiburan.
 
Pengulangan promosi yang saya maksud adalah usaha untuk menanamkan suatu produk ke dalam benak khalayak, atau kita sebut saja konsumen. Caranya dengan melakukan kegiatan periklanan (advertising), hasilnya berupa kesadaran merek (brand awareness), dalam kasus ini: puisi esai sebagai sesuatu yang harus ditanamkan ke benak masyarakat.
 
Sang pencetus puisi esai, dengan berbagai sumber dayanya, sangat mungkin melakukan strategi advertising dan brand awareness itu.  Dia dan para pendukungnya tidak boleh kehilangan momen agar puisi esai lebih mudah dikukuhkan, sebelum penolakan meluas.
 
Menurut Aaker (dalam Hartiningtiya dan M. Assegaf, 2010), brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori merek tertentu.
 
Kedua pihak—pro dan kontra puisi esai—sebenarnya sedang melakukan perang brand awareness, satu pihak berpromosi habis-habisan agar puisi esai dikenal, yang lainnya menolak dengan ulasan dan kajian tertentu. Saya termasuk orang kelompok terakhir. Andai saja, divisi pemerintah berani melakukan mediasi dan kajian yang adil, polemik seperti ini tak akan berkepanjangan. Di daerah saya, gara-gara ihwal ini, penyair-penyair yang awalnya berteman menjadi terpecah.
 
Sastra, khususnya puisi, menurut saya tidak selayaknya diperlakukan sebagai produk bisnis, karena bicara soal bisnis pasti bicara soal target pasar, dan untuk bertahan tentu saja harus sesuai dengan selera pasar, dan puisi tidak sebercanda itu.
 
Puisi tidak akan mati hanya karena kurang rekayasa promosi. Di sana, jauh di pelosok Indonesia, banyak penyair atau sastrawan tak dikenal berjuang dengan caranya masing-masing tanpa pamrih, saya yakin, karena di daerah tempat tinggal saya, banyak orang seperti itu, tempat lain juga pasti ada.
 
Kata entrepreneur yang diungkapkan DJA juga cukup mengganggu saya. Kata tersebut mengacu pada “pengusaha” atau “usahawan”, jauh meleset dari arti sastrawan dalam sudut pandang bahasa atau pun istilah. Mengaitkan dua hal yang berbeda ini, saya rasa kurang bijak. DJA harus mencari analogi lain, atau tidak perlulah menyamakan sastrawan dengan apa pun, karena sastrawan, penyair, penggiat seni adalah dirinya sendiri, mereka memandang keindahan dengan cara yang berbeda. Sementara pebisnis memandang keindahan dengan satu syarat: harus untung.
 
DJA mengungkapkan pada paragraf kesembilan belas dan dua puluh bahwa sisi baru puisi esai termasuk karena “dipimpin”, direkayasa, ada honor besar, tim pemasaran, dan organisasi. Itu semua mewakili indikator agar sah sebagai sebuah genre puisi. Jadi, puisi esai menjadi layak disebut baru karena termasuk hal-hal di luar proses kreatif sastrawan. Benar atau tidaknya anggapan seperti ini, semoga ada yang lebih ahli mengalisanya. Namun dalam pandangan orang awam (saya), indikator tersebut tidak menjadikan sebuah tulisan menjadi genre puisi baru.
 
Saya tidak membenci DJA secara personal, namun saya benar-benar tidak suka dengan puisi esai (bukan selera saya, orang lain bilang puisi esai bagus silakan saja). Saran saya buat DJA adalah berdiskusi, dan melakukan rekonsiliasi dengan pihak-pihak yang berseberangan (diperlukan kehadiran fisik dari keduanya). Siapa tahu dengan cara itu, kita semua benar-benar menemukan sesuatu yang baru! Setuju?
 
****
 
Sumber bacaan:
  •  Ali, Denny Januar. 2018. “Puisi Esai: Apa, Mengapa, Keunggulannya?” Inspirasi(dot)co. 10 Februari 2018. Web. 13 Februari 2018.
  • Hartiningtiya, Ayu, dan M. Assegaf. 2010. Analisis Brand Awareness, Brand Association, Brand Perceived Quality, dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian, dalam Jurnal Ekonomi Bisnis (EKOBIS), Vol 11 No 2. Semarang.
  • Umami, I.M. 2009. Analisis Wacana Penggunaan Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu-Lagu Ungu: Kajian Stalistika, dalam Jurnal Dinamika Bahasa dan Budaya Vol 3 No 2. UNDIP. Semarang.
Pontianak, 13 Februari 2018
Dicky Armando, S.E.*

*Penulis adalah orang awam pencinta sastra.

  • view 246