Sastra, Tanggungjawab Moral, dan Kura-Kura dalam Perahu

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 24 Januari 2018
Sastra, Tanggungjawab Moral, dan Kura-Kura dalam Perahu

Setelah puisi esai dicetuskan sebagai genre baru oleh Denny Januar Ali (DJA), timbul perdebatan panjang di antara para penyair. Klaim sebagai puisi jenis baru mendapatkan penentangan dari sebagian sastrawan tanah air, karena masih belum layak disebut sebagai puisi maupun sesuatu yang revolusioner. Menyusul nama DJA muncul di buku “33  Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” yang juga memunculkan polemik.
 
Manuver terbaru DJA di dunia sastra Indonesia adalah mengumpulkan sejumlah penyair dari tiga puluh empat provinsi, termasuk Kalimantan Barat. Tiga orang sejauh ini yang ketahuan terlibat dalam proyek tersebut.
 
Dikutip oleh harianhaluan(dot)com, DJA menghargai para penulis yang terlibat dalam proyek tersebut sebanyak lima juta rupiah.
 
Muncul pertanyaan setelahnya: “Apakah uang yang menjadi motivasi penyair Kalimantan Barat yang masuk di dalamnya?”
 
Sutrisno (dalam Arini et al, 2015), mengemukakan tentang kebutuhan yang mendorong seseorang untuk mencapai kesuksesan dan diukur berdasarkan standar kesempurnaan yang ada pada diri seseorang. Ciri-ciri seseorang yang memiliki kebutuhan ini adalah bersedia menerima risiko relatif yang tinggi dan keinginan untuk mendapatkan umpan balik tentang hasil kerjanya.
 
Satu dari sekian banyak ambisi para penyair—khususnya dari Kalimantan Barat—adalah pembuktian diri atas keberadaannya. Kebutuhan semacam ini tak bisa dipungkiri dalam proses berkarya. Begitu pula risikonya yang terbilang cukup tinggi, seperti dialami penyair-penyair Kalimantan Barat dalam proyek DJA. Mereka mempertaruhkan integritas kepenyairannya untuk sesuatu yang masih abu-abu kecuali jumlah uangnya.
 
Wajar apabila sebagian kalangan masih menduga faktor kompensasi menjadi motivasi utama di balik partisipasi tiga penyair Kalimantan Barat itu. Hasibuan (dalam Martinus, 2016) menjelaskan motivasi merupakan pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.
 
Bermodalkan bujuk-rayu saja tak mungkin sanggup membuat tiga penyair Kalimantan Barat yang terlibat dalam proyek DJA itu bergabung, karena mereka jauh lebih romantis, mengingat karir kepenyairannya yang begitu panjang dan mungkin berdarah-darah. Pemberian daya penggerak yang lebih nyata wajib dilakukan: uang.
 
Ihwal bayaran dalam kasus ini yang tentu saja jika benar adanya, merupakan tindakan tak terpuji. Dunia sastra harus bersih dari pesanan apa pun, ia adalah ideologi dan pencerahan. Uang laksana tuba yang menyebar di jernihnya air.
 
Terlepas dari pembuktian diri atau uang, keikutsertaan tiga penyair Kalimantan Barat dalam proyek sebuah genre puisi yang masih diperdebatkan dan belum dikaji secara ilmiah di Kalimantan Barat merupakan keputusan yang tidak tepat. Mereka punya tanggungjawab moral terhadap arah sastra Kalimantan Barat di kemudian hari.
 
Pertanyaan berbau sanggahan sangat mungkin akan muncul: “Bertanggungjawab? Untuk apa? Kepada Siapa?”
 
Wellek dan Warren (dalam Umami, 2009) menyatakan sastra adalah institusi sosial yang menggunakan medium bahasa.
 
Sangat jelas bahwa seorang sastrawan wajib jujur dan bertanggungjawab pada institusi sosial yang ia telah menjatuhkan cinta di dalamnya.
 
Rekonsiliasi antara generasi tua dan muda sangat diperlukan untuk memuluskan jalan sastra di Kalimantan Barat. Tidak baik juga buat penyair yang terlibat menggunakan jurus “Kura-Kura dalam Perahu, Pura-Pura Tidak Tahu” dalam menanggapi situasi yang terjadi. Egoisme dan senioritas wajib dikesampingkan. Para muda tahan emosi, yang tua dilarang berbohong.
 
****
 
  • Adib, Holy. Buat Proyek Buku, Denny J.A. Bayar Satu Penyair Rp5 Juta Per Puisi. Harianhaluan(dot)com. 15 Januari 2018. Web. 24 Januari 2018.
  • Arini, K.R., Mochammad Djudi Mukzam dan Ika Ruhana. 2015. Pengaruh Kemampuan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan, dalam Jurnal Administrasi Bisnis, Vol 22 No 1. Universitas Brawijaya.
  • Martinus, Erik. 2016. Pengaruh Kompensasi dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Devina Surabaya, dalam Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen, Vol 5 No 1. STIESIA. Surabaya.
  • Umami, I.M. 2009. Analisis Wacana Penggunaan Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu-Lagu Ungu: Kajian Stalistika, dalam Jurnal Dinamika Bahasa dan Budaya Vol 3 No 2. UNDIP. Semarang.

Pontianak, 24 Januari 2018
Dicky Armando, S.E.*

*Penulis adalah orang awam pencinta sastra. 

Sumber foto: bareknucklepoet.com

  • view 116