Memperbaiki Hati, Menjaga Mental

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 21 Januari 2018
Memperbaiki Hati, Menjaga Mental

Ada penasaran yang sangat di hati saya perihal “penyakit hati”, di sini bukan tentang organ tubuh, tapi fungsinya secara spiritual.
 
Mungkin satu, dua, atau lebih, kita pernah bertemu orang yang habis-habisan—dengan cara apa pun—mencoba “melawan” Anda, meski yang terjadi antara dia dan Anda bukanlah perkara besar.
 
Saya pun tak lepas dari “penyakit hati” yang satu ini, sampai suatu hari, seorang sahabat mengingatkan betapa bahaya memeliharanya di dalam jiwa.
 
Sebagai seorang muslim, saya coba berbagi agar kita semua—khususnya saya sendiri—agar tidak terjerumus dalam kenistaan.
 
Hati punya tiga kategori, yang pertama adalah Qalbun Mayyit yaitu hati seperti mayat, baik buruk sesuatu ditentukan hawa nafsu. Dalam surah Al-Baqarah ayat keenam, Allah subhana hu wa ta’alaa berfirman: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.”
 
Kedua disebut Qalbun Mariidl, disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat kesepuluh: “Di dalam hati mereka (orang-orang munafik), ada penyakit, maka Allah tambahkan penyakit ke dalam hati mereka ada azab yang pedih disebabkan kedustaan mereka.”
 
Ketiga disebut Qalbun Salim, yaitu hati yang selamat. Seperti yang dijelaskan pada surah As-Syu’araa ayat ke-delapan puluh delapan sampai delapan puluh sembilan yang berbunyi: “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
 
Mujahadah adalah solusi dari hal-hal tersebut. Mujahadah dapat diartikan sebagai memerangi nafsu amarah dan memberi beban kepadanya untuk melakukan sesuatu yang berat baginya yang sesuai aturan agama.
 
Saudara-saudara seiman. Apabila kita terkena “penyakit hati” seperti yang telah dijelaskan di atas, maka bolehlah kita jujur kepada diri sendiri, berdamai dengan orang yang sepantasnya, dan menjauhi iri hati. Di dunia ini tak akan lepas dari yang namanya musuh. Pasti ada saja orang-orang yang tak suka meski kita berniat dan berbuat baik, memang seperti itulah dunia.
 
Coba renungkan hal berikut, pernahkah Anda merasakan dan mengalami suatu hal, lalu ternyata orang-orang yang tidak tahu berkomentar dengan tiada dasar atau pedoman. Bagi beberapa orang, hal tersebut cukup menyakitkan, tapi, dengan konsisten berbuat baik serta berkarya, jangan terlalu khawatir, keadaan akan membaik. Terdengar berat memang, pun menjalaninya tak akan seindah teori. Tapi jika Anda melakukannya karena Allah subhanahu wa ta’alaa, maka ada “kekuatan” khusus yang membuat kita semua berada di “jalan yang lurus”. Orang boleh memaki, silakan juga berkomentar pedas. Namun jangan lupa, Anda harus tetap “berjalan”. Itu penting.
 
Jika terjadi suatu masalah, maka berusahalah saling mengoreksi diri, dan rekan-rekan yang terlibat hendaknya berinisiatif melakukan mediasi atau apa pun namanya. Hal itu telah dijelaskan dalam surah Al-Hujurat ayat kesembilan: “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.”
 
Dengan pikiran positif dan saling pengertian, kita harus terbiasa mengutamakan dialog daripada merasa benar sendiri. Bukankah seperti itu hidup sosial? Bukankah percuma jika kita memperjuangkan sesuatu tapi tak memperbaiki diri?
 
Semoga kita semua diberi kemudahan dan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’alaa

----

Pontianak, 20 Januari 2018
Dicky Armando 

*Penulis adalah hamba Allah subhanahu wa ta'alaa. 

Sumber bacaan: 

  • view 100