Dunia Sastra Kalbar Setelah Negara Api Menyerang

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 Januari 2018
Dunia Sastra Kalbar Setelah Negara Api Menyerang

Tadi malam, tanggal sembilan belas bulan Januari tahun dua ribu delapan belas, saya datang di sebuah pertemuan yang diupayakan oleh seorang teman, namanya Ivo Trias. Berlokasi di Jalan Dokter Sutomo, Pontianak, kami membahas banyak hal mulai dari katalog buku sampai puisi esai.
 
Mungkin yang ditunggu-tunggu oleh beberapa teman—termasuk saya—adalah kehadiran dua orang yang sudah lama “tenggelam”—begitu kata sebagian orang—dari dunia sastra Kota Pontianak: Pak Nano L. Basuki dan Jimmy S. Mudya.
 
Waktu itu saya datang terlambat, sekita pukul delapan malam, rekan-rekan lain sudah duduk manis di bangku dan meja panjang Kedai Cangkir Kopi. Diskusi belum dimulai, syukurlah.
 
Dengan Pak Nano, ini pertemuan saya yang kedua, pertama kali saat acara peluncuran buku dari penyair feminis asal Kalimantan Barat: Shella Rimang di Kafe V’Note, Jalan Ampera, Pontianak. Kalau dengan Bang Jimmy, entah sudah berapa kali kami bertemu sebelum dia “bersembunyi” dari belantara sastra Pontianak.
 
Pembahasan sastra yang awalnya adem langsung dibakar dengan orasi Ivo Trias, ia menyatakan betapa bobrok dunia sastra Kalimantan Barat. Ini mungkin dikarenakan perbedaan atmosfer antara Yogyakarta dan Pontianak. Saya maklum, pemuda yang sedang menimba ilmu di Universitas Sanata Dharma ini memiliki pengetahuan yang masih hangat, ia punya definisi sendiri dalam memandang sastra. Apalagi di Kota Pontianak, sepengetahuan saya, tak banyak lulusan sastra, pun kalau ada tak benar-benar berkecimpung di bidangnya, sehingga terbentuklah jalan sesat sehubungan dengan produk-produk sastra di sini.
 
Apa buktinya?
 
Jelas, terkuak bahwa ada penyair-penyair yang kemudian terburu-buru berpartisipasi dalam proyek suatu genre puisi yang diklaim sebagai jenis baru. Sementara klaim tersebut masih diperdebatkan banyak pihak karena dianggap mencoreng kesucian sastra itu sendiri, dan tujuan diadakannya masih abu-abu.
 
Ada yang mengatakan bahwa dunia sastra di Kalimantan Barat jalan di tempat, sebagian lagi menyatakan mundur jauh. Hal-hal yang berkembang hanyalah jumlah penulis, karya buku, dan penerbit.
 
“Yang penting produktivitas!” kata seseorang dalam suatu forum. Kalimat itu saya dapatkan dari Bang Jimmy yang sempat menghadiri pertemuan tersebut, dan ia tak setuju hanya mengutamakan produktivitas yang tak diimbangi dengan kualitas.
 
Pertanyaannya: “Bagaimana kita menilai kualitas suatu karya tulisan?”
 
Malam itu kami semua sepakat, harus ada orang-orang yang mumpuni dan dapat dipertanggungjawabkan untuk melakukan itu semua: kritikus sastra. Namun kami pun menyadari di Pontianak tak banyak yang bisa melakukannya, atau mungkin mereka tak mau, sekaligus tak peduli dengan pengabdian seperti ini.
 
Saran saya, mari, semua orang “di atas sana”, coba sesekali turun, tularkan ilmu yang berguna kepada generasi muda. Sesekali peduli tak ada salahnya, toh gaji kalian dari pajak motor kami juga, bukan?
 
Meski begitu, harapan selalu ada, nantinya dengan bantuan dari Pak Nano L. Basuki, akan diberikan materi tentang penulisan esai yang baik dan benar. Sebagai senjata untuk mengapresiasi karya-karya baru yang muncul begitu instan, dan siapa tahu bisa menjadi antitesis terhadapnya.
 
Kesempatan ini sangat saya tunggu-tunggu, tidak berlatar belakang sastra—saya sarjana ekonomi—namun mencintainya membuat hati rindu untuk memberikan saran dan apresiasi terhadap suatu karya sastra maupun populer, ini akan menjadi pengalaman yang menggembirakan.
 
“Di sinilah nanti kita akan ‘bunuh-bunuhan’ tentang karya masing-masing,” kata Dadi Naang, seorang penggiat literasi Kalimantan Barat, ia duduk berjarak satu orang di samping saya. Anggukan tanpa suara dari Fiky Indra Saputra—penulis buku puisi yang saya lupa judulnya—seakan menjadi tantangan bagi siapa pun yang hadir malam tadi.
 
Setengah dua belas malam, diskusi berakhir, tak lupa saya mengingatkan kepada kawan-kawan yang hadir agar seandainya saya mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Pontianak, mohon dipilih, dan semuanya memandang saya dengan mata yang kosong, disertai bunyi jangkrik yang membuai malam.

---
Pontianak, 20 Januari 2017 
Dicky Armando, S.E.

*Penulis adalah orang awam pencinta sastra. 

Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 109