Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 17 Januari 2018   15:48 WIB
Bukan Jalan Puisi

Menarik buat saya menyimak perdebatan tentang puisi esai yang sedang marak (lagi) belakangan ini. Sebelumnya telah terbit buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”, sekarang muncul pula sebuah proyek yang didanai oleh Denny J.A. untuk menulis puisi esai.

Kabarnya, proyek tersebut melibatkan sejumlah penyair dari berbagai daerah, dan dihargai lima juta rupiah untuk setiap penulis sebagai hasil upaya mereka dalam melakukan riset puisi esai.

Beranda facebook saya—yang juga dipenuhi para penggiat sastra—penuh tulisan yang beraroma pro maupun kontra. Saya juga menemukan beberapa bukti di beberapa artikel yang menunjukkan keterlibatan penyair-penyair senior dari Kalimantan Barat.

Pertanyaannya: “Apakah saya harus kecewa kepada penyair-penyair senior tersebut?”

Dalam polemik ini, meskipun saya hanyalah seorang “penyair jalanan” atau “penyair amatir” (singkatnya bukan siapa-siapa barangkali), namun sepertinya secara pribadi harus menentukan di mana “posisi” saya berpijak.

Berdasarkan pengamatan saya, proyek yang didanai Denny J.A. tersebut dikhawatirkan oleh sejumlah sastrawan lain sebagai pengukuhan posisi, bahwa benar adanya genre baru dalam dunia sastra Indonesia (puisi esai), dan bahwa tidaklah salah meletakkan nama tokoh survey tersebut di buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”.

Ehem ….

Saya, yang hanya buih dalam lautan sastra Indonesia ini rasanya tidak pantas berkomentar, mengingat—mungkin—telah banyak sastrawan hebat lain yang telah memberikan pandangannya dalam ihwal ini. Tapi bolehlah sekiranya, memberikan saran kepada orang-orang Kalimantan Barat—khususnya Kota Pontianak—pencinta puisi dan sastra agar lebih jeli melihat sebuah fenomena yang ada padanya.

KEMUNCULAN PUISI ESAI

Pada tahun dua ribu dua belas, saat terbit buku puisi esai Denny J.A. yang berjudul “Atas Nama Cinta”, seingat saya … diulangi … SEINGAT SAYA, sama sekali tidak muncul reaksi yang heboh terhadap karya tersebut, baik yang pro maupun kontra.

Setelah membaca puisi esai karya beliau beberapa kali, saya memutuskan bahwa puisi esai bukanlah “jalan puisi” yang akan ditempuh dengan berbagai alasan. Ini bersifat pribadi, batin saya menolak. Ibarat makanan, tak cocok di lidah, ada “sesuatu” yang aneh tentang “rasa”-nya. Namun silakan saja orang lain berpendapat bahwa puisi tersebut layak atau tidak, yang pasti seperti itulah rasa puisi esai di “lidah” saya.

Ketika muncul perdebatan lagi di tahun dua ribu delapan belas ini, saya seakan kembali ke masa lalu ketika buku puisi Denny J.A. terbit kala itu.

Meski tak ada penolakan yang terpublikasi, namun tak juga ada—dalam pengamatan saya—euforia dari kalangan penyair di Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak, yang menyetujui perihal puisi esai sebagai genre baru, atau pun menjadikannya pembahasan dalam rangka “menularkan” aliran tersebut kepada para pemula.

BENARKAH SEBAGIAN PENYAIR SUDAH HAUS?

Lucu, sekian lama tak heboh puisi esai di Kalimantan Barat, Kota Pontianak pada khususnya, tahun ini telah berpartisipasi beberapa penyair senior dari daerah ini.

Salahkah mereka?

Jawabannya tentu saja sangat relatif berdasarkan sudut pandang “siapa”. Pembelaan paling umum dari kasus di atas, saya memberikan beberapa tebakan:

  • “Setiap penulis harus membuktikan diri bisa menulis genre apa pun!”
  • “Itu hak asasi manusia!”
  • “Saya tidak melanggar hukum apa pun! Tak ada yang berhak melarang!”
Kurang lebih mungkin kata-kata itu akan terlontar dari orang-orang yang berpartisipasi dalam proyek Denny J.A. tersebut ketika mereka diprotes. Dengan berbagai motivasi dan alasan, mereka pasti sudah siap dengan jawaban, mulai dari yang masuk akal, sampai yang masuk jurang.

Kejadiannya akan berbeda seandainya proyek tersebut nilainya hanya pulsa sepuluh ribu rupiah untuk setiap penulisnya. Saya yakin pasti akan berbeda.

Di Kota Pontianak—selama ini—menurut saya, penghargaan terhadap sastrawan sangat minim. Kalau saya boleh menebak lagi, bisa jadi pemerintah tidak memandang keberadaan mereka, atau sebagai penghias suatu acara saja paling tidak. Bisa saja fenomena ini tak hanya terjadi di tempat ini, melainkan di seluruh Indonesia.

Kalau benar tebakan saya, maka Denny J.A. sebagai ahli survei telah mengetahui hal tersebut jauh-jauh hari, dan memberikan penghargaan yang selama ini ditunggu-tunggu oleh para sastrawan, khususnya penyair. Singkat kata, sebagian penyair ikut, yang lainnya tidak. Sederhana.

Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Begini, sekarang ada yang mengklaim puisi esai ini adalah sebuah genre baru, sesuatu yang revolusioner. Namun, telah dijelaskan oleh Saut Situmorang, bahwa genre puisi esai yang telah populer dalam dunia sastra Inggris pada abad delapan belas. Alexander Pope adalah seorang maestro di balik genre tersebut.

Maka hemat saya, puisi esai bukan sesuatu yang baru apalagi revolusioner. Pertanyaan saya berikutnya adalah: “Bagaimana bisa penyair senior (dari Kalimantan Barat) yang ikut dalam proyek tersebut tutup mata dengan hal ini?”

Maksud saya adalah setelah klaim yang belum tentu benar dari penggagas puisi esai (di Indonesia), ternyata sebagian penyair di Kalimantan Barat pun berpartisipasi yang mana secara tidak langsung memperteguh posisi puisi esai, dari tidak ada, menjadi ada, dan diakui.

Kembali pada pertanyaan paling awal di atas: “Apakah saya harus kecewa kepada penyair-penyair senior tersebut?”

Dengan kondisi berikut:
  • Puisi esai bukanlah “jalan puisi” saya.
  • Klaim dari penggagas puisi esai yang belum tentu benar.
  • Belum ada usaha dari sebagian penyair senior Kalimantan Barat (yang ikut dalam proyek puisi esai Denny J.A.) mencari informasi sahih mengenai “kebenaran” dari puisi esai. Belum ada pernyataan lisan atau pembahasan ilmiah mengenai puisi esai itu sendiri, kecuali ikut berpartisipasi dalam keadaan “meraba-raba”.
  • Penasaran jika hadiahnya kurang dari seratus ribu rupiah.
Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka jelas saya kecewa. Pendapat ini subjektif, sebentuk gejolak batin saya. Berbagai “celah” dan kesalahan penggunaan kalimat yang menyinggung orang lain, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

----

Pontianak, 17 Januari 2018
Dicky Armando 

Sumber foto: Pixabay.com  
 
Sumber bacaan: 
 
- Simanjutak, Laurencius. "Benarkah Denny JA Penggagas Genre Sastra Baru 'Puisi Esai'?" Merdeka(dot)com. 6 January 2014. Web. 17 January 2018. 

Karya : Dicky Armando