Menjaga Otak

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 13 Januari 2018
Menjaga Otak

Jagalah hati, jangan kaunodai, jagalah hati lentera hidup ini.

Kalau tidak salah begitu kalimat Aa’ Gym. Begitu pentingnya menjaga hati agar tetap lurus, sehingga ketika itu, ulama favorit saya ini selalu mengulang pernyataan tersebut di setiap ceramahnya, mungkin juga sampai hari ini.

Meski terdengar ringan, “menjaga hati” bukan perkara gampang. Lama saya merenung, berkaca pada pengalaman pribadi. Ternyata efek dari menjaga hati berpengaruh terhadap otak. Konsistensi seorang muslim merawat stabilitas batin, sepertinya akan menghasilkan pemikiran yang luas dan tenang.

Berdasarkan pengalaman, ketika “mendekati” Allah SWT dengan sepenuh hati dan melakukan syariat Islam sesuai ajaran Rasulullah SAW, saya mendapatkan banyak ide dan kata-kata yang terhubung dengan baik saat menulis sebuah puisi. Saya hobi menulis puisi dan sudah menelurkan dua buah buku melalui penerbit independent. Bukan sebagai sumber rezeki utama, melainkan suatu cara untuk menyampaikan aspirasi dan “perlawanan”. Butuh banyak sumber dan perhatian yang fokus ketika menulis puisi, dan itu saya dapatkan ketika diri ini berada dalam kondisi mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tujuan saya menulis puisi atau cerita pendek (cerpen) di internet pun tak lepas dari niat untuk beribadah, yaitu berusaha mengajak generasi muda Islam, agar cepat sadar bahwa kita sudah “digulung” pelan-pelan oleh pihak yang membenci ajaran Rasulullah SAW.

Uniknya, ketika jarang salat dan berdoa, otak saya seakan buntu. Parahnya, ketika membaca tulisan atau penyesatan dari orang-orang yang membenci Islam, pernyataan mereka terasa “indah” dan memberikan pencerahan baru, padahal sangat bertentangan dengan Alquran dan hadis. Saya seperti mengkhianati agama sendiri.

Belakangan muncul generasi muslim yang bergaya sok nasionalis. Saya sama sekali tidak mempermasalahkan “nasionalisme”, namun ada oknum-oknum yang bersembunyi di baliknya yang ternyata menyelipkan ejekan kepada agama Islam. Mau terang-terangan menghina Islam, takut pula mereka. Maka cara yang paling jitu adalah menyelimutinya dengan “sesuatu”.

Oleh karena itu, kita—khususnya saya pribadi—harus membentengi diri dengan iman Islam agar argumentasi para pembenci Islam tak terdengar “merdu”, karena hal tersebut sudah saya alami sendiri.

Suatu kali saya berkenalan dengan seseorang, namanya Jose (bukan nama sebenarnya). Sepintas, dia terkesan sebagai nasionalis ulung, baik hati, dan netral. Tapi kedoknya terbongkar ketika ia menyampaikan pendapat tentang suatu organisasi Islam yang dianggapnya radikal.

Saya menyanggahnya seperti ini: “Bang, media mainstream hanya memberitakan kalau organisasi tersebut bentrok tanpa mengulas apa penyebabnya, sampai akar-akarnya. Lalu, apakah Abang tahu bahwa organisasi itu sering melakukan bakti sosial? Menjadi relawan saat bencana alam. Apakah media-media yang Abang banggakan itu pernah meliputnya?”

Mendengar pertanyaan saya, dia diam. Setelah kejadian itu, Bang Jose sadar bahwa saya adalah satu dari sekian banyak orang yang tak bisa dipengaruhinya, meski saya pun pernah termakan kata-katanya, beruntung Allah SWT menyelamatkan.

Hari berganti hari, kian nampak wajah asli si Jose. Tulisan-tulisannya di internet selalu menyudutkan setiap pemimpin negeri yang beragama Islam. Tapi dengan pandainya dia menyelipkan kata “persatuan” dan “persamaan”, sehingga generasi muda muslim yang mungkin belum stabil menjaga hati, tergerus fungsi otaknya, dan berlanjut membenarkan kata-kata motivator palsu tersebut: jadi pengikutnya, dan Jose menghindari semua pertemuan dengan orang-orang yang “berseberangan”, padahal ia selalu menyebut “perbedaan itu indah”.

Banyak lagi Jose lain di luar sana, menyebarkan kebencian terhadap agama Islam, dan banyak pula sepertinya generasi muda Islam (dalam pengamatan saya pribadi) yang mengikutinya.

Solusi menghadapi orang-orang “tipe” Jose ini adalah dengan melawan, jangan biarkan dia merasa berkuasa dengan opininya, atasi dengan bukti-bukti yang valid, dan gunakan kata-kata yang “berkelas”.

Saya menyarankan agar anak-anak muda yang beragama Islam agar rajin menjalankan syariat sesuai ajaran Rasulullah SAW, dan berdoalah kepada Allah SWT, supaya terbuka pikiran kita seluas-luasnya, serta tak tersesat dalam permainan logika bolak-balik dari para pembenci agama Islam.

Semoga dengan cara ini, muncul generasi muslim yang menjunjung tinggi nasionalisme, tapi tak bermuka dua, dan saya berharap tak muncul lagi generasi muslim nasionalis tapi meragukan agamanya sendiri.

Aaaammiiinnn!

----
Pontianak, 12 Januari 2017
Dicky Armando 

Sumber foto: Tanzeem Anwaar ul Islam 

  • view 90