Imajinasi

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Desember 2017
Imajinasi

"Rasa sakit hanyalah imajinasi," kata si Jihad. Wajahnya menyiratkan rasa percaya diri tingkat kecamatan.
 
Keponakan saya yang kedua ini tengah bersiap akan dikhitan. Sambil memainkan Mobile Legend, dengan santainya ia mengatakan ungkapan bijak tadi yang entah dari mana, saya pikir kalimat itu berasal dari film Spongebob.
 
"Boleh juga nyali bocah ini," kata saya dalam hati.
 
Kami sekeluarga memang berharap dengan nama "Muhammad Jihad Ghifari", ia akan memiliki keberanian selevel dengan Muhammad Al-Fatih, Salahuddin Al-Ayyubi, atau Recep Tayip Erdogan.
 
Momennya sama, saya juga dikhitan ketika akan naik kelas lima sekolah dasar (SD). Bedanya, nama saya tidak "beraroma" Islam. Bahkan ketika bersekolah di SD Muhammadiyah (dua) Pontianak, saya sering ditanya oleh beberapa guru dan teman: "Kamu agama Islam?" Lucu juga kalau diingat.
 
Sesekali saya memandangi wajah Jihad di kursi tunggu klinik. Ekspresinya tetap percaya diri, pipinya pun masih tembam. Malam ini sepertinya akan lancar-lancar saja.
 
***
 
Ruang khitan bergemuruh seperti bunyi perang di jalur Gaza. Jihad meronta-rontah ketika "senjata"-nya dilucuti mantri khitan. Dia melawan seperti anak-anak Palestina di garis depan peperangan.
 
"Sudah! Sudah! Sakit! Kapan selesai?" teriak Jihad.
 
Sepertinya jargon "rasa sakit hanyalah imajinasi" seakan berupa janji-janji politik yang tak kunjung dilaksanakan. Kalau suatu hari dia jadi politisi, saya yakin dia akan sukses besar.
 
"Lima menit lagi. Sabar, ya!" kata mantri. Tenang saja ia melakukan tugasnya. Pengalaman tak bisa berbohong.
 
"Tak mau lima menit!"
 
Kali ini ayah Jihad angkat bicara, "Jadi maunya berapa menit?"
 
"Dua detik!"
 
Gila.
 
"Kalau begitu nanti beli mainan, ya? Beli dua. Bagaimana?" bujuk ayahnya lagi.
 
"Lima belas!"
 
Allahuakbar! Dia mulai meracau. Jihad semakin panik ketika "sarung" hampir terpisah dari "senjata"-nya.
 
"Mau apa lagi?" tanya Jihad dengan nada tinggi.
 
"Mau dibelah pakai pedangnya samurai," jawab saya asal-asalan.
 
Takut, si Jihad semakin berontak. Kaki kirinya saya yang pegang, kaki kanan ayahnya yang pegang, tangan kirinya dipegang asisten mantri, sementara tangan kanan Jihad masih memegang android dengan permainan Mobile Legend yang berbunyi kencang. Betul sekali, anak ini disunat sambil main game online. Percaya atau tidak ini yang terjadi, saya punya rekamannya.
 
***
 
Lima belas menit lebih berlalu. Akhirnya proses khitan selesai. Jihad keluar dengan sarung warna hijau berpola kotak-kotak. Matanya basah, suara ingus terdengar jelas dari hidung mungil itu.
 
Dia menatap saya dengan gaya Donald Trump yang sedang menandatangani pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sombong.
 
Jihad juga curi-curi pandang ke arah saya. Terlihat dia masih kesal dengan "pedangnya samurai" yang saya sebutkan tadi.
 
Saya tuntun dia ke mobil, pelan-pelan. Sampai di rumah, ia tidur pulas. Suatu hari ia akan sadar dan mengganti prinsipnya bahwa "rasa sakit itu nyata".
 
 
****
Pontianak, 26 Desember 2017
(Dicky Armando)

Sumber foto: www.pelajaran.co.id 

  • view 122