Rahmat, Cinta, dan Dendam

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 06 Desember 2017
Rahmat, Cinta, dan Dendam

Tanggal 5 November 2017 lalu, saya membeli sebuah buku kumpulan puisi berjudul "Nona Berkacamata", karya Rahmat Suhandi (RS) alias R. Andi. Waktu itu (malam hari) sedang berlangsung acara KALBAR Bookfair. Saya menemukan RS sedang terbaring lemah di suatu gerai yang menjual buku-buku penulis lokal (Kalimantan Barat). Di depannya bertumpuk sejumlah buku berwarna biru.


Kumpulan puisi "Nona Berkacamata". Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Melihat saya datang, RS segera berdiri dan menawarkan beberapa buku yang ada di situ, ia tak egois dengan hanya mempromosikan bukunya sendiri. Maka dengan cara itulah saya memutuskan membeli kumpulan puisi miliknya: menggunakan hati karena melihat sikap. 

Dari penampilan, sampul buku seperti ini bukan tipe yang saya sukai (hanya masalah selera, bukan berarti sampul tersebut jelek), namun (mungkin) mewakili isi buku tersebut. Rasanya percuma jika saya tanyakan siapakah "Nona Berkacamata" itu kepada RS? Dia tak akan menjawab, karena semua penyair adalah penyimpan rahasia yang ulung. Mereka menyembunyikan sebatang pohon di dalam hutan.

Menyelami perasaan dan pikiran RS di dalam buku ini, saya menemukan dua kata kunci: cinta dan dendam. Tak kurang tak lebih. Lihat saja dalam puisi yang berjudul "Jungkit-Jungkit", pada larik terakhir tertulis "Dan suatu saat, kau akan berada di bawah jua". Apalagi kalau bukan bentuk dendam akut? Kalau orang Pontianak bilang: Manas tak belawan (marah tapi tak bisa dilampiaskan kepada siapa pun). 

Mungkin wajar saja jika seorang pria mendendam, lalu menginginkan mantan pacarnya itu melalui hari-hari yang buruk. Kejam memang, tapi setidaknya ini tak seperti kisah-kisah sinetron sampah yang naif.  RS menuliskan:

Dan aku hanya ingin jadi batu
Batu yang suatu waktu menjadi sandunganmu

Larik-larik di atas bisa Anda temukan di puisi "Berlarilah". Penuh dendam, benci, dan cinta yang terlupakan. Mirip adegan film, ketika seorang jagoan memberikan kesempatan kepada penjahat untuk berlari, kemudian ia menembaknya sampai mati. Separah itukah lukamu, RS?

Beberapa puisi diafan, begitu pula yang prismatis di dalam buku ini. Sayangnya, puisi "Awan Kelabu" dan "Angin utara" karya RS terlalu gelap, sehingga sulit menemukan simbol untuk dijadikan kata kunci untuk menikmatinya. 

Puisi "Nona" di halaman 56--menurut saya--adalah tulisan yang kurang jujur. Kenapa? Sebentar lagi saya jelaskan.

Nona
---
Gelap gulita, hanya bulan dan bintang yang bercahaya
Saling tegur--sapa
Terlebih aku yang tak bertegur--sapa denganmu nona
Aku mencandu, tapi aku kerdil dihadapan kau nona

Bukannya aku congkak nona
Aku hanya suka nona
Sekadar suka saja nona
---
Karya: R. Andi

Menurut saya larik terakhir pada bait satu dan larik terakhir pada bait dua tidak sejalan. Coba perhatikan:

Aku mencandu, tapi aku kerdil dihadapan kau nona (larik terakhir bait satu).

Lalu ....

Sekadar suka saja nona (larik terakhir bait dua).

Kalau hanya sekadar suka, tidak mungkin tiba-tiba kerdil di hadapan seorang perempuan. Begitu logikanya. Setuju? Itu sudah jelas cinta. Tapi begitulah pria, sering gengsi menyatakan cintanya sendiri, ujung-ujungnya lepas diambil orang. Pelajaran.

Itulah alasan mengapa saya bilang puisi ini kurang jujur. Lalu ada sedikit catatan bahwa puisi di atas saya salin tanpa mengubah apa pun, tidak satu huruf pun. Bagi yang memerhatikan, pasti akan menemukan kesalahan dalam tata cara penulisannya, contoh: "dihadapan" seharusnya "di hadapan". Begitu pula pada sejumlah puisi di buku ini. Maka saya bertanya-tanya, apakah sudah mengalami proses pengeditan? 

Puisi yang paling saya suka dalam buku ini adalah "Selamat Malam". RS menggambarkan dengan sangat jelas rasa kecewa sakit hari, bahkan mewakili keseluruhan isi buku. Pendek saja larik-lariknya, tapi berapi-api dalam penyampaian. Harusnya hal tersebut menjadi kekuatan RS untuk menggarap karya-karya berikutnya dengan padat, karena sepertinya ia bukan tipe penyair yang cocok berpanjang-panjang mendeskripsikan suatu keadaan. Puisi harus tepat dan akurat menurut saya.

"Nona Berkacamata" pasti akan sangat diminati oleh orang yang baru putus cinta dan sakit hati. Anda sedang mengalaminya? Beli buku ini! 

----

Pontianak, 6 November 2017
Dicky Armando

----

Keterangan:
Penulis esai ini adalah orang awam penikmat sastra

----

Keterangan Buku:
1. Nona Berkacamata
2. ISBN: 978-602-6555-57-1
3. Penulis: Rahmat Suhandi alias R. Andi 
4. Penerbit: Pustaka Rumah Aloy
5. Link Facebook Rahmat Suhandi: https://www.facebook.com/Andi.Vierra 

  • view 52