Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 2 Desember 2017   21:46 WIB
Pelacur pun Harus Disiplin

Ada beberapa kata kunci yang saya simpulkan setelah membaca kumpulan cerpen karya Dewi Purnama Sari (DPS), yaitu feminisme, perlawanan, kekesalan, dan cinta.


Kumpulan cerpen "Pelacur Itu Datang Terlambat". Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Bagi saya yang termasuk penganut paham superioritas pria, buku ini harusnya sangat menakutkan, namun sebaliknya saya juga menyukai cara DPS menuliskannya. Keren.

Belum apa-apa, pembaca sudah disuguhkan cerita tentang seorang androgini yang tengah berperang dengan dirinya sendiri dan akhirnya dibuang oleh pihak keluarga. Silakan baca cerpen yang berjudul "Sedap Malam yang Cemburu" di buku ini.

Untuk saya pribadi, androgini adalah sesuatu yang baru. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), androgini adalah kepemilikan organ kedua perkembangbiakan jantan dan betina. Sementara dalam situs kamuskesehatan(dot)com, androgini merupakan penggabungan sifat, perasaan, dan kualitas maskulin serta feminin secara seimbang dalam kepribadian individu. Dalam kasus cerpen yang disajikan DPS, saya setuju pada pernyataan terakhir di atas.

Dalam cerita tersebut digambarkan ada dialog antara Sedap Malam yang merupakan "penyusup", dengan dirinya yang secara fisik adalah pria. Jika dibaca secara teliti, maka jelas si pengarang mengatakan bahwa androgini bukanlah sebuah "kesalahan" atau penyimpangan. Ini merupakan satu bentuk perlawanan terhadap lingkungan yang mungkin selama ini menganggap androgini dengan sudut pandang anomali. 
 
Saya pribadi berpendapat, sebenarnya perkara seperti ini bisa disembuhkan dengan metode tertentu. Apa? Saya tak punya dasar mengenai hal ini, lebih tepatnya belum mencari lebih jauh mengenai informasi yang dimaksud, tapi ... saya rasa dengan rutinitas maskulin dan dukungan keluarga, semua bisa diatasi, cinta keluarga adalah keajaiban yang kadang tak disadari.

DPS membuat kejutan lagi dengan "Pelacur Itu Datang Terlambat". Kisah seorang wanita tuna susila yang sangat profesional dan tepat waktu alias disiplin. Semua lelaki tergila-gila padanya, dan seorang pria telah jatuh cinta dengan metode pemikirannya yang tak biasa dan visioner.

Pelacur dalam cerita ini melunturkan semua anggapan yang mungkin hinggap di kepala orang-orang. Saya tertarik dengan jawaban si pelacur ketika pelanggannya bertanya tentang Tuhan.

"Ah, kau salah lagi tentangku, Aku memang pelacur terkutuk, Sayang, tapi tak berarti aku mengingkari keberadaan Tuhan." 

Lihat? Lagi-lagi DPS melawan! 

Meski begitu ia tetap menyelipkan kenyataan, dapat dilihat dalam satu kalimat dari pelacur tersebut.

".......... Yah, meski  jadi pelacur tak terlalu buruk, tapi tak pernah ada perempuan yang benar-benar bahagia menjadi seorang pelacur." 

Saya pikir pernyataan itu benar, bahkan Linda Lovelace--seorang bintang film porno--pun keluar dari industri lendir tersebut, meski banyak uang. Anda bisa cek kebenaran berita ini di chillax(dot)kincir(dot)com

Kepedulian politik seorang DPS juga tampak dalam cerita "Presiden Lewat". Biasanya, tipe perempuan seperti DPS yang saya kenal buta politik, lebih tepatnya tak mau tahu, dan tak mau memikirkan politik. Kalau saja mereka sadar, politik adalah hal yang bisa membuat rakyat mati pelan-pelan jika salah dalam menyikapinya (dibodoh-bodohi para elite). Dengan cerita ini diharapkan para perempuan bisa lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan "coblos" di hari depan. Semoga.

Perempuan tak lepas dari cinta, begitu pula DPS saya pikir. Tapi caranya memandang cinta sangat berdarah-darah, dengan kata lain penuh pengorbanan. Pembaca akan diaduk-aduk perasaannya dalam cerita "Buaya dalam Waduk". Sebagai laki-laki, saya cukup "terinjak-injak" dengan cerita ini. I hate you, DPS! 

Sampul buku yang suram sangat menunjang sebagai pembuka pikiran calon pembaca. Salut untuk Varli Pay Sandi sebagai pendesainnya. Beliau yang juga merangkap pemilik penerbit Enggang Media, dapat dihubungi di: https://www.facebook.com/varlie.boeloe (Varli Pay Sandi). 

Ada satu kesan mendalam ketika saya membaca semua cerita di buku ini, yaitu bahwa DPS bukan penulis sembarangan, dia sangat berpotensi--tak hanya di tingkat Kalimantan Barat--menembus pasar buku nasional. Masih perasaan saya saja, tapi semoga benar-benar terjadi. Waktu akan membuktikan konsistensi DPS dalam berkarya dan "melawan".

DPS, saya benar-benar membenci cara berpikirmu, tapi saya sangat menyukai karya-karyamu, dan begitulah cara kita berteman. It's fair enough, right? 

Buku ini wajib dimiliki bagi Anda yang menginginkan kisah cinta baru, cinta yang tak membosankan. Tak akan menyesal membelinya, percayalah! 

----

Pontianak, 2 Desember 2017
Dicky Armando

----

Keterangan:
Penulis adalah orang awam penikmat sastra.

----

Keterangan buku:
1.  Pelacur Itu Datang Terlambat.
2. Karya Dewi Purnama Sari alias D. Purnama.
3. ISBN: 978-602-61518-2-7. 
4. Penerbit: Enggang Media.
5. Akun Facebook penulis: https://www.facebook.com/profile.php?id=100008080750862 (Dewi Purnama Sari).
 
-----
 
Sumber thumbnail: pixabay.com 

Karya : Dicky Armando