Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 28 November 2017   12:53 WIB
Peringatan Sajidin: Rindu Menyebabkan Kematian

Suatu malam (25/11/2017), pada acara "Sarasehan Penyair Nusantara" yang dilaksanakan di Kafe Yudisial (Pontianak), saya duduk dekat seorang penulis muda bernama Sajidin Muttaqin Putra (SMP). Ketika itu, saya iseng-iseng melihat kumpulan puisi milik SMP yang telah dicetak menjadi sebuah buku berjudul "Rindu". Saya telah membeli buku tersebut saat ajang KALBAR Bookfair  digelar beberapa waktu lalu.

Pertama kali saya melihat judul buku kumpulan puisi karya SMP, otomatis mata saya langsung mengidentifikasi wajah penulisnya. Tidak cocok dengan wajahnya! Berkumis, badan besar ... ah, sudahlah.  


Karya Sajidin Muttaqin Putra. Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Nama pena SMP adalah Putra Gani, itu tidak terlalu menganggu saya, kecuali ilustrasi sampul yang menggambarkan seorang pria berwajah sedih. Mungkin gambar tersebut tak lain merupakan cerminan jiwa rapuh SMP. Bisa jadi! 

Ada sebuah puisi yang menurut saya keren dibandingkan dengan puisi lainnya di buku kumpulan puisi "Rindu". Berikut saya tulis ulang: 

PEMBARINGAN
---
Tidakkah kau tahu aku rindu?
Tidakkah kau tahu aku pilu menahan rinduku?
Tidakkah kau tahu?
Mungkin nikmat terjamah rindu

Tapi terjamah ribuan rindu bak menikmati ratusan candu
Yang mengundang pilu
Dan akhirnya ke pembaringan
Dengan nama di atas batu
---
Sajidin Muttaqin Putra alias Putra Gani

Manusia pasti mati, dan satu yang paling menyedihkan adalah mati karena rindu. Sebagian orang bilang rindu itu indah, tapi sebaliknya rasa tersebut sebenarnya menyiksa. 

SMP dengan lugas menjelaskan dalam puisi "Pembaringan" proses batin seseorang yang merindu: gila, kemudian "mati". Puisi ini diawali dengan tiga pertanyaan kepada sang pujaan hati di bait pertama.

Hanya saja, saya pikir, pertanyaan di baris kedua bait pertama: "Tidakkah kau tahu aku menahan rinduku?" Mungkin lebih baik pada kata "rindu", tak perlu lagi diakhiri dengan "ku". Alasannya adalah ketika pembacaan--menurut saya--nantinya akan kurang menarik, namun ini sekadar saran.

Berdasarkan pengamatan saya, bait pertama sebenarnya cukup sampai pada baris ketiga. Artinya menghilangkan kalimat "Mungkin nikmat terjamah rindu",  mengapa? Karena kata "mungkin" menimbulkan keraguan sehubungan dengan pertanyaan sebelumnya: "Tidakkah kau tahu?" 

Begini lebih mudahnya:

Tidakkah kau tahu?
Mungkin nikmat terjamah rindu

Jawaban dari pertanyaan tersebut terkesan ragu dengan adanya kata "mungkin", sementara seorang kekasih tak boleh membuat pujaan hatinya bimbang. Alternatif lain untuk tidak menghilangkan baris terakhir pada bait satu tersebut adalah mengganti "mungkin" dengan "bahwa".

Lihat perbedaannya:

Tidakkahkah kau tahu?
Bahwa nikmat terjamah rindu

Namun bisa juga tidak menghilangkan atau mengganti kata yang ada pada baris terakhir di bait pertama, yaitu dengan cara menurunkan kalimat tersebut menjadi baris pertama di bait kedua. Seperti ini:

Tidakkah kau tahu aku rindu?
Tidakkah kau tahu aku pilu menahan rinduku?
Tidakkah kau tahu?

Mungkin nikmat terjamah rindu
Tapi terjamah ribuan rindu bak menikmati ratusan candu
Yang mengundang pilu
Dan akhirnya ke pembaringan
Dengan nama di atas batu

Well ... tentunya ini tetap menjadi hak SMP untuk menulis sesuai dengan keinginan dan isi pikirannya. Saya hanya memberikan sudut pandang lain.

Masuk ke bait kedua, kita langsung disajikan permainan majas simile pada baris pertama: "Tapi terjamah ribuan rindu bak menikmati ratusan candu". Siapa saja bisa merasakan langsung betapa si "aku" dalam puisi ini tersiksa bukan main akibat rindu.

Saya pribadi lebih suka seandainya kalimat tersebut menggunakan prinsip "ratusan untuk ribuan", bukan "ribuan untuk ratusan", sehingga menjadi seperti ini: "Tapi terjamah ratusan rindu bak menikmati ribuan candu". Menurut saya, kesan yang harusnya didapatkan pada kalimat tersebut adalah dengan terkena sentuhan rindu yang sedikit, namun mendapatkan efek jauh lebih besar darinya.

Bait kedua, baris tiga dan empat menggambarkan ujung cerita setelah kelebihan dosis rindu. Saya mengartikannya sebagai "mati", dalam kasus ini adalah jiwanya, tapi masuk akal juga jika mati secara fisik. Bukankah banyak kasus bunuh diri karena cinta? 

Hanya saja, kalimat "Dengan nama di atas batu" terlihat kurang elok. Kalau saya akan memilih kalimat "Dengan nama di permukaan batu" yang tentu saja artinya nisan.

Sama halnya dengan judul buku karya SMP ini, isinya tak jauh dengan tema-tema rindu. Meski sebenarnya bukan topik favorit saya, kelebihan SMP dalam mengolah puisi-puisinya dengan lugas dapat membuat segar otak saya untuk sejenak, membaui cerita cinta kadang juga bisa mengobati sakit kepala. Rindu memang harus jelas, karena jika tak bisa mengungkapkan rindu dengan cara yang "terang", kita tak akan pernah bisa mengucapkan cinta. Begitulah cara SMP menempatkan tiap huruf dalam puisi-puisinya, mudah dicerna dan bening, meski beberapa pemilihan kata--menurut saya--masih belum begitu indah. Tapi peduli apa soal keindahan, jika puisi tak melulu soal kata-kata indah?

Semoga karya SMP berikutnya mengangkat tema yang lebih fundamental dan punya hubungan dalam kehidupan bermasyarakat.

Buku kumpulan puisi "Rindu" sangat cocok bagi pemuja cinta. Kurang lengkap rasanya jika rak buku kita tidak diisi dengan kerinduan yang meledak-ledak seperti ini.

----

Pontianak, 28 November 2017
Dicky Armando

----

Keterangan: penulis esai ini adalah orang awam penikmat sastra.

----

Keterangan buku:

1. Kumpulan Puisi Rindu
2. ISBN: 978-602-6555-50-2
3. Penulis: Sajidin Muttaqin Putra alias Putra Gani
4. Penerbit: Pustaka Rumah Aloy
5. FB Sajidin Muttaqin Putra: https://www.facebook.com/sajidin.puttra 

----
Sumber thumbnail: akun Facebook Sajidin Muttaqin Putra 

Karya : Dicky Armando