Akademi Panas Adem

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Oktober 2017
Akademi Panas Adem

Satu dari sekian banyak cara mengisi waktu adalah belajar. Hasil dari belajar tentu saja menghasilkan sesuatu yang bermanfaat jika pelajarannya berbasis pada kebaikan.

Erick Chayton—pria kampung berumur 30 tahun—setelah sekian lama menunggu kabar dari ratusan lamaran kerja yang tiada balasan sampai hari ini, memutuskan untuk ikut “belajar” di sebuah akademi bentukan sebuah partai politik. Kabarnya jika terpilih belajar di sana, akan mendapatkan uang saku dan tunjangan lainnya.

Dengan tekad baja, Erick mendaftar di Kantor Perwakilan Partai Panas Adem. Hanya segelintir orang yang mendaftar. Tak disangka mereka semua, tanpa banyak tes kelayakan yang harus dilalui—terpilih menjadi kandidat akademi. Luar biasa.

Ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak ketika nanti sudah “lulus” dari tempat yang mereka sebut “akademi” itu. Apalagi Erick tak pernah merasakan pendidikan di perguruan tinggi, harga dirinya tergoda untuk menjadi lebih tinggi. Menjadi seorang mahasiswa tak pernah terlintas sedikit pun di pikirannya.

Hati riang, suasana senang. Erick akan merayakan hari ini dengan dua butir telur goreng dan nasi panas, nanti di rumah sewaannya.

Ia mampir ke sebuah warung milik seorang teman semasa sekolah, namanya Johan Crauz. Erick sering berutang di situ karena penghasilannya sebagai tenaga kerja kasar tanpa kontrak sangat minim. Johan yang baik hati tak pernah mempermasalahkannya, sebagai timbal balik ilmu pengetahuan dari Erick ketika mereka masih menempuh pendidikan.

Johan masih tak percaya, keadaan temannya itu sekarang sungguh menyedihkan. Sebatang kara, ditinggalkan cinta, uang pun tak ada. Tapi apa daya, ia juga menanggung banyak biaya. Sering, air mata menetes dari mata Johan yang sipit jika melihat Erick berjalan sendirian di pinggir sungai mengenang masa kecil mereka.

“Jo, nanti semua utang akan kulunasi. Tenang saja, Kawan.” Erick tersenyum bangga. Pikirannya seakan dimasuki sesuatu: kegilaan.

Berdiri telinga Johan mendengarnya. “Wah! Rupanya kawanku ini sedang dapat durian runtuh!”

Sambil memilih sejumlah telur di depannya, Erick berkata, “Lebih dari durian runtuh, Jo! Ini pohon durian yang runtuh!”

Aiiimaaak! Beruntung betul!”

Erick memegang pundak Johan dengan kedua tangannya. Tatap matanya meyakinkan. Johan mengangguk senang, ia bersyukur kawannya itu akan menikmati kesuksesan hidup.

“Tapi, sebelum itu, bolehkah aku berutang dulu untuk telur-telur ini?”

***

Di langit bertabur bintang bak lautan permata, kelap-kelip seperti mata Erick. Ia berulangkali memeriksa barang bawaannya. Keberangkatan ke ibu kota esok hari membuat hatinya yang biasa pasrah menjadi berdebar penuh gairah. Terkembang senyum membayangkan nanti akan mengenakan seragam mahasiswa partai yang bernuansa militer.

Masa-masa sebagai pengangguran akan berakhir. Erick merayakannya dengan membakar 5 rim kertas kosong yang biasa ia gunakan untuk mencetak lamaran kerja. Manis sekali rasanya jika sedang di atas angin, melambung.

Malam itu di depan rumah sewaannya, satu titik api menggelora—mewakili kesenangan tiada tara. Meski samar, dari kejauhan terdengar pekikan seseorang: pemilik rumah.

Woy! Jangan lupa kau matikan api itu! Terbakar pula nanti rumahku!”

Erick kabur, masuk ke dalam.
***
Jika melihat bioskop dari kejauhan, kita menyadari ada orang-orang yang tak pernah menonton di sana satu kali pun, begitu pula ketika melihat pesawat yang memotong langit dengan gagah, pasti masih ada orang yang berangan-angan naik alat transportasi tersebut. Erick satu di antaranya. Ia tak sabar ingin segera bersantai di antara awan-awan, kalau perlu burung-burung menghiasi sepanjang perjalanannya. Pria itu tidak tahu, burung merupakan satu penyebab jatuhnya pesawat. Ia adalah calon mahasiswa akademi partai yang kurang membaca.

Hanya pernah datang ke pelabuhan mengantar kepergian seorang teman, maka kunjungan ke bandara di kota merupakan keajaiban yang belum tentu datang dalam seribu tahun satu kali bagi Erick. Ia membayangkan akan berlagak seperti turis mancanegara sebelum keberangkatan.

Sejak pagi, Erick telah mempersiapkan segala sesuatu. Menyisir rapi rambutnya yang ikal berantakan, menyiapkan kacamata hitam, baju kemeja, dan celana jeans baru. Rasa percaya diri Erick meningkat 180 derajat, tiada banding.

Sampai di bandara, ia berjalan seolah sudah terbiasa pergi-pulang menaiki pesawat. Erick takjub melihat sihir yang membuat pintu-pintu bandara bisa terbuka sendiri, ia nyaris bersujud jika tidak diingatkan oleh petugas bandara bahwa pesawatnya sebentar lagi akan berangkat.

“Bagaimana bisa, Pak?” Erick menunjuk pintu otomatis di depannya.

“Itu kecanggihan dunia, Kawan! Kecanggihan!” jawab petugas bandara itu sambil menyembunyikan tawa.

Ketika pesawat mulai terbang, Erick bertepuk tangan, tak sendirian, beberapa calon mahasiswa Akademi Partai Panas Adem lain—di belakangnya—juga melakukan hal yang sama. Suasana layar tancap di kampung terbawa sampai ke langit.

***

Bangunan akademi berwarna putih megah nan tinggi itu membuat mata Erick berbinar. Ia menyangka di dalamnya pasti terdapat komputer besar yang bisa mendeteksi muka orang-orang, seperti biasa dilihatnya di film-film barat.

Hari pertama, para mahasiswa diajarkan teriakan-teriakan yang sama bunyi dan kata-katanya, supaya kompak, begitu kata sang “dosen”. Kemudian dilanjutkan pelajaran tentang sejarah partai, visi, dan misi, tak lupa diajarkan konsep kebangsaan.

Erick senang sekali, akhirnya ia merasakan “gaji” pertama, tunai, langsung dari bendahara partai. Kekompakan selama pendidikan membuatnya memiliki arti selama 30 tahun hidup di dunia.

Keadaan yang sama membuat 400 mahasiswa saling mengerti: semuanya pengangguran. Tapi Erick tak pernah menyadari hal itu, mana mungkin bisa ikut kegiatan “belajar” selama sekian bulan di sebuah akademi bentukan partai kalau punya kegiatan dalam mencari rezeki.

“Nanti setelah lulus, kau akan jadi apa, Kawan?” tanya Johan Crauz.

Erick terdiam, genggamannya melemah, telepon selulernya hampir jatuh ke lantai bangunan akademi yang indah seperti pualam. “Kau tunggu saja, Jo. Akan kukabari kau setelah hari kelulusanku nanti.”

Dengan hati berdebar dan bingung, ia berniat menanyakannya kebimbangannya kepada “dosen”, saat pelajaran pertama esok hari.

***

“Setelah lulus, kami semua akan jadi apa, Pak? Dengan segala pengetahuan ini, apakah ijazah kami diakui? Siapakah yang akan menampung orang-orang spesial seperti saya dan rekan-rekan?” tanya Erick dengan suara keras. Semua mahasiswa memang diajarkan melantangkan suara, tegas seperti anggota militer.

Hening panjang menyebar ke seluruh ruangan kelas. Sang dosen terdiam selama beberapa detik paling lama dan menyedihkan dalam hidupnya. Pertanyaan itu adalah mimpi buruk bagi karirnya yang baru saja diangkat jadi “dosen” di “akademi” setelah 7 tahun menganggur. Sedangkan bagi seluruh mahasiswa, mereka telah lama menyimpan pertanyaan yang sama.

Dengan wajah garang sang dosen mulai menjawab, “Penting bagi kita semua menjadi manusia-manusia yang punya pengetahuan berbangsa dan bernegara!”

Suara menggelegar seperti petir sebagai pembangkit semangat. Tapi suasana tetap sunyi. Antiklimaks.

Erick memandang kawan di sebelah kirinya, kawan Erick sebelah kanan menoleh ke kawan di sebelah kiri, begitu seterusnya. Di kelas itu, kebingungan sedang berputar dan bertukar.

***

“Saudara-saudara kita harus satu visi! Satu misi! Menyatukan suara dan melanjutkan pembangunan! Maju! Maju! Maju! Kerja! Kerja! Kerja!”

Ejekan dan suara-suara miring samar-samar terdengar. Erick tidak peduli, ia tetap melanjutkan semua pengetahuannya. “Marilah kita bersama bergandengan tangan menuju masa depan yang lebih cerah!”

Pohon besar di depan Erick Chayton—sekitar 20 meter dari tempatnya berdiri—menyembunyikan sosok Johan Crauz yang sedang sibuk mengelap air mata. Mana tega ia melihat kawan karibnya itu hanya berselimutkan baju compang-camping, rambutnya yang berantakan tak terurus dicurigai sebagai habitat hidup lipan dan kelabang, parah betul.

Anak-anak kecil mendekati Erick, lalu melemparinya dengan batu.

“Orang gila! Orang gila! Orang gila!” pekik mereka dengan nada nyanyian sederhana, berulang-ulang seperti waktu yang terbuang.

----
Pontianak, Oktober 2017
Dicky Armando 

Sumber foto: FBI.gov 

  • view 157