Brosur

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Oktober 2017
Brosur

Kupandangi wajah-wajah itu. Ada yang bersemangat, lesu, sedih, malu, kehilangan harapan, dan kehabisan tenaga.

Terbesit rasa iba di hatiku, meleleh laksana air hujan yang mengalir pada talang. Kalau boleh ditebak, hati dan pikiran mereka sedang galau.

“Sampai kapan terus begini,” begitu mungkin arti tatapan kumpulan pria dan wanita yang sedang duduk di depan ruko kosong itu. Lembar-lembar brosur erat dalam genggaman mereka, terjaga seperti surat berharga dari kerajaan tempo dulu.

Di Ponville City tak banyak lagi tersisa pekerjaan formal. Mereka yang bermimpi kerja di perkantoran terpaksa harus menerima kenyataan pahit, dan memilih pekerjaan yang minimal punya “kantor”. Jika berpikir seperti itu biasanya tak berujung baik.

Membagikan brosur di jalanan bukan hal memalukan, karena semua pekerjaan pada dasarnya halal, kecuali memang berniat melakukan penipuan, pencurian, dan hal-hal yang melanggar aturan negara lainnya. Masalahnya satu: pihak yang mempekerjakan mereka sering tak peduli perihal kesejahteraan karyawannya.

Jika “target” tak sampai atau melakukan sedikit kesalahan, maka para pekerja tersebut dengan rela hati pantatnya ditendang keluar dari tempat yang disebut “kantor” itu.

Bukan sembarangan bicara, aku pernah menjadi bagian dari mereka, sekuncup cerita masa lalu. Saat itu, dengan gaji seadanya, aku menempuh puluhan kilometer, berjalan kaki guna menghemat pengeluaran bensin.

Ratusan brosur kusebar nyaris di seluruh gang-gang kecil maupun besar, di jalan, di sekitar pedagang kaki lima, dan di sekujur harapan yang hampir musnah. Dikejar anjing biasa bagiku, setelah meletakkan brosur, jika sedang nahas, beberapa ekor anjing peliharaan tuan rumah mengira aku adalah maling berbaju rapi. Tidak salah juga, di negara ini banyak maling berdasi, anjing pun tahu bau mereka tak kalah busuk dengan daging dalam tong sampah.

Kalau matahari sedang marah, aku biasa duduk sendirian di bawah pohon ... pohon apa saja yang bisa sedikit mengurangi sengatan panas. Sebotol air menemani, menyejukkan sementara waktu. Pada tahap ini aku merasa tidak menjadi apa-apa dan tak pantas menjadi siapa pun, sungguh hina terasa. Tak mengapa, setidaknya ada hikmah yang membuatku belajar agar tak pernah lagi meremehkan orang lain apa pun pekerjaannya, karena kita semua sama: manusia.

Aku pernah berjalan bersama dengan seorang pemulung dan pencatat meteran air saat membagikan brosur. Terasa betul kesusahannya, dimarahi tuan rumah, tak dibukakan pintu, dan segala hal menyakitkan lainnya. Coba tebak apa yang kudapat setelah seharian berjalan kaki membagikan brosur dan menghasut orang agar meminjam uang kepada perusahaan tempatku bekerja? Tepat sekali! Amarah yang kudapat. Kurang kerja keras katanya.

Aku pun tahu betul bahwa para pria dan wanita yang ditugaskan membagi brosur tadi hanya satu orang yang disodorkan perjanjian kerja, sisanya hanyalah korban muslihat: debu-debu yang mudah disapu.

Pelan-pelan aku mendekati seorang pria berumur sekitar dua puluh lima tahun. Tadi ia diperintahkan oleh “orang yang satu-satunya mendapat surat kontrak kerja”—berdiri di tepi jalan untuk membagikan brosur. Semua dugaan di kepalaku harus segera dituntaskan dengan fakta-fakta paling akurat.

“Apa kabar?”

Lelaki itu tersenyum, tapi di matanya aku melihat pergulatan emosi yang maha dahsyat.

“Baik, Bang,” jawabnya ramah sambil memberiku sebuah brosur, kertas putih dengan tulisan merah. Kulihat berjajar angka-angka jumlah pinjaman lengkap dengan cicilannya, beserta persyaratan yang diperlukan. Gambar-gambar sepeda motor juga memenuhi lembaran tersebut, tak salah lagi, ini adalah sebuah perusahaan yang menawarkan pinjaman uang dengan jaminan surat kepemilikan motor. Lintah darat di zaman modern memang sangat lihai.

“Namaku John Week. Kau?”

“Rock Groninger.”

Kami berjabat tangan. Dari kejauhan aku melihat, kami sedang diperhatikan oleh “satu-satunya orang yang disodorkan surat perjanjian kerja”, atasan para makhluk malang ini. Demi menyelamatkan uang beras bulan depan, Rock segera kembali menyerahkan brosur-brosur itu kepada orang yang lewat, meski sebenarnya keberadaannya tak dipedulikan.

Di sisi jalan yang lain—rekan kerja Rock yang lain—para sarjana kehabisan pilihan itu harus mandi keringat sambil menyebar brosur yang sama. Miris. Tapi sisi baiknya adalah mereka berpikiran positif, tidak menganggur, dan tak mencuri.

“Kau digaji, Rock?” tanyaku lagi.

“Per hari,” jawabnya tanpa menyebutkan nominal.

“Dua puluh lima ribu rupon?”

Rock heran, raut wajahnya mengatakan, “Dari mana orang ini tahu?”

Wajah itu, memang bukan ekspresi orang yang sudah niat mati, tapi jelas muka Rock seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan untuk meloncat dalam jurang. Berani tapi takut, takut tapi berani. Beginilah batin seseorang ketika ditindas sebuah sistem jahanam.

Sejumlah uang kukeluarkan. “Untukmu, ceritakan padaku sekarang juga, kau bisa berakting sedang menghasutku agar meminjam uang kepada perusahaan itu.”

Rock melirik “satu-satunya orang yang diberi surat perjanjian kerja”, ternyata ia sedang asyik minum jus tebu di pinggir jalan tanpa berbagi dengan anak buahnya. Kesempatan!

“Begini, Bang. Kami ini tak pernah digaji, yang ada namanya upah, dibayar per hari, tapi uangnya diambil pada akhir bulan.”
 
Kata-kata Rock sendu dan temaram, gelap seperti kulitnya, gersang seperti rambutnya yang merah akibat sinar sang surya. Kalimat tersebut terdengar seperti pepatah “hidup segan, mati tak mau”. Telingaku gatal.

“Aku ingin mendengar analisamu tentang ini. Rasanya kau bukan orang bodoh, Rock.”

“Begini, perusahaan ingin menghemat pengeluaran dengan cara mempekerjakan orang lain yang mana sebisa mungkin orang-orang itu tak terikat perjanjian dengan mereka, agar tidak bisa dituntut oleh Departemen Tenaga Kerja Red Nation. Metodenya adalah seperti ini. Kau lihat orang di sana? Hanya dia yang digaji, aku dan beberapa rekan lain adalah temannya yang tak punya pilihan menerima dua puluh lima ribu rupon per hari, tanpa tunjangan apa pun.”

“Itu melanggar aturan!” teriakku agak marah.

“Benar sekali, Bang! Tapi memangnya Menteri Tenaga Kerja Red Nation mau tahu tentang kekacauan sistem kerja di Ponville City? Apa orang bangsat itu peduli?” Suara Rock bergetar, ada retakan kecil dalam suaranya yang kasar. Ia hampir menangis.

Aku memeluk Rock. “Maafkan aku ... aku baru sempat datang ke Ponville City, ini kedatangan pertama.”

Pria penyebar brosur itu mundur dua langkah melepaskan pelukanku. “Jadi, kau? Kau? Kau?”

“Ya,” pungkasku malu.

----
Pontianak, 11 Oktober 2017
Dicky Armando

Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 63